NovelToon NovelToon
Istri Untuk Arga

Istri Untuk Arga

Status: tamat
Genre:Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:111.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Snow White

Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.

Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekuatan Adik Bungsu

Malam ini adalah makan malam pertama Darin bersama keluarga Arga. Sebelum ia ke ruang makan lebih dulu ia menemai Ardhi Bhakti yang belum ia temui setelah acara resepsi. Lelaki tua dengan warna rambut yang tidak hitam lagi ingin sekali bertemu dengannya. Ada rasa takut dan khawatir di hati Darin karena ini kali pertama mereka berdua bertatap muka empat mata.

Tatapan mata Ardhi Bhakti begitu lekat menatap Darin yang sedari tadi duduk malu-malu dan tidak berani menatap Ardhi Bhakti. Hanya senyum ringan yang terlukis di bibir Ardhi Bhakti saat melihat istri cucunya terlihat malu-malu.

"Tegakan kepalamu mulai sekarang, jangan pernah tertunduk karena mulai saat ini kamu adalah istri dari Arga," kata Ardhi Bhakti dengan nada lembut membuat Darin merasa sungkan dan malu.

Ternyata hati Ardhi Bhakti sangatlah lembut dan hangat seperti Bintar. Senyumnya terus merekah setiap kali menatap Darin.

"Iya, Kek. Aku belum terbiasa," ujar Darin masih merasa malu dan gugup jika harus membalas tatapan Ardhi Bhakti.

"Biasakanlah karena kamu akan sering tampil bersama dengan Arga, dan kakek sangat senang karena akhirnya kamu bisa menikah dengan Arga."

Darin menangkap sesuatu ucapan yang sedikit janggal menurutnya. Seolah Ardhi Bhakti sudah mengenal lama dirinya, tapi bagaimana mungkin seorang Arhdi Bhakti mengenalnya meskipun Drain salah satu anak dari pengusaha terkenal tidak ada waktu bagi Ardhi Bhakti memperhatikannya.

"Iya, Kek. Akan aku biasakan." senyum Darin merekah menatap Ardhi Bhakti.

"Bantulah suamimu. Dia adalah seorang yang sangat tertutup dalam hal apapun, pahamilah dia saat dia marah dan ketika dia terdiam. Karena Arga tidak akan pernah menunjukkan rasa sedihnya kepada semua orang."

Ucapan Ardhi Bhakti kembali membuat Darin terdiam karena tidak yakin jika dirinya bisa membantu Arga karena pernikahan mereka hanyalah sebagai formalitas semata. Namun Darin harus berpura-pura di depan semua orang sampai waktunya tiba.

"Iya, Kek. Aku akan membantunya," ucap Darin berbohong dengan hati yang sedikit berat karena akan mengecewakan semua keluarga Atmaja Wiguna.

Wajah Darin terlihat sangat sedih saat keluar dari kamar Ardhi Bhakti, memang sudah beberapa hari ini Ardhi Bhakti tidak keluar kamar untuk makan bersama, kondisinya yang belum membaik membuat dirinya selalu makan di dalam kamar dan tidak bisa bergabung dengan cucu-cucunya.

Lamunan Darin terpecah saat seseorang memanggil dirinya, sebuah suara yang terdengar lembut dan manja seperti anak kecil. Siapa lagi jika bukan Dewa. Sedari tadi lelaki berwajah innocent itu mencari keberadaan Darin, dan akhirnya bisa menemukannya.

"Darin!" panggil Dewa sambil berusaha menyusul Darin yang berjalan menuju ruang makan karena semua orang sudah menunggunya di sana.

Sontak Darin menoleh mendengar namanya dipanggil dan melihat Dewa sedang berjalan menuju arahnya sambil membawa sesuatu di tangan kanannya yaitu segelas susu. Senyum Darin merekah melihat kedatangan Dewa.

"Dari mana lo? Gue cari nggak ketemu?" tanya Dewa yang sudah berdiri di hadapan Darin.

"Dari kamar kakek. Ada apa?"

"Ini gue bikinin susu buat lo." Dewa menyerahkan susu yang sedari tadi dipegangnya dan masih hangat.

"Lagi?" tanya Darin sambil melihat susu yang diambilnya dari tangan Arga.

"Mulai sekarang lo harus banyak minum susu biar sehat kayak gue."

"Tapi gue bukan anak kecil yang harus minum susu."

"Memang yang minum susu harus anak kecil aja? Gue aja udah gede masih minum susu," ujar Dewa mengingatkan jika dirinya masih mengkonsumsi susu sampai saat ini juga.

Dewa bukanlah orang dewasa tapi masih anak kecil, walaupun umurnya sudah dewasa tapi kakak-kakaknya masih saja memperlakukannya seperti anak kecil.

