Selama 2 tahun menjalin mahligai rumah tangga, tidak sekali pun Meilany mengucapkan kata 'tidak' dan 'tidak mau' pada suaminya. Ia hanya ingin menjadi sosok seorang isteri yang sholehah dan dapat membawanya masuk surga, seperti kata bundanya.
Meski jiwanya berontak, tapi Mei berusaha untuk menahan diri, sampai pada akhirnya ia tidak bisa menahan lagi ketika suaminya meminta izinnya untuk menikah lagi.
Permintaan itu tidak membuat Mei marah. Ia sudah tidak bisa marah lagi ketika sudah kehilangan segalanya. Tapi ia juga tidak bisa tinggal di tempat yang sama dengan suaminya dan memilih pergi.
Selama 7 tahun Mei memendam perasaan marah, sampai pada suatu ketika ia menemukan kebenaran di dalamnya. Kebenaran yang sebenarnya ada di depan matanya selama ini, tapi tidak bisa ia lihat.
Bisakah Mei memperbaiki semuanya?
*Spin off dari "I Love You, Pak! Tapi Aku Takut..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Pertengkaran (1)
"Mas ga apa-apa Mei tinggal bentar di sini? Mei mau beresin tempat tidur dulu."
Tidak memandang isterinya, Aslan mengangguk. Pria itu terlihat layu dan tidak punya semangat hidup.
Sangat khawatir dengan kondisi suaminya, sengaja Mei membuka pintu kamar tidur lebih lebar agar ia bisa tetap mengawasi pria itu. Kepala Aslan meneleng ke arah pintu depan yang terbuka. Matanya kosong.
Dengan cepat, Mei mengganti seprai kotor dan juga membereskan ranjang. Setelahnya, ia mengeluarkan baju tidur suaminya dari lemari dan meletakkannya di tempat tidur.
Kepala Aslan masih tidak berpaling dari pintu depan yang mengarah ke halaman, meski tahu isterinya berdiri di sampingnya. Terasa sentuhan sangat lembut di bahunya.
"Mas? Pindah yuk."
Lengannya ditarik pelan dan ia mengikuti wanita itu ke kamar tidur. Ia juga hanya menurut saat didudukkan di ranjang dan diganti bajunya. Ia pun masih diam saat tubuhnya diselimuti rapat.
Tangan Mei dengan lembut mengusap rambut tebal suaminya. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
"Mas? Mas mau Mei buatin bubur? Mau ya mas? Tadi kan mas baru makan sedikit..."
Aslan hanya memejamkan erat matanya. Ia semakin menyusup ke dalam selimut, tidak menjawab isterinya.
Usapan di kepalanya tidak berhenti, sampai ia merasakan ciuman seringan kapas di pelipisnya.
"Mei buatin bubur dulu ya..."
Barulah saat beban di ranjangnya terangkat dan pintu kamar itu tertutup pelan, bola mata Aslan membuka. Tampak mata cokelat itu berkaca-kaca dan lelehan air turun ke pipinya. Pria itu kembali memejam.
Di dalam kamar, pria itu makin meringkuk seperti janin dan membungkus tubuhnya rapat dengan selimut.
Sementara itu di dapur, mata Mei mengarah ke kamar tidur. Ia merasa sangat bersalah pada suaminya. Sulit, ia menelan ludahnya beberapa kali dan mengerjap. Ternyata, apa yang ia lakukan membuat kehancuran yang lebih besar dibanding yang dikiranya. Ia harus segera memperbaikinya sebelum terlambat.
Menghembuskan nafas keras, tangan Mei membuka tutup tudung saji. Masih terlihat masakan yang dibuat tadi malam. Setelah berfikir sebentar, ia pun segera membuat masakan yang diinginkannya.
Kembali ke kamar, dengan telaten wanita itu menyuapi suaminya seperti menyuapi boneka. Pria itu akan membuka dan menutup mulut saat disuruh. Sama sekali tidak ada sinar kehidupan di kedua mata cokelatnya.
Bahkan saat Mei memeluk Aslan dari belakang, lelaki itu tidak memberikan respon sama sekali.
Menempelkan pipi di punggung suaminya, air mata Mei mulai tumpah. Ia mengeratkan pelukannya.
"Mas Aslan... Maafin Mei, mas... Maafin Mei, mas Aslan... Ampuni dosa Mei..."
Wanita itu terisak di punggung Aslan. Di baliknya, pria itu hanya menatap kosong ke depan.
Sorot kosong itu masih terlihat, saat sorenya Mei melihat Aslan terbangun duluan dan berdiri di halaman depan rumah mereka. Salah satu tangan pria itu mengelus satu lembar daun hijau yang mulai menguning.
Menelan ludahnya, Mei mengulurkan tangan dan mengusap lembut punggung lebar suaminya.
"Mas? Mas Aslan sudah sehat?"
Menatap raut Aslan dari samping, ia melihat warna muka pria itu yang jauh lebih sehat, membuatnya sedikit lega. Tapi rasa lega itu tidak bertahan lama, saat ia mendengar pertanyaan datar suaminya.
"Sedang apa kamu di sini, Meilany? Bukannya kamu sudah meminta cerai dari aku?"
Sejenak Mei tertegun, tenggorokannya semakin terasa kering.
"Mas..."
"Kamu bisa kemasi semua barang-barangmu, Meilany. Bawa semuanya, kalau tidak, akan aku buang. Aku tidak ingin menyimpan dan melihatnya lagi seumur hidup. Bawa semua dan jangan pernah kembali lagi."
