Cerita 18+.
Lelaki itu tak bisa dipungkiri menarik secara fisik. Tapi Livia membencinya. Apa yang terjadi di suatu malam berhujan sehingga Livia terpaksa menikah dengan Norman? Apakah Livia bahagia menjalani kuliah dan menjadi istri Norman yang belum tamat kuliahnya? Livia shock kala tau Norman punya masa lalu kelam... karena biasa disewa tante-tante. Baca lanjutannya. Siapkan dirimu untuk happy, sedih, juga ngakak guling-guling mengikuti kisah mereka berdua.
Seperti biasa Fresh Nazar menyajikan cerita sehari-hari dengan balutan drama, kejadian lucu dan tokoh yang rada gila. Novel ini memang buat kamu yang mencari bacaan dewasa, lucu dan berbeda dari yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Merahasiakan Pernikahan
Norman menatap Livia yang kembali menangis. Gadis itu mencoba mengusap air matanya pake tisu. Tapi lembaran tisu itu sudah terlalu basah sehingga tak sanggup mengeringkan air mata Livia.
“Gue belum siap jadi istri lo. Belum siap orang-orang tau bahwa status gue sekarang istri lo. Gimana kata ibu gue kalo dia tau anaknya tiba-tiba sudah nikah?” Livia tersedu.
Norman diam.
“Gue takut ibu gue marah. Asli gue takut banget.... Gue juga ngeri Ibu kos tau kita sudah nikah. Bahkan gue
gak sanggup ngasih tau Ira atau Kiki kalau gue sudah jadi istri lo.”
Wajah Norman melunak melihat wajah cantik itu sembab. “Gue setuju kita merahasiakan pernikahan ini. Kalau orang tau kita sudah nikah mereka belum tentu simpati ke kita. Bisa jadi malah pada ngatawain dan menghina kita. Bikin kita gak leluasa lagi bergerak. Bahkan sampe gak berani datang ke kampus saking malunya.”
“Itu yang gue pikirin. Gue belum sanggup dihina dan dicemooh orang karena berbuat gak bener bahkan digerebek warga sampe kita terpaksa nikah gini.”
“Ya iyalah. Gue juga malu kalo seiisi kampus tau kita digerebek warga sini. Ini aib. Dimana-mana aib hanya jadi bahan ketawaan bahkan dimaki!”
“Jadi gimana sekarang?”
“Lo sama gue sudah jadi suami istri. Itu fakta. Kita gak bisa pungkirin itu. Tapi gue gak maksain kita harus bareng terus kayak suami istri lainnya.”
“Maksud lo?”
“Untuk sementara kita rahasiakan ini. Lo balik ke kos lo. Tinggal seperti biasa seolah gak ada kejadian ini.”
“Terus Kiki sama Ira gimana? Gue bukan gak mau jujur ke mereka. Kiki mungkin masih bisa nyimpan rahasia. Tapi lo tau sendiri mulut Ira gimana?”
“Iya. Kita harus merahasiakan pernikahan ini. Termasuk ke Kiki sama Ira. Takutnya mereka gak sengaja keceplosan cerita ke orang lain.”
Livia agak lega perasaannya. “Gue mau balik ke kos. Mungkin kita bisa merenung seperti apa nanti baiknya kita jalanin kehidupan kita ke depannya.”
Norman memeluk Livia. “Lo tetap istri gue…. Tapi sekarang lebih baik kita rahasiakan ini ke semua orang.”
Livia mengangguk. Ia balas memeluk Norman.
Norman mengangkat wajah cantik di depannya. Ditatapnya mata Livia lekat-lekat. “Gue merasa amat sangat bersalah. Gue minta maaf dari lubuk hati gue yang terdalam. Karena gue lagi jadi terpaksa begini. Maafin gue ya?”
