-Dukung karya Author dengan cara tinggalkan jejak Like, Komen, Rate dan juga Vote kalian-
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
--------------------------------------------------
"Jangan memanggilku Ava karna itu bukan namaku"
"Itu namamu, Stupid"
"Namaku Fredella-...."
"Ava Elvarette"
Fredella terdiam karena mengiyakan ucapan pria itu dalam hati.
"Bodoh"
"Sialan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HufflePuff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shock
Hingga tengah malam masih ada Fredella yang belum bisa terlelap, dengan terus menatap langit-langit kamar.
Ia memikirkan banyak hal yang begitu mengganggu pikirannya. Namun, yang sangat banyak ia pikirkan adalah pola pikir pria bernama Damien.
Fredella sangat ingin tahu apa sebenarnya tujuan pria itu bersikeras mengatakan akan menikahinya?
Apakah pria itu hanya mengatakan bualan untuk membuatnya berharap lalu menjatuhkannya? Apakah pria itu hanya bermain-main dan akan menghianatinya?
Entahlah, Fredella tidak bisa menebak itu karena yang ia tahu jika pria itu sedang berada dalam fase pemulihan mengingat ia juga mengalami rasanya di hianati, namun apa mungkin saja itu caranya untuk membalaskan dendamnya pada kaum wanita atas perasaan sakitnya.
"Aku membenci ini. Sungguh aku ingin tidur" ucap Fredella yang menelungkupkan badan lalu membenamkan kepalanya ke bantal dan mencoba tidur.
Sejenak ia memejamkan mata dan masih mencoba terlelap, terdengar bel pintu berbunyi.
Ia membanting bantal yang ia genggam lalu ia akan sangat siap memaki siapapun yang datang ke rumahnya saat ini.
Ia melangkah cepat ingin segera memaki karena seakan menemukan jalan untuk meluapkan kekesalannya.
Namun, langkahnya terhenti ketika layar cctv yang menempel di dinding menangkap sosok wanita yang tak ia kenal.
Fredella ragu untuk membukakan pintu, entah apa yang dipikirannya iapun segera mendial nomor Damien lalu menghubunginya.
Sedikit lama ia menunggu karena setelah dua kali ia menghubungi pria itu, hasilnya adalah tak ada jawaban sama sekali. "Apakah Devil itu sudah tidur? Tapi ini memang sudah tengah malam" gumam Fredella.
"Baiklah, mungkin penghuni baru" gumamnya lagi yang lalu berjalan sedikit pelan menghampiri pintu.
Fredella perlahan membuka pintu tersebut, setelah ke dua pasang mata saling menatap, wanita yang tak ia kenal itu mulai melemparkan senyum.
"Selamat malam, Nona Fredella" ucap wanita itu yang sontak membuat Fredella terkejut.
Wanita itu mengetahui identitasnya. Apa mereka sudah pernah saling bertemu sebelumnya? Tapi mengapa Fredella tidak ingat sama sekali dengan wanita ini?
"Persilahkan saya masuk dan mari kita berbicara sejenak" ucap wanita itu lagi karena Fredella tak kunjung membuka mulutnya.
Namun, Fredella memiringkan tubuhnya untuk mengisyaratkan jika wanita itu boleh masuk ke dalam apartemennya.
Melihat ada satu sofa panjang dan dua sofa single di hadapannya kosong, membuat wanita yang baru datang itu langsung duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Silahkan duduk, Nona Fredella" ucap wanita itu.
Tentu Fredella heran, mengapa ia yang menyuruhnya duduk sedangkan apartemen ini miliknya? Tapi, bukan itu masalahnya.
Masalahnya adalah, urusan apa yang wanita itu miliki hingga seperti tak dapat ditunda hingga esok hari saja?
"Saya mohon maaf karena saya datang diwaktu dan di jam yang sangat tidak tepat. Namun, tanpa berlama-lama, saya akan mempercepat proses semua ini"
"Perkenalkan saya adalah Nana. Saya adalah orang kepercayaan dari Nyonya Adelle Mc.Kenzie alias Nyonya Mariana Arabelle. Saya sudah mengetahui jika selama ini anda mencari Nyonya namun tidak membuahkan hasil, dan sejujurnya saya yang menghalangi anda untuk menemukan Nyonya" ucap wanita itu
Kata demi kata membuat Fredella memicingkan mata dan terkejut karena ia akhirnya tahu alasan jika dia sama sekali tidak dapat menemukan jejak ibunya selama ini.
