Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Pesan Yang Terlambat
Ponsel yang baru saja mengambil beberapa foto itu perlahan dimasukkan kembali ke dalam sebuah tas tangan mewah bermerek.
Sudut bibir Livia terangkat.
Tatapannya masih tertuju ke arah taman kota dari balik kaca mobil.
"Jadi..."
"Gadis desa itu benar-benar berhasil menarik perhatianmu, Brams."
Silvia terkekeh pelan.
"Sekarang aku ingin melihat..."
"...seperti apa wajahmu saat mengetahui istrimu sedang duduk berdua dengan sahabatmu sendiri."
Ia menyalakan mesin mobil.
Sedan hitam itu perlahan meninggalkan area taman.
Tujuannya hanya satu.
Gedung tempat pertemuan bisnis siang itu berlangsung.
Di sisi lain kota.
Brams sedang berdiri di dalam sebuah butik eksklusif.
Beberapa gaun rancangan desainer ternama tergantung rapi di hadapannya.
Di sampingnya berjajar tas-tas bermerek dengan harga fantastis.
Awalnya...
Ia berniat mengajak Ranum menghadiri rapat bisnis siang itu.
Namun pertengkaran mereka membuat semua rencananya berubah.
"Bungkus semuanya."
Brams menunjuk beberapa gaun dan tas itu.
"Lalu kirim ke suite tempatku menginap."
"Baik, Tuan."
Sekretarisnya segera memberi isyarat kepada para pegawai butik.
Tak lama kemudian seluruh barang itu dibawa keluar.
Ruangan kembali lengang.
Belum sempat Brams duduk...
Pintu terbuka.
Livia masuk dengan langkah anggun.
Ia tidak langsung berbicara.
Hanya meletakkan ponselnya di atas meja.
Brams menatap layar ponsel itu.
Foto Ranum.
Dan Nico.
Sedang duduk berdampingan di taman kota.
Tatapan Brams berubah datar.
Sulit ditebak.
Livia tersenyum puas.
"Bagaimana?"
"Ternyata istrimu cukup cepat mencari teman baru."
Brams meletakkan kembali ponsel itu.
"Pergilah."
Livia tersenyum semakin lebar.
"Kalau kau sedang marah..."
"Aku tidak keberatan menjadi pelampiasanmu."
Tangannya menyentuh lengan Brams dengan lembut.
Brams menarik napas panjang.
"Aku sedang tidak ingin diganggu."
"Pergi."
Livia sama sekali tidak bergeming.
"Bukankah akhir-akhir ini kau begitu memperhatikan istrimu?"
"Bahkan sampai membawanya ke perjalanan bisnismu."
Brams menatap kosong ke arah jendela.
"Sekarang sudah tidak."
Jawabannya terdengar datar.
"Kenapa perempuan-perempuan di sekitarku..."
"...selalu berhasil membuatku muak."
Livia terdiam.
Belum sempat ia membuka mulut...
Brams menekan tombol interkom.
"Security."
Tak sampai satu menit.
Dua petugas keamanan memasuki ruangan.
"Bawa wanita ini keluar."
Perintah Brams singkat.
Livia membelalak.
"Hei, Brams."
"Aku datang untuk menemanimu."
"Aku bahkan—"
Dua petugas keamanan sudah berdiri di kanan kirinya.
Livia terpaksa melangkah keluar.
Namun sebelum pintu benar-benar tertutup...
Sudut bibirnya kembali terangkat.
"Setidaknya..."
"...kau belum benar-benar jatuh cinta pada gadis desa itu."
"Masih ada kesempatan."
Gumamnya pelan.
Pintu pun tertutup.
Klik.
Ruangan kembali sunyi.
Brams menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
Ia memijat pelipisnya.
Tak lama kemudian...
Ponselnya bergetar.
Nama Nico muncul di layar.
Brams hanya melirik sekilas.
Lalu mengabaikannya.
"Pasti soal tes itu lagi."
Ia bahkan tidak berniat mengangkat telepon tersebut.
Ponselnya dilempar begitu saja ke atas sofa.
Lalu ia kembali sibuk menandatangani dokumen rapat.
Beberapa menit kemudian...
Ting.
Sebuah pesan masuk dari Nico.
Namun tetap tidak dibacanya.
Waktu terus berlalu.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Hingga malam akhirnya tiba.
Brams kembali ke suite hotel.
Ia membuka pintu dengan langkah lelah.
Tatapannya langsung tertuju pada beberapa paper bag yang tadi dikirim sekretarisnya.
