#bebas promo euy!!!🥳🥳🥳
#yang mampir wajib like..komen dan vote ya..😎
##
(Season 1)
Haniza Tiara Putri..
seorang putri konglomerat yang rela berpenampilan seperti Betty La Fea hanya untuk terbebas dari sikap protektif sang ayah dan kakak laki-laki nya. Mempunyai sifat keras kepala.
Mencoba mencari cinta sejatinya diantara bayang-bayang masa lalunya.
#Aldian Reza Kusuma
seorang pengusaha muda nan sukses. Namun menyimpan seribu duka dihatinya. Mulai dari penghianatan sang kekasih hingga fitnah keji yang mengikuti setiap langkahnya.
Akan kah kali ini takdir menghadirkan cinta tanpa duka untuk Reza?
Sanggupkah dia menggenggam cinta nya walau berbagai rintangan melanda?
ikuti cerita seru Reza-Tiara ya gengs.... 😘
🥳🥳🥳telah hadir season 2 nya juga di karya ini ya zeyeng ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kalung senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan "show time"
"O.. M.. G.. ,!!! cantik banget!!" Ivan bahkan menutup mulutnya saking terkejut melihat penampilan Tiara.
"Makasih!!!" Ucap Tiara sambil sedikit merendahkan tubuhnya ala-ala putri raja.
"Bukan elo yang cantik!!, tapi gaun hasil rancangan gue yang cantik"
Ivan berjalan mengelilingi Tiara sambil pritilin beberapa bagian yang dia rasa kurang pas.
"Suka bohoong lo!! Ntar idung lo panjang kayak Pinokio, baru tau rasa!" Celetuk Tiara.
"Dieem!! Cerewet amat lo jadi orang!" Timpal Ivan yang masih sibuk memerhatikan gaun yang dikenakan oleh Tiara.
"Lo buka dulu ni gaun, mau gue kecilin dikit di bagian ini." Tunjuk Ivan pada bagian punggung Tiara.
Tiara menukar kembali gaunnya dan memberikannya kepada Ivan. Sementara menunggu, Tiara memutuskan untuk sholat Ashar.
Setelah 30 menit, Ivan pun kembali dengan gaun yang sudah dikecilkannya.
"Nah, coba lo pakai sekarang!" Perintah Ivan sambil menyerahkan kembali gaun itu.
Tiara masuk ke kamar ganti dan tidak lama setelah itu dia keluar.
Ivan mengamati Tiara. Pertama dia mengamati dari arah depan, lalu dia diam. Kemudian dia berputar ke belakang, untuk mengamati gaun bagian belakang. Sesekali terlihat kerutan di keningnya. Lalu dia berjalan lagi ke depan. Lalu kembali ke belakang. Ivan juga meminta Tiara untuk berputar. Ke kanan dan ke kiri. Ivan menghela nafasnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Terlihat ada rasa tidak puas di wajah Ivan.
"Masih lama nih?!" seru Tiara memecahkan kosentrasi Ivan. "Gue pegel nih..!!" Sambungnya sambil memukul-mukul kecil betisnya.
"Sabar, non!!!" Protes Ivan yang sedang sibuk mencari sumber ketidakharmonisan dalam- gaunnya.
"Ape yang salah ye!? Pada hal tadi gue rasa dah Oke semua!!"Ivan terus mencari sumber ketidaksimetrisan penampilan Tiara.
"Apaan sih Van!!!Ada yang salah?" Ucap Tiara kesal karena sudah berdiri lama.
Ivan menatap kembali wajah Tiara. Lalu dia menatap ke arah gaun yang dikenakan oleh Tiara. Lalu dia menatap wajah Tiara kembali.
"Pantesan!" Seru Ivan seperti baru menemukan sebuah penemuan besar.
"Muke lo noh yang buat gaun rancangan gue gak simetris!!" Ivan langsung menanggalkan kacamata Tiara. "Ni kacamata selam yang buat kacau penampilan lo!" Ivan lalu melemparkan kacamata Tiara sembarangan.
"Lo suka banget kayaknya ngelempar kacamata gue!" Protes Tiara karena Ivan sekali lagi melempar kacatamanya.
" Bodo' amat!" Jawab Ivan cuek.
Kemudian Tiara di arahkan ke cermin oleh Ivan.
Tiara tersenyum puas melihat penampilannya
nya di cermin.
" Lo jangan puas dulu! Yuk gue dandanin, baru lo boleh tersenyum puas!" Ivan menarik tangan Tiara ke ruangan make up.
