Suatu hari, dunia berubah. Gerbang-gerbang misterius mulai terbuka, melepaskan monster-monster yang mengancam untuk memusnahkan umat manusia. Kini, satu-satunya cara bertahan hidup adalah memburu dan membasmi mereka sebelum semuanya terlambat.
Di tengah kekacauan itu, ada seorang pria yang dikenal dengan julukan "Swordsman Mage Terlemah", Zeha. Tak disangka, ia memperoleh kekuatan dari sebuah kristal aneh, membawanya pada misi untuk mengumpulkan sepuluh Fragments of Eternal Power demi menjadi yang terkuat.
Salah satu kekuatan itu, High-Demonic Eyes-warisan dari Immortal Demon yang tersegel di dalam Demon Crystal, secara tak sengaja terbangun dan menyatu dengannya. Sejak saat itu, Zeha berjalan di antara cahaya dan kegelapan, memegang kekuatan para dewa sekaligus iblis.
Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia bersumpah akan menjadi penyihir terkuat, melindungi manusia, dan mengakhiri bencana yang melanda dunia.
+
+
Karya Fantasi-Aksi pertama!
Ayo buruan bacaaa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivi Aulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - TENTANG ZEHA
Jangan lupa berikan like, vote dan komen biar author senang...
Selamat membaca...
•
•
•
Setelah pertemuan kecil selesai dilaksanakan, Xavier mendapat panggilan dari Klaus untuk menemuinya di kantor pribadi. Masalah yang ingin dibahas adalah mengenai perintah Xavier sebelumnya, yang menyuruh Klaus untuk menyelidiki latar belakang Zeha.
Joe sendiri yang menjemput Xavier ke ruangannya, lalu menuntunnya ke kantor Klaus. Joe langsung membuka pintu, dan mempersilahkan Xavier masuk.
“Yang Mulia.” Panggilan Joe membuat Xavier menghentikan langkahnya yang baru sampai di ambang pintu.
Xavier berbalik, melirik tajam. “Ada apa?”
“Tolong jangan terlalu berprasangka buruk pada Tuan Klaus.”
Untuk sesaat, Xavier cukup terkejut. Ia tak menyangka kalau Joe akan membujuknya secara terang-terangan bahkan setelah mendengar penjelasan Klaus pada pertemuan tadi. Ia benar-benar tak habis pikir.
Xavier tersenyum miring. “Akan saya pertimbangkan.” Ia lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam.
Ekspresi Joe dipenuhi oleh perasaan cemas dan gelisah. Ia lantas menutup pintu dan berjaga di luar.
...-----...
Xavier berdiri di belakang Klaus yang tengah memandangi pemandangan luar dari balik jendela. Cukup lama ia berdiam diri, lalu akhirnya membuka suara.
“Bukankah anda terlalu terang-terangan ingin menguasai seluruh wilayah kekaisaran?”
Klaus tersenyum tipis sejenak, sebelum berbalik dan duduk di sofa.
“Yang Mulia, silahkan duduk terlebih dahulu,” ucapnya santai, tanpa mempedulikan tatapan dingin yang diberikan Xavier padanya.
Embusan napas kasar keluar dari mulut Xavier. Sikap santai seperti itu sungguh membuatnya tak habis pikir. Xavier lantas duduk di sofa yang satu lagi.
“Silahkan nikmati dulu tehnya.”
Xavier mengikuti apa yang ditawarkan oleh Klaus. Ia menyeruput sedikit teh lalu meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja.
“Tolong langsung ke intinya.” Xavier langsung bicara, tak tahan karena Klaus terus mengulur waktu.
“Saya sudah melakukan apa yang anda perintahkan. Tapi sebelum saya memberikan dokumennya, bisakah anda memberitahu alasan kenapa anda tiba-tiba menyelidiki pria itu?”
“Tidak ada alasan khusus.” Xavier menyandarkan punggungnya ke sofa. “Aku hanya penasaran tentangnya.”
Klaus menghela napas pendek. “Begitu, ya? Tapi Yang Mulia, sayangnya, saya tidak bisa memberikan informasi tentang pria itu padamu.”
