Follow Instagram otor @Tantye005
Menjadi pengantin adalah impian semua wanita, terlebih jika akan menikahi pria yang mereka cintai.
Namun, impian itu hancur di hari pernikahan Alexa. Malam di mana dia resmi menjadi seorang istri, dia malah memergoki suaminya tengah bercinta dengan wanita lain.
Sakit hati? Tentu saja. Tapi Alexa tidak menghentikan perbuatan bejat suaminya, bahkan bertingkah seolah-seolah tidak ada yang terjadi sebab dia berencana akan membalaskan dendam sakit hatinya.
Akanlah Alexa berhasil membalas sakit hatinya? Atau cinta mengalahkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 ~ Saling menunduh
"Sayang aku bisa jelasin semuanya," ucap Ziko menghampiri Alexa yang berdiri di ambang pintu.
Wanita itu tengah bersedekap dada dengan alis terangkat. "Jelaskan?"
"Aku tidak bermaksud selingkuh Lexa." Alibi Ziko. Pria itu melirik Jesika yang kini kancing kemeja bagian atasnya telah terlepas.
Ziko menunjuk Jesika. "Di-dia berusaha menggodaku Sayang. Aku sudah melarang tapi dia tetap saja bersih keras. Lexa?" Ziko memegang kedua pundak istrinya. "Kamu percayakan aku cuma cinta sama kamu? Dia tidak ada apa-apanya dibanding kamu sayang."
"Benarkah?" tanya Alexa melirik Jesika dengan tatapan remeh.
"Ziko! Apa yang kau katakan? Jelas-jelas kita ...."
"Cukup! Jangan banyak bicara Jesika! Apalagi merusak nama saya. Kau memang selalu mengambil kesempatan jika Alexa tidak ada. Kau tahu saya sudah menikah tapi tetap saja ...."
"Ziko!" teriak Jesika tidak terima.
"Cukup, saya tidak suka keributan di perusahaan!" lerai Alexa melirik arloji dipergelangan tangannya.
"Saya ada rapat, kita urus ini nanti," ucap Alexa dan berlalu pergi.
Sementara sepasang kekasih itu saling memandang satu sama lain. Ziko menutup pintu dan tidak lupa menguncinya.
Menghampiri Jesika. "Maaf Sayang, aku tidak bermaksud menyalahkan atau menuduhmu. Aku hanya tidak ...."
Ucapan Ziko terjeda, kepalanya tertoleh ke samping sebab mendapat tamparan keras dari Jesika. "Kau sungguh egois Ziko! Tadi kau yang memanggilku masuk keruangan ini. Kau yang membuka kancing kemeja yang aku kenakan tapi kau ...." Jesika mengatur nafasnya yang memburu.
Kali ini Jesika sangat marah sebab cemburu melihat Ziko yang lebih menjaga perasaan Alexa. Jesika memang matre, tapi dia juga membutuhkan cinta yang tulus dari orang yang dia sukai.
"Tapi kau melimpahkan semua kesalahan padaku!"
"Maaf, aku melakukan semua ini demi kita Jesika. Kalau Alexa hilang kepercayaan kepadaku, maka kita tidak punya kesempatan untuk merebut semuanya," bisik Ziko menarik Jesika masuk ke pelukannya.
"Aku cemburu Ziko, sampai kapan akan seperti ini?"
"Sebentar lagi. Semoga rencana kita malam nanti berhasil Sayang," bujuk Ziko.
Jesika mengangguk dalam pelukan Ziko. Sial dia terlalu mudah luluh jika Ziko sudah bersikap lembut padanya.
Mata Jesika terpejam ketika Ziko mengecup keningnya cukup lama. "Keluarlah, sebaiknya kita tidak bertemu selain pekerjaan untuk beberapa hari kedepan Sayang. Alexa sepertinya sudah mulai menyukaiku, dia tidak suka kalau kita sering bersama."
Seperti terhipnotis, Jesika mengangguk samar dan segera meninggalkan ruangan Ziko.
***
"Kenapa raut wajah Nona terlihat kesal seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Sean sembari menyeimbangkan langkahnya dengan Alexa.
"Siapkan surat pemecatan untuk Jesika sekarang juga!" perintah Alexa.
"Dia berbuat ulah?"
Alexa senyum sinis dan melirik Sean sekilas. "Sejak kapan dia tidak berbuat ulah Sean?"
"Ah ya saya lupa Nona." Sean tertawa kecil dan segera memisahkan diri dengan Alexa yang akan masuk ke ruang rapat.
Pria itu masuk keruangannya untuk turun tangan langsung mengeluarkan surat pemecatan untuk Jesika. Sean tidak lagi meminta bantuan HRD untuk melakukannya.
"Satu pion telah disingkirkan," gumam Sean setelah surat pemecatan telah dia print dan laporkan kebagian HDR.
Pria itu kembali menemui Alexa setelah memastikan rapat yang dihadari Alexa telah selesai.
Mengetuk pintu sebentar sebelum membuka ruangan bosnya. Dia mengangguk sopan pada pria yang tengah duduk di sofa berhadapan dengan Alexa.
Meski posisi Ricard bukan lagi atasannya, Sean tetap saja hormat sebab sudah terbiasa saat bekerja bersama. Terlebih Ricard adalah orang yang sangat baik jika tidak dalam emosi.
"Sudah lama tidak berjumpa Sean," sapa Ricard. "Duduklah dulu!" lanjutnya.
Sean mengangguk dan langsung duduk di samping Alexa.
"Dia tidak membuat kesalahan kan?" tanya Ricard pada Sean. Tentu saja dia yang dimaksud Ricard adalah adik kesayangannya.
"Tidak Tuan, Nona Alexa sangat ahli dalam mengendalikan perusahaan," puji Sean sungguh-sungguh.
"Baguslah, saya takut dia malah sibuk bucin dengan suami tidak tahu malunya itu," sindir Ricard.
"Padahal aku ada di sini sejak tadi, tapi kok kalian lancar banget gibahnya," celetuk Alexa.
Jika Sean dan Ricard sudah bertemu, maka Alexa bagai anak kecil saja.