"Eiits tunggu! Gue mau mandi dan sholat magrib dulu."Ucap Tiara sambil melepas tangan Ivan dan melangkah ke ruangan yang dulu memang dibuat khusus untuknya. "Soal dandan, gue dandan di kantor aja sendiri."
Jangan kaget ya!🤭 Karena sebenarnya, Tiara dan Ivan sudah lama saling kenal. Mereka sama-sama kuliah di jurusan design pakaian sewaktu di Paris. Ketika mereka kembali ke Indonesia, mereka berencana untuk membuka usaha butik bersama. Bahkan mereka udah mulai membangun tempat untuk bisnis tersebut. Namun karena Tiara memutuskan untuk kuliah design perhiasan di Singapore maka dia melepaskan butik tersebut untuk dikelola sendiri oleh Ivan dan dia hanya menjadi donatur utama di butik itu.
Sehingga ruang kerja yang dahulu yang seharusnya di tempati oleh Tiara, kini menjadi ruang pribadinya di butik Ivan.
Hari pun sudah menunjukan pukul 6.15. Setelah mandi dan sholat magrib, Tiara mencoba kembali gaunnya.
Tiara keluar dari ruangnya dan masuk ke ruang ganti. Tiara sengaja berhenti di sebuah cermin besar di ruangan tersebut.
Tiara tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.
Terlihat, Gaun biru Putri Jasmin tersebut sangat pas ditubuhnya. Sebenarnya Tiara tidak terlalu suka kalau bagian perut dan lengannya yang terekspos. Namun bagaimana pun Tiara juga adalah seseorang designer pakaian, tentu saja dia paham alasan Ivan membuat gaunnya seperti ini. Tiara memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
"Gue rasa udah pas! " Ujarnya.
Kemudian Tiara melihat hiasan kepala nya.
"Van, kenapa Tiara yang di kepala gue lo ganti dengan ini? " Tiara menunjuk hiasan kepala yang saat ini dia gunakan.
Ivan tersenyum penuh misteri...
"Itu semua karena gue udah membuatkan elo ini! " Ivan memperlihatkan sebuah topeng yang sedari tadi disembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Jadi biar gak lebai kesannya,makanya gue batal buatkan Tiara untuk kepala lo!" Jelas Ivan.
"Ni Topeng di pegang ya non!"Ivan mengarahkan tangan Tiara pada sebuah kayu kecil halus di pinggir kanan topeng.
"Nah, ntar pas lo keluar, kan lo jalan tuh ke arah penonton dan juri, lo posisikan ni topeng seperti ini. Jadi cincin yang udah lo design kemaren bisa terekspos sempurna! Dan tangan lo letak di sini (pinggang)! Jadi gelang lo juga bakal kelihatan!" Jelas Ivan sambil mempergarakan semua gerakan-gerakan yang dikatakannya tadi.
"Terus jangan lupa pakai ini.. " Ivan memberikan sebuah cadar yang terbuat dari bahan tipis tembus pandang.
"Dan Tara...!! Ini sepatu Aladinnya, Mak!" Ivan memberikan sepatu itu pada Tiara.
Tiara segera memasang kalung, gelang, cincin, cadar dan sepatunya. "Nah, sekarang sempurna!" Seru Tiara setelah melihat dirinya dicermin.
" Belum!! belum!! belum sempurna! "Potong Ivan tiba-tiba.
" Emang nya masih ada lagi?" Tanya Tiara kaget! Karena dia merasa tampilannya udah pas.
"Adeee...!!" Jawab Ivan malas.
"Apaan?" Tanya Tiara penasaran.
"Bayaran lembur gue belum!!" Ivan mengeladahkan tangannya ke Tiara.
"Ye elah elo..!!Macam gue orang lain aja di butik lo!" Tiara mengambil tas nya dan mengeluarkan Hp nya.
"Eh.mm, sebutin angka nya. Gue transfer sekarang!"
"365.0xxxxx".Ucap Ivan sambil senyam senyum.
Tak lama kemudian m banking Ivan pun berbunyi.
" Thanks ya nek!!" Ucapnya sumringah melihat nominal yang masuk ke rekeningnya.
"Kalau gitu gue cabut dulu. Dah jam 6.30 nich!" Tiara mengambil kacamata yang dilempar oleh Ivan tadi dan memakainya kembali. Lalu dia mengambil Hp nya untuk menghubungi Putra.
Tidak perlu menunggu lama, suara Putra pun langsung terdengar di ujung telpon.
"Udah siap?" Tanya putra tanpa babibu...
"Udah mas!" Jawab Tiara pelan. "Ni, orang to the poin bae bicaranya! Ngucapin salam dulu kek!" Pikirnya.
