Kebahagiaan ku membuatku buta hingga mengabaikan kenyataan yang sesungguhnya, dan itu amat menyakitkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi wahyuningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janin Rena
Aku tersenyum kecut, tapi untungnya karena aku sudah terbiasa dikecewakan oleh suamiku tidak rumah rasanya aku seperti itu tak merasa sakit sekali seperti yang dulu aku sering merasakan.
“Mungkin, ini sudah hampir bisa disebut dengan mati rasa,” Ujarku kepada diriku sendiri yang anehnya perasaan sakit itu tak sedalam sebelumnya aku rasakan.
Suamiku datang padaku beberapa saat yang lalu, dia bersujud di kedua kakiku sembari memegangnya erat.
“Demi Allah, Abang tahu dan sadar diri bahwa Abang bukan pria yang baik, suami yang baik serta Ayah yang baik untukmu dan Gozel. Abang minta maaf, sekali lagi abang minta maaf karena harus mengingkari janji Abang sendiri untuk melihat keadaan Rena.”
Seperti itulah yang diucapkan oleh suamiku.
Aku tidak marah, aku juga tidak menunjukkan kesedihan apapun. Bagiku, semakin aku memperlihatkan kerelaan dan perasaan masa bodoh itu akan membuat suamiku merasa sangat terbebani.
Aku tersadar sekali bahwa bahwa, ibarat pecahan kaca dari sebuah guci mahal tetap saja akan menyakiti jika aku menggenggamnya. Aku, hanya perlu mengambil keuntungan yang bisa aku ambil. jika memang perlu, dan jika memang pecahan guci yang ada di tanganku itu ada yang akan membelinya dengan harga yang mahal, Kenapa tidak aku berikan pecahan guci itu? Walaupun sedih karena tidak bisa memiliki pecahan guci indah dan mahal tersebut, Bukankah aku bisa membeli guci yang baru dengan uang yang aku dapatkan?
Berbeda dengan ibu mertuaku dan juga suamiku yang sedang sedih karena kabar kabarnya, bayi yang ada di dalam perut Rena itu tidak bisa bertahan, bahkan sudah tidak memiliki detak jantung menjelang magrib.
Yah, pastilah ibu mertuaku itu akan semakin menuduhku dengan begitu liarnya. Namun, tuduhan tidak mendasar seperti itu Aku bisa apa?
Dukun, aku memang hobi pergi ke dukun dan aku tidak mengingkarinya. Tapi, dukun yang Aku datangi itu biasanya dukun pijat untuk menghilangkan pegal-pegal, atau keseleo.
Sungguh, aku benar-benar tidak tahu dari mana ibu mertua kok bisa menyimpulkan bahwa orang yang berasal dari daerah ku adalah orang yang memiliki hobi untuk pergi ke dukun, dan mengguna-guna.
Duh! ketimbang mengguna-guna suamiku, mungkin kalau memang ada ajian guna-guna yang bisa membuat orang lain tertarik, mungkin yang akan aku goda adalah artis papan atas, atau sejenis CEO seperti kebanyakan pada novel-novel populer di aplikasi novel online yang sering aku baca.
Saat itu, aku sedang memikirkan benar usaha apa yang akan aku jalani karena aku tidak akan terus memasrahkan hidupku untuk ditanggung biayanya oleh suamiku.
Kenapa?
Tentu saja karena aku ingin mendapatkan income yang lebih banyak. Dari suamiku, Tentu saja aku harus tetap mendapatkannya, apalagi aku juga punya Gozel. Tapi, pendapatan dengan usahaku sendiri juga tidak boleh kalah, tidak perlu harus lebih banyak daripada yang diberikan oleh suamiku.
Besok paginya, hingga sampai saat itu suamiku juga masih belum pulang ke rumah.
Aku tak ingin ambil pusing, mumpung Gozel tidur aku segera mencoba membuat kue kesukaan ku yang tak lain adalah, pastel sisi kenyang dan wortel.
Rencananya, aku mau buka usaha rumahan dengan menyediakan jajanan semacam itu.
Tidak membuat banyak, tepung terigu 200 gram saja untuk percobaan. Setelah sekitar 30 menit lebih, akhirnya selesai juga pastel buatanku.
“Coba ah!” ku gigit pastel yang sudah tidak terlalu panas, dan rasanya benar-benar enak! “Bagus! kalau begitu, besok tinggal coba dulu buat kue lumpur, besoknya pie susu, besoknya kue sus, risoles, dan sebagainya!” ucapku semangat.
Tidak lama, suamiku pulang ke rumah kontrakan. Aku tidak mengatakan apapun, dia masuk, mengucapkan salam seperti biasanya dan aku juga melakukan seperti biasa yang sering aku lakukan.