"Memang lo masih anak kecil, kan?" ledek Darin tersenyum manis.

"Udah minum susunya nanti dingin."

"Nanti gue minum setelah makan malam," ucap Darin yang bergegas menuju ruang tamu.

Belum sempat Darin berjalan meninggalkan Dewa, secepat kilat Dewa menahan langkahnya agar Darin segera meminum susu buatannya. Kedua bola mata Darin menatap wajah Arga yang terlihat kecewa dan mulai bersedih. Alex bilang jika Dewa adalah adik yang paling disayang oleh semua orang di sini, siapa yang membuat Dewa bersedih akan berhadapan dengan Zein.

Semua ucapan Dewa harus dipatuhi karena jika Dewa sudah marah atau merajuk akan sulit untuk membujuknya kembali. Dengan kata lain semua yang dilakukan dan diucapkan oleh Dewa adalah benar dan tidak pernah salah. Mengetahui apa yang diucapkan oleh Alex membuat Darin merasa terpaksa harus mengikuti kemauan Dewa, atau Darin mau membujuk Dewa yang begitu susah dijinakkan selain oleh Zein dan itu butuh waktu yang sangat lama.

"Baiklah gue minum sekarang," kata Darin yang terpaksa meminum susu buatan Dewa.

Terlihat senyum Dewa merekah dan wajahnya sumringah saat Darin mau meminum susu buatan Dewa. Walaupun Darin merasa keberatan namun ia tidak mau membuat wajah ceria Dewa hilang karenanya.

"Ayo kita makan." Dewa menarik tangan Darin menuju ruang tamu di mana kakak-kakaknya sudah menunggu dirinya di sana.

"Hah! Makan!" teriak Darin kaget karena ia baru saja minum susu buatan Dewa.

Sesuai ucapan Dewa jika semua orang sudah menunggunya di ruang makan, keenam kakak-kakak Dewa sudah lelah menunggu adik bungsunya yang belum juga datang.

"Dari mana kamu?" tanya Arga sedikit terdengar jutek saat Darin duduk di samping Arga.

"Ruangan kakek," jawab Darin singkat membenarkan letak duduknya dan menatap semua orang yang ada di sana terlihat sedikit kesal mungkin karena lama menunggu dirinya.

"Apa kamu nggak tahu kalau kita semua udah lapar?" Arga masih dengan suara kecilnya dan nada ketus.

"Maaf," kata Darin merasa bersalah.

"Mari kita makan," kata Zein tanpa ada basa-basi lagi dan keenam adiknya mengikuti ucapan Zein.

Melihat sikap Arga membuat Darin sangat bersalah, padahal yang membuatnya terlambat datang ke sini adalah Dewa. Tapi Darin tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Arga mash saja terlihat melamun karena ruang kantornya belum juga terbuka. Entah harus bagaimana agar ruang kantor bisa kembali dibuka.

Jika sampai besok ruangan kantor tidak bisa dibuka terpaksa Arga harus menyalin semuanya dari kantor dan menyuruh sekretarisnya. Dewa yang sadar melihat kakak keduanya terlihat kebingungan membuatnya penasaran.

"Bang Arga kenapa? Kayaknya lagi bingung, apa ada masalah?" tanya Dewa saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton TV bersama-sama.

"Lagi bingung karena lupa kunci password ruang kerjanya," jawab Herry sambil mengunyah makanan ringannya sambil matanya menatap televisi tanpa menoleh ke arah Dewa.

"Gue bingung kenapa dia bisa sampai lupa password, padahal dia masih muda," sambung Bintar yang ikut ke dalam pembicaraan Dewa dan Herry dengan mimik wajah keheranan menatap Dewa.

"Efek udah nikah jadi kayak gitu," timpal Alex sambil memainkan ponselnya yang duduk tidak jauh dari Bintar.

"Masa sih sampe bisa pikun kayak gitu," celetuk Dewa dengan ekspresi polosnya.

Ketika mereka berempat sedang membicarakan Arga, tiba-tiba saja korban pergunjingan Herry dan adik-adiknya datang. Tidak sengaja Arga yang masih terlihat kebingungan menghampiri adik-adiknya.

"Lagi gibahin gue, ya?" tanya Arga yang baru saja datang berdiri dengan wajah ketus.

Mendengar suaranya yang terdengar tegas membuat keempat adiknya menoleh secara bersamaan, sepertinya mereka sedang dalam masalah namun tidak bagi Dewa yang menjadi anak emas Arga.

"Bukan Bang, tapi lagi ngomongin Bang Arga," kata Dewa dengan nada polosnya.

"Sama aja kupret," timpal Bintar yang sedikit gemas dengan kepolosan adiknya.

Merasa tidak terima dibilang kupret oleh Bintar, secara spontan Dewa berteriak memanggil nama Zein untuk mengadu kelakuan kakaknya.