Livia menatap mata di depannya. Dalam jarak dekat dia baru menyadari bahwa mata lelaki di depannya ini tak benar-benar galak seperti yang dipikirkannya dulu. Mata Norman menyimpan ketulusan di balik sorot mata tajam bak elang. Dan sorot mata ini sekarang seolah ikut mohon maaf ke Livia.
“Gue maafin lo. Dan jujurnya ini bukan semua salah lo. Ini salah gue juga yang ikut terbakar nafsu.”
“Gue tau.” Norman mencoba bercanda. “Kalau lo gak suka sama gue. Lo gak bakalan ikut goyang waktu kita begituan….”
Livia tersipu. Ia mendorong muka Norman. “Sebenarnya gue kesakitan. Sakt banget. Tapi entah kenapa gue suka waktu lo melakukannya….”
"Asli gue kaget lo masih per*wan..."
“Ya masih peraw*n lah. Emang sama siapa gue begituan?!” Sungut Livia
“Ya sudah lah, mending gue anterin lo ke kosan. Ibu kos sama bapak kos pasti curiga sudah semalam ini lo belum balik ke rumah mereka.”
*
BRRRRMMM. Motor Norman berhenti di depan rumah kos.
Livia turun dari boncengan motor Norman. “Lo gak usah turun. Biar mereka gak curiga.”
Norman mengangguk. Livia lantas cium tangan Norman. “Jaga rahasia kita ya.”
Norman mengangguk. “Iya. Cukup sementara ini kita aja yang tau.”
Dari dalam rumah pintu depan terbuka. Ternyata Susi yang bukain pintu. Karena Pak Hartono lagi di kamar mandi.
Susi terpana melihat Livia cium tangan Norman.
Livia dan Norman merasa diawasi. Keduanya jengah.
“Kamu masuk aja. Besok ke kampus aku jemput kamu.”
Livia mengangguk.
Lantas Norman pergi dengan motornya. Livia menatap Norman pergi sambil menghela nafas.
Susi masih menatap Livia dari depan pintu. Mencoba bersikap biasa, livia membuka pagar depan. Terus ke teras dan masuk ke dalam rumah.
Susi menjejeri Livia dengan heran. “Lo pake baju siapa?”
DEEGG! Livia kaget karena Susi memperhatikan pakaian yang dikenakannya. Ia mengenakan sebuah T Shirt yang kekecilan bagi Norman tapi tetap gombrong di tubuhnya. Dan ia mengakali sebuah celana batik panjang yang biasa dipakai Norman tidur dengan mengikat tali celana di pinggang lebih erat. Bagian celana yang panjang digulungnya.
“Pinjem baju sama celana teman gue. Soalnya tadi baju gue basah kuyup kehujanan.”
Livia buru-buru masuk ke kamarnya. Takut ditanya Susi lagi.
Di kamarnya Livia menghempaskan diri di pembaringan. Ia kembali menangis sesenggukan. Terbayang kembali kejadian beruntun yang terjadi padanya di hari itu. Air mata Livia semakin deras membanjir.
“Ughhh…” Tiba-tiba Livia mengerang kesakitan. Bagian intimnya terasa sakit.
Buru-buru Livia masuk ke kamar mandi. Ia membuka celana dan memeriksa bagian intimnya. Ternyata berdarah.
Panik Livia melihat itu. Ia ingat tak punya stock pembalut wanita.
Tak berapa lama Livia mengetuk pintu kamar di sebelah kamarnya.
Mimi menongolkan wajah di pintu dengan muka dioles obat jerawat.
“Lo punya pembalut gak, Mi? Gue minta satu dong.”
Eskpresi wajah Livia membuat Mimi enggak enak hati mau bertanya. Ia menuju lemari lalu memberi sebuah pembalut ke Livia yang masih menunggu.
“Thankyou. Gue butuh banget ini.” Kata Livia sambil meringis kesakitan lalu cepat-cepat pergi ke kamarnya.