Suamiku duduk di ruang tengah, masih membawa ekspresi wajahnya yang lesu itu sampai di sana. Aku membuatkan teh hangat, dan memberikan kepada suamiku.
“Di minum dulu teh nya, Bang.” ucapku.
Suamiku mengangguk, dia tersenyum padaku tapi aku berpura-pura untuk tidak melihatnya. Jelas lah, senyum yang dipaksakan oleh suamiku tadi, rasanya terlalu malas untuk di anggap.
Aku langsung masuk ke kamar Gozel, sungguh Aku sama sekali tidak peduli Bagaimana kabar Rena dan juga bayi yang ada di dalam perutnya. Entah selamat, atau tidak, aku sungguh tak ingin tahu. Yah, memang benar Seharusnya aku tidak secuek itu, aku juga adalah wanita yang pernah hamil dan melahirkan, di mana Aku seharusnya memiliki empati yang tinggi. Tapi, sakit hati seorang istri sah kepada pelakornya sepertinya tidak memiliki alasan untuk memiliki empati. Ya, percuma juga aku memiliki empati kepada wanita yang tidak memilikinya juga, kan?
Aku memutuskan untuk berbaring, pikiranku mulai melayang tiba-tiba saja saat mataku melihat langit-langit kamar. “Lantas, Apa gunanya rumah yang sudah diberikan kepada Rena sebagai hadiah untuk si jabang bayi jika cabang bayinya saja sudah tidak bisa bertahan? Ataukah, bayi itu merasa tidak pantas menerima hadiah sehingga dia memilih untuk kembali kepada Allah?” tanyaku tiba-tiba saja terlintas pemikiran aneh seperti itu di dalam hatiku.
Entah sudah seberapa lama aku terus berpikir, dan apa yang aku pikirkan juga tidak jauh dari Rena dan juga bayi yang dikandungnya. Hingga tanpa sadar pintu kamar terbuka, dan suamiku mulai masuk ke dalam kamar.
Aku langsung memiringkan tubuhku, posisinya adalah aku membelakangi tempat yang akan digunakan oleh suamiku Jika dia tidur nanti.
Benar saja, suami ku langsung naik ke atas tempat tidur.
“Sayang, apa semalam Gozel rewel?” katanya suamiku yang mungkin hanyalah basa-basi saja karena tidak mungkin tidur di waktu yang masih pagi seperti ini.
Yah, Kalau aku sih kapan saja aku merasa ngantuk aku akan langsung tidur.
“Gozel tidur nyenyak sekali,” jawabku jujur, memang benar semalaman Gozel tidur dengan sangat nyenyak dan hanya dua kali saja terbangun itu pun kembali langsung tidur saat aku memberikan ASI padanya.
“Alhamdulilah kalau begitu. Sore nanti pukul 3 tolong bangun kan Abang ya, sayang? Abang mau menepati janji yang kemarin itu,” ucap suamiku.
Mendengar ucapan suamiku barusan, aku benar-benar tidak tahan untuk tidak menghela nafas. “Lebih baik sih, Abang jangan kasih janji lagi, kalau mengingkari lagi nanti Abang sendiri loh yang merasa malu,” Ujarku memperingatkan pada Suamiku.
Suamiku menatap ke arah punggung ku, namun aku masih terlalu malas untuk melihat ke arahnya.
“Rena sudah selesai menjalani operasi untuk pengangkatan janin, tidak ada alasan apapun lagi yang akan menahanku untuk terus berada di sana. Lagi pula, aku sudah janji tertua denganmu, sudah waktunya untuk memenuhi janjiku,”
sama ibuku di bawah pergi ke Jakarta dr Jogjakarta. sampai lulus sma sy baru nyari bpkku, bukan apa2 minta tabggung jawab utk kuliah thn 80 an. ketemu minta niayackuliah.dia sfh bahagia dgn pelakor dan anak2nya.
sakit hati dan dendam, sy tdk pernah menyalahkan ibunsy. sy juga perempuan bisa merasakan sakit hati ibu. setelah lulus kuliah sy kerja diperusahaan besar. dan sy sdhbtdk pernah liat dan datang lg kerumah bpk saya . tdk sudi banget..dpt kabar bpk koma pemhulih darah pecah 3 bln di rscm. sy tdk pernah datang utk liat.najissssssss. di hubungi oleh kakaknya bpk.klu bpk sy mau ketemu. udh sakratul maut. dg terpaksa sy datang. sy bisikin apa coba.. cepat matilah kau pejaga neraka sdh nunggu. bpk sy menangis dlm koma. emang gw fikirin!!! 2 hr kemudian mampus tuh org tua. dikabarin. sy tdk datang..sudi amat sampai skrg saya tdk pernah ziarah.