Bagaimana jika takdir justru membuat kita kembali bertemu dengan orang yang pernah singgah dalam masa lalu kita?
Renata tidak menyangka, setelah sekian lama berpisah dengan Bima, takdir ternyata mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.
"Setelah bertahun-tahun mencoba melupakan, kenapa takdir justru mempertemukan kita kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMU HARUS KUAT
Langit berselimut awan mendung. Rintik gerimis berjatuhan seolah ikut berduka menyaksikan wajah-wajah sedih penuh air mata yang kini sedang melakukan prosesi pemakaman.
Untaian doa terucap pada bibir orang-orang yang hadir di sana. Suara isak tangis menandakan betapa mereka merasa kehilangan sosok Devan yang kini sudah terkubur dalam gundukan tanah merah.
Renata menangis di depan pusara. Wanita yang sedang hamil muda itu benar-benar masih tidak percaya jika suaminya telah pergi meninggalkan dirinya.
Rasanya seperti mimpi. Kemarin, semuanya baik-baik saja. Namun, peristiwa yang terjadi pagi itu kemudian merenggut semuanya. Kecelakaan beruntun itu, membuat Devannya tiada.
"Devan, kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa kamu pergi begitu saja? Kita bahkan baru sebentar menikmati kebahagiaan." Rania terisak. Hatinya sungguh sangat sakit.
Baru sebentar dirinya merasakan kebahagiaan, takdir ternyata berkata lain. Perempuan itu kembali menangis di sana. Suara tangisannya membuat semua orang yang hadir di pemakaman ikut menangis. Apalagi, saat mengetahui kalau wanita itu sedang hamil muda.
Sungguh malang nasib wanita itu, ditinggal suami di saat keadaannya sedang hamil muda. Dia menjadi janda di saat pernikahannya sedang hangat-hangatnya.
"Ikhlaskan suamimu, Nak, biar dia tenang di sana." Dika mengusap bahu menantunya. Dirinya sungguh tidak tega melihat kesedihan Renata. Wanita itu terlihat begitu terpukul dengan kepergian Devan.
Tak jauh berbeda dengan Renata, keadaan Iren juga tidak jauh berbeda. Wanita yang kini duduk di kursi roda itu terus menangis. Rasanya, ia sungguh tidak rela jika putra kesayangannya itu telah pergi untuk selamanya.
Aldrian dan Vanya juga ikut hadir di pemakaman. Aldrian ikut mengantar sahabatnya ke pembaringan terakhirnya. Mereka baru pulang menghadiri pemakaman Karina kemudian langsung menuju ke tempat di mana Devan dimakamkan.
Aldrian dan Vanya sungguh tidak menyangka jika kedatangan Devan dan Karina di pernikahan mereka seminggu yang lalu adalah pertemuan terakhir mereka.
Aldrian masih ingat jelas bagaimana senyum bahagia yang tersemat di wajah Devan dan Karina. Suami dari Renata dan istri dari Bima itu ikut bahagia dan mendoakan pernikahan mereka.
"Aku masih ingat betapa bahagianya Devan bersama Renata saat mereka menghadiri pernikahan kita," ucap Vanya. Perempuan hamil itu mengusap air matanya yang sedari tadi tak berhenti mengalir.
Sementara itu Aldrian mengangguk membenarkan. Netranya menatap Renata yang terlihat begitu rapuh. Melihat Renata yang seperti itu membuat ingatan Aldrian kembali ke masa lalu.
Kesedihan yang sama seperti saat Bima melukai Renata hingga menyebabkan ibunya meninggal dunia.
Kenapa di saat wanita itu baru merasakan kebahagiaan bersama Devan, tiba-tiba kebahagiannya kembali hilang?
"Semoga Tuhan selalu memberikan kesabaran dan kekuatan padamu, Renata," ucap Aldrian pada Renata. Doa yang sama yang ia langitkan pada Bima saat Aldrian ikut mengantarkan Karina ke peristirahatan terakhirnya.
Rintik gerimis masih membasahi bumi. Satu persatu orang-orang meninggalkan pemakaman. Aldrian dan Vanya mendekati Renata dan Dika juga Iren. Mereka berdua berpamitan pulang.
Aldrian memeluk Renata yang semakin menangis saat melihatnya.
"Kenapa Tuhan begitu cepat mengambilnya dariku? Apa aku tidak pantas bahagia?" Suara Renata begitu menyayat hatinya.
"Kamu tidak boleh bicara begitu. Semuanya sudah takdir. Aku yakin, Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan kita," bisik Aldrian.
"Kamu harus kuat. Demi janin yang sekarang ada dalam perutmu. Darah daging Devan. Aku yakin, kamu tidak akan menyia-nyiakan satu-satunya peninggalan Devan yang sangat berharga ini bukan?" Aldrian melepaskan pelukannya.
"Aku dan Vanya pamit pulang." Aldrian mengusap lembut rambut Renata. Perempuan yang dulu hampir saja membuatnya jatuh cinta. Namun, semenjak Devan membawa Renata, Aldrian memantapkan diri dengan menganggap wanita itu sebagai adiknya.
Cintanya adalah Vanya. Perempuan yang baru saja dinikahinya seminggu yang lalu dan kini sedang mengandung anaknya.
Setelah berpamitan dengan Dika dan Iren, Aldrian dan Vanya kemudian pergi dari area pemakaman.
Lalu, tak berapa lama kemudian Renata dan kedua mertuanya pun pergi meninggalkan Devan yang kini hanya tinggal kenangan.
BERSAMBUNG ....
Alhamdulillah, akhirnya bisa update lagi.