"Ya udah! Kamu keluar aja! Mas udah di luar. " Putra langsung memutuskan panggilan.
Tiara memonyongkan mulutnya," Main putusin aja!" Sungut Tiara.
"Van, gue cabut dulu ya... bye!" Tiara mengambil bungkusan baju nya dan langsung berjalan keluar ke arah mobil Putra.
******
Putra Pov
Setelah selesai mandi dan sholat, Putra mengambil setelan jas yang sudah dipersiapkan oleh Bi Innah di atas tempat tidurnya.
Segera Putra turun dan masuk ke dalam mobil karena dia gak mau terlambat menjemput adek sahabatnya.
Ya,. Putra adalah sahabat Dimas sejak kecil. Namun sejak meninggalnya Ruby yang merupakan saudara kembar Tiara, Putra memutuskan untuk tinggal di Osaka, Jepang bersama Ibunya. Dan baru kembali ke Indonesia 2 tahun belakangan ini. Ibu Putra adalah orang Jepang. Sedangkan ayahnya adalah orang Indonesia, yang merupakan adek dari Siska, ibu dari Reza. Jadi dengan kata lain, Reza dan Putra adalah sepupu.
Sebenarnya, Putra dimintai langsung oleh Dimas untuk menjaga Tiara selama dia magang di Boa. Itulah mengapa Putra selalu berada di dekat Tiara.
Putra yang sudah memutuskan panggilan telpon dari Tiara terus memandang ke arah pintu butik tersebut.
Tak lama kemudian, keluarlah seorang gadis yang memakai baju bertema Arabian Night. Gadis itu ialah Tiara.
Tubuh Tiara terlihat sangat seksi. Gaun Abian Night itu sungguh sangat mengekpos bagian perut dan lengan Tiara. Putra hanya bisa menelan saliva nya ketika melihat adek sahabatnya itu.
"Dimas pasti akan gila kalau dia tau Tiara berpakaian seperti ini!" Ucapnya dalam hati.
Lalu tiba-tiba dia ingat kembaran Tiara
"Andai Ruby masih hidup, pasti dia akan tumbuh secantik Tiara!" Pikiran Putra hampir saja terbang ke masa lalu kalau saja Tiara tidak tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya.
"Mas, udah lama nunggu?" Ucap Tiara sambil memasang seat belt nya.
"Gak lama kok. Pas kamu telpon mas baru aja sampai!" Putra menatap Tiara.
"Hmm.. ada apa mas?" Tiara merasa kikuk ditatap begitu oleh Putra. Apalagi dia sedang memakai gaun yang serba kekurangan bahan seperti itu.
"Coba kamu lepasin kacamata kamu!" Pinta Putra pada Tiara. "Mas mau lihat kamu tanpa kacamata itu." Putra menatap lekat wajah Tiara.
Tiara yang bingung dengan permintaan Putra langsung memutar otaknya.
"Jangan mas, mata aku juling!" Ujar Tiara sambil memegang ujung kacamata nya, takut kalau tiba-tiba Putra mencopot kacamata itu.
"Yuck mas.. buruan! Ntar kita telat. Cos mau cabut nomot tampil peserta dulu." Tiara mendesak Putra untuk segera berangkat.
Putra menjalankan mobilnya ke arah kantor. Diperjalanan dia sesekali melihat ke Tiara. " Kamu kedinginan,? "Tanya Putra, karena dia melihat Tiara mengosok-gosok ke dua lengan nya..
" Iya mas! Ac ny kekencengan sepertinya!"Ucapnya masih sambil memeluk kedua lengannya.
Tiba-tiba Putra menepikan mobilnya.
"Lho kok berhenti mas?" Tiara kaget karena Putra menepikan mobilnya di pertengahan jalan.
Putra langsung membuka jasnya dan memberikan nya kepada Tiara.
"Ini pakai!" Perintah Putra pada Tiara, "kalau gak kamu gak akan bisa tampil malam ini karena masuk angin."
Tiara tersenyum. Dia mengambil lalu mengenakan jas Putra. "Yah, gara-gara aku.. penampilan mas turun 10 poin deh!!" Ucap Tiara mencoba menetralisir keadaan yang canggung ini dengan ucapan nyeleneh nya.
"Memang nya penampilan mas tadi berapa poin di mata kamu?" Tanya Putra sambil mengemudikan kembali mobilnya.
"Hhmmm... 95 poin mas!" Jawab Tiara asal.
"Nanggung banget!!" Ujar Putra sambil melihat sekilas ke Tiara.
