Ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami yang kaya membuat Karina harus rela dimusuhi oleh ibu mertuanya.
Karena harta kekayaan sang suaminya jatuh ke tangannya hampir tujuh puluh lima persen karena kekayaan suaminya dirintisnya dari nol dengan Karina yang mendampinginya sebagai kekasihnya dan sekarang menjadi istrinya. Gelar istri yang baru disandangnya seminggu itu harus rela menjadi janda karena sang suami meninggal dalam kecelakaan karena perjalanan bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Senyum di bibir Karina melebar membaca pesan yang dikirim sang calon adik ipar. Bahwa doa yang dipanjatkan setiap harinya dikabulkan. Berharap acara pernikahan yang akan terjadi antara keduanya akan berjalan lancar.
"Mbak cantik sekali." Puji salah seorang MUA.
"Terima kasih." Jawab Karina tersenyum bahagia.
"Pasti akan bahagia yang menjadi suami mbak nanti. Sudah cantik, pendiam dan sholehah." Ucap MUA itu lagi.
"Alhamdulillah.."
"Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah ya?" Doa MUA itu lagi.
"Aamiin.." Jawab Karina masih dengan senyumnya yang terus terpatri di bibirnya.
Tok tok tok
"Permisi." Ucap seseorang dari kamar Karina tempatnya merias.
"Iya." Jawab salah seorang MUA.
"Acara akan segera dimulai lima belas menit lagi. Calon mempelai pria sudah datang." Ucap seorang wanita yang mungkin salah satu tamu undangan.
"Iya ini sudah siap juga."
MUA itu mulai membereskan perlengkapannya karena setelah ijab qobul mereka akan mengikuti calon pengantin ke hotel tempat resepsi pernikahan diadakan. Mereka pun meninggalkan Karina sendiri di kamarnya setelah membereskan perlengkapannya.
Karina menatap dirinya di hadapan cermin seluruh badan yang ada di dalam kamarnya. Dengan memakai kebaya putih khas gaun ijab qobul membuat Karina berdiri menatap pantulan wajahnya yang terlihat lebih cantik dari biasanya.
***
Sah?
Sah
"Alhamdulillah.." Ucap penghulu di hadapan semua para saksi dan tamu undangan.
Setelah dinyatakan sah oleh penghulu Karina muncul di meja tempat ijab qobul dilaksanakan. Seorang MUA yang bertanggung jawab membantu Karina untuk duduk di sisi mempelai pria. Tak lupa Karina mengecup punggung tangan Ken yang baru beberapa menit yang lalu telah sah menjadi suaminya. Ken pun mengecup kening istrinya lembut. Entah kenapa air matanya menetes merasakan penyesalan dan rasa bersalah yang sangat.
Ken pun menyematkan cincin pernikahan yang sudah disiapkan untuk keduanya. Mereka pun saling memakaikan cincin pengantin di jari masing-masing.
***
Johan terdiam lama di tempatnya berdiri. Dadanya terasa sesak namun sebanding dengan senyum bahagia yang terukir di bibir gadis yang mulai merajai hatinya itu. Dan entah sejak kapan nama kekasihnya sudah tergeser jauh dari hati terdalamnya. Kini dia pun hanya akan berusaha menyembunyikan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Menggantikan nama kekasihnya kembali.
"Mas." Panggil Rani yang juga menemani Johan menghadiri acara ijab qobul kakaknya.
"Oh eh..." Jawab Johan gelagapan.
"Ayo! Masih banyak yang harus kita persiapkan. Bagaimana pun juga resepsi akan dilaksanakan nanti malam." Ajak Rani yang diminta tolong menjadi pagar ayu mempelai wanita.
"Iya." Jawab Johan singkat mengikuti langkah kekasihnya. Mencoba menepis perasaannya.
Semoga bahagia mbak. Batin Johan.
***
Acara resepsi pernikahan.
Sepasang pengantin berdiri di pelaminan menyalami siapapun yang mengucapkan selamat pada pengantin itu. Terlihat raut wajah bahagia terpancar dari kedua mempelai yang telah sah sebagai pasangan suami istri itu.
"Selamat ya mbak, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah." Ucap Rani menyalami kedua mempelai setelah tak ada yang menyalami mereka karena sibuk menikmati makanan yang disediakan.
"Makasih ya Ran, semoga segera menyusul." Jawab Karina tersenyum sambil melakukan cipika cipiki pada calon adik iparnya.
"Doakan ya mbak." Ucap Rani lagi tersenyum tulus.
"Selamat mas Ken." Ucap Rani tak banyak basa-basi, karena dia memang tidak terlalu dekat dengan kakak kekasihnya itu apalagi Johan belum pernah mempertemukan mereka dengan keluarganya.
"Terima kasih." Jawab Ken singkat.
Raut wajah cemas terlihat di wajah Ken meski tidak terlalu jelas. Namun jika dilihat lebih lekat, Ken memang terlihat ada yang dicemaskannya. Apalagi sejak tadi Ken terlihat berulang kali melirik jam dinding seolah sedang menunggu sesuatu, entah apa itu.
