Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
Waktu makan siang kali ini terasa sangat panjang bagi Zira.
Setelah penantian panjang akhirnya sesi makan siang pun selesai, Lexi pamit kembali ke kamarnya dan tentunya dengan mengajak serta Zira bersamanya.
"Aku harap kamu bisa menempatkan posisi kamu sebagai kakak ipar bagi adikku!." Setibanya di kamar, Lexi melontarkan kalimat tersebut. Sekalipun nadanya terdengar lembut namun tetap saja Zira merasa tersinggung mendengarnya.
"Apa maksud anda?."
Lexi menyungging senyum mendengar panggilan Zira terhadap dirinya yang notabenenya kini telah menjadi suaminya.
"Sepertinya sebutan 'anda' sangat tidak enak untuk didengar, Zira. Bolehkah kamu merubah panggilanmu itu! Jujur, kalau untuk aku pribadi mungkin bisa mengerti, tapi bagaimana dengan kedua orang tuaku? Mereka pasti kurang berkenan dengan panggilan kamu terhadapku. Please.... setidaknya gunakan panggilan yang lebih pantas dan enak untuk didengar, sayang!."
"Sayang....." Cicit Zira dengan tatapan kurang suka. "Jangan bersikap seolah kira menikah karena saling mencintai! Aku geli dengan panggilan itu."
Lexi sama sekali tidak marah dengan jawaban ketus Zira, pria itu justru mengulas senyum manis di bibirnya. Senyuman yang semakin menambah porsi ketampanan di wajah seorang Lexiano Fernandez.
"Lantas, aku harus memanggil istriku dengan panggilan apa, hm? Mamah atau bunda?." Zira semakin kesal mendengar kata-kata Lexi.
"Sekali lagi, tolong rubah panggilan kamu padaku, Zira! Setidaknya gunakan sebutan 'mas' biar lebih enak kedengarannya!." Jujur, Zira pun merasa tidak enak jika memanggil Lexi dengan sebutan anda apalagi tuan dihadapan mertuanya.
"Baiklah." Zira pun mengalah. Wanita itu berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Tak lama berselang, Zira kembali dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
"Untuk apa ini?." Zira mengernyit bingung saat Lexi tiba-tiba menyodorkan salah satu black card miliknya.
"Tentu saja untuk kamu, sebagai bentuk nafkah pertama dariku, Zira. Sekalipun kamu membenciku, bukan berarti kamu tidak berhak atas nafkah dariku."
"Tidak perlu, aku tidak membutuhkannya. Simpan saja, aku tidak butuh barang apapun pemberianmu." Zira berlalu begitu saja melewati tubuh Lexi.
Lexi tak memaksa. Pria itu memasukkan black card tersebut ke dalam laci nakas. "Ambilah bila suatu waktu memerlukannya!." Lexi yakin, dengan ketulusan ia akan dapat meluluhkan kerasnya hati istrinya.
Setelahnya, Lexi beranjak meninggalkan kamar, hendak ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa pekerjaan. Ya, meskipun baru saja menikah, Lexi tetap memilih untuk bekerja agar pikirannya tidak terlalu terfokus pada sikap penolakan Zira terhadapnya. Mungkin karena terlalu serius dengan pekerjaannya, Lexi sampai tidak sadar jika dirinya sudah hampir tiga jam meninggalkan sang istri sendirian di kamar, dan hal itu membuat Zira uring-uringan tidak jelas. Bukan karena merindu, tapi bosan seharian di kamar tanpa ada teman mengobrol, sementara untuk keluar kamar ia pun merasa sungkan. Aneh tapi itulah manusia, dulunya ia sangat akrab dengan mommy tapi setelah menikah dengan Lexi, Zira justru merasa sungkan pada wanita paruh baya itu, padahal kenyataannya mommy tetap menyayanginya, sama seperti saat ia masih menjalin hubungan dengan Leon.
"Ini orang kemana sih, kenapa belum kembali juga?." Saking sebalnya, Zira sampai mondar-mandir bak setrikaan di dalam kamar. Sesekali wanita itu melirik ke arah pintu, berharap benda persegi panjang tersebut terbuka dan Lexi muncul dari sana.
"Ceklek." Akhirnya pintu dibuka dari arah luar dan nampak Lexi memasuki ruangan.
"Mas darimana saja sih?."
