Dinikahi secara paksa oleh pria yang tidak dikenal nya. Membuat Valencia membenci pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
Sikap baik yang selalu di tunjukan oleh suaminya (Devano). Sama sekali tidak membuat hatinya luluh. Namun, berkat semua nasehat yang di berikan orangtua serta saudara dan juga orang-orang terdekatnya. Membuat ia bisa membuka hati dan menumbuhkan perasaan untuk suaminya itu.
Tapi, bagaimana jadinya?! Jika di saat ia sudah benar-benar membuka hati dan mencintai suaminya, ia malah mendapati dan mengetahui rahasia besar yang di sembunyikan suami dan juga mertuanya.
Devano, pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Ternyata menderita penyakit kanker otak stadium lanjut.
Bersamaan dengan itu, ia juga mendapati bahwa dirinya tengah mengandung benih suaminya. Bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu didalam hatinya! Beberapa bulan kemudian, Devano menghembuskan napas terakhirnya yang membuat perasaan Valencia begitu hancur, dunianya terasa runtuh!
Bagaimana kisahnya? Akankah ia mampu menata hidupnya tanpa sosok Devano yang telah mampu mencuri hatinya dan juga menghancurkan hidupnya dalam waktu sejekap itu?!
“Jodoh PENGGANTI Untuk Nona Muda”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASIH NGANTUK!
Pagi itu, Valencia yang berbalut selimut tebal perlahan-lahan mengejapkan matanya.
"Mas," panggilnya sembari meraba-raba sisi kanan ranjang kamar itu. "Mas!" panggilnya dengan suaranya yang serak khas orang yang baru bangun tidur.
"Mas Revan kemana ya? Kok masih pagi udah ngilang?" guman nya. Bukannya beranjak dari ranjang itu, Valencia malah menarik selimut itu hingga menutup seluruh tubuhnya. Ia tampak begitu malas. Hawa nya hanya ingin tidur lagi dan lagi. Hawa yang sama pada saat dirinya dan mendiang Devano melakukan hubungan intim untuk yang pertama kalinya beberapa tahun silam.
Revano yang tidur di kamar Devanka, langsung terjaga setelah mendengar suara Devanka. "Dy ngun. Ka apel," kata Devanka. Gadis kecil itu merasa lapar.
"Kita bangun, Devanka sarapan sama Oma, Nenek, atau sama Aunty jelek aja ya!" Devanka pun mengangguk.
Revano pun segera turun dari ranjang dan membawa Devanka menuju lantai bawah. Di area dapur itu, sudah terlihat bahwa semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Unty yek!" panggil Devanka pada Tina. Mendengar sebutan Aunty jelek, melolotlah mata Tina.
"Kok Aunty jelek?" tanya Mama Mia.
"Ya, unty yek. But ting, tem ga," kata Devanka.
"Ahahahaa!" Revano tertawa.
"Revano, Devanka ngomong apa?" tanya Valencia yang penasaran. Sedangkan Tina, ia langsung cemberut setelah mendengar perkataan Devanka.
"Tante emang jelek, udah rambutnya keriting, item juga," kata Revan. "Hahaaa!" Ia kembali tertawa.
"Tuan Revan mah tega banget, Devanka di ajarin jelek!" sungut Tina.
"Saya gak ngajarin, dia cuman ikut-ikutan manggil kamu jelek. Karena saya manggil kamu keriting jelek!" jujur Revano.
"Sama aja atuh, itu juga ngajarin karena anak segini lagi tanggap-tanggap nya," kata Tina.
"Udah-udah, jangan ribut! Masih pagi juga," Kata Zivanya. "Revan mau ngapain? Kok bawa Devanka pagi-pagi kesini?"
"Ini mom, Devanka katanya laper," jawab Revano. Ia memberikan putri sambungannya itu kepada mertuanya. Setelah itu, ia izin kembali ke lantai atas. "Revan balik ke atas ya, mom."
"Sana balik, jangan lupa. Pintunya di kunci," kata Zivanya sembari mengulum senyum. Revano pun menjadi salah tingkah dibuat nya.
Dengan secepat kilat, Revano pun pergi dari area dapur itu dengan wajah memerah menahan malu.
Ia menaiki anak tangga dan kembali ke kamar istrinya. "Yank.." panggil pada Valencia yang bergelung di dalam selimut tebal.
"Valen.." panggil nya lagi sembari menyibakkan selimut yang menutup seluruh tubuh istrinya. "Udah siang loh, yank. Ayo bangun."
"Emm.. Valen capek mas, masih ngantuk juga," ucap Valencia dengan malas. Wanita itu kembali menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang terasa dingin.
"Auuuhhh.. Sakit mas!" pekik Valencia sembari memegangi telinganya. "Auuhh.. Kenapa di gigit sih mas?" sungut Valencia, telinga nya terasa panas setelah di gigit oleh Revano.
