NovelToon NovelToon
Petualangan Suketi

Petualangan Suketi

Status: sedang berlangsung
Genre:Antagonis Jahat / Era Kolonial / Komedi / Nyai / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:66.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Karma tidak pernah salah alamat.

Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.

Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.

Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?

Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Slamet

Kusumawati berhenti. Menoleh.

"Keluar!"

Jan Coen mengangkat alis.

"Keluar?"

"Ya. Keluar." Suara Kusumawati sudah kembali tajam—mata yang tadi berkaca-kaca sekarang menatap dengan kilat familiar. "Aku mau mandi sendiri. Menenangkan diri. Aku tidak mau diganggu siapa-siapa."

Jan Coen terkekeh.

"Tadi pagi kita mandi bersama. Sekarang malu?"

"Tadi pagi aku tidak punya pilihan." Kusumawati menyilangkan tangan di dada. "Sekarang aku punya. Dan aku memilih mandi sendiri."

"Keti, aku sudah melihat semuanya—"

"Justru karena sudah melihat semuanya, tidak perlu melihat lagi."

Jan Coen menatapnya.

Kusumawati menatap balik.

Dua pasang mata bertemu—singa jantan dan singa betina yang sama-sama tidak mau mengalah.

Hening.

Lalu Jan Coen tertawa.

"Baru saja menangis, sekarang sudah galak lagi." Dia menggeleng, tapi ada senyum di bibirnya. "Singa betinaku memang cepat pulih. Aku suka itu. Suka sekali. Perempuan yang cepat bangkit."

"Aku tidak menangis. Sudah kubilang itu debu."

"Tentu. Debu." Jan Coen bangkit dari kursi, meraih berkas-berkas di meja, menyelipkan cerutu di mulut, mengambil botol brandy dengan tangan yang lain. "Debu yang sangat banyak sampai membasahi pipimu. Debu yang sangat … bangsat pastinya."

Jan Coen terkekeh lagi.

Dia berjalan ke pintu, berhenti di ambang, menoleh.

"Kalau butuh apa-apa, aku di depan. Di kursi dekat tangga." Dia mengedikkan dagu ke arah lorong. "Jangan lama-lama. Makananmu bisa dingin."

"Aku mandi selama yang kumau."

"Terserah, Raden Ayu."

Pintu terbuka. Pintu tertutup.

Langkah kaki semakin menjauh.

Hening.

Kusumawati sendirian. Dia berdiri di tengah kamar sejenak, memastikan tidak ada suara dari luar.

Lalu menghembuskan napas panjang.

‘Akhirnya.’

‘Sendiri.’

Kusumawati melepas pakaiannya dengan gerakan lambat. Setiap otot dan sendi protes ngilu.

Kebaya kotor dijatuhkan ke lantai. Stagen dilepas, gulden-gulden yang tersisa jatuh berserakan. Kemben dibuka. Sarung batik yang sudah tidak karuan dilucuti.

Semua pakaian itu membentuk tumpukan menyedihkan di lantai, bukti perjalanan panjang dan melelahkan hari ini.

Kusumawati melangkah ke bak mandi. Air hangat menyentuh kulit.

Bau sabun murahan cukup menyenangkan di situasi seperti ini.

Dia menenggelamkan tubuh perlahan. Air naik sampai sebahu. Kehangatan meresap ke otot-otot yang tegang, ke tulang-tulang yang lelah.

Kusumawati memejamkan mata.

Untuk beberapa saat, dia hanya diam di sana. Tidak bergerak. Tidak berpikir. Hanya merasakan kehangatan yang memeluk tubuhnya.

‘Sudah berapa lama aku tidak mandi sendiri seperti ini?’

Di kadipaten, selalu ada pelayan yang memandikan. Menggosok punggung. Mencuci rambut. Menuangkan minyak wangi.

Dan sejak diculik ... Jan Coen yang selalu ada. Menatap. Menyentuh. Tidak memberi ruang untuk bernapas.

Tapi sekarang ...

‘Sendiri.’

‘Benar-benar sendiri.’

Kusumawati membuka mata, menatap langit-langit kamar yang remang-remang.

Pikirannya mulai berputar.

‘Adik-adikku berencana membunuhku di kadipaten.’

‘Ai Rou ingin menghancurkanku.’

‘Setyowati ingin membalas dendam.’

‘Dan tadi ... di depan kadipaten ….’

Wajah Slamet muncul di kepalanya.

‘Dia melihatku.’

‘Apa dia mengenaliku?’

‘Apa dia sudah memberitahu Kartodirjo?’

Kusumawati berdebar.

‘Tidak. Mungkin tidak. Aku pakai kerudung. Wajahku tertutup.’

‘Tadi dia sudah sangat sering melihat penampilanku saat menyamar.’

