[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[BACA [RDY'S#1] LAA TAHZAN! DULU BIAR PAHAM ALUR DAN KONFLIKNYA!]
[FOLLOW IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU]
Kisah tentang;
"Dia adalah orang yang kerap membuatku merasa perih, tetapi dia juga yang kerap membuatku merasa rindu."
@Anniza Az-Zahra Rulen
Anniza Az-Zahra Rulen. Gadis berhijab dengan akhlak yang mulia, tubuhnya ditutupi kain lebar dengan hijab yang membalut kepalanya. Kesabarannya sudah tidak dapat diragukan lagi saat ia dengan hati yang tabah kembali terjun ke masa empat tahun yang silam.
Verrel Aryanka Radeya. Lelaki tanpa ekspresi yang tengah menjabat sebagai mahasiswa jurusan fotografi, sekaligus pemilik studio pemotretan VR. Terhenyak saat kilatan masa lalu yang terbenam di hatinya kembali muncul kepermukaan.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Destiny 24
"Mau nyamperin mereka?" Rangga bertanya saat Zahra belum juga mengalihkan pandang. Kini mereka berjalan masuk ke area kantin, bergabung dengan mahasiswa dan mahasiswi yang lain.
Kantin ini memang kantin yang paling ramai di antara yang lain. Karena tempatnya strategis dan luas, serta bebas dikunjungi oleh mahasiswa jurusan apapun.
Zahra menggeleng dan berjalan ke meja paling ujung. Rangga hanya diam dan mengikuti langkah gadis itu, hingga Zahra duduk dengan mata yang menatap kesana-kemari. "Ishh." Zahra menepuk kening, lalu menutup mata dengan sebelah tangan.
Rangga duduk di depan Zahra, jarak mereka di batasi oleh satu meja bundar. "Kenapa?" tanya Rangga.
Zahra menggeleng, raut cemberut tergambar jelas disana. Rangga tertawa kecil dengan tangan yang mendorong sekotak tissue. "Hapus dulu raut wajah cemberut lo," ujarnya di sela-sela tawa.
Zahra mendengus dan meraih selembar tissue itu, lalu dia menempelkannya di kening. Lagi-lagi Rangga tertawa kecil, lucu sekali gadis ini, hanya dengan tingkah kecil dia bisa membuat orang tertawa.
"Ya, udah. Mau pesan apa?" Rangga menghentikan tawa saat melihat raut wajah Zahra semakin tidak bersemangat. Dia lalu bangkit dan beranjak memesan saat Zahra menyebutkan beberapa menu yang diinginkan.
####
Hari-hari Verrel terasa sangat berat karena ada dua sompret yang selalu mengikutinya kemana-mana. Verrel kehabisan akal mengusir dua sompret itu, dengan cara kasar sudah lama dia lakukan, cara baik-baik malah semakin menempel.
Saat Verrel hendak berjalan ke kantin, dua sompret itu berlari dengan semangat ke arahnya. Belum lagi pertengkaran yang terjadi semasa berjalan, membuat Verrel yang berada di tengah memijit pangkal hidung dengan mata yang dilapisi kecamatan hitam.
Walau begitu, Verrel masih bisa melihat Rangga dan Zahra yang duduk berdua di meja ujung. Sedikit tergores, namun senang karena sepertinya Rangga selalu bisa mengubah mood gadis itu.
Verrel bahkan tidak sadar dialah penyebab mood Zahra berubah-ubah. Dipikirannya sudah terpatri bahwa Rangga-lah orang yang tepat untuk gadis itu. Walaupun sakit, untuk apa juga, keadaan tidak lagi seperti dulu. Perkataan Zahra saat membalas ucapan Daniel terekam jelas di memori Verrel.
"Gue heran sama lo, Key. Nguntit mulu kerjaan lo!" Jessica mencibir. Lalu memasukkan sebutir bakso kedalam mulut dan mengunyah dengan mata memandang geram ke arah Keysa.
Keysa melakukan hal yang sama. Hingga tatapan sengit terpancar jelas di kedua mata gadis itu.
"Verrel risih di tempelin mulu sama lo, Jess." kelakar Keysa. Sungguh, tidak tahu diri. Gadis itu menyimpan sendok yang beberapa menit ini dia pegang, dan mendongakkan wajah ke arah Verrel yang tengah menyesap secangkir kopi susu.
"Sayang, mau gue suapin?" Keysa mulai menggoda, iris mata biru ke abu-abuan itu mengerjap-ngerjap lucu. Jessica yang tak sengaja melihat langsung merasakan mulas.