Gaun.
Tas.
Sepatu.
Semuanya masih tersusun rapi.
Entah mengapa...
Nama Ranum kembali terlintas di kepalanya.
Ia mengembuskan napas pelan.
Tangannya meraih ponsel yang sejak siang tergeletak di sofa.
Baru saja layar menyala...
Ting tong.
Bel suite berbunyi.
Brams kembali meletakkan ponselnya.
Klik.
Pintu terbuka.
Di depan sana...
Ranum berdiri.
Wajahnya terlihat pucat.
Lelah.
Matanya sembab seolah kurang beristirahat.
"Assalamu'alaikum."
"Aku pulang."
Brams tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru beralih ke belakang Ranum.
Nico berdiri di sana.
"Masuklah."
"Aku ingin bicara dengan Brams."
Ucap Nico sambil mendorong pelan punggung Ranum.
Ranum pun masuk ke dalam suite.
Namun ketika Nico hendak melangkah...
Brams menggeser tubuhnya.
Menghalangi jalan.
"Kata siapa kau boleh masuk?"
Nada suaranya dingin.
"Kita harus bicara."
Jawab Nico tenang.
"Sudah kukatakan."
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun."
Brams mendorong pelan bahu Nico.
"Pergi."
Nico menghela napas.
Tatapannya beralih kepada Ranum.
"Jaga Ranum."
Ucapnya singkat.
Lalu ia berbalik pergi.
Klik.
Pintu suite kembali tertutup.
Tanpa mengatakan apa pun...
Ranum langsung menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian ia keluar mengenakan piyama panjang.
Rambutnya yang terurai masih sedikit basah.
Ia memilih berbaring di sofa.
Menarik selimut hingga menutupi bahunya.
Lalu memejamkan mata.
Berpura-pura tidur.
Padahal...
Isi kepalanya jauh dari tenang.
Ucapan Nico kembali terngiang.
>
"Menurutku Brams memang harus menjalani tes ulang."
"Pola hidupnya sekarang jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu."
"Kemungkinan hasilnya akan berbeda."
Ranum kembali mengingat pertanyaannya.
"Memangnya dulu kehidupan Brams seperti apa?"
Jawaban Nico masih terdengar jelas.
"Parah."
"Sangat parah."
"Bahkan sulit digambarkan."
Lalu...
Kalimat terakhir Nico.
"Terapi pijat refleksi dan ramuan herbal yang kau berikan, pasti akan sangat membantu kondisi Brams."
>
Jantung Ranum berdegup semakin cepat.
Kalau semua ucapan Dokter Nico benar...
Perlahan...
Tangannya naik menyentuh perutnya sendiri.
Ingatan tentang malam pertama bersama Brams kembali memenuhi pikirannya.
Napas Ranum mendadak tidak teratur.
Bagaimana...
Kalau aku benar-benar hamil?
Ia segera memejamkan mata.
Mengatur napasnya perlahan.
Berusaha menenangkan diri.
Di sisi lain ruangan.
Brams duduk di meja kerja.
Tangannya terus menandatangani beberapa dokumen.
Namun...
Tatapannya beberapa kali beralih ke arah sofa.
Ia memperhatikan bahu Ranum.
Naik.
Turun.
Naik.
Turun.
Seolah perempuan itu sedang berusaha menenangkan sesuatu.
Brams tidak bertanya.
Ia kembali menandatangani berkas di depannya.
Satu jam berlalu.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.
Baru saat itulah...
Brams membuka ponselnya.
Pesan Nico akhirnya terbaca.
"Brams, istrimu pingsan. Dia di rumah sakit sekarang. Cepat datang. Aku tidak bisa menemani Ranum. Banyak pekerjaan."
Brams membeku.
Tatapannya perlahan beralih ke arah Ranum yang tertidur di sofa.
"Dia..."
"Kenapa?" Gumamnya lirih.
Tanpa sadar...
Ia bangkit.
Melangkah mendekati sofa.
Tubuh mungil Ranum diangkat perlahan ke dalam dekapannya.
Begitu ringan.
Brams membaringkannya di atas ranjang king size.
Kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh istrinya.
Beberapa saat ia hanya berdiri.
Menatap wajah Ranum yang tampak kelelahan.
"Harus aku apakan dirimu..."
Bisiknya pelan.
Untuk pertama kalinya...
Brams merasa tidak mampu memahami isi hatinya sendiri.
Bersambung...
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu