"Lo mau sampai kapan hura-hura seperti ini tanpa tujuan hidup yang jelas?"
"Nanti kalau ada yang serius sama gue. Lo sendiri kapan mau nentuin masa depan lo. Nyari suami kek!"
"Gue masih gini-gini aja, Za. Gue nunggu suami yaitu orang yang tepat bisa bertanggung jawab sama gue dan ada waktu buat keluarga."
"Kalau seandainya lo udah nikah terus suami lo punya masa lalu yang buruk gimana?"
"Gue terima. Karena bukan kuasa kita untuk menghakimi masa lalu orang lain. Setiap orang punya masa lalu yang buruk. Mereka punya potensi untuk jadi lebih baik lagi. Hidup itu bukan dari dilihat dari masa lalunya, akan tetapi dilihat dari masa yang sekarang ketika ia berusaha untuk menjadi lebih baik lagi ."
Reza menatap perempuan yang berdiri dibelakangnya. Di usia yang sudah terbilang dewasa dia justru lebih sering senang-senang dengan beberapa perempuan. Kecuali perempuan yang sedang bersamanya kini. Bukan munafik, ia hanya ingin menjaga adik almarhum sahabatnya itu. Untuk jatuh cinta, rasanya dia tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan itu. Sebab ia akan merasa bahwa Semesta tidak adil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJAGAMU
Raka yang terus memegang tangan istrinya yang sepertinya terlihat begitu gugup karena dokter memintanya untuk tetap di rawat di rumah sakit. Takut jika suatu waktu perutnya sakit lagi seperti semalam Raka yang dibuat begitu kaget ketika melihat istrinya tengah berada di lantai dan berusaha untuk keluar dari kamar. Hingga dia harus memaksa istrinya agar tetap berada di rumah sakit.
“Mas, aku takut,”
Raka menggenggam semakin erat tangan istrinya. Mengerti jika trauma di masa lalu pernah meniadakan cinta yang begitu dalam di hati istrinya. Perihal Rania, Raka tidak bisa memaksa bagaimana kehilangan itu pernah membuat istrinya begitu bersedih. Apalagi sekarang ini berada di ruangan yang sama.
Pria itu menatap istrinya dan mengelap keringat istrinya. “Sabar ya sayang!” sementara itu mama Raka tengah berada di perjalanan sambil membawa semua perlengkapan untuk lahiran istri Raka.
“Bisa kan aku tinggal sebentar?” pintanya kepada sang istri. Maksudnya adalah untuk memindahkan kamar istrinya ke tempat lain. Takut jika bayangan masa lalu itu terus saja mengganggu pikiran istrinya hingga istrinya sendiri bersedih dan bayangan itu justru membuat istrinya tertekan.
“Mas mau ke mana?”
“Bentar saja, sayang,”
Raka mencium kening istrinya dan meninggalkan ruangan tempat di mana perempuan itu di rawat. Kemudian dia keluar dan bertemu dengan beberapa perawat.
“Mbak, bisa nggak istri saya dipindahkan ke ruangan lain?”
Perawat itu kemudian menatap Raka yang sepertinya memang tidak nyaman dengan ruangan itu. “Ruangannya nggak nyaman, Pak?”
Raka menggeleng kemudian menjelaskan bagaimana bayangan masa lalu itu terjadi. Raka memang pindah ke tempat yang jauh dari Reza, tapi dekat dengan rumah sakit di mana dulu pernah membuat kenangan itu memburuk.
“Jadi begini, Mbak. Istri saya pernah kehilangan calon buah hatinya, dan tepat di mana dia dirawat sekarang adalah ruang inapnya. Setiap kali dia mengingat ruangan itu dia sedih,”
Perawat itu kemudian mendekati salah satu temannya. “Pindahkan ke tempat lain. Kalau bisa jauhkan dari ruangan itu. Nggak baik kalau pasien terus seperti itu, apalagi pasiennya mau melahirkan,”
Raka yang mendengar perintah itu diucapkan ke beberapa perawat langsung tersenyum dan mereka langsung bertindak mengajak Fania pindah dari kamar itu. Bagiamanapun juga dia akan memberikan perawatan terbaik kepada istri dan juga anaknya.
Raka terus berdoa sepanjang perjalanan istrinya di pindahkan ke ruangan lain dan memang terdapat beberapa ruangan khusus melahirkan di sana. mau tidak mau itu harus dilakukan olehnya agar istrinya tidak mengingat trauma itu lagi dan mengganggu proses persalinan nanti.
Tidak terasa dia meneteskan air mata karena dia yang merasa begitu pengecut. Justru meninggalkan istrinya bekerja waktu itu dan mendapati istrinya yang sudah tidak berdaya lagi di lantai. “Sayang baik-baik ya,” isaknya di sana. tanpa memedulikan pandangan orang lain terhadap dirinya. Yang ingin dia lihat adalah istri dan juga calon buah hatinya baik-baik saja.
