Demi membatalkan perjodohan yang dilakukan oleh papanya, Alea terpaksa harus meminjam uang kepada sang Bos, demi melunasi hutang-hutang keluarganya kepada kakek Will.
Bahkan, Alea juga sampai rela memotong urat malunya, demi meminta sang bos, untuk menjadi kekasih bohongannya.
Akan tetapi, takdir berkata lain, apa yang Alea rencanakan semuanya gagal. Dan malah berujung pada pernikahan serius dengan sang bos-nya.
Padahal, bos-nya adalah orang yang paling dihindari Alea sejak SMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Bikin Anak
Sejak kejadian kemarin siang, Rey memutuskan untuk kembali pulang ke Jakarta pagi ini. Meskipun agak berat hati untuk meninggalkan masa liburan, tapi demi menjaga Alea dari orang yang bernama Marvel, Rey lebih memilih untuk pulang secepat mungkin. Dan mereka bertiga sampai kembali ke Jakarta tepat pukul 11.00 siang.
"Kenapa kalian gak ngasih kabar kalau mau pulang hari ini?" tanya Jeni sambil menyodorkan minuman untuk Alea dan Rey. Karena keduanya kini berada di rumah Mama Jeni.
"Iya Tante, ada pekerjaan mendesak dari kantor, jadi terpaksa kita harus pulang," jawab Rey merasa sungkan.
"Eh, jangan panggil saya Tante, panggil Mama saja, kamu dan Alea kan sama-sama jadi anak Mama sekarang," tutur Jeni sambil membenarkan duduknya di atas sofa.
"Em, iya Ma," ucap Rey malu-malu, sambil sedikit menahan senyumnya.
"Ya sudah, sekarang kalian ke atas saja, istirahat dulu di kamar. Mama mau belanja dulu ke pasar. Kalau Nak Rey menginginkan sesuatu minta sama Alea saja ya," tutur Jeni sebelum pergi.
Kini mereka berdua pun segera naik ke lantai atas menuju kamar Alea.
Mata Rey menyapu seluruh sudut ruangan, diperhatikannya kamar istrinya itu yang bernuansa cream dan coklat. Bahkan semua furnitur yang ada di kamar Alea kebanyakan terbuat dari kayu coklat yang mengkilap. Sungguh nuansa yang begitu alami.
"Pak Rey, kalau mau mandi ini, handuknya," ujar Alea sambil menyimpan handuk putih tebal yang baru saja ia ambil dari lemarinya.
Rey masih fokus melihat foto-foto yang terpajang di dinding dekat meja kerja Alea. Foto-foto mulai dari Alea masih kecil, remaja hingga dewasa.
Rey tersenyum lebar begitu melihat foto Alea ketika masih TK, Alea terlihat begitu menggemaskan dan lucu dengan rambutnya yang di kuncir dua sedang memegang lolipop pelangi.
Namun tatapan Rey tiba-tiba berubah ketika ia melihat foto istrinya itu dengan seorang lelaki, yang tak lain ialah Robby, teman kelas SMA-nya dulu.
"Cih, apa sebegitu dekatnya hubungan mereka sampai-sampai mempunyai foto berdua seperti itu," batin Rey seakan tak suka.
"Pak Rey, kau sedang melihat apa?" tanya Alea menghampiri Rey.
Rey langsung menoleh ke arah Alea. "Tidak, hanya melihat foto-fotomu saja." Rey langsung berlalu menuju tempat tidur mengambil handuk yang sempat disiapkan Alea tadi.
Alea kembali menatap foto-foto itu. Dan dirinya baru teringat akan suatu hal. Mengenai foto dirinya dengan Robby sewaktu SMA.
"Oh ya Pak Rey, mengenai foto aku dan Kak Robby, aku ingin memberi tahukan hal-"
Belum sempat Alea menyelesaikan ucapannya, Rey terlebih dahulu memotongnya. "Jangan membahas orang itu di depanku. Aku capek, aku ingin mandi dulu," ujar Rey langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Alea hanya mengernyit heran. "Kenapa dengan Pak Rey?" Padahal aku kan ingin memberi tahu kalau Kak Robby itu sebenarnya Kakak tiriku," gumam Alea.
***
Jam bergerak seakan begitu cepat, karena tak terasa malam pun sudah tiba. Kini Rey dan Alea tengah makan malam bersama Jeni dan Deri.
Kebahagiaan terlihat memancar dari Jeni dan Deri, yang sampai sekarang masih tak menyangka, kalau anaknya sudah menikah.
"Alea sekarang kamu harus memperbanyak makan toge ya," ucap Jeni sambil menuangkan satu sendok besar sayur toge di atas piring Alea.
"Memangnya kenapa Ma?"
"Biar rahim kamu subur, biar kamu cepat hamil juga."
"Uhuk, uhuk." Tiba-tiba Rey tersedak akan makanannya sendiri. Ia begitu kaget ketika mertuanya itu membahas soal kehamilan. Alea pun dengan cepat menyodorkan segelas air kepada Rey, dan Rey langsung meneguknya.
"Nak Rey apa baik-baik saja?" tanya Jeni. Rey menganggukkan kepalanya pelan sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ayo lanjutkan lagi makannya," ucap Deri.
Hening .... hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring.