Lexi tak langsung merespon, pria itu nampaknya tertegun dengan panggilan baru istrinya. Meskipun nadanya terdengar sedikit ketus namun panggilan baru Zira kepadanya mampu menghangatkan hati Lexi.
"Mas dari ruang kerja."
"Aku bukan burung yang bisa kamu kurung seperti ini ya mas." Maksud Zira, setidaknya kalau ingin berlama-lama di ruang kerja, Lexi bisa berpikir untuk mengajaknya bersama, bukannya malah meninggalkan dirinya sendiri di kamar seperti ini. Walaupun ia tidak suka dengan Lexi, tapi setidaknya pria itu bisa diajak untuk berkomunikasi, begitu pikir Zira.
"Mas tidak pernah berpikir untuk mengurung kamu di kamar, Zira. Kalau memang kamu merasa bosan di kamar, kenapa tidak keluar saja. Kamu bisa mengobrol dengan mommy kalau bosan di kamar." Kata Lexi seraya mendudukkan tubuhnya di sofa, sambil menatap pada Zira yang kini telah duduk di tepian ranjang.
"Aku merasa sungkan pada mommy." Jujur Zira.
"Kenapa harus sungkan?. Sekalipun kamu tidak menikah dengan Leon tapi denganku, kamu tetaplah menantu bagi mommy. Rasa sayang mommy ke kamu tidak pernah berubah, dan kamu harus yakin itu, Zira!." Lexi berusaha meyakinkan Zira bahwa mommy tetap menyayanginya, sekalipun yang menikah dengannya bukanlah Leon, melainkan Lexi. Karena, keduanya sama-sama putra mommy.
Tok....tok....tok... Lexi....Zira....
Suara ketukan yang disusul oleh seruan mommy otomatis mengakhiri obrolan Zira dan Lexi. Lexi beranjak, membukakan pintu untuk mommy.
"Maaf kalau mommy mengganggu waktu istirahat siang kalian. Mommy hanya ingin mengajak Zira untuk memilih perhiasan peninggalan eyang. Dulu saat eyang masih hidup, Eyang pernah berpesan pada mommy untuk memberikan beberapa diantaranya kepada istri kalian kelak. Mengingat sekarang kamu sudah menikah, maka mommy ingin menunaikan pesan eyang. Mommy ingin Zira memilihnya sendiri."
Mendengar namanya disebut oleh mommy, Zira lantas memandang ke arah mommy yang kini masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Ayo, sayang!." Ajak mommy. Sebelum mengiyakan ajakan mommy, Zira melirik sejenak pada Lexi. Menyadari itu, Lexi lantas mengangguk singkat.
Zira pun menurut, dan pergi bersama ke kamar mommy.
Sungguh, Zira merasa sungkan pada wanita itu. Untuk sekedar mengucapkan sepatah katapun Zira merasa sungkan, tidak seperti sebelumnya.
Menyadari sikap Zira, mommy pun mengulas senyum.
"Mommy tahu, situasi dan status kamu saat ini membuat kamu merasa canggung dan juga sungkan terhadap mommy, Zira." Sekalipun Zira tidak mengutarakannya namun mommy dapat merasakannya.
"Maafkan Zira, mom." Zira nampak tertunduk dengan memilin ujung bajunya.
Mommy mengusap punggung Zira kemudian berkata. "Untuk apa meminta maaf? Ingat Zira, jika kamu tidak merasa berbuat salah maka tidak perlu meminta maaf! Mommy tahu sayang, kamu pun pasti tidak ingin berada dalam situasi seperti saat ini, namun takdir lah yang mengharuskan kamu berada di situasi seperti sekarang ini. Sejak dulu hingga sekarang, rasa sayang mommy ke kamu tidak pernah berubah. Sekalipun kamu tidak jadi menikah dengan Leon tetapi dengan Lexi, kamu tetaplah menantu mommy, karena keduanya adalah anak-anak mommy." Panjang kali lebar penjelasan mommy agar Zira menghilangkan rasa sungkan dihatinya terhadap wanita paruh baya tersebut.
"Jangan kamu pikir karena Lexi bukan anak kandung mommy lantas mommy tidak menyayanginya, nak. Bagi mommy, Lexi ataupun Leon, keduanya memiliki tempat yang sama di hati mommy. Jadi, mommy berharap kamu bisa menerima keberadaan putra sulung mommy sebagai suami kamu dengan sepenuh hati, Zira!." lanjut mommy.
Deg
Zira terdiam.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