"Mata lo kenapa, Key, mau gue colok?!!" Jessica mengangkat garpu dan menyodongkannya ke arah Keysa. Gadis itu tersenyum miring dengan garpu yang berputar-putar di tangannya.
Keysa tidak tinggal diam, dia meraih sebilah pisau di keranjang sendok lalu ikut mencodongkannya ke arah Jessica.
Tatapan sengit penuh permusuhan terpampang jelas di kedua mata mereka. Verrel mendesis dan bangkit berdiri setelah meletakkan uang biru di meja kantin.
Benar, kan! Hidup Verrel tidak tenang karena adanya dua gadis sompret ini. Mau menyesap kopi saja dia disuguhkan oleh pertengkaran kecil tak berfaedah seperti itu.
"Bos, mau kemana?" Jessica memekik. Dia melakukan hal yang sama dengan apa yang Verrel lakukan, lalu berlari-lari kecil menyusul langkah lebar laki-laki itu.
Keysa tidak tinggal diam. Enak saja, Keysa tidak akan membiarkan Verrel berdua-duaan dengan Jessica. Bukan hanya Jessica! Tapi gadis lain, siapapun dia.
Susah juga menaklukkan hati Verrel. Sudah dua tahun Jessica dan Keysa mengenal Verrel. Berusaha mati-matian mencari perhatian lelaki berwajah datar itu, tapi selalu saja penolakan dan tepisan yang mereka dapat.
Hanya satu cara yang dapat menarik perhatian Verrel. Tapi, cara itu hanya Kesya lakukan jika dirinya benar-benar butuh perhatian khusus.
Verrel mendengus dan berbelok di lorong depan. Niatnya ingin ke toilet pria, dengan harapan kedua gadis itu berhenti mengikuti.
"Aww." Jessica memekik sakit saat kepalanya terhuyung ke belakang. Gadis itu ingin melayangkan tangan dan meninggalkan cap lima jari saat Keysa menarik rambut panjangnya yang tergerai.
Keysa menjulurkan lidah, dan berlari. Namun, langkahnya ikut terhenti berganti dengusan kasar saat melihat Verrel masuk ke toilet pria.
Ayolah, Keysa tidak sebodoh itu. Dia memang gadis pencinta kelab malam. Namun, untuk masuk ke dalam toilet lawan jenis, dia masih bisa berpikir panjang.
"Rasain lo! P4ntat sapi!" umpat Jessica, begitu puas melihat raut kesal dari wajah Keysa.
"Daripada lo comberan!" Keysa tidak mau kalah. Walaupun kedua gadis itu sudah menjadi objek tatapan semua pasang mata. Tidak ada yang ingin berhenti sebelum ada yang mengalah satu di antara mereka.
Verrel. Laki-laki itu mengusap wajahnya yang basah di depan cermin. Tiba-tiba saja senyum miring tersungging di bibirnya.
Dan tidak ada yang tahu arti dari senyum itu.
🌻
🌻
🌻
NGGAK ADA YANG SINGGAH KOMENT NIH?😂
3x tetap engk bosen
.. ahahhaha
𝘣𝘤 𝘵𝘳𝘴, 𝘴𝘶𝘬𝘢 bgt👍
ngga kebayang jadi Kesya suruh siapa dia yang keras kepala kerendahan harga diri demi dapetin hati cowo yang dia suka padahal udah di tolak mentah", bukan salah untuk cerita cinta verell dan Zahara yang rumit sampai membawa nama Kesya dan Daniel toh ngga ada yang nyuruh juga dari pihak verell dan Zahara ko mereka hadir dengan sendirinya.
hati Kesya ngga sesakit hati Zahra dengan gampangnya Jessica ngomong kaya gitu ke Zahra. di sini Zahra lah yang paling menderita Jes.
huuuu ..... jadi coment lagi kan padahal tahun udah jadi 2022 untuk coment di cerita thn 2020 🤦
ngga kebayang jadi Reihan dan Zahra terutama Reihan dari umur 5 thn membesarkan adiknya dari umur 3 thn sampai dewasa manusia manah yang kuat anak kecil udah kenal yang namanya bekerja.
kasian juga untuk bunda Aisyah dan ayah Juna belasan tahun di kurung di tempat yang tak layak pakai akibat ulah seseorang yang gila harta dia menyakiti seseorang yang memiliki banyak harta hanya karna merasa iri sampai sebegitu'nya kalau aku jadi Zahra juga ogah sih sama Verrel yang notabenenya anak seorang penjaht yang jelas udah misahin kluarga nyampe belasan tahun.
tapi yah gitu namanya persaan susah untuk di lupakan buat pelajaran mencintai seseorang jangan terlalu dalam 🤣