Xavier sukses terkejut dam refleks menoleh. “Ada apa?”
“Mungkin ini terdengar seperti alasan, tapi data-data tentang pria itu sudah menjadi privasi.” Klaus menyeruput sejenak tehnya. “Anda kurang beruntung, Yang Mulia.”
Kening Xavier mengerut, kesal. Pernyataan Klaus barusan membuatnya semakin mencurigai akademi. Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat penting sedang disembunyikan oleh akademi.
Xavier juga tidak pernah melibatkan akademi dalam proses penyelidikan pribadinya. Ia selalu menugaskan para kesatrianya untuk melakukan tugas itu. Namun hasilnya nihil. Satu-satunya Informasi yang didapat adalah tentang riwayat pendidikan Zeha, yaitu di Akademi Callister.
Maka dari itu, Xavier memberikan perintah langsung kepada Klaus untuk menyelidiki latar belakang Zeha. Tapi siapa sangka kalau data-datanya akan dirahasiakan oleh mereka. Jelas saja itu sangat mencurigakan.
“Saya hanya akan memberikan satu informasi tentang pria itu. Mungkin saja anda juga sudah pernah mendengar tentang rumor ini.” Klaus angkat bicara. Ia melihat Xavier yang masih terdiam, menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya.
“Apa anda pernah mendengar rumor tentang satu-satunya murid akademi yang tidak bisa menggunakan sihir?”
Xavier tersentak. Ia mencoba mengingat-ingat kembali tentang rumor yang dibicarakan oleh Klaus. Ia juga yakin pernah mendengarnya saat ia masih bersekolah di akademi.
Tak butuh waktu lama, Xavier akhirnya berhasil mengingatnya. “Aku ingat.”
Klaus sontak tersenyum. “Murid itu adalah pria yang anda maksud, Zeha.”
Perkataan Klaus sukses membuat Xavier terkejut hingga membeku sepenuhnya. Ia memberikan tatapan tak percaya pada Klaus. “Mustahil.”
“Yang jelas, anak itu hanyalah seorang murid yang—”
“Sepertinya kau salah mengira seseorang.”
Alis Klaus menyatu, tampak kebingungan. “Apa maksud anda?”
“Orang yang aku maksud itu bukanlah orang yang tidak bisa menggunakan sihir. Malah, sihir yang ia miliki lumayan hebat.”
Klaus berhasil dibuat terkejut oleh perkataan Xavier barusan. Ia bahkan dua kali lebih terkejut dibandingkan reaksi Xavier tadi. Ekspresinya tampak syok dan tidak percaya. “Apa yang anda bicarakan? Zeha bisa menggunakan sihir?”
“Zeha yang aku kenal, bisa menggunakan sihir.”
“Mustahil...” Klaus semakin tidak percaya. “Sejak kapan anda bertemu dengannya?!”
Klaus terlihat sangat serius, membuat Xavier terkejut melihatnya. Ia bertanya-tanya sespesial apa orang bernama Zeha itu sampai bisa menarik perhatian Kepala Akademi.
“Tidak begitu lama, sekitar sebulan yang lalu.”
Lagi, Klaus terkejut. “Tidak mungkin...”
Xavier mengerutkan keningnya. Ia sungguh penasaran mengapa pria seperti Klaus sangat peduli pada Zeha.
“Apakah kau memiliki hubungan dengannya?” tanya Xavier penasaran.
Klaus tersentak, lantas tersenyum tipis. “Tidak bisa dibilang sebagai sebuah hubungan. Saya adalah orang yang bertanggung jawab atas dirinya selama dia bersekolah di akademi. Sekarang dia sudah lulus, maka tanggung jawab saya padanya juga sudah lepas.”
“Sampai bisa membuat Kepala Akademi bertanggung jawab secara langsung, pria bernama Zeha itu sungguh menarik...”
“Omong-omong ...” Klaus menoleh, menatap Xavier dengan sangat serius. “Apa yang anda katakan soal Zeha itu benar?”
Alis Xavier sedikit menyatu. “Soal apa?”
“Soal dia yang sudah bisa menggunakan sihir.”
“’Sudah bisa’? Apa kau masih mengira kalau mereka adalah orang yang sama?”