‘Bagaimana kalau dia curiga …’

‘Kalau dia mengikuti dokar …’

Pikiran itu membuat perutnya mulas.

‘Tidak. Jangan berpikir macam-macam. Kau sudah aman di sini.’

‘Jan Coen di luar. Tidak ada yang berani macam-macam dengan singa besar itu.’

Kusumawati mencoba menenangkan diri.

Meraih sabun, mulai menggosok lengan yang pegal. Daki dan keringat perlahan luruh. Kulit yang tadi kusam mulai bersih.

Dia mencuci rambut, memijat kulit kepala yang gatal karena debu dan keringat. Busa sabun mengalir turun, membawa serta bau tidak sedap yang menempel sejak tadi.

Kusumawati bersandar ke tepian bak, memejamkan mata lagi.

Menikmati momen kesendirian yang langka ini.

KRIEETT.

Suara pintu.

Kusumawati tidak membuka mata.

"Sudah kubilang aku mau mandi sendiri." Suaranya keluar kesal. "Kau ini memang suka seenaknya sendiri. Atau telingamu sudah tua?"

Tidak ada jawaban.

"Jan, aku serius. Keluar! Aku belum selesai."

Masih tidak ada jawaban.

Kusumawati mengerutkan dahi.

‘Aneh.’

‘Biasanya dia langsung membalas dengan komentar menyebalkan.’

Dia membuka mata.

Dan membeku.

Yang berdiri di ambang pintu bukan Jan Coen.

Pria bertubuh sedang. Pakaian gelap. Wajah yang sangat dia kenal.

‘Slamet.’

Mata pria itu menatapnya dengan kilat berbahaya. Di tangannya ... sebilah pisau.

"Selamat malam, Gusti Ayu." Suaranya dingin. "Lama tidak bertemu."

Jantung Kusumawati berdegup kencang.

Tangannya bergerak cepat—meraih kain jarik yang tergeletak di kursi dekat bak mandi. Menariknya ke dalam air. Membalutkan ke tubuh dengan gerakan panik.

"Slamet." Suaranya dipaksa tenang meski jantung berdetak liar. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Slamet menyeringai.

"Tentu saja untuk menemui Gusti Ayu." Dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik pelan. "Saya sangat senang melihat Gusti Ayu sudah sehat. Tidak seperti yang dikatakan orang-orang, Gusti Ayu sedang sakit keras, tidak bisa keluar dari kamar."

Dia mendengkus pelan. “Aku tidak pernah percaya kabar itu. Seorang Gusti Ayu tidak akan selemah itu. Aku menjadi saksi, bagaimana Gusti Ayu bangkit berkali-kali. Tahan banting dalam keadaan apapun.”

Pisau di tangannya berkilat di bawah cahaya lampu minyak.

1
Elsker
ndoro ..sehat kah?
Muhammad Arifin
Nang Endi doro siji Iki 😭😭
Rani Za
Udah selesai kah ini ceritanya?
lilyrose
kapan update bab baru kak?
🅶ɪꜱ_❀∂я ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝© §͜¢•🦢🍒
ndoro kemana Kok menghilang
Elsker
ndoro...sehat???kapan update lagi?semoga sehat selalu
Rahma Amma
ndoro kok blm up?????
Muhammad Arifin
Nang Endi doro siji Iki ☹️☹️
Anindya
ndoro melupakan keti
lilyrose
thanks ndoro...lanjuttt ya😊🙏
rama Rasyidin
terbayang y jadi raden Ayu kusumawati itu wulan guritno🤭... dan Rio dewanto jadi Soedarsono
R_Bell
ndoro, mohon di up lagi. astaga, sudah 10 hari menunggu. rasanya 💔🤣🤭🥲
Linceu thea
lanjut ndoro 🙏
Hana Nisa Nisa
ditjnggu kelanjutannya ndoro yg arjo juga
Su Hendri
haduh penuh teka teki euy... ceritanya keren banget. greget dan bikin penasaran. d tunggu up selanjutnya kk
Teh Qurrotha
apa kenes mengikuti jejak Raden Ayu Aryani
Fetri Diani
dari der dor banget nyonya lim.. ky pagiku anak 3 berNgkat sekolah semua.. 💃
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
ibu kandung arjo merasa ancaman besar dari kenes ,
pemberontak yg licik ,
kusumawati terbujuk kah ,kembali ke kadipaten dgn situasi kadipaten ,walau pun bukan soedarsono yg mnjdi bupati
tapi selama ini kadipaten lah yang selalu mnjdi prioritas selama hidup nya
Teh Qurrotha
kira kira apa Gusti ayu mau?
berat sama si Jan cok
Teh Qurrotha
kyknya tidak mudah, bupati Udh kepincut kenes, pengen segera malam pertama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!