NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

BAB 23

"Baiklah, jika begitu kami akan ikut ke rumahmu, Pendeta Tua," ucap Goran akhirnya, memecah keheningan di sekitar api unggun. Pria raksasa itu menghela napas pendek. "Kebetulan, kami bertiga memang sedang tidak punya tempat tujuan."

Mendengar keputusan Goran, aku dan Mila langsung bergerak cepat. Kami mulai membereskan sisa makanan dan mengemasi barang-barang kembali ke atas gerobak kayu.

Ezra yang masih berlutut menatap Goran dengan kening berkerut. "Tidak punya tujuan? Bagaimana bisa?"

"Kami sudah hampir dua minggu hidup dalam pelarian di hutan ini," jawab Goran santai sambil mengikatkan tali kekang gerobak. "Lebih tepatnya... ada sekelompok orang yang sedang mengincarku."

Ezra terkesiap, buru-buru berdiri sambil menepuk salju dari jubahnya. "Mengincar Anda? Apa Anda tidak sengaja menyinggung seorang bangsawan atau semacamnya? Saya rasa, Tuan Goran yang sebesar dan sekuat ini tidak mungkin hanya diganggu oleh sekawanan perampok barbar biasa."

"Tebakanmu lumayan akurat, Pak Tua," kekeh Goran masam. "Aku sedang diburu oleh para Witendz."

Mata Ezra seketika membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka saat mendengar kata itu. "Witendz? Anda bilang para Witendz ?"

"Iya."

"Tapi... Tuan Goran," Ezra menelan ludah, suaranya bergetar ngeri. "Dari cerita para pedagang yang saya dengar, satu orang Witendz saja sudah merupakan mesin pembunuh yang sangat terampil. Namun Anda diburu oleh beberapa Witendz?"

Goran mendengus pelan, seolah sedang membicarakan cuaca. "Lebih tepatnya, ada sekitar tiga puluh orang Witendz."

Wajah Ezra langsung kehabisan darah. "Ya HaShem... Bangsawan gila mana yang Anda buat marah, Tuan Goran? Apa Anda membunuh pewarisnya atau membantai keluarganya?"

Goran terdiam sejenak. Tangannya yang besar mengelus gagang belati di pinggangnya. Tatapannya menerawang jauh ke dalam rimbunnya hutan.

"Dulu... sebelum aku menemukan Qatilah, aku adalah monster," ucap Goran dengan suara rendah dan serak. "Aku sering turun ke jalan setapak dan membantai banyak sekali karavan dagang atau rombongan bangsawan yang kebetulan melewati hutan tempat tinggalku. Aku merampok mereka hanya untuk mencari tabib atau obat untuk putriku yang sekarat. Mungkin... petinggi para Witendz itu sedang menuntut balas atas perbuatanku di masa lalu."

Mendengar pengakuan kelam itu, Ezra tidak terlihat takut atau jijik. Kakek itu justru menatap Goran dengan tatapan penuh empati.

"Saya paham," ucap Ezra lembut. "Menjadi seorang ayah memang sangatlah sulit. Kita rela membakar dunia demi anak kita. Bahkan di umur yang sudah senja ini pun, saya masih sering melakukan kesalahan demi keluarga saya."

Goran tersenyum tipis, melirik ke arahku dan Mila yang sedang sibuk mengikat karung. "Yah... jika aku tidak menemukan Qatilah saat itu, mungkin aku akan menjadi monster yang jauh lebih brutal, dan pada akhirnya mati terbunuh oleh pasukan itu. Putriku Mila akan mati sendirian di kabin kami tanpa pernah melihat dunia luar."

Ezra memejamkan matanya. Kakek itu menyatukan kedua tangannya di depan dada, lalu tubuhnya mulai berayun pelan ke depan dan ke belakang, sebuah gerakan ritual doa khas kaumnya. Bibirnya menggumamkan doa dalam bahasa asing yang terdengar kuno dan berirama selama beberapa saat.

Setelah selesai, Ezra membuka matanya dan menatap Goran dengan teduh. "Saya baru saja memohon pada HaShem. Saya berdoa agar dosa-dosa dan darah di masa lalu Tuan Goran tidak menjadi malapetaka bagi putri-putri Anda. Dan semoga di perjalanan ini... Tuan Goran menemukan penebusan sejati."

"Terima kasih, Pak Tua," balas Goran tulus.

"Ayah! Sudah selesai!" panggil Mila riang dari samping gerobak.

Goran mengangguk. "Baiklah. Mumpung matahari masih bersinar cukup terang, ayo kita segera berangkat."

Perjalanan pun dimulai. Ezra berjalan di depan, memandu kami menuju lembah tempat tinggalnya.

Barisan kami terlihat sangat unik. Goran berjalan di depan layaknya kuda penarik, menarik gerobak kayu penuh barang kami dengan sangat mudah. Aku duduk bersila dengan nyaman di atas gerobak, berselimut kulit serigala. Ezra berjalan di samping Goran sambil sesekali mengobrol, sementara Mila dengan langkahnya berjalan mengawal di samping gerobakku.