Raka selama ini begitu menjaga prinsip pernikahan dan tidak pernah macam-macam di luar sana dan menjaga hati istrinya dengan baik. Menjaga komitmen yang di mana ketika dia menikah, setia adalah yang sangat dia prioritaskan. Perlahan, mereka tiba di ruang rawat baru dan dia tetap setia menemani istrinya.
“Kamu yang minta aku pindah, kan?”
Raka mengangguk kemudian perawat itu selesai menyelesaikan tugasnya kemudian dia mengucapkan terima kasih dan pergi. Raka mendekati istrinya, “Aku lakukan ini semua karena aku nggak mau lihat kamu sedih,”
“Terima kasih, Mas,”
Raka menggeleng, dia mencium tangan kanan istrinya dan mengelus kepala istrinya dengan lembut. “Bukan kamu yang berterima kasih sama aku. Justru aku yang berterima kasih sama kamu, yang di mana kamu sudah izinkan buah hati aku hadir di sini. Dan sekarang kamu sedang berjuang untuk lahirin dia,”
Melihat perempuan yang begitu dia cintai terbaring di atas brankar cukup membuat hati Raka terluka karena hal itu. “Mas kenapa nangis?”
Raka memejamkan matanya kemudian mengingat tidak ada siapa-siapa lagi yang dimiliki oleh istrinya saat ini selain dirinya. “Berjuang buat kita bertiga, ya!” pinta Raka sambil menangis. Dia sungguh tidak tega hal itu terjadi lagi. Yang di mana kehilangan itu pernah dirasakannya. “Kalau kamu nggak sanggup, bilang sama aku. Aku panggil dokter sesegera mungkin, dan satu hal. Kamu bakalan operasi, tinggal nunggu perintah dokernya,”
Perempuan itu menggeleng, “Mas, aku mau lahiran secara normal,”
Raka tetap tidak mau mengambil risiko. Karena dulu saat pengangkatan Rania, perempuan itu dioperasi dan saat ini harus operasi lagi. “Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, please,”
“Tapi aku pengin berusaha, Mas,”
“Aku mohon jangan buat aku gila dengan semua ini, jangan buat aku seperti orang gila yang bakalan biarin kamu menderita seperti sekarang ini, aku mohon jangan pernah nolak untuk kebaikan kamu dan calon buah hati kita,”
“Mas, percaya sama aku,”
Raka tetap menggeleng. “Aku bukan nggak percaya sama kamu. Tapi aku yang nggak sanggup lihat kamu seperti ini. Aku udah terima kasih banget kalau kamu mau hamil dan berusaha untuk hilangin trauma kamu, tapi untuk lahiran secara normal. Aku nggak bisa biarin kamu gitu aja, aku mohon kali ini nurut,”
Perempuan itu memejamkan matanya kemudian membukanya perlahan dan tiba-tiba saja air matanya menetes. “Kenapa kamu berjuang sampai sejauh ini, Mas?”
“Karena aku sudah bersumpah sama diri aku. Kalau aku bakalan bahagiain kamu. Kalau aku bakalan tetap buat kamu bahagia, dan satu hal yang harus kamu tahu. Bahwa aku nggak bisa biarin kamu menderita seperti sekarang ini. Aku mau kalau kamu tetap nurutin semua yang aku mau, termasuk demi kesalamatan kamu dan anak kita,”
Perempuan itu memegan pipi Raka. “Tapi Mas harus janji selama proses persalinan itu berlangsung. Kamu nggak boleh ninggalin aku?”
“Aku bakalan tetap di sini nemenin kamu. Aku nggak bakalan ninggalin kamu, sumpah,”
Raka berusaha menampilkan senyumannya. Tetapi, dia hanya bisa menahan sakit di hatinya melihat istrinya di sana. “Iya, Mas. Aku nurut sama kamu,”
Raka berjanji bahwa ini adalah terakhir kalinya perempuan itu hamil. Dia tidak ingin lagi jika terjadi seperti sekarang ini, kesakitan yang harusnya tidak dirasakan oleh istrinya justru sangat menyedihkan baginya. Raka pun menyadari hal itu sekarang setelah dia menikahi perempuan itu beberapa waktu lalu. Bahwa cintanya memang sangat besar kepada perempuan itu. Perempuan yang sudah berhasil membuat pendirian Raka runtuh begitu saja. Yang di mana dulu dia begitu sering gonta-ganti perempuan di dalam hidupnya. Tapi, semenjak dia menikah. Semua itu berubah 180 derajat kemudian membuatnya menjadi pria yang jauh lebih lagi.
aku cuman ingin Reza sadar Thor
FANIA LAGI HAMIL ANAKNYA RAKA 🙂,
FANIA & RAKA SEMOGA BAHAGIA TERUS 🙂
SEMOGA REZA CEPAT DAPAT KARMA 🤬🤬🤬🤬🤬