Klaus tertawa pelan. “Di akademi, hanya ada satu orang yang memiliki nama Zeha. Tidak mungkin saya salah orang. Jika dia memang sungguh bisa menggunakan sihir seperti yang anda katakan ...”
“Itu artinya, apa yang orang itu ramalkan memang sungguh akan terjadi...” lanjutnya di dalam hati.
-
-
-
Tubuh goblin raksasa sudah sepenuhnya berubah menjadi abu. Yang tersisa hanyalah mana stone berwarna abu-abu yang tergeletak di tengah-tengah tumpukan abu.
Zeha melangkah dengan tubuh yang masih sangat kelelahan. Langkahnya berat, napasnya terengah dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Ia mengambil mana stone itu, kemudian memandanginya dengan teliti.
“Aku menang karena keberuntungan. Tadi itu hampir saja...”
Zeha menyadari ada beberapa kekurangan saat bertarung tadi. Pertama, ketidakmampuannya dalam menggunakan sihir jarak jauh sungguh berdampak besar pada pertarungan. Kedua, ia masih minim pengalaman. Melihat bagaimana goblin raksasa bisa melancarkan serangan jarak jauh dan dekat pada saat yang bersamaan, jelas sekali bahwa goblin raksasa itu sudah pernah bertarung sebanyak ratusan kali.
“Tidak ada cara lain. Aku harus sering mengasah kemampuanku di dalam dungeon. Aku harus meningkatkan pengalaman bertarungku.”
(Akhirnya, master menyadarinya.)
Zeha terkejut saat Litch tiba-tiba membuka suara.
“Apa maksudmu?”
(Master akhirnya sadar, kalau perbedaan jumlah energi sihir bukanlah penentu kemenangan seseorang, melainkan pengalaman.)
Zeha menarik satu senyuman tipis. “Kau benar.”
Zeha lantas berbalik dan melangkah pergi. “Sebelum itu, aku akan menikmati makanan enak setelah sekian lama...!”
Ekspresi Zeha dipenuhi kegembiraan dan semangat. Ia tak kuasa menahan air liur saat membayangkan makanan-makanan mewah yang akan ia beli nanti di restoran.
Zeha sungguh tak sabar untuk menyantap makanannya.
“Selama tinggal dengan nenek, aku hanya makan seadanya. Kadang-kadang kami tidak mendapatkan hasil buruan, jadi kami terpaksa hanya memakan sepotong roti...”
Air mata Zeha merembes keluar saat mengingat masa-masa sulit yang ia jalani bersama sang nenek.
(Master, kan miskin.)
“Berisik! Lagi pula aku juga akan mendapatkan uang banyak jika menjual mana stone ini! Memangnya salah jika aku ingin menikmati hidupku?!”
(Saya tidak pernah menyalahkan master.)
“Berisik!”
( ... )
Perdebatan tadi berhasil membuat suasana hatinya menurun. Zeha melangkah kasar keluar dari dungeon.
-
-
-
Di Wilayah Selatan, terdapat sebuah daerah terpencil yang jarang dilewati oleh para warga. Dikarenakan jarangnya aktivitas di daerah itu, para pedagang gelap pun mulai membuka bisnis mereka di sana.
Orang-orang menyebutnya Black Market. Tempat di mana kau bisa menemukan barang-barang langka dan terlarang. Apa pun yang kau inginkan, Black Market akan selalu menyediakannya untukmu.
Tempat yang Zeha kunjungi untuk menjual semua mana stonenya adalah daerah ini, Black Market.
Tepatnya di sebuah toko kecil yang letaknya di ujung gang sempit dan gelap. Semua orang yang mengunjungi Black Market harus menggunakan jubah dan topeng untuk menutupi identitas mereka. Begitu juga dengan sang penjual.
“Selamat datang!” sambut seorang pria paruh baya berbadan gemuk dari dalam toko.
Zeha melangkah masuk, dan duduk di kursi tamu. Ia juga sudah memakai jubah hitam dan topeng kelinci sebagai penyamaran.
Sang penjual memakai topeng naga.
“Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?” Penjual itu mendekatkan tubuhnya kepada Zeha. Mereka dibatasi oleh meja panjang yang terbentang di tengah-tengah mereka.
Zeha memberikan sebuah kantong kain kepada penjual itu. “Aku ingin menjual semua ini. Berikan harga terbaik.”
Penjual itu membuka kantongnya, dan langsung terkejut bukan main.
“Ini—?!” Penjual itu mengangkat wajahnya, menatap Zeha. “Bukankah ini semua adalah mana stone yang berasal dari dungeon itu?!”
“Iya.”
“Luar biasa ... Setahu saya semua mana stone hanya diberikan kepada akademi. Bagaimana anda bisa—?!” Penjual itu tersentak kaget saat sadar dirinya hampir kelewat batas. Ia terlalu bersemangat.
Dalam aturan Black Market, mereka tidak diperbolehkan untuk menggali informasi pribadi dari pelanggan mereka. Secara Black Market adalah organisasi yang sangat menjaga yang namanya privasi.
“Maafkan saya. Saya akan segera menyiapkan uangnya.” Penjual itu melangkah masuk ke dalam ruangannya, dan tak lama, ia kembali dengan membawa tiga buah kantung kain.
“Apa segini cukup?”
Zeha memeriksa satu persatu kantung yang penjual itu berikan. “Ini sudah cukup.”
“Baguslah. Kalau berkenan, anda bisa datang kemari lagi jika ingin menjual mana stone.”
“Akan saya pertimbangkan.” Zeha pun melangkah pergi dengan membawa ketiga kantung berisi uang itu.
(Apakah mana stone memang semahal itu?)
“Apa kau tahu nilai mata uang di sini?”
(Saya mendapatkan informasinya dari ingatan master.)
“Sialan ... Kau seenaknya menggali ingatanku!”
(Saya terpaksa melakukannya. Maaf, master.)
Zeha menghembuskan napas panjang. Marah pun tak ada gunanya. Ia juga tidak boleh membuat keributan di tempat ini. Jalan yang ia lewati berupa gang kecil yang terhubung ke Balai Kota. Satu-satunya akses yang menghubungkan Black Market dengan daerah luar.
“Hei, pecundang!”
Langkah kaki Zeha refleks terhenti ketika mendengar teriakan seorang pria dari sebuah gang kecil di sebelahnya. Ia merasa sangat deja vu dengan panggilan itu. Itulah yang membuat langkah kakinya terhenti.
Saat menoleh, Ia menemukan dua orang pria yang tengah merundung seorang pria berkacamata di sana.
Pria berkacamata sudah berkali-kali meminta ampun, namun dua pria yang merundungnya itu malah semakin bersemangat. Mereka berkali-kali meninju, menampar, memukul dan menginjak tubuh pria itu.
Sungguh pemandangan yang menjijikkan. Emosi Zeha sukses terpancing, itu karena dia juga sering berada di posisi pria berkacamata itu.
Rasanya seperti melihat diri sendiri.
“Hei, kau yang di sana! Apa yang kau lakukan, hah?” Salah satu dari para perundung itu tak sengaja melihat Zeha yang tengah menyaksikan aksi mereka.
“Kenapa kau hanya diam saja, brengsek? Apa kau juga ingin menjadi seperti dirinya?!”
Zeha tetap tidak membalas. Ia melangkah perlahan mendekati mereka bertiga. Ia berhenti ketika jarak mereka sudah cukup dekat.
“Lepaskan anak itu,” Zeha meminta dengan baik-baik. Namun kedua perundung itu malah tertawa terbahak-bahak.
“Kau banyak nyali juga rupanya...” Salah satu dari mereka berjalan dengan sangat angkuh menghampiri Zeha. “Dengar, bocah. Jangan ganggu kami kalau kau tidak mau bernasib sama dengannya. Mengerti?”
Dulu, Zeha hanya bisa diam dan pasrah saat dirundung. Dia juga tidak punya kekuatan untuk membela diri. Semakin berusaha memberontak, maka perundungan akan semakin menjadi-jadi.
Tapi, sekarang berbeda.
Zeha sudah memiliki kekuatan untuk melawan para bajingan yang hobi merundung mereka yang lemah.