" Gak ada manusia yang sempurna mas.. !Ujar Tiara.. "Satu-satunya yang sempurna di dunia ini, cuma ROKOK SOEMPURNA!!!" Sambung nya sambil ketawa.
"Guyonan receh!!" Ucap Putra sambil tersenyum.
Tiara mencibir ke arah Putra, "Tuh kan bener.. Aku sama mas tuh gak satu frekuensi. . !"Ucap Tiara masih dalam mode manyun. "Kalau beda angkatan, signal emang sering terganggu!!!" Ledek nya, karena memang Putra lebih Tua darinya.
Putra hanya tersenyum mendengar delekan Tiara.
Suasana perjalanan kali ini sedikit berbeda., Tiara banyak sekali mengoceh yang membuat Putra tertawa lepas.
Tak terasa mereka pun telah tiba di parkiran kantor.
Tiara dan Putra pun berjalan memasuki lobi. Tiara sangat gugup melihat orang-orang yang memandang ke arah nya. Untung saja tubuhnya ditutupi oleh Jas Putra. Dan untungnya lagi, jas itu kebesaran di tubuh Tiara. "Udah, PD aja. Ntar waktu kamu tampil di catwalk bakalan lebih banyak mata yang akan melihat ke arah mu." Putra menarik tangan Tiara untuk segera memasuki Lift.
Setelah keluar dari lift, Tiara memutuskan untuk dandan di ruang design saja dan minta tolong Putra untuk mengambilkan no. tampil peserta nya.
Putra pun berjalan ke balik panggung tempat para peserta lomba berkumpul. Sebetulnya Putra gak nyaman berada disini karena ada banyak sekali peserta lomba yang menggunakan pakaian-pakaian yang seksi. Tadi nya Putra berpikir pakaian Tiara sudah sangat seksi, namun ketika dia sampai di back stage, pemandangan yang menggoda iman berserakan di sana sini.
Semua peserta seperti ingin tampil seseksi mungkin. Seluruhnya memakai gaun serba kekurangan bahan. Ada yang kekurangannya di tangan.. ada yang kekurangannya di punggung.. ada yang kekurangannya di perut.. ada yang kekurangannya di dada.. ada yang kekurangannya di kaki.. bahkan ada yang kekurangan di semua bagian!! Putra benar-benar harus menjaga mata nya selama berjalan di back stage
"Lho, mas Putra? Ngapain ke sini?" Tanya Maria staff marketing yang udah setahun ini naksir dengan Putra.
Putra melihat ke arah perempuan yang memanggilnya. Putra benar-benar tidak mengenali perempuan itu, soalnya perempuan itu memakai cadar berwarna hitam, dengan mata yang dihiasi eyeliner hitam yang sangat tebal dan bulu mata anti badai milik Syahrini. Belum lagi gaun yang dipakainya persis seperti penari perut padang pasir dengan atasan yang Putra pikir itu pasti sebuah bra wanita.
Putra mengatur nafasnya pelan dan mulai bertanya pada wanita itu. "Udah di cabut ya no. tampil peserta?"
"Udah, mas! 15 menit yang lalu." Jawab Maria. " Mas, mau ambilin no. peserta Hany ya? Coba mas tanya Lidya, dia panitianya!" Maria menunjuk ke arah Lidya yang sedang dikerumuni oleh beberapa orang di pojok ruangan.
"Makasih ya!" Ucap Putra yang masih bingung tadi dia ngomong sama siapa.
Putra berjalan ke arah Lidya.
"Lid, udah cabut no. antri ya?Tanya nya pada Lidya dengan wajah was-was.
" Wajah lo kenapa, Put?" Bukannya menjawab pertanyaan Putra, Lidya malah bertanya balik ke Putra.
"Lo bukannya jawab pertanyaan gue, malah bertanya balik!!" Gerutu Putra pada Lidya.
"Abis nya wajah lu kagak enak banget romannya!" Ledek Lidya pada Putra.
"sesak gue disini..!!" Jawab Putra singkat.
"Dada atau kepala bawah lo yang sesak!" Goda Lidya pada temannya.
"Dua-duanya!!" Jawab Putra asal! " Cepatan jawab pernyataan gue!"
Lidya tertawa ngakak mendengar jawaban Putra. "Udah! baru aja 15 menit yang lalu kita cabut undian tampil." Jawabnya enteng.
"Lah, jadi kami telat dong?" Tanya Putra sambil menatap Lidya.
Sebenarnya Putra senang banget kalau Tiara gagal tampil karena dia gak mau orang-orang melihat tubuh Tiara.
"Ya emang telat!" Jawab Lidya.
"Jadi divisi kami di blacklist dong?" tanya Putra penuh harap.
