Shisil wanita cantik yang dinikahin oleh orang duda tampan beranak satu, shisil disuruh nikah mudah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alexia Alexander, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Baiklah tuan Alvaro, saya permisi dulu"ucapan Pelayan tersebut pun pergi dari ruangan kerja Danyal.
"Alvaro kau baik-baik saja"ucapan Devano yang melihat ngilu.
"Kau lihat Devano"ucapan Alvaro yang semakin kesal terhadap Kedua sahabatnya.
"Kalian berdua sebenarnya kenapa sih"ucapan Danyal yang mencengkram bahu Alvaro semakin kencang.
"Danyal kau yang buat aku kesal tahu tidak sih"ucapan Alvaro yang teriak keras kepada Danyal.
"Kenapa tiba-tiba kau marah Al"ucapan Danyal Yang bingung dengan Alvaro.
"Gimana Alvaro tidak marah dengan Danyal, kamu mencengkram cukup"Didalam hatinya Devano yang keringat dingin.
"Dia kenapa Devano?"ucapan Danyal yang masih meremas bahu Alvaro.
"Danyal kau pikir sendiri saja"ucapan Devano sambil beri kode untuk Danyal.
"Maksud kamu apa devano?ucapan Danyal belum mengerti kode dari Devano.
"Bisa tidak kau, tidak cengkeram bahu aku sakit tahu"ucapan Alvaro yang bangkit dari duduk dan marah dengan Danyal.
"Eh kemana?"ucapan Danyal yang bingung dengan kedua sahabatnya.
"Mau tidur, badanku sakit semua"ucapan Alvaro yang langsung duduk di kursi putar milik Danyal.
"Lah terus masalah aku gimana"ucapan Danyal yang terkejut dengan tingkah laku Alvaro tersebut.
"Urus sendiri masalah kau, aku tidak mau ikutan"ucapan Alvaro yang pegang bahunya tersebut.
"Kenapa Al?"ucapan Danyal yang bingung dengan tingkah laku Alvaro.
"Pikir sendiri Danyal, sekali kau jangan bikin orang emosi kenapa?ucapan Alvaro yang kesal sambil pegang bahunya.
"Apa maksudnya Al ya?,kenapa Al pegang bahunya sepeti kesakitan"didalam hatinya Danyal yang berpura-pura tidak tahu kesalahan.
"Dasar CEO bodoh, itu karena kau meremas bahu alvaro dengan kencang"ucapan Devano yang gregetan kepada Danyal.
"Oh pantas marah, semua gara-gara aku"ucapan Danyal yang berpura-pura masa bodoh.
"Jangan berpura-pura bodoh danyal, kau ingin melampiaskan kemarahan kau besok saja"ucapan Alvaro yang masih mengelus-elus bahunya.
"Hah!,Dia berpura-pura bodoh Alvaro"ucapan Devano yang bingung ucapan Alvaro.
"Sebaiknya kau jangan bicara Devan"ucapan Alvaro yang memejamkan matanya sebentar.
"Oke deh"ucapan Devano yang duduk santai di sofa.
"Danyal, apa yang akan kau lakukan nanti ketika istri palsu kamu datang?"ucapan Alvaro yang mulai santai.
"Kalau orang itu membahayakan Shisil istri aku, Aku harus membunuhnya"ucapan Danyal tanpa ragu-ragu.
"Ternyata kau seperti dulu Danyal"didalam Hatinya Alvaro yang melihat sahabatnya.
"Al, bagaimana saran kamu?"ucapan Danyal Yang melihat balik sahabatnya.
"Dari rumornya wisaka sudah pulang ke negara ini"ucapan Devano yang menatap layar laptopnya.
"Disitu ada rumor lagi tidak"ucapan Danyal yang tergesa-gesa melihat laptopnya Devano.
"Wisaka membawa seorang wanita ke apartemennya"ucapan Devano yang menatap Alvaro.
"Jangan-jangan wanita itu, Adek tiri istri kamu Danyal"ucapan Alvaro yang sambil berpikir.
"Tidak mungkin Alvaro"ucapan Danyal yang masih gelisah.
"Setelah Kau dan Shisil menikah, aku dengar adik tiri Shisil di usir oleh keluarga istri kau Danyal"ucapan Devano yang serius dengan laptopnya.
"Jadi bahaya dong untuk istriku sekarang"ucapan Danyal yang panik karena keluarga barunya dalam bahaya.
Tiba-tiba Alvaro dapat pesan dari suami Tania dan Alvaro menatap danyal dengan tatapan serius, "Al kenapa menatap danyal seperti itu sih"ucapan Devano yang sedikit terheran-heran dengan kedua sahabatnya tersebut.
"Danyal, kita lanjut di kantor kamu saja"ucapan Alvaro yang kode kepada Devano.
"Memang kenapa Alvaro"ucapan Danyal yang bingung dengan Alvaro.
"Nanti ada yang menguping pembicaraan kita"ucapan Alvaro yang menghentikan pembicaraannya langsung.
"Sebaiknya kamu pecat semua pelayan disini saja"ucapan Devano yang tahu mata-mata dimansion milik Danyal.
"Beli mansion baru saja"ucapan Alvaro yang mempermudah.
"Setuju ucapan Al"ucapan Devano yang sedikit melirik Alvaro.
"Benar juga, aku harus bertindak cepat besok"didalam hatinya Danyal yang melamun.
"Sebaiknya kita tidur saja malam ini"...ucapan Alvaro yang melihat arah pintu masuk ruang kerja Danyal
"Tidur dimana kita"ucapan Devano yang bingung dengan ucapan Alvaro.
"Ya di ruang kerja aku lah Dev"ucapan Danyal yang tepok jidatnya.
"Lah aku tidur mana woy"ucapan Devano yang bingung mau tidur dimana.
"Di lantai kan bisa Devan"ucapan Alvaro yang merem.
"Lantai dingin bisa masuk angin aku Al"ucapan Devano yang kesal dengan kedua sahabatnya.
"Devan ada sofa satu lagi, didepan aku tuh"ucapan Danyal yang menunjuk sofa didepannya.
"Oh ya, kenapa tidak kepikiran"ucapan Devano yang duduk didepan danyal langsung tidur begitu saja.