Mimi menatap Livia dengan curiga. Cara berjalan Livia diperhatikannya. Aah, Mimi paham. Cara berjalan seperti itu pernah dilihatnya dilakukan kakak perempuannya saat baru menikah.
Tak bisa menahan diri, insting Mimi sebagai perempuan yang suka bergunjing membuatnya segera mengetuk pintu kamar Susi. Susi yang belum tidur karena masih ngerjain tugas senang kala Mimi menyebut ada berita parah. Yang parah bagi orang lain ternyata bisa menyenangkan dan jadi bahan gunjingan bagi lainnya.
“Asli gue juga curiga.” Kata Susi. “Gue kan bukain pintu waktu dia pulang. Ngapain coba dia cium tangan Norman dan pake baju Norman?”
“Cara jalannya itu, Sus. Gue yakin deh. Itu cara jalan orang yang baru aja hilang keper*wanannya!” tandas Mimi.
"Wuih, jadi si Via habis begituan sama Norman ya?" Susi bicara dengan nada setengah mencemooh setengah iri. "Gak nyangka ya Via yang kalem ternyata gatel juga kayak koreng!"
*
“Aku bukan gak mau cium tangan kamu kalo di luaran. Tapi aku takut orang curiga sama kita kalo aku cium tangan kamu.”
“Ya udah. Kamu cium tangan aku kalau di tempat tertutup aja. Di luaran gak usah.” Kata Norman yang saat itu membonceng Livia di motornya.
Motor berhenti depan gedung A. Livia turun dari boncengan motor. Norman terus pergi membawa motornya ke parkiran.
Livia dan Ira menyambut kedatangan Livia dengan heran.
“Kenapa wajah yeiy pucat Livia sayangku cintaku buah khuldiku?” Ira menatap wajah Livia. “Wajah yeiy seperti pemain film p*rno habis em el sama 3 cowok. Pucat pasi lesu lemas tapi puas….”
“Kasar amat lo ngomong,” Kiki melotot ke Ira.
“Aih, namanya ngomong sama teman aja diambil hati dimasukin ke bawah puser diobok-obok sampe kelenger. Eike kan cuma ngomong, Ki. Mungkin Livia cuma kurang sehat ya cyyinn? Eike punya vitamin lho.“ Irawan membuka tasnya yang bagus dan mahal. “Biasanya eike minum vitamin ini kalo capek nari atau capek mastur basah. Aih bukan mastur basah, maksud eike Mastur adiknya Mandra. Eike minum ini buat jaga stamina. Biar kuat menghadapi kenyataan hidup yang kadang melelahkan jiwa.” Kata Ira sambil mengeluarkan botol vitamin kecil dari dalam tasnya.
BERSAMBUNG……
Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Ira dan Kiki tau bahwa Livia sudah menikah dengan Norman? Atau Livia bisa tetap menjaga rahasianya?
Ikuti terus cerita ini. Klik LOVE dan taruh novel ini di rak bukumu agar bisa selalu menerima update
terbaru HOT MAN ON CAMPUS.
Jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN untuk cerita ini. Thankyou buat yang sudah membaca. Semoga happy dan sehat selalu.
Sambil menunggu up episode baru, Reader juga bisa mampir membaca buku Fresh Nazar lainnya di Noveltoon. INGAT: semua novel ini 18+, reader yang masih kecil silakan kabur main game aja
di hand phone, Jangan ikutan baca bacaan orang dewasa.
1. TERPAKSA MENIKAHI BIG BOSS
(tamat, ceritanya super seru dan lucu)
2. ISTRI YANG TERSIKSA
(tamat, novel yang banyak adegan dewasa dan rada gokil)
3. BABY MY LOVE
(tamat, ceritanya seru dan gila, lucu pake banget)
4. PEMBALASAN SANG CEO
(cerita panas dan seru, lanjutan novel Terpaksa Menikahi Big Boss)
selalu dimanjain