Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPILOG.
Bandung menyambut Kayla dengan udara dingin dan langit yang mulai gelap. Sudah hampir enam bulan sejak ia meninggalkan Jakarta tanpa pamit. Enam bulan sejak ia menghilang dari hidup Arka. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, tidak ada kabar apa pun. Kayla benar-benar menepati keputusannya untuk pergi dan memulai hidup baru jauh dari semua kenangan yang selama ini hanya membuatnya terluka.
Di kota yang baru, hidupnya perlahan menjadi lebih tenang. Tidak ada lagi malam-malam yang dihabiskan untuk menunggu balasan pesan dari seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihnya. Tidak ada lagi rasa cemburu setiap kali melihat foto Arka dengan perempuan yang berbeda. Tidak ada lagi harapan bodoh yang terus ia pelihara bertahun-tahun. Untuk pertama kalinya, Kayla belajar mencintai dirinya sendiri sebelum mencintai orang lain.
Sementara itu, di Jakarta, Arka duduk sendirian di balkon apartemennya. Di tangannya masih ada surat yang ditinggalkan Kayla pada hari kepergiannya. Surat itu sudah kusut karena terlalu sering dibaca. Awalnya Arka mengira kepergian Kayla hanya bentuk kemarahan sementara seperti biasanya. Ia yakin gadis itu akan kembali setelah beberapa hari. Namun hari-hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan, dan Kayla tetap tidak kembali.
Baru setelah kehilangan itulah Arka mulai menyadari betapa besar tempat yang selama ini ditempati Kayla dalam hidupnya. Kayla selalu ada ketika ia sedang terluka karena hubungan yang gagal. Kayla selalu mendengarkan keluh kesahnya. Kayla selalu datang saat ia membutuhkan seseorang untuk mengisi kesepian. Dan selama ini Arka menerimanya begitu saja tanpa pernah bertanya apa yang dirasakan Kayla. Ia terlalu sibuk mengejar perempuan lain hingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam mencintainya dengan tulus.
Isi surat itu sederhana, tetapi setiap kalimatnya terasa seperti pukulan yang terus menghantui Arka. Di dalam surat itu, Kayla mengakui bahwa ia telah mencintainya selama bertahun-tahun. Ia mengakui bahwa hubungan mereka yang tanpa status telah membuatnya terluka sedikit demi sedikit. Ia lelah menjadi tempat singgah sementara bagi seseorang yang selalu memilih orang lain. Karena itulah ia memutuskan pergi, bukan karena membenci Arka, melainkan karena terlalu mencintainya dan ingin menyelamatkan dirinya sendiri.
Arka tidak pernah menangis ketika hubungannya berakhir dengan perempuan mana pun. Namun entah kenapa, kehilangan Kayla terasa berbeda. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapa pun. Ia mencoba berkencan lagi, mencoba menjalani hidup seperti biasa, tetapi setiap kali tertawa bersama orang lain, ia selalu teringat pada Kayla. Setiap kali melihat pesan yang masuk, ia masih berharap nama Kayla muncul di layar ponselnya.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang datang terlambat. Ketika Arka akhirnya menyadari bahwa Kayla adalah satu-satunya orang yang selalu bertahan di sisinya, Kayla sudah memilih pergi. Dan kali ini, tidak ada jalan untuk menemukannya kembali.
Di kota yang berbeda, Kayla berdiri di depan jendela apartemennya sambil memandangi hujan yang turun perlahan. Ia tersenyum kecil. Hatinya memang belum sepenuhnya sembuh, tetapi setidaknya sekarang ia tidak lagi menunggu seseorang yang tidak pernah memilihnya. Di saat yang sama, ratusan kilometer jauhnya, Arka masih memandangi surat terakhir yang ditinggalkan Kayla, memahami satu hal yang akan terus ia sesali seumur hidupnya terkadang orang yang paling kita abaikan justru adalah orang yang paling tulus mencintai kita, dan ketika mereka pergi, yang tersisa hanyalah penyesalan yang tidak bisa diperbaiki lagi.