Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Dihargai
"Selamat ya bro,"
Aditya mengangguk, cowok itu menenggak minuman bening dengan kadar alkohol rendah. Duduk melingkar bersama teman-temannya di pinggir pantai. Angin laut tidak memuat mereka kedinginan.
Mereka semua semua bertelanjang dada dengan beberapa gadis pelayan yang sengaja di sewa teman Aditya untuk meramaikan suasana.
Hari ini tepat 23 tahun Aditya bertumbuh. Bersamaan dengan kelulusannya, Aditya membuat perayaan kecil-kecilan di tepi pantai dengan pasir putihnya yang lembut.
Api unggun berkobar sedikit lebih pendek karena beberapa kayunya sudah berubah menjadi arang. Menghantarkan hangat di tengah-tengah dinginnya malam.
Di samping Aditya duduk seorang gadis cantik dengan rambut blonde yang tergerai indah. Gadis yang beberapa kali keluar di story Instagram milik Aditya, begitu sukses membuat huru-hara dan membuat netizen saling melempar spekulasi.
Elena, gadis itu duduk bersandar di lengan Aditya. Ikut menikmati minuman dan beberapa kali bercanda dengan mereka.
"Kapan kalian akan berpacaran? sudah sedekat itu aku tidak percaya jika hanya sekedar teman." celetuk cowok dengan badan penuh tattoo.
Aditya menggeleng. Elena yang melihatnya sedikit menurunkan garis bibir, kecewa dengan jawaban Aditya.
"Ayolah broo, tunggu apa lagi? lihat Elena?" cowok itu memuji penampilan Elena yang selalu luar biasa. "Atau kalau tidak ku jadikan saja Elena pacaraku." tawa renyah mengakhiri, kalimatnya yang penuh godaan.
Siapa yang tidak tahu Elena? gadis super sexy dan pintar. Kedekatannya dengan Aditya terjadi sejak pertama Aditya datang ke universitas itu. Elena yang membatu Aditya mencari tempat tinggal dan membantu mengurus beberapa berkas karena Aditya benar-benar seperti anak itik yang kehilangan induknya saat pertama kali sampai di tempatnya yang baru.
Aditya mendengus, "jangan harap." Cowok itu seakan lupa dengan statusnya. Aditya benar-benar melupakan Laras, entah karena alkohol atau memang dengan kesadaran penuh cowok itu sudah tidak lagi kepikiran Laras?
Gadis yang sempat menjadi pusat perhatiannya, kini tidak sedikitpun menghantui pikirannya. Mungkin karena respon Laras yang selalu cuek dan pada akhirnya membuat keduanya lost kontak, atau apapun itu. Aditya benar-benar melupakan. Ataukah sebab tidak ada hubungan yang lebih int*im sehingga merasa tidak memiliki keterikatan hati yang dalam? Perasaan memiliki akhirnya pudar?
Di lain tempat, di sebuah kamar dengan nuansa yang sangat ceria. Rara yang tidak bisa tidur setelah sholat subuh, memutuskan untuk mandi dan beres-beres kamar. Memakai pakaian santai yang sopan dan menunggu matahari terbit sembari berselancar di dunia Maya. Gadis itu terus mengomel saat melihat story Instagram Aditya yang dipenuhi foto-foto tidak pantas. Terlalu dewasa bagi Rara yang pergaulannya masih lurus lagi polos. Gadis itu memaki Aditya karena melupakan Kakaknya padahal mereka sudah menikah. Semua kekesalannya bertambah parah saat mengingat nasib kakaknya saat ini ada campur tangan dari dirinya. Rara menyesal telah membawa Laras bertemu dengan Aditya. Pikirnya dulu akan menyenangkan memiliki seorang ipar yang terkenal dan kaya, tapi nyatanya biasa saja. Malah dirinya menjerumuskan kakaknya pada kehidupan yang menyedihkan.
Ingin meminta maaf tapi gengsi, Rara hanya bisa meminta maaf dari hatinya yang paling dalam. Tanpa bersuara, hanya lewat batin.
Setelah sarapan, Rara berpamitan pada orangtuanya untuk berkunjung ke tempat Laras. Harto dan Sari sangat antusias karena merasa Rara akhir-akhir ini begitu peduli dengan kakaknya. Tentu orang tua akan sangat senang melihat anak-anaknya akur. Dan perubahan itu mulai mereka rasakan saat Rara tak lagi serumah dengan Laras.
"Bawa bekal untuk kakakmu sekalian!" Sari berlari kecil ke dapur, mengambil wadah kemudian menyiapkan makanan untuk Laras.
"Ayah mau nitip apa buat kak Laras?"
"Nitip salam."
"Heehhhh, masa cuma itu aja... Uang kek, uang buat bayar ojol."
"Itu mah buat kamu." Harto mengambil dompet dan memberi beberapa lembar uang berwarna merah kepada Rara.
Rara tersenyum lebar, membungkuk saat mengambil uang tersebut, seakan sedang menerima hadiah dari raja.
"Bagi dua buat jajan kakakmu sekalian."
"Baik ya mulai, terimakasih." Rara langsung menyimpan uang tersebut ke dalam saku celananya, takut Harto berubah pikiran dan mengambil lagi uang yang sudah diberikan.
Perbincangan ketiganya terputus saat Rara mendapat panggilan dari ojek online yang dipesan. Gadis itu dengan cepat menyalami tangan Harto dan Sari. "Pergi dulu, bayyy," pamitnya.
