Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23 - Tamu di Rumah Prameswari
Rumah Prameswari terlalu terang ketika Ayla pulang.
Itu tanda buruk.
Biasanya rumah itu terang karena pamer. Malam ini terang karena panik.
Mobil Arga berhenti di depan gerbang. Sebelum satpam membukakan pintu, Ayla sudah turun. Arga ikut turun, Bima dan dua anggota tim menyusul dari mobil belakang.
Satpam rumah tampak kebingungan. “Non Ayla, Pak Marwan sedang ada tamu.”
Ayla berhenti. “Tamu siapa?”
“Dokter keluarga, Non. Katanya Bu Ratna pusing.”
Arga menatap Ayla.
Ayla tersenyum.
“Dokter keluarga kami sudah mati dua tahun lalu.”
Wajah satpam langsung pucat.
Ayla berjalan masuk.
Di ruang tengah, Ratna duduk di sofa dengan wajah lemah. Marwan berdiri di sampingnya. Reno ada di dekat tangga. Alina duduk agak jauh, memegang cangkir teh. Di hadapan mereka berdiri seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, memakai kemeja batik mahal dan tas dokter kulit cokelat.
Dia bukan Surya.
Tetapi Ayla tidak suka matanya.
Pria itu menoleh saat Ayla masuk.
“Ah, ini pasti Ayla.”
Suaranya ramah.
Terlalu ramah.
Ayla berhenti di ambang ruang tengah. “Dan Anda pasti orang yang akan menyesal datang.”
Ratna langsung berkata, “Ayla, jangan kasar. Dokter Hendra datang membantu Mama.”
Arga masuk di belakang Ayla. Marwan mengerutkan dahi. “Pak Arga? Ada apa lagi?”
Arga menunjukkan identitas. “Kami perlu memverifikasi tamu Anda.”
Dokter Hendra tertawa kecil. “Wah, sampai satuan khusus. Saya hanya dokter internis, Pak.”
Ayla menatap tasnya. “Buka.”
Ratna marah. “Ayla!”
“Bu, diam dulu.”
Ratna tersentak.
Reno menatap Ayla, lalu menatap dokter itu. Kali ini dia tidak langsung membela ibunya.
Dokter Hendra mengangkat kedua tangan. “Tidak apa-apa. Kalau ini membuat semua tenang.”
Dia membuka tas.
Stetoskop, alat tensi, beberapa obat umum, vitamin, dan kotak injeksi kecil.
Ayla menunjuk kotak injeksi. “Itu.”
Dokter Hendra mengambilnya. “Obat antimual. Ibu Ratna mengeluh pusing dan mual.”
Arga memberi isyarat pada Bima. Bima mengambil kotak itu dengan sarung tangan.
Dokter Hendra mulai tidak sesantai tadi. “Pak, saya punya izin praktik.”
“Nanti kami cek,” kata Arga.
Alina tiba-tiba berdiri. “Aku yang memanggil dokter. Mama benar-benar pusing.”
Ayla menoleh padanya. “Dari mana kamu dapat nomornya?”
“Dari grup keluarga. Tante Mira pernah merekomendasikan.”
Reno berkata pelan, “Tante Mira tidak pernah pakai dokter bernama Hendra.”
Alina terdiam.
Ratna menatap Reno. “Kamu yakin?”
“Aku yang mengantar Tante Mira berobat bulan lalu.”
Wajah Ratna berubah.
Dokter Hendra mengambil langkah mundur.
Ayla sudah berada di belakangnya sebelum dia sadar.
“Mau ke mana, Dok?”
Pria itu bergerak cepat. Tangannya meraih alat suntik kecil dari lengan jas. Ayla menangkap pergelangan tangannya, memutar, lalu menekan punggungnya ke meja.
Alat suntik jatuh ke karpet.
Ratna menjerit.
Marwan menarik Alina ke belakang.
Arga mengangkat senjata. “Jangan bergerak.”
Dokter Hendra meringis. “Kalian salah paham.”
Ayla menekan lebih kuat. “Aku sering salah paham. Biasanya orangnya tetap kesakitan.”
Bima mengambil alat suntik.
Arga berkata, “Amankan.”
Dalam dua menit, pria itu diborgol. Bima menemukan ponsel burner di kaus kakinya dan kartu akses hotel yang mirip dengan jalur Alina semalam.
Ratna gemetar. “Dia... dia mau menyuntikku?”
Ayla melepaskan tangan dokter palsu itu setelah Bima memegangnya. “Mungkin bukan membunuh. Mungkin cukup membuatmu tidak sadar, lalu membuat cerita bahwa kamu sakit karena stres.”
Alina pucat. “Aku tidak tahu.”
Ayla menatapnya. “Kamu mulai terdengar seperti rekaman rusak.”
“Aku benar-benar tidak tahu!”
“Tapi kamu yang memanggil.”
Alina menangis. “Nomornya dikirim ke aku. Katanya dokter yang biasa menangani keluarga konglomerat. Aku panik karena Mama pusing.”
Reno bertanya, “Siapa yang kirim?”
Alina menatap ponselnya dengan tangan gemetar. “Nomor yang sama.”
Arga mengambil ponsel Alina. Kali ini Alina menyerahkannya tanpa melawan.
Pesan itu singkat:
Kalau ibumu pingsan, hubungi dokter ini. Jangan biarkan Ayla ikut campur.
Ayla membaca pesan itu.
Surya tidak hanya mencari subjek.
Dia sedang menguji reaksi Ayla.