"Ini adalah surat pemutusan akta keluarga anda dengan Nyonya Adelle karena saat ini Nyonya sudah bahagia dengan suami dan kedua anaknya"
"Tolong anda tanda tangan disini karena saya pun ingin segera beristirahat"
"Siapa yang memintamu melakukan ini?" tanya Fredella pada wanita bernama Nana tersebut.
"Tentu saja, Nyonya Adelle sendiri yang memintanya" jawab Nana.
"Kau ada bukti kuat?" tanya Fredella lagi.
"Silahkan" ucap Nana yang menyodorkan ponselnya dimana sudah ada bukti rekaman percakapannya dengan ibunya.
"Aku terkejut melihat anak itu kau tahu? Apalagi tadi aku sedang bersama Dyana di swalayan. Cepat urus ini semua sebelum suamiku tahu jika sebelumnya aku sudah memiliki anak, bahkan aku melakukan Vaginoplasty agar Tuan percaya aku adalah perawan tua waktu itu. Beri dia kompensasi dengan cek kosong agar dia bisa menuliskan sendiri berapa pun yang dia mau" antara harus tertawa dan menangis itu tidak membuat ekspresi datar di wajah Fredella berubah.
Ia memberikan kembali handphone itu pada pemiliknya lalu membereskan sendiri berkas yang berceceran di hadapannya.
Fredella menghela nafas lalu berkata "Pulang dan beristirahatlah. Kau bekerja dengan sungguh keras hari ini karena seperti tidak ada waktu esok lagi untuk menemuiku"
"Jangan berbasa-basi, Nona. Silahkan tanda tangan berkas ini karena dengan itu saya dapat dengan tenang melangkah pulang" ucap wanita itu yang kembali membuka berkas meminta Fredella menandatanganinya.
"Tidak perlu, sebisanya kau hilangkan saja bukti apapun tentangku. Aku tidak butuh ini, dan lupakan perihal aku pernah mencarinya" jelas Fredella yang menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Selamat malam" ucap wanita itu yang membalikkan badan dan diantar Fredella untuk keluar.
Saat Fredella membukakan pintu, ia melihat ada Damien disana yang akan menekan bel, Damien yang melihat ada orang asing keluar dari apartemen Fredella pun terlihat bertanya-tanya siapa wanita tadi.
"Kau baik-baik saja? Maafkan aku, kau menunggu lama kedatanganku. Kenapa kau diam? Kau baik-baik saja? Siapa wanita tadi? Bukankah tidak etis jika menyangkut pekerjaan pada tengah malam dan di rumah?" ocehan Damien membuat Fredella semakin menunduk lalu menyandarkan keningnya ke arah dada Damien.
"Ava? Air mata apa itu? Siapa yang berani membuatmu menangis? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Damien lagi.
Namun, Fredella tidak menjawab apapun dan langsung pingsan seketika itu juga.
Damien panik, ia membopong Fredella masuk kamar dan meminta dokter pribadinya datang ke unit Fredella saat itu juga.
Ia tidak peduli pada apapun, ia hanya peduli jika wanitanya harus cepat sadarkan diri.
***
"Nona mengalami shock hebat, jangan biarkan Nona dalam keadaan setres sementara ini Tuan"
"Obatnya sudah saya resepkan dan dapat diambil di rumah sakit, permisi" ucap dokter itu pada Damien yang terduduk di samping Fredella dengan tangan yang menggenggam erat tangan wanita yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Bangunlah, Ava. Mengapa kau memendam kesedihanmu?"
"Kau dengar aku? Apa yang kau inginkan pasti akan ku penuhi asalkan kau bangun saat ini juga"
"Ava, bangunlah"
"Jangan membuatku khawatir, aku tidak akan meninggalkanmu"
"Kau merasakan tanganku ini? Aku akan tetap seperti ini padamu mulai saat ini, aku mohon bangunlah"
Yang Damien katakan sama sekali tidak membuat Fredella bangun, ia melekatkan keningnya ke tangan yang sedang menggenggam itu.
Ia memejamkan mata menahan tangis, ia tak ingin lemah saat ini karena ada wanita yang sedang membutuhkannya.
"Siapa yang membuatmu seperti ini? Apakah wanita tadi? Aku akan memberikannya pelajaran tak ternilai padanya jika benar dia yang membuatmu seperti ini"
"Mengapa kau tak pernah membuka hatimu untuk tidak mengeluarkan segala kesedihanmu? Apakah aku tidak cukup pantas untuk menjadi tempatmu bersandar?"