"Apa rumahmu masih jauh, Kakek Ezra?" tanyaku dari atas gerobak setelah beberapa jam perjalanan menembus salju.

Ezra menoleh ke belakang sambil tersenyum. "Tidak, Nona Qatilah. Jaraknya hanya setengah hari berjalan kaki dari tempat kita bertemu tadi. Sebelum matahari tenggelam, kita pasti sudah sampai."

Aku mengangguk-angguk paham, lalu otakku mulai menyusun rencana yang telah lama kupikirkan. "Ngomong-ngomong... apa Kakek bisa membaca tulisan?"

Goran yang sedang menarik gerobak langsung mengerang panjang. "Haaah... Kita baru saja bertemu orang lain dan kau sudah mau memulai rencanamu yang ruwet itu, Anak Bangsawan?"

"Seperti kata pepatah, Sambil menyelam minum air," balasku santai.

Mila yang berjalan di sampingku mengerutkan kening bingung. "Pepatah itu siapa, Kak? Apa dia temannya Kakek Ejura?"

"Bukan, Mil. Pepatah itu orang bijak," jawabku asal.

Ezra tertawa kecil mendengar percakapan kami. "Nona Qatilah ini sangat cerdas dan pandai berbicara, ya. Dan untuk menjawab pertanyaan Anda, Nona... tentu saja saya bisa membaca."

Mata Ezra berbinar bangga. "Sebagai seorang Rabi, saya harus fasih membaca dan menulis gulungan bahasa Ibrani suci. Saya juga menguasai bahasa Aram, bahasa Suryani bangsa timur, dan sedikit aksara Yunani untuk urusan dagang. Apa Nona Qatilah... ingin belajar membaca?"

Aku menjentikkan jari sambil tersenyum lebar. "Tepat sekali!"

"Halah, buat apa repot-repot," cibir Goran dari depan tanpa menoleh. "Ngapain juga perempuan harus bisa membaca tulisan? Lagipula, kau itu sudah sangat pintar dan licik. Jika ditambah kau bisa membaca bahasa kuno, laki-laki mana yang mau mendekatimu nanti? Mereka semua pasti lari ketakutan melihat istri yang lebih pintar dari suaminya!"

Bugh!

Sebuah pukulan mendarat telak di paha Goran.

"Auch! Auch!" Goran meringis kesakitan, menoleh kaget. "Hei!"

Mila yang baru saja memukul ayahnya berdiri dengan kedua tangan di pinggang, wajahnya cemberut.

"Bagus, Mil! Pukul terus ayahmu yang kolot itu!" seruku puas dari atas gerobak. Goran mengelus pahanya sambil bersungut-sungut. Ternyata kalau Mila yang memukul dengan tenaganya, kulit tebal Goran bisa tembus juga.

Ezra tertawa lepas, tawa yang paling lega yang pernah kudengar darinya sejak kami bertemu.

"Tidak apa-apa, Tuan Goran," bela Ezra sambil tersenyum. "Dalam keyakinan saya, menuntut ilmu dan membaca kitab kebijaksanaan adalah hal yang baik bagi laki-laki maupun perempuan. Soal jodoh Nona Qatilah kelak, biarlah itu menjadi urusan takdir HaShem yang menentukan."

"Tuh! Dengerin kata orang yang lebih tua!" omelku pada Goran.

Mila ikut-ikutan menunjuk ayahnya. "Dengerin, Ayah!"

"Iya, iya. Cerewet sekali kalian berdua," gerutu Goran pasrah, kembali fokus menarik gerobaknya menembus salju.

Matahari mulai turun ke ufuk barat, memancarkan semburat jingga kemerahan yang mewarnai hamparan salju saat kami akhirnya tiba di bibir sebuah lembah.

Di bawah sana, terdapat beberapa bangunan kayu sederhana namun terlihat kokoh. Asap putih mengepul dari cerobongnya, menandakan adanya kehidupan yang hangat di tengah dinginnya dataran ini.

Dari kejauhan, aku bisa melihat seorang wanita berambut cokelat ikal yang tengah hamil besar sedang sibuk mengangkat cucian dari tali jemuran di halaman samping rumah.

Mendengar suara gemeretak gerobak kami, wanita itu menoleh ke arah jalan setapak yang menurun. Senyum lega seketika merekah di wajahnya saat ia mengenali sosok Ezra yang berjalan di depan.

"A-Ayah...!" panggil wanita itu riang, melambaikan tangannya dengan susah payah karena perutnya yang membesar.

Namun, senyum wanita itu tiba-tiba luntur. Matanya membelalak horor saat pandangannya beralih dari sosok Ezra ke arah bayangan raksasa setinggi tiga meter yang berjalan tepat di belakang sang mertua, menarik sebuah gerobak kayu di bawah keremangan senja.

Kain cucian di tangan wanita itu jatuh ke atas salju.

"AYAH!! AWAAAS!! DI BELAKANGMU ADA BERUANG!!!"

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!