Maya, yang baru tiba beberapa menit kemudian, masuk dengan langkah cepat. “Aku dengar ada dokter palsu.”
Ayla menoleh. “Kamu memasang pelacak di aku?”
“Tentu tidak.”
“Maya.”
“Aku memasang pelacak di mobil Pak Arga.”
Arga menatapnya.
Maya tersenyum manis. “Untuk keamanan investasi.”
Bima berbisik pada Lestari melalui telepon, “Aku butuh cuti.”
Ratna duduk lemas. Wajahnya tidak lagi penuh amarah pada Ayla. Yang tersisa hanya takut.
“Ayla,” katanya pelan, “apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita?”
Ayla menatap ibunya.
Keluarga kita.
Kata itu terlambat bertahun-tahun.
Namun kali ini, Ayla tidak menyindir.
“Surya memakai yayasan, Alina, dan sekarang Ibu untuk mendekatiku.”
Marwan bertanya, “Kenapa kamu?”
Sebelum Ayla menjawab, dokter palsu itu tertawa pelan dari kursi tempat dia diborgol.
“Karena dia bukan cuma anak hilang.”
Semua menatapnya.
Pria itu tersenyum meski bibirnya berdarah.
“Dia anak yang seharusnya tidak pulang.”
Arga bergerak mendekat. “Siapa yang mengirimmu?”
Pria itu menatap Ayla, bukan Arga.
“Dr. Surya bilang, Mamba akan mengerti jika ibunya hampir mati.”
Ratna menutup mulut.
Ayla berjalan pelan mendekati pria itu.
Maya berkata, “Ayla.”
Ayla berhenti satu langkah di depan dokter palsu.
Suaranya lembut.
“Sampaikan pada Surya, kalau dia ingin aku mengerti, datang sendiri.”
Pria itu tersenyum.
“Dia sudah dekat.”
Lampu rumah tiba-tiba berkedip.
Di luar, alarm mobil berbunyi bersamaan.
Bima berlari ke jendela. “Pak, ada drone di atas rumah.”
Ayla menengadah.
Di layar kecil drone yang melayang di luar jendela, muncul satu pesan singkat.
Halo, MB-07.
Ratna menangis.
Marwan mundur selangkah.
Arga menatap Ayla.
Dan Ayla akhirnya tahu, anak di rekaman itu bukan orang asing.
Setidaknya, Surya ingin dia percaya begitu.
Arga memerintahkan semua tirai ditutup dan jaringan rumah diputus dari akses luar. Timnya bergerak cepat, memeriksa sudut taman, atap, garasi, dan ruang panel listrik. Keluarga Prameswari hanya bisa berdiri di tengah rumah sendiri seperti tamu yang tidak tahu harus duduk di mana.
Ratna masih menatap Ayla.
“MB-07 itu apa?”
Ayla tidak menjawab langsung.
Alina, yang biasanya selalu mengisi sunyi dengan tangis, kali ini juga diam. Mungkin karena untuk pertama kalinya, drama di depannya terlalu besar untuk dia pakai sebagai panggung.
Maya mengambil plastik bukti dari Bima, melihat pesan drone itu lagi, lalu berkata, “Kode subjek.”
Ratna menutup mata. “Subjek... anak saya disebut subjek?”
Tidak ada yang berani memperbaiki kata `anak saya`.
Ayla menatap ibunya sekilas. “Belum pasti aku.”
“Tapi dia mengirimnya ke rumah ini,” kata Reno. “Dia ingin kita percaya itu kamu.”
“Benar.”
“Kenapa?”
Ayla melihat pecahan drone yang sedang dikumpulkan tim Arga. “Karena kalau kalian percaya aku korban eksperimen, kalian panik. Kalau kalian panik, kalian bertindak bodoh. Kalau kalian bertindak bodoh, dia dapat celah.”
Marwan bertanya dengan suara berat, “Apa yang harus kami lakukan?”
Ayla menjawab cepat, “Tidak menjadi celah.”
Kalimat itu kasar, tetapi kali ini Marwan mengangguk.
Ratna menyeka air mata. “Mama akan mencoba.”
Ayla tidak menanggapi kata itu. Namun dia juga tidak memotongnya.
Di halaman, Bima menemukan potongan drone dengan mikro-kamera yang masih hangat. Artinya Surya tidak hanya mengirim pesan.
Dia menonton reaksi mereka.
Ayla menatap langit gelap di luar jendela.
“Kalau kau menonton,” gumamnya pelan, “lihat baik-baik.”
Lalu dia menutup tirai sendiri.
Alina mendekati Reno setelah semua orang bergerak. Suaranya sangat pelan.
“Kak, kamu percaya aku tidak tahu dokter itu palsu, kan?”
Reno menatapnya lama. Dulu dia akan menjawab iya sebelum Alina selesai bertanya. Malam ini, jawaban itu tidak keluar.
“Aku ingin percaya,” katanya akhirnya.
Alina seperti tertampar.
“Dulu kamu selalu percaya.”
“Dulu aku tidak bertanya.”
Kalimat itu membuat Alina mundur satu langkah.
Ayla melihat dari jauh. Dia tidak ikut campur. Beberapa keretakan tidak perlu dibantu. Cukup dibiarkan terkena udara.
Ratna juga melihatnya, dan untuk pertama kalinya tidak menyuruh Reno menghibur Alina.
Rumah Prameswari berubah pelan, bukan karena mereka tiba-tiba mencintai Ayla dengan benar.
Tetapi karena kebohongan lama mulai terlalu mahal untuk dipertahankan.