"Abisnya di bangunin susah! Mending mas gigit, kalau mas anuin kan malah HMMM lagi kayak semalam," kata Revano sembari mengalihkan tangan Valencia yang memegangi telinga itu. Ia mengusap dan meniup telinga Valencia dengan lembut.
"Jangan tiup-tiup!" Valencia menutup telinganya.
"Kenapa?" tanya Revano dengan senyum smirk yang terbit di sudut bibirnya.
"Kenapa-kenapa!" gerutunya.
"Kamu pengen lagi? Hehee!" Revano mencolek dagu istrinya itu.
Mendengar perkataan Revano, pipi Valencia terasa memanas. "Sana pergi, mas. Cia mau tidur lagi." usir Valencia pada suaminya.
"Udah siang loh, yank. Mending mandi, nanti Devanka datang. Terus masuk kesini," kata Revano. "Semalam aja dia kesini, untung mas bisa bujukin. Terus mas ajak dia pindah ke kamarnya." jelas Revano. Mata Valencia terbelalak di buatnya.
"Ya udah deh, Cia bangun tapi gendong," kata Valencia. Baru semalam menikah, tapi sikap manjanya yang dulu selalu ia tunjukan pada mendiang Devano. Kini malah ia timbulkan pada Revano.
"Hehee! Mas kira kamu itu beneran mandiri dan tegar, ternyata manja banget," kata Revano sembari membopong tubuh polos istrinya itu menuju kamar mandi.
"Gak boleh manja ama suami?" Valencia melirik wajah Revano yang sedang membopongnya memasuki kamar mandi itu. "Kalau gak boleh, auto manja ama suami tetangga nih!"
"Berani macem-macem, mas kurung di kamar 24 jam nonstop!"
"Dih, punya suami mesum nya kok horor," kata Valencia.
Suaminya itu menurunkan tubuhnya perlahan ke dalam bathtup. "Mau di mandiin juga?" tawar Revano.
"Enggak, nanti makin lama. Udah sana keluar!" usir Valencia.
Revano pun keluar dari kamar itu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Niat hanya ingin tiduran, tapi malah terlelap begitu saja.
Setengah jam kemudian, Valencia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah kembali bugar. Ia menepuk jidat setelah melihat pria yang baru saja menjadi suaminya itu tidur mendengkur di tepian ranjang kamar itu.
"Ya ampun mas," ucap Valencia. Ia mendekati suaminya dan menyentuh kaki pria itu.
"Mas bangun, sana mandi dulu," kata Valencia dengan pelan. Revan yang mudah terjaga pun segera bangun.
"Udah mandi nya?" Revano mengucek matanya. Ia memandang pada leher istrinya yang terdapat banyak cap cintanya semalam. Revano pun tersenyum kecil.
"Udah, sana mas yang mandi!" Valencia mengambikan handuk berwarna hijau muda dan memberikannya pada suaminya itu.
Revano meraih handuk yang ada di tangan istrinya. Sebelum pergi menuju kamar mandi, pria itu masih sempat-sempatnya mencuri ciuman.
***
Di meja makan, semua orang sudah berkumpul. Termasuk Devanka, si gadis kecil yang tidak ingin berbagi Daddy-nya pada siapapun termasuk Mommy-nya sendiri.
"Tuh! Mereka udah dateng," tunjuk Mama Mia pada Revano dan Valencia yang baru saja tiba di lantai bawah itu.
"Kok kalian belum makan?" Valencia menduduki salah satu kursi makan itu dan bertanya pada semua orang.
"Nungguin pengantin baru, bangunnya siang," goda Mama Mia.
"Ahhhh.. Mama mah, malah ngeledekin," Valencia memonyongkan bibirnya.
"Cieee.. Mereka malu," ledek Zivanya pula.
Makin memerah wajah Revano dan Valencia. "Kemaren malam pura-pura, terus semalam masih pura-pura gak?" goda Zivanya lagi.
"Ish! Apaan sih? Apa yang pura-pura?" Valencia menatap semua orang yang ada di meja makan itu secara bergantian.
"Itu nya, mainnya yang kemaren malem kan pura-pura. Kalau semalam masih pura-pura juga kah?"
Mata Valencia terbelalak. Ia menatap horor suaminya yang berada di sampingnya itu sembari menikmati sepotong roti yang di olesi oleh selai stroberi.
"Mas, mereka semua tau?" tanya Valencia.
"Tau lah, masa pekerjaan extrem gak minta izin dulu sama para suhu. Bisa di gantung beramai-ramai aku kalo ketauan!" celetuk Revano.
"Akkhhh.. Ampun!" pekik Revano. Baru saja ia menyelesaikan perkataannya, Valencia langsung mencubit perutnya dengan sangat keras.
"Aku tu malu tau gak?!" Valencia bersungut-sungut. Seperti wanita itu akan merajuk lama pada Revano.
atau ternyata beda penulis?
Sukses bwt kk