Sarah adalah gadis desa yang cantik dan polos, dia tertipu dengan cinta palsu Frans.
Frans seorang pria muda, tampan, dan kaya raya yang menikahi Sarah karena taruhan yang dia buat dengan temannya.
Tidak lama setelah menikah Sarah hamil, tapi Frans tidak mau bertanggung jawab pada anak yang dikandungnya.
Frans meninggalkan Sarah yang tengah mengandung anaknya, dan kembali ke Jakarta.
Penderitaan Sarah tidak cukup sampai disitu, Sarah divonis dokter menderita kanker otak. Dokter menyarankan dia untuk menggugurkan kandungan demi kebaikannya. Tuhan tidak pernah membiarkan ketidak-adilan pada hambanya.
Suatu hari Frans mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia tidak bisa punya anak seumur hidupnya. Karena hal itu Frans harus membawa Sarah ke Jakarta, karena anak yang dikandungnya itu satu-satunya yang akan menjadi penerusnya.
Bagaimanakah nasib Sarah selanjutnya? Akankah dia memilih keselamatannya atau bayi yang dikandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cussie°®, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku, pergilah! Jangan ganggu aku!" kata Sarah berusaha menolak pelukan Frans padanya.
"Aku merindukan tubuhmu Sarah, aku sudah tidak tahan lagi, api di tubuhku sudah menyala, hanya kau yang bisa memadamkannya," bisik Frans di telinga Sarah seraya mendekap erat tubuh Sarah dan menciumi leher serta tengkuknya.
"Lepaskan aku Frans! Aku tidak mau, menjauhlah dariku!" Sarah menolak sambil meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
"Diamlah…, nanti Stevi bangun karena mendengar kita!" ucap Frans sambil mencium bibir Sarah dengan paksa. Sarah terdiam karena ciuman Frans yang panas itu, dia menuruti saja apapun yang dilakukan Frans padanya, karena hanya saat itulah dia bisa dekat dengan Frans.
"Ayo kita pindah ke kamar untuk melanjutkannya di sana!" kata Frans dengan tatapan panas, dia sudah tidak sabar ingin segera menyentuh Sarah.
Lalu Frans membawa Sarah ke dalam kamarnya untuk melanjutkannya di sana. Meskipun Stevi sudah kembali, tapi Frans selalu mencari Sarah untuk pelampiasan napsunya, karena dia selalu ketagihan menyentuh tubuh Sarah.
Pagi harinya Grace tiba-tiba datang ke rumah Frans dengan membawa koper besar warna hitam di tangannya. Saat itu Frans sedang sarapan pagi dengan Stevi, dan Sarah berada di dapur memperhatikan mereka.
"Ada apa ini Ma? Kenapa Mama membawa koper ke sini?" tanya Frans dengan wajah bingungnya.
"Frans, ini sangat mendadak, tapi Mama harus segera pergi ke Jerman untuk mengurus perusahaan di sana," jawab Grace menjelaskan.
"Apa...? Tapi Mama kan bisa menyuruh orang lain yang ke sana, tidak perlu harus Mama yang pergi langsung, kan?"
"Tidak bisa Frans, ini sangat penting dan harus Mama yang menanganinya." jawab Grace.
"Berapa lama Mama akan di Jerman?" tanya Frans lagi.
"Mama juga tidak tahu berapa lama tepatnya, mungkin dua bulan, bisa lebih juga bisa kurang."
"Tapi bagaimana kalau nanti cucu Mama lahir, saat Mama tidak ada di sini?"
"Kalau cucuku lahir, aku akan segera pulang."
"Baiklah, kalau itu sudah keputusan Mama."
"Dan untuk semua urusan di rumah ini, mama akan serahkan tanggung jawabnya pada Stevi, karena dia yang paling pantas dengan tanggung jawab itu," ucap Grace sambil menunjuk pada Stevi.
"Terimaksih tante Grace, sudah mempercayakan semua urusan di rumah ini pada saya," jawab Stevi dengan tersenyum.
"Dan untuk kamu Bi Inah, kamu harus menuruti semua perintah dari Stevi, karena dia nyonya baru di rumah ini mulai sekarang," ucap Grace mengingatkan bi Inah.
"Baik nyonya, saya mengerti," jawab bi Inah dengan menganggukan kepalanya.
"Apa Mama perlu aku antar ke Bandara?" tanya Frans menawarkan.
"Tidak perlu, mama akan diantar sopir. Oh ya jangan lupa Frans, jaga baik-baik calon cucu mama."
"Baik, Ma."
Hari itu Grace pergi ke Jerman untuk urusan perusahaannya, dan sejak hari itu Stevi berkuasa penuh di rumah itu.
Setelah Frans berangkat kerja, Sarah ingin istirahat di kamarnya, tapi Stevi menghentikan langkahnya, "Mau kemana kau Sarah?"
"Aku mau istirahat di kamarku," jawab Sarah dengan wajah lelah karena telah menyiapkan sarapan pagi ini.
"Istirahat...? Enak sekali ya hidupmu, hanya numpang di rumah ini tidak melakukan apapun. Bersihkan seluruh rumah ini sapu, pel, dan lap semuanya sampai bersih!" ucap Stevi memerintah dengan tatapan penuh kebencian.
up
up