"Mas, mau makan?" Tanya Karina membuyarkan lamunan Ken.
"Ah, nanti saja. Kau sudah lapar?" Tanya Ken sedikit gugup.
"Kita makan sama-sama ya?" Tawar Karina karena sejak tadi melihat suaminya terlihat cemas.
"Eh.. aku..."
"Sedikit saja ya? Johan bilang mas belum makan apapun sejak pulang semalam." Bujuk Karina menatap Ken penuh harap.
"... boleh." Jawab Ken akhirnya.
Keduanya pun memilih untuk menyingkir dari pesta dan kembali ke kamar tempat malam pertama mereka akan dilakukan. Ken pun juga merasa cukup menemui rekan bisnisnya yang juga turut hadir dalam acara pernikahannya.
Di suatu sudut tempat gedung acara pernikahan, Johan menatap keduanya mempelai dengan tatapan mata sendu. Dia harus rela dan ikhlas asal yang dicintainya bahagia. Senyum paksa pun berkembang di bibirnya saat melihat kedua mempelai meninggalkan pelaminan.
***
"Ini mas." Karina menyerahkan dua porsi makanan yang diantar pelayan hotel ke kamarnya.
"Terima kasih." Jawab Ken tersenyum.
"Aku mandi dulu." Ken mengangguk.
Ken duduk di tepi ranjang yang ditaburi kelopak bunga mawar merah dengan membentuk hati di tengah ranjang dengan sprei berwarna putih semakin terlihat jelas kelopak bunga mawar merah itu. Suara denting ponsel Ken berbunyi tanda pesan masuk. Ken langsung meraih ponselnya terdapat pesan yang membuatnya tersentak kaget.
"Ada apa mas?" Tanya Karina karena suara denting ponsel itu bersamaan saat Karina keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju tidur lengan panjang dan celana panjang.
Rambut yang terurai memanjang membuat Ken seketika terpesona karena baru pertama kali Ken melihat Karina tanpa hijabnya. Sontak pipi Karina bersemu merah dilihat suaminya dengan tatapan berbeda. Ken seolah melupakan pesan masuk tadi di ponselnya.
"Mandi dulu mas, nanti kita makan dulu bersama-sama!" Saran Karina tersipu malu.
"Ok." Ken langsung masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya. Dia tak sabar untuk melakukan malam pertamanya. Dia sungguh tidak menyesal memilih untuk pulang dan menikahi gadis yang sudah lama menemaninya dari nol itu.
Tak sampai sepuluh menit Ken keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan piyama tidurnya juga.
"Ayo mas kita makan dulu!" Ajak Karina yang sudah siap duduk di sofa di dekat ranjang.
"Iya." Ken duduk di sofa depan meja tempat Karina duduk.
"Oh ya, pekerjaan mas sudah selesai kah?" Tanya Karina di sela makan mereka.
"Eh, oh... iya." Jawab Ken gelagapan. Perasaan yang sudah mulai senang tadi kembali cemas saat dihadapkan dengan pertanyaan yang membuatnya tak bisa jujur beberapa waktu lalu ini karena sesuatu yang harus dikerjakannya.
"Syukurlah... apa kita nanti jadi bulan madu?" Tanya Karina dengan wajah yang malu-malu dan memerah di pipinya.
"Eh... kita lihat nanti. Kita makan malam dulu saja." Jawab Ken.
Acara makan malam keduanya pun selesai. Karina terlihat gugup dan malu saat mengingat apa yang akan dilakukannya sebentar lagi. Apalagi kalau bukan malam pertama. Dia terlihat gugup dan mondar-mandir kesana-kemari di dalam kamar mandi. Setelah selesai makan, Karina memilih untuk masuk sebentar ke dalam kamar mandi untuk meredakan kegugupannya.
Namun sudah beberapa waktu berlalu, Karina masih belum berani keluar kamar.
Tok tok tok
"Karin, sayang..." Wajah Karina semakin memerah mendengar panggilan sayang dari suaminya dari luar pintu.
Cklek
"I..iya mas." Jawab Karina gugup sambil membuka pintu dengan kepalanya menunduk ke bawah karena malu. Namun hal itu malah membuatnya terkejut melihat suaminya berpakaian rapi dengan kemeja yang dilipat sesiku dan celana panjang bahan yang sudah rapi. Karina sontak mendongak menatap wajah suaminya yang terlihat cemas dengan rasa bersalah.
"Maaf ya sayang, ada sesuatu yang darurat harus kuurus. Maaf aku harus pergi, aku akan segera kembali." Ken mengecup kening istrinya.
"Ada apa mas?" Tanya Karina ikut cemas dan panik.
"Ada hal penting berhubungan dengan pekerjaan. Maaf... maafkan aku. Aku harus ada disana." Jawab Ken penuh sesal dan rasa bersalah.
"Iya mas, hati-hati. Nanti hubungi aku ya mas!" Ken mengangguk mengiyakan sambil memakai sepatunya.
.
.
TBC