"Bang Zein! Gue dikatain kupret sama anak itik!" teriak Dewa spontan sambil menatap wajah Bintar.

Mendengar apa yang diucapkan oleh Dewa membuat Herry, dan Alex tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua jika sedang bertengkar terlihat sangat menggemaskan.

"Apa lo bilang gue disebut anak itik?" tanya Bintar sedikit kesal dengan ucapan Dewa yang tidak merasa bersalah.

Belum sempat Dewa membalas ucapan Bintar, kakak keempat mereka datang dengan wajah yang terlihat sedikit kesal. Arga yang masih setia menunggu jawaban akan pertanyannya tadi menjadi lupa.

"Siapa yang numpahin kopi ke laptop gue?" tanya Richi dengan wajah kesalnya bertanya satu per satu kepada adik dan kakaknya.

Deg, suasana yang tadinya sedikit mencair kini berubah kembali beku dan sedikit tegang. Semua saling menatap satu sama lain, kira-kira siapa tersangka antara mereka yang telah menumpahkan kopi Richi ke laptopnya.

"Yang jelas bukan gue, karena dari tadi gue di kamar," jawab Arga yang baru saja keluar dari kamarnya.

Richi percaya jika Arga tidak akan melakukan itu karena Arga tidak akan pernah datang ke kamarnya jika tidak ada sesuatu hal yang sangat serius.

"Bukan gue juga karena gue nggak tertarik masuk lama-lama ke kamar lo, bikin gue pusing aja liat buku banyak banget," sahut Herry dengan nada santainya sambil matanya terus tertuju kepada televisi dan tidak lupa mengunyah cemilannya.

"Apalagi gue yang dari tadi cuman main game di sini, kalau nggak percaya tanya aja sama anak itik," ucap Alex sambil meledek Bintar dengan kata anak itik.

Melihat Alex ikut meledek Bintar membuat Herry kembali tertawa terbahak-bahak, namun tidak bagi Bintar yang terlihat sangat kesal dengan ucapan Alex.

"Resek lo!" Bintar terlihat sedikit sangat marah dan tatapan Richi masih menghardik adik-adiknya berharap ada yang mau mengakui perbuatannya.

"Bukan gue juga Bang. Lo kan tahu kalau gue nggak berani ganggu lo kalau lagi sibuk. Yang suka keluar masuk kamar kan dia," ucap Bintar sambil menatap Dewa seolah memberitahu siapa pelakunya.

Semua mata tertuju kepada Dewa seolah meminta jawaban akan ucapan Bintar, wajah Dewa berubah seketika seakan mulai terintimidasi.

"Tadi gue nggak sengaja numpahin kopinya," ucap Dewa yang akhirnya mengakui perbuatannya dan semua mulai bisa bernapas dengan lega.

Meskipun sudah tahu siapa yang telah menumpahkan kopinya tidak membuat Richi merasa lega, justru ia merasa sedikit was-was takut Dewa mengadu kepada kakak pertamanya. Ada rasa kesal ingin meluapkan amarahnya kepada Dewa karena semua pekerjaannya hilang seketika. Berjam-jam Richi berada di depan laptop dan sekarang hilang sudah.

"Haduh, gimana sih lo. Kerjaan gue jadi berantakan semua," kata Richi yang mencoba menahan emosinya kepada Dewa.

Saat suasana mulai sedikit memanas datanglah Zein yang sedari tadi baru selesai menemani Amanda tidur. Zein mendengar suara para adiknya sedang membicarakan sesuatu terdengar begitu berisik membuat kenyamanan rumah sedikit terganggu.

"Ada apa sih berisik banget?" tanya Zein yang datang menghampiri dan semua menjadi sunyi senyap seketika kedatangan Zein.

Tatapan mata Zein terlihat tajam menatap satu per satu orang yang berada di sana. Tidak ada yang berani menjawab jika Zein sudah menjadi seperti itu, hanya Arga dan Dewa yang mampu bicara dengan Zein.

"Bang Richi marahin gue karena gue numpahin kopi ke laptopnya. Padahal gue nggak sengaja dan udah minta maaf," jawab Dewa dengan ekspresi wajah memelas serta sedih menatap Zein.

"Hadeh, perasaan gue mulai nggak enak nih," kata Richi yang tahu endingnya akan seperti apa jika Zein sudah muncul.

Bisa dibilang Dewa selalu saja selamat dari masalah apapun juga jika Zein sudah datang, semua apa yang Zein ucapkan tidak bisa dipatahkan dan harus dilaksanaKan.

"Dia kan udah minta maaf dan nggak sengaja, laptop lo bisa dibenerin lagi kan?" Zein balik bertanya menatap Richi yang seakan tidak mempunyai jawaban lagi selain mengiyakannya.

