Usia pantas menikah, adalah masa-masa terberat yang di alami gadis Berusia Dua puluh sembilan tahun itu.
Bahkan sudah lima tahun ia mengalami tekanan-tekanan seputar pernikahan hingga akhirnya ia di cap sebagai perawan tua.
Namun, gadis berwibawa tinggi itu hanya akan menikah ketika jodohnya sudah tiba😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tuti Alawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah dia ayah kandungku?
Di Atas ranjang, Ali mulai menggerakkan tangannya, membuka matanya perlahan.
Pria itu memegangi dahi yang terasa sakit berdenyut-denyut.
Menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, pemandangan yang begitu asing.
“Ini Dimana.” Ujarnya.
“Kau sudah bangun, Ayah!.” Louis mendekati Ali di atas Ranjang.
“Kau siapa? Dimana aku?” tanya Ali.
“Aku Louis, Ayah sedang ada Di Apartemen Mami.” senyum Louis.
Ali memegangi Kepalanya yang terasa sakit.
“Anisah, Aku harus menghubunginya.” Ali mencoba mencari dimana keberadaan Gawainya. akan tetapi Ia tidak menemukan.
“Ayah mencari Ini?” Ujar Louis, menyerahkan Gawai Milik Ali yang ia Dapatkan Di Tangan Pria itu tadi malam.
“Hei, Siapa yang ayahmu. panggil saja aku paman.” Protes Ali.
“Terimakaaih,” Ali meraih Gawainya. Ia mencoba menghubungi Anisah Disana.
“Ayolah istriku, Angkat telponnya.” Gumam Ali saat Anisah belum juga mengangkat telpon itu.
Louis hanya mengamati, Ia mendengar dengan jelas kata istri. Membuatnya bingung seketika.
“Hei, Siapa Nama mu Tadi!”
“Louis Paman.”
“Apa kau memiliki Orang tua?”
Louis mengangguk.
“Ya, Mami sedang pergi keluar bersama temannya.”
“Baiklah, Katakan Pada mami mu terimakasih. Ini Kartu Nama ku. Aku tidak bisa berlama-lama. Istri dan keluarga ku pasti sudah mencari.”
“Baik paman.”
Ali pun keluar dari apartemen itu, Menaiki Taksi menuju Rumahnya.
Di dalam Apartemen, Louis hanya Berdiam diri, Duduk di atas Sova sambil menggenggam Erat Kartu Nama ditangannya.
Tidak lama setelah itu, Riana pulang.
“Louis Sayang, Mami Kembali.” suara Riana bergema di ambang pintu.
Melihat anaknya yang murung, Riana tahu sesuatu telah terjadi, Lalu ia menebarkan pandangan kearah Ranjang. Benar saja Ali sudah tidak ada di sana.
Riana menghampiri Putra nya.
“Mami. Pria itu Ayah kandungku Bukan sih.” Tanya Louis dengan Mimik wajah Iba.
“Yes Darling, Dia Ayah kandung Mu, Papi mu.” Riana mengelus kepala anaknya lembut.
“Tapi Pria itu tidak suka Akau memanggilnya Ayah. Dan juga dia Sudah memiliki Keluarga. sebelum pergi Dia menghubungi Istrinya.” Adu Louis.
Ia menyerahkan Kartu Nama.
”Lain kaii, Jangan Membuat Louis berharap, jika dia bukan ayah Louis tidak usah mengatakan dia ayah kandung Louis, Aku sudah biasa hidup Tanpa seorang Ayah. kenapa Mami memberiku harapan palsu yang membuatku kecewa.” Louis berlari menuju Kamarnya. meninggalakan Riana sendiri di dalam kegamangan.
“Maafkan Mami Louis! Karena Hanya dia yang layak menjadi Ayah kandung kamu.”
__________
Anisah Bersender Di atas ranjangnya, Memandangi Foto sang suami di layar Gawainya. Sekarang Keadaan Rumah Sangatlah sunyi.
Ayah dan mertuanya Pulang ke rumah, mereka masih terpukul dengan keadaan Ali yang belum juga di temukan, Sedangkan Ibunya harus kembali ke rumah karena Sang ayah masih belum sembuh total.
dan Fitri baru saja berpamitan pulang karena hari akan segera berganti malam.
Anisah hanya sendirian, Tanpa teman.
Meratapi keadaan Suami yang belum juga di temukan.
Mengelus perutnya yang kini di huni buah hati mereka.
Air mata Anisah kian menetes membasahi pipinya.
“Mas, Dimana kamu.”
Tiba-tiba, Anisah mendapat panggilan dari Ali. tentu saja ia sangat histeris dan bahagia.
”Mas! Suamiku. Kamu dimana.”
“Aku Segera datang, Jangan mencemaskan ku Anisah. aku baik-baik saja.” Uajr Ali dari sambungan telpon itu.
Anisah begitu bahagia, ternyata Doanya di ijabah Oleh sang maha kuasa. Suaminya Akan kembali mendatanginya. perasaan yang sulit untuk di gambarkan, Bahagia yang tak terungkapkan.
“Anisah?” Teriak Ali, bergema di teras Rumah.
Pintu Rumah pun terbuka, Anisah langsung memeluk suaminya haru.
“Mas, Mas tidak kenapa-napa kan.” Ujarnya Kawatir.
“Aku baik-baik saja.” Ujar Ali, meski Tubuhnya masih terasa sakit.
“Anisah sangat mencemaskan mu Mas.”
“Aku sudah kembali Anisah, Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Rasa Syukur yang Mendalam atas kepulangan suaminya,
Anisah membantu suaminya membersihkan luka di sekujur tubuh itu, membuatkan makanan sepenuh hati untuk Ali.
“Apa kau Kawatir?” Tanya Ali.
Anisah mengangguk, Istri mana yang tidak khawatir dengan suami yang dicintainya.
“Cepat habiskan Makanan mu mas. Setelah ini Mas harus mengonsumsi Obat.” Ujar Anisah sambil menyuapi Suaminya.
Ali Menurut, Ia makan dengan patuh tapi tidak memalingkan pandangannya dari Anisah.
“Kenapa wajahmu berseri?” tanya Ali.
“Tidak mas, Wajah ku tetap seperti biasa kok.”
“Kenapa terlihat berbeda, Lebih Cantik dari biasanya. Apa karena aku tidak menemui mu selama dua hari ini?”
Anisah menatap.
“Mas, jangan membuatku Khawatir lagi ya.
Aku sangat terpukul saat mengetahui mas kecelakaan.
Aku tidak bisa membayangkan Aku harus hidup sendirian mengasuh Anak kita seorang Diri.” Adu Anisah. sambil menciumi tangan Ali.
“Apa Katamu barusan? Anak kita!”
“iya mas.”
“Ka-mu Hamil?!” ujarnya seakan tak percaya.
Anisah mengangguk malu, Tersipu-sipu Di balik jemari yang menutupi wajahnya.
“Istriku.. Terimakasih.” Ali meraih Anisah. memeluknya erat.
Aku tidak pernah membayangkan Rencana Allah yang begitu menakjubkan ini, Diriku seorang Pendosa, Pria pemabuk yang selalu menyesali diri.
Tapi Dengan Zat-Nya yang maha pengasih Dan maha penyayang.
Aku di hadiahi istri Sholeha yang begitu Luar biasa indahnya.
Alhamdulillah untuk segala yang telah engkau berikan padaku Ya Rabb.