Aku Dany Susilo... aku adalah personil dari band Punk yang mendadak bisa berinteraksi dengan mahluk tak kasat mata, bersama sahabatku, aku berusaha memecahkan misteri tentang matinya teman-temanku di vila nggateli ini.
Di cerita ini kalian akan menemukan berbagai trik dan intrik yang tidak akan kalian temukan di Novel horor atau misteri lain.
Banyak hal yang tidak bisa diprediksi sebelumnya, sehingga menimbulkan teka teki yang aduhay.
Cerita ini bukan horor atau misteri yang biasanya menampilkan pocong, atau kunti, atau gendruo dan sebangsanya.
Mahluk ghaib yang ada paling juga hantu teman kami yang sudah mati.
Cerita ini membawa pembaca untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh obyek yang yang ada disini, sehingga pembaca dapat merasakan kengerian tanpa harus menampilkan sosok pocong, kunti dan sejenisnya.
Saya disini dibantu oleh lima teman yang masih hidup, dan arwah teman baik kami yang telah mati sebelumnya yaitu, Wildan, Gilank, dan Ibor. Mereka membantu kami dalam memecahkan masalah yang menimpa kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Bashi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 ( BERENDAM HINGGA PAGI )
Satu persatu kami dituntun pak Tembol untuk berendam di dalam sungai, sungai ini tidak begitu dalam tetapi air sungai ini sedingin es batu!. Dan lebih gilanya kami di suruh berendam dibawah guyuran air terjun kecil, air yang lumayan deras menghantam kepala kami dan kami harus bertahan hingga pagi.
Proses perendaman ini bertujuan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada di badan maupun di dalam otak, karena setelah perendaman ini masih ada proses lainya yang harus dilalui. Karena tujuan pak Tembol bukan hanya membuat kami bisa melihat dan berinteraksi dengan mahluk ghaib , tetapi dia juga bermaksud agar kami bisa
melawan mereka dengan ilmu yang akan diberikan secara singkat oleh pak Tembol.
“MEMANG AKAN TERASA DINGIN PADA AWALNYA, KALIAN HARUS KONSENTRASI DAN PUSATKAN ENERGI PANAS KALIAN DI SELURUH TUBUH KALIAN,MAKA DINGIN ITU TIDAK ADA ARTINYA SAMA SEKALI !” teriak pak Tembol dari pinggir sungai
“WAAADAAAAUUUWWW” ada yang gigit manuku pak!” teriak Gilank
“Tahan, jangan dipegang! Biarkan terlepas dengan sendirinya! Selama berendam ini akan banyak godaan yang akan menghampiri kalian, jangan sekali kali meladeni segala godaan itu. Termasuk apabila ada suara saya yang menyuruh kalian untuk berhenti berendam setelah matahari terbit!” teriak pak Tembol tegas
“Aku akan kembali ke rumah untuk menyiapkan segala keperluan kita nanti, dan pagi nanti kita lihat siapa yang masih bertahan disitu, tidak bertahan artinya MATI! Ingat” teriak pak Tembol sambil berlalu menuju rumahnya.
Gelap yang pekat, mataku lama sekali bisa beradaptasi dengan kegelapan yang pekat ini. Hanya samar aku bisa melihat posisi teman-teman ku. Aku berada di poisi tengah dari sungai yang tidak terlalu dalam dan ber arus deras ini, teman temanku berjarak sekitar beberapa meter dari aku, aku bisa lihat samar kepala kami semua terpapar guyuran dingin air terjun mini.
“Wil..brrrbrrr,, bar iki aku bisa liat kamu C*k!” kata gilank menggigil kedinginan “kita bisa guyonan lagi Wil brrr brrr”
“Harus kuat rek, jangan lemah” teriak Tifano
“Bbrrrr...udah berapa jam kita disini rek?” teriak Ukik
“Belum ada sepuluh menit kik!, wis gak kuat ta kik?” jawab Broni menggigil
“Kuaatt rekkkk brrrrr.... wiilll! Kamu dimana? Ayo sini hangatin aku c*k!” teriak ukik stres
Tiba-tiba ada kerikil menghantam kepala ukik
“C*k wil..gak usah main fisik c*k! Teriak ukik kesakitan
“Konsentrasi rek, gak usah guyonan. Ini juga baru sepuluh menit, pagi hari masih skitar lima jam lagi! Teriak Ali
Aku merasa kok makin lama air makin tinggi, apakah karena hujan di puncak bukit, aku harus tanya ke teman-temanku.
“Kalian merasa air makin tinggi dan makin deras gak rek” tanyaku
“Nggak kok! Aku malah terasa hangat panas airnya, ngantuk juga ada disini” sahut Ukik
“Ngawur hangat Kik!,,aku malah ngerasa air makin dingin *** bbrrrrrrr...... malah di sebelah tanganku airnya bekuu bbrrrr” teriak broni
“Tolooonnggg aku rek.... di sini banyak kepitingnya! Buanyaaaakk kepiting kecil kecil” teriak Gilank
“Itu halusinasi rek! Ayo dzikir .dzikir yang kuat rek dan jangan putus” teriak Ali
Hanya tifano yang tidak menjawab, apakah dia sedang konsentrasi atau sedang malas bicara atau dia sedang tidur?
“TIIIIF... keadaanmu gimana TIIF!” teriak Ali
“Aman rek, aku lagi ngopi ini . ada mbak mbak yang ngasih aku kopi iki rek” jawab tifano sambil tertawa
Hhmmmm, masing-masing anak berhalusinasi , padahal ini baru juga tigapulh menit. waktu masih lama , memang disini kalau kita tidak konsentrasi penuh akan terus diganggu oleh demit. Mereka memasuki alam bawah sadar kita, sementara kita sedang melawan hawa dingin.
Kulihat di jam ku yang water resistance, waktu sudah menunjukan pukul 04.00. tinggal beberapa menit lagi kita berhasil mencapai waktu yang ditentukan oleh pak Tembol. Dari sudut mataku aku bisa melihat seseorang sedang duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai ini, entah siapa itu karena wajahnya asing bagiku.
matahari sudah mulai menampakan sedikit sinarnya, cahayanya bisa telihat dari pantulan air jernih yang ada di sungai ini meskipun kami sama sekali belum bisa melihat kondisi sekeliling.
Samar di pinggir sungai pak Tembol menyuruh kami untuk diam sebelum dia menjemput kami menuju daratan.
“Kalian semua diam , jangan ada yang beranjak sebelum saya jemput!”perintah pak Tembol “pokoknya jangan ada yang bergerak satu centipun dari tempat kalian”
Memang aneh sih, selama aku disini dari beberapa jam lalu , aku sama sekali tidak beranjak atau bergeser dari tempat ini, seperti ada pagar atau batas yang membuat kami diam dan tidak bergerak sama sekali.
Matahari semakin kuat menampakan sinarnya, dan aku semakin paham kenapa kami tidak boleh bergerak sama sekali. Ternyata kami berenam duduk di sebuah lempengan batu tipis yang berdiameter lumayan lebar. Lempengan batu ini hanya disangga oleh sebuah gelondongan kayu dengan posisi tegak berdiri tepat di tengah bawah batu, di luar lempeng batu ini adalah sungai yang sangat dalam dan berarus deras.
Jadi kami berenam ini saling memberi keseimbangan, apabila salah satu dari kami beranjak , maka akan dipastikan lempengan ini akan terguling dan kami semua akan masuk ke bagian sungai yang dalam.
“Kalian tetep diam ditempat, jangan begerak atau kalian semua akan mati!” Teriak pak Tembol berulang ulang