"Kenapa endingnya jadi gue yang dimarahin sih? Padahal gue yang seharusnya marah," gumam Richi bicara sendiri dalam hati.

Dengan memasang wajah tersenyum dimple smile nya, Richi mencoba tenang meskipun perasannya di dalam sana begitu kesal karena ini menjitak Dewa.

"Iya, Bang. Biar gue benerin nanti," kata Richi sambil tersenyum menatap Zein.

"Ah, si kampret nggak tahu apa itu kerjaan gue selama beberapa hari. Nih akan bayi kenapa juga selalu bikin masalah," kata Richi bicara sendiri dalam hati dengan perasaan yang membatin.

"Gimana, password ruang kerja udah bisa kebuka?" tanya Zein mengalihkan pembicaraan setelah menyatakan urusan antara Richi dan Dewa selesai.

Dari raut wajahnya saja Zein bisa menebak jika Arga belum bisa membuka password ruang kerjanya.

"Belum. Frustasi gue jadinya," ucap Arga terlihat frustasi.

"Bukan password-nya hari kecelakaan lo ya, Bang?" sela Dewa yang mengingatkan akan password ruang kerja Arga.

Glek, semua mata secara bersamaan menatap Dewa. Begitu juga Arga yang mulai ingat akan password ruang kerjanya. Tapi bagaimana Dewa tahu akan password ruang kerjanya? Arga baru sadar karena hanya Dewa selain dirinya yang tahu.

"Lo kok tahu password-nya?" tanya Alex keheranan.

"Karena cuma gue yang tahu selain Bang Arga," kata Dewa sambil tertawa ringan.

"Terus kenapa lo nggak kasih tahu kita dari tadi? Lo kan tahu kalau Bang Arga lupa password ruang kerjanya?" sambung Richi yang masih menyimpan rasa emosi yang tidak tersalurkan kepada Dewa.

"Karena Bang Arga nggak nanya sama gue," jawab Dewa dengan polosnya membuat semua kakak-kakaknya tidak habis pikir.

"What!!!" teriak kakak-kakaknya secara bersamaan.

1
🏡s⃝ˢ⍣⃟ₛ🇸𝗘𝗧𝗜𝗔𝗡𝗔ᴰᴱᵂᴵ🌀🖌
karya yang bagus,
🏡s⃝ˢ⍣⃟ₛ🇸𝗘𝗧𝗜𝗔𝗡𝗔ᴰᴱᵂᴵ🌀🖌
wkwkwk sokorrr, emang enak di katain sopir
🏡s⃝ˢ⍣⃟ₛ🇸𝗘𝗧𝗜𝗔𝗡𝗔ᴰᴱᵂᴵ🌀🖌
buat masalah lagi saja Darin, biar di perhatikan 🤭
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🇦ᴿᴷᴬ 𝗗🌀🖌
wkwkwk🤣🤣🤣🤣 provokator Dewa,,,
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🇦ᴿᴷᴬ 𝗗🌀🖌
wkwkwk kasian nya Dewa, tak di harap kan kehadiran nya, yang tak di harap kan nongol dengan santai nya🤭
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🇦ᴿᴷᴬ 𝗗🌀🖌
jujur aku punya suami seperti Arga, nyerah, terlalu posesif, mengerikan
Snow white❄IG@snow_white97suga: Hahaha kalau ga gitu katanya nggak cinta Kak
total 1 replies
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🇦ᴿᴷᴬ 𝗗🌀🖌
jujur aku pengen getok kepala Dewa🙄🙈
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🇦ᴿᴷᴬ 𝗗🌀🖌
jodoh tak kemana, mereka di pertemukan, walaupun dengan cara seperti itu
Snow white❄IG@snow_white97suga: Iya, Kak. Jalur langit memang luar biasa ya 🤗
total 1 replies
Kesya Aqila
bagus
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🇦ᴿᴷᴬ 𝗗🌀🖌
kan kena tag, emang enak.
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🇦ᴿᴷᴬ 𝗗🌀🖌
kasihan ya Arga
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🇦ᴿᴷᴬ 𝗗🌀🖌
waduh elergi udang🙈🙈🙈
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
wowww keren, bantu aku menghabisi nya ceunah, andai
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
keluarga yang disiplin
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
wkwkwk iri dia
💜⃞⃟𝓛 𝗡𝗬𝗔𝗜ᵈᵉʷᶦ 🌀🖌
aihhh posesif
Debby Liem
fgjjkkllllllllk
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
waduh satu keluarga sudah 3 yang naksir darin,
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
walaupun itu anak haram, tetep saja itu anak mu, emang hati mu terbuat dari batu, sehingga tak bisa menyayangi anak mu sendiri
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
akhirnya kamu kepo Arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!