"Hati-hati di jalan!" seru Sari
"Yaa!" Rara membalas tak kalah seru.
Minggu pagi keadaan jalan lumayan sepi, orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, masih beristirahat setelah semalaman keluyuran. Hanya ada beberapa morning people yang sedang berlari atau bersepeda. Rara meminta supir ojol menambah kecepatan motornya, untung saja si supir meng -iyakan. Sehingga hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di apartemen Aditya.
"Jangan lupa bintang 5-nya."
"Apa sih yang enggak buat supirku inihh." Supir ojol tertawa karena Rara melucu. "Udah nih yaa, aku kasih tip 2 rebu." Sisa saldo dihabiskan semua.
Rara memperlihatkan layar ponselnya pada supir ojol. Keduanya tertawa ringan.
"Makasih neng, Lumayan dua rebu."
"Sama-sama."
Rara bergegas pergi ke unit apartment milik Aditya, gadis itu memicingkan mata saat netranya melihat cowok yang tidak asing baginya. Cowok tinggi dengan kumis tipis serta jaket berwarna hitam dipadukan dengan baggy pants. Style yang ngawur tapi terlihat keren di mata Rara.
"Woi, kak Raihan ya?" Seru Rara, mendekati Raihan yang hampir saja menutup pintu Lift. Rara menyusul dengan cepat dan mereka pergi bersama.
"Kamu adiknya Laras ya?" Raihan bertanya dengan sopan.
Rara menyengir. "Iya, Kak Raihan mau jenguk Kakakku?"
"Iya, saya merasa bersalah setelah kejadian semalam. Ini rencananya mau kirim makanan, pasti kakakmu susah bangun." Raihan mengangkat sekantong berisi makanan dan minuman, memperlihatkan pada Rara. "Biasanya beberapa jam setelah jatuh baru terasa badan sakit-sakit."
Rara dapat melihat ketulusan dari mata Raihan, gerak-geriknya juga lues seperti tidak dibuat-buat. Rara yakin jika Raihan pasti orang yang baik.
"Ayo barengan, aku juga mau jenguk Kak Laras." Gadis itu juga menunjukkan bawaannya pada Raihan.
Keduanya berjalan beriringan menuju unit Laras. Mengetuk pintu dengan tidak sabaran karena Laras terlalu lama membuka pintu.
Baru sekitar semenit, kepala Laras keluar mengintip. Gadis itu baru membuka pintunya lebar-lebar saat melihat Raihan datang bersama Rara. Dari belakang keduanya, terdengar juga langkah kaki yang semakin mendekat, yang ternyata milik Rani.
Sahabat Laras itu juga berkunjung dengan membawa buah serta air kelapa muda. Laras mempersilahkan ketiganya masuk, duduk di sofa depan televisi sembari ngobrol ringan.
Cara jalan Laras yang seperti jompo menarik simpati ketiganya. Walaupun Laras menolak untuk dikasihani dan mengatakan dirinya baik-baik saja, tapi mata mereka tidak bisa dibohongi.
"Saya panggilkan tukang pijat ya... " Niat baik Raihan di tolak Laras dengan gelengan pelan. "Tenang, sudah bersertifikat. Enggak perlu takut salah pijat." sambungnya, berusaha meyakinkan Laras.
Rani ikut membantu niat baik Raihan. "Gapapa Ra, jangan takut. Enggak sakit kok, kapan lagi bisa dapat pijat gratis, iya enggak?" gadis itu melirik Raihan dan Rara bergantian.
Raihan mengangguk setuju, pun dengan Rara.
"Enggak perlu, istirahat beberapa hari juga sembuh."
"Ya udah, ini dimakan dulu sarapannya. Kamu pasti belum makan, kan?" Raihan tidak menyerah, cowok itu mengeluarkan bubur ayam dari kantong kresek untuk disuguhkan pada Laras.
Raihan menatap Rani dan Laras bergantian dengan bahas bahasa tubuh yang kikkuk. "Maaf ya cuma bawa satu, saya enggak tau kalau kalian berdua mau datang."
"Santai ae ngapa sih? Lagian yang sakit Laras bukan kita, iya kan Ra?"
"Betul. Aku juga bawa makanan cuma satu, buat kak Laras aja... Eh tapi yang dimakan punya Kak Raihan aja dulu, soalnya bubur. Kalo ini bisa disimpan buat nanti." Rara menyingkirkan bekal ibunya, menaruh di kulkas. Rani menyusul dengan membawa buah untuk di cuci.
"Ikut Ra!"
Sepeninggal Rara dan Rani, Raihan beranjak dari tempatnya lebih dekat dengan Laras untuk memberikan bubur serta sendok dan beberapa sate jeroan.
"Makasih ya," ucap Laras sekenanya dengan senyum tipis.
Raihan kemudian duduk lebih dekat dengan Laras, cowok itu juga mengeluarkan teh hangat serta membukakan sedotan untuk Laras. Perhatian perhatian kecil yang tanpa sadar membuat Laras seperti diratukan, hatinya menghangat.
Penilaian Laras terhadap Raihan penuh dengan tanda plus. Tidak agresif, baik, lembut dan perhatian terhadap hal-hal kecil. Ternyata membuka kehidupan untuk lelaki tidak seburuk itu. Laras mulai percaya diri.