"Ava, kumohon bangunlah" Damien masih memandang wajah Fredella lekat-lekat den mengusap lembut puncak kepalanya.
Sungguh saat ini Damien tidak ingin dan tidak sanggup melihat Fredella yang ia kenal kuat dan keras kepala itu begitu rapuh kali ini.
"Aku sungguh mencintaimu, Ava. Aku bersumpah aku tidak akan mengingkari ucapanku ini" gumam Damien.
Sampai saat ada Marissa yang sudah datang ke apartemen Fredella untuk menjalankan tugasnya.
Ia melihat pintu kamar milik majikannya tidak tertutup, ia lalu melangkah dan seketika membelalak melihat pemandangan tak indah di hadapannya.
Ia melihat Damien mengecup kening Fredella dan dengan Fredella yang terbaring terperjam.
Tanpa ragu, Marissa melangkah masuk dan bertanya karena segera ingin tahu keadaan apa yang sedang terjadi disini.
"Tuan Damien, mengapa? Ada apa dengan Fredella?" tanya Marissa yang panik pada Damien.
"Entahlah, tadi dia sempat menelponku. Aku, aku menyesal tidak langsung mengangkat telponnya. Setelah berpikir, akupun menghampirinya. Saat aku tiba disini, aku melihat ada wanita muda yang keluar dari apartemennya dan setelah itu Ava pingsan dalam pelukanku" jelas Damien tanpa menoleh sedikitpun pada Marissa.
"Aku belum mendapatkan penjelasan apapun darinya, aku tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini" "
Karena kau disini, aku akan ke rumah sakit untuk mengambil obat. Jagalah dia, Marissa. Aku tidak akan lama" ucap Damien yang seketika berdiri lalu menyambar jaketnya yang tergeletak di kursi disamping ranjang.
"Baik, Tuan. Anda berhati-hatilah" ucap Marissa dengan anggukan yang artinya mengerti atas apa yang Damien ucapkan tadi.
***
"Tuan, sarapanlah terlebih dahulu" tawar Marissa pada Damien yang sama sekali tidak bergerak dari sisi Fredella semenjak pulang dari Rumah Sakit.
"Tidak, Marissa. Aku harus menunggu hingga Ava sadar tepat didepan mataku" tolak Damien
"Fredella pasti membutuhkan anda saat bangun nanti, Tuan. Saya harap anda tidak lelah nanti. Anda pun tidak tidur sama sekali dari semalam. Bagaimana jika Fredella memarahi anda dan meminta anda pulang untuk tidur? Jika terjadi seperti itu, anda tidak bisa menjaga Fredella disisi anda dengan baik" ocehan Marissa sangat ampuh membuat Damien beranjak dari duduknya lalu melangkah ke dapur untuk menyantap masakan Marissa.
Ia pun meminta Marissa pergi ke apartemennya untuk mengambilkan baju karena saat ini Damien butuh mandi dan mengganti pakaiannya.
Damien sangat tidak ingin pergi dari sana karena keinginannya yang melihat Fredella untuk bangun.
"Ava, bangunlah. Kau ingin aku memasak untukmu? Apa kau ingin aku membuktikan rasa cintaku padamu? Apapun, Ava. Apapun akan kulakukan asal kau bangun"
"Aku sungguh sangat mencintaimu, lihat? Aku sudah berkata sangat jujur padamu, bukan? Aku mencintaimu, Ava"
"Jika kau mendengarku, bangunlah"
"Kau yakin dengan kata-katamu itu, Tuan Damien?" ucap Fredella yang ternyata sudah bangun sedari tadi dan sengaja masih terpejam untuk mendengar apapun yang Damien katakan.
"Syukurlah, kau bangun Ava" balas Damien.
"Kau belum menjawab pertanyaanku" tanya Fredella
"Tak ada yang perlu aku jawab, segeralah bangun dan isi perutmu" timpal Damien
"Lihat, kenapa kau sangat menyebalkan. Karena aku sudah bangun. Silahkan, kau pergi dari sini sekarang juga" ucap Fredella yang mengusir Damien karena kesal.
Ia sudah sangat bahagia dengan yang Damien katakan sebelum dia membuka mata.
Tapi nyatanya Damien lebih suka menghancur leburkan rasa bahagianya daripada harus mengulang ucapannya itu.
Padahal saat inu, Fredella pun ingin membalas perasaan Damien.
To Be Continue
lanjut ya