Pria itu berbalik dan masuk ke dalam rumah. Ia baru saja menyentuh pintu kamar tidur, saat terdengar suara pintu depan yang menutup dengan sedikit terbanting.
Rahang Aslan mengeras. Ia menggertakkan gigi keras dan urat-urat di pelipisnya mulai menonjol.
"Mau apa kamu, Meilany!? Buka pintunya! Kamu sudah menceraikan aku, kan!?"
Tidak mau kalah, Mei menatap lelaki itu dengan sorot yang tidak kalah tajamnya.
"Mei tidak mau tetangga mendengar pertengkaran kita, mas. Mei tidak mau membuat mas Aslan malu."
Kepala pria itu berpaling dan terdengar suara tawa penuh cemooh dari mulutnya.
"Membuatku malu? Untuk apa aku malu? Pada akhirnya mereka juga akan tahu kita cerai, kan? Sekalian saja mereka denger kalau kita memang sedang bertengkar sekarang."
"Mas Aslan!"
"APA!!"
Teriakan pria itu membuat Mei terdiam. Ia menatap raut wajah suaminya yang penuh rasa marah, sedih dan juga terluka. Kedua matanya yang cokelat tampak mulai memerah.
"Mas..."
"Jangan kasihani aku, Meilany! Jangan pernah kasihani aku! Kamu sudah muak padaku, kan? Kamu sudah jijik pada aku, kan? Kamu sudah tidak mau aku sentuh, kan? Kalau begitu, tinggalkan aku! Sekarang!!"
Melihat kemurkaan suaminya untuk pertama kalinya, hampir saja Mei gentar dan mundur. Tapi mengingat tujuannya, keberaniannya mulai terpompa kembali.
"Mei tidak akan pergi. Mei tidak mau pergi! Mei akan tetep jadi isteri mas Aslan, sampai Mei mati!"
Kata-kata itu membuat raut Aslan berubah. Apa yang tadinya rasa marah, perlahan menjadi ekspresi sakit yang tiada kira. Pria itu menutup muka dengan satu tangannya.
Yang tadinya suara tawa kecil, mulai membesar dan jadi tawa histeris.
Selama beberapa saat, Mei hanya bisa mematung menatap suaminya yang sedang tertawa tidak jelas. Pria itu seperti orang stress dan tidak waras, seperti yang dikatakan beberapa orang tadi malam.
Suara tawa itu memelan dan akhirnya berhenti. Lelaki itu menatap Mei dan menggeleng tidak percaya.
"Kamu bilang apa tadi? Kamu tidak mau pergi? Kamu mau jadi isteriku sampai mati?"
"Mas Aslan. Mei-"
"Sampai kapan kamu mau menyiksaku, Meilany?" Suara berat pria itu tiba-tiba saja berubah dan bergetar.
Kembali Mei tertegun. Kedua mata Aslan perlahan mengeluarkan air dan mukanya berkerut.
"Kamu sepertinya baru puas kalau aku mati, ya? Baiklah! Aku akan mengabulkan keinginanmu!"
Hampir saja tangan pria itu berhasil mengambil pisau, kalau Mei tidak segera memeluk perut suaminya dan sekuat tenaga mendorongnya menjauh, hingga jatuh terduduk di sofa.
Ketika melihat Aslan mau berdiri lagi dari duduknya, tangan wanita itu melayang dan mengerahkan seluruh tenaganya, ia menampar kencang pipi suaminya hingga kepala pria itu berpaling ke samping.
Kencangnya suara tamparan itu terdengar sangat keras di telinga Mei, membuatnya membeku.
Pipi Aslan sangat merah. Warnanya cukup gelap, menandakan akan ada memar di sana. Sudut bibirnya pun tampak sedikit sobek, dan mengeluarkan darah. Mata pria itu nanar, kaget dengan reaksi isterinya.
Kekagetan yang sama juga dirasakan Mei. Tubuhnya gemetar. Ia merasakan kemarahan yang amat sangat mulai menguar dari seluruh pembuluh nadinya.
"Apa yang kamu pikirkan, mas? Mau coba b*nuh diri lagi? Mas tahu b*nuh diri itu dosa, kan? Ga ada masalah yang ga ada jalan keluarnya! B*llshit kalau kita sebagai manusia ga bisa berfikir! Allah sudah kasih kita akal, mas! Kenapa cari jalan pintas untuk semua masalah!? Mas kayak orang ga beriman saja! Waktu keguguran dulu, Mei juga ingin mati, tapi engga kan? Selama ini, Mei juga sakit hati sama bunda dan mas Aslan, tapi apa Mei b*nuh diri? Engga kan, mas!? Kenapa justru sekarang mas Aslan mau ngelakuin itu!!"
Kepala Aslan tertunduk beberapa saat mendengar kemarahan isterinya. Tapi setelahnya, pria itu perlahan menaikkan pandangannya dan menatap wanita di depannya.
Saat itulah, Mei tahu, ia tidak akan pernah siap mendengar kata-kata yang terucap dari mulut suaminya.
meican Ama aslan gak terpisah
bibit bebet bobot penting, agama penting, kaya penting....
tapi juga gak penting penting amat
yang terpenting watak dan akhlak...
jika baik insyaallah rumah tangga juga baik.....
makasih Thor.........
payah loe Aydin