"Yeee.. mau nya lo! tapi sayangnya ENGGak!! Tadi gue yang gantiin cabutin undian untuk divisi lo! Nih, no. peserta nya!" Lidya mengeluarkan no. urut 10 dari dalam lacinya dan memberikan ke Putra, "Kalian nomor terakhir."
Putra mengambil nomor tersebut dan kembali ke ruang design untuk menyerahkannya pada Tiara.
" Gue kira di blacklist." Gumamnya sambil terus berjalan.
Sesampainya di dengan ruang design, Putra sengaja untuk mengetok pintu terlebih dahulu. Karena dia gak tau, Tiara sedang ngapain di dalam. Kan jadi enak eh jadi gak enak# maksud otor🤭kalau Putra masuk eh Tiara lagu buka baju. 🤭
"Tok.. Tok.. Tok.. " Terdengar suara ketukan pintu di ruang divisi design.
" Siapa?" Tanya Tiara dari dalam.
"Ini mas, Hany! Bukaain pintu dong!"
" Bentar mas!! Nanggung dikit lagi,.! Jawab Tiara dari dalam.
Putra pun menyandar pada dinding sambil melihat orang yang mondar mandir. Tak lama kemudian pintu ruang design pun terbuka. Tiara Keluar dengan menggunakan cadar dan topeng yang telah diberikan oleh Ivan. Dia terlihat sangat cantik dan elegan.
Putra menatapnya lekat tapi karena sedang grogi, Tiara tidak menyadari Putra yang sedang menatapnya.. Tiara asik celingak celinguk ke kiri dan ke kanan.
Setelah dirasanya aman, dia berdiri di depan Putra.
"Mas, pegangin kacamata aku dong? Takut pecah kalau dimasukin ke tas!" Tiara mengulurkan kacamatanya ke Putra.
"Ini jas mas. Mas pakai aja. Bentar lagi acara mau mulai. Kan gak enak kalau mas cuma pakai kemeja doang."
Belum sempat Tiara membuka Jas Putra yang melekat di tubuhnya, Putra malah memegang punggung tangan Tiara dan mengarahkan nya untuk mengenakan kembali jas itu.
Tiara bingung dengan perlakuan Putra.
Putra yang melihat kebingungan di wajah Tiara langsung berkata, "Gak usah dibuka.. Mas tetap tampan kok walau hanya pakai kemeja seperti ini." Ucap Putra sambil bercanda. "Kamu pakai aja jas ini, pas tampil nanti baru dibuka, oke?" Lanjutnya kemudian.
Tiara hanya mengangguk kecil. Walaupun sebenarnya dia masih bingung dengan perlakuan Putra pada dirinya hari ini.
"Are you ready?" Tiba-tiba saja Putra bertanya.
"Aiyayaa.. Capten!" Jawab Tiara cepat ala-ala opening film SpongeBob.
" Kalau begitu... Ayo princes Jasmine?" Putra mengulurkan tangannya pada Tiara.
Tiara tersenyum melihat kelakuan Putra dan menyambut lembut tangan itu, "Aaah... Mas Putra bisa aja!"Ucap Tiara sambil menatap centil ke Putra.
Mereka pun melangkahkan kaki menuju belakang backs stage. Tidak banyak orang yang berlalu lalang saat itu karena acara pembukaan perayaan anniversary sepertinya sudah dimulai di aula. Kini yang terdengar hanyalah suara Reza yang sedang menyampaikan pidatonya dari aula.
Sesampainya di back stage..
"Tiara, semangat!! Maaf mas cuma bisa antar sampai sini." Ucap Putra sambil menatap Tiara.
"Gak papa mas! Aku bisa sendiri kok!" Jawab Tiara pelan.
" Doain aku ya.. biar kita semua dapat bonus satu bulan gaji, bulan depan! " Ucap Tiara dengan tatapan yang dibuat-buat serius!
"Aku yakin kamu pasti menang!! Penampilan dah cetar membahana ini, mana ada yang bisa nandingin!"Jawab Putra sambil tersenyum.
"Hehehe.. Harus menang mas!! Dah rela-relain berpenampilan seperti ini masa harus pulang tangan kosong!! " Ucap Tiara sambil menaikan satu alisnya.
"Aku masuk dulu ya mas... , kayak nya ada briefing peserta tuh di dalam." Tiara pun segera masuk ke back stage.
Setelah Tiara menghilang di balik pintu back stage, Putra pun pergi ke aula depan tempat acara dan perlombaan itu berlangsung. Dia segera bergabung dengan para babang tamvan divisi design lainnya.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣
lsng minta d kelonin