"Oh ya Rey, nanti Mama buatkan jamu buat kamu ya," ujar Jeni begitu selesai dengan makanannya.
"Jamu?" Rey mengernyit bingung.
"Iya jamu biar manjur. Papa dulu pas awal nikah juga di-buat-in jamu sama ibu mertua," ujar Deri terkekeh, sambil menyuapkan sepotong kerupuk yang ada di tangannya.
Rey pun menoleh ke arah Alea, keduanya saling bertatapan tak mengerti.
Jeni yang paham akan ke tidak tahuan dari anaknya itu ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Aih, sudahlah selesaikan dulu makan kalian, nanti sebelum tidur Mama antarkan jamunya ke kamar ya." Jeni pun segera berlalu ke dapur, meninggalkan meja makan begitu saja.
***
Setelah selesai makan malam satu jam yang lalu, kini Alea dan Rey kembali ke kamar mereka, setelah menonton TV bersama di ruang keluarga.
Sebelum Alea menutup pintu kamar, ternyata Jeni sudah terlebih dahulu datang menghampirinya.
"Alea, ini, berikan ini kepada Rey. Seharian kalian kan pasti kecapek-an, nah kalo minum jamu ini, nanti badan jadi segar. Manjur juga buat ... itu," ucap Jeni, dengan ujung suara yang direndahkan.
Alea melongo tak mengerti. "Itu apa Ma?"
"Itu loh... biar kuat," jawabnya cekikikan pelan.
Alea semakin tak mengerti apa yang dimaksud kuat oleh Mamanya itu.
"Kuat apanya Ma?" Alea masih penasaran.
"Aih... kamu ini, seharusnya kamu paham masalah ini, masa udah nikah belum paham sih! ... Udah kasih aja sama Rey, untung-untung kalau bulan depan kamu langsung bisa hamil, soalnya ini jamu manjur banget," ucapnya. Membuat Alea membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
Ia baru paham dengan apa yang di maksud oleh Mamanya itu.
"Sudah, Mama mau kembali ke kamar ya, kamu cepatlah masuk ke kamar!" Jeni pun pergi berlalu meninggalkan Alea yang masih mematung di depan pintu kamarnya sendiri.
"Apa ini jamu kuat untuk ...." Alea tak berani bergumam, ia hanya menggidikkan bahunya. Merasa geli dengan apa yang terlintas di pikirannya sekarang.
"Alea," panggil Rey yang berada di dalam kamar. Alea pun langsung menoleh ke arah Rey, sambil membayangkan hal aneh di pikirannya.
"Alea."
"Lea!" panggil Rey untuk ke tiga kalinya. Alea pun mengerjapkan matanya tersadar kembali akan lamunannya.
"Hah? Apa Pak Rey?"
"Kenapa masih mematung di situ? Dan apa yang ada di tanganmu itu?" tanya Rey penasaran.
Alea langsung menunduk menatap segelas jamu yang ada di tangannya. Lalu ia pun segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya perlahan.
"Oh, itu jamu yang di siapkan Mama ya," ujar Rey. Alea hanya mengangguk, kemudian ia menyimpan segelas jamu itu di atas nakas, samping tempat tidurnya.
"Kemarikan, biar langsung aku minum saja," perintah Rey, namun Alea malah terdiam seakan memikirkan sesuatu.
"Pak Rey," panggil Alea pelan.
Rey lagi-lagi berdecak kesal karena Alea yang terus menerus memanggilnya dengan sebutan Pak Rey.
"Panggil aku Rey! Bukan Pak Rey!" seru Rey.
"Ah, iya Rey, sebaiknya kamu jangan meminum jamu ini," tutur Alea gugup.
"Memangnya kenapa?" Rey mengernyit heran.
"Rey, apa kau tahu. Sebenarnya ini jamu apa?" tanya Alea, Rey yang tak tahu apa-apa ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Kemari biar ku bisikkan," ucap Alea sambil mencondongkan tubuhnya ke dekat Rey. Dan Rey pun menurut, mendekatkan telinganya ke wajah Alea yang tengah duduk di sampingnya.
"Mama membuat jamu kuat, biar cepet dapet momongan katanya," bisik Alea begitu pelan.
Membuat kedua mata Rey membulat seketika. "Apa!" pekiknya pelan.
"Benarkah? Kalau obat ini manjur untuk mendapatkan anak?" tanya Rey. Alea menganggukkan kepalanya cepat sambil memasang wajah polos yang begitu menggemaskan di mata Rey.
"Ya sudah kalau begitu, kita bikin anak saja," ujar Rey sambil mengembangkan senyuman penuh arti.
Alea tersentak mendengarnya. "Tidak!"
"Ha ha, tapi Mamamu sepertinya sudah menginginkan seorang cucu," timpal Rey, terkekeh.
"Rey! Jangan ngelawur!"
Rey semakin mengeraskan tawanya ketika melihat ekspresi tegang dari wajah Alea. Terlihat sekali rasa takut di wajah istrinya itu. Sehingga ia tak bisa menahan lagi gelak tawanya.
"Kenapa kau malah tertawa?" Alea merengut kesal.
"Tidak apa-apa, sudahlah kita tidur saja," ucap Rey masih terkekeh. Sedangkan Alea hanya mencibir kesal.
.
.
.
Bersambung
ha ha ha
ha ha ha