Bagaimana bisa, Lucas yang memiliki fobia haphephobia bisa meniduri seorang wanita yang tidak dia kenal?
yuk simak kisahnya, seorang dokter yang memiliki fobia langka, di mana dia merasa takut untuk bersentuhan secara skin to skin dengan orang lain, tetapi dia adalah seorang dokter hebat dan juga pemimpin rumah sakit yang terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rira Syaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23 -
Nia menghembuskan napas, hingga bibirnya bergetar dan mengeluarkan suara bbrrr. Dia benar-benar merasa bosan seharian berada di dalam kamar hotel, sedangkan Lucas malah pergi bekerja. Jika tahu begini, untuk apa asistennya membatalkan semua jadwalnya dalam beberapa hari ke depan!
"Menyebalkan, sangat tidak adil!" kesal Nia.
Ya, sangat tidak adil bukan! Di mana dirinya harus libur bekerja, sedangkan sang suami malah pergi bekerja. Bukankah seharusnya pengantin baru itu menikmati waktu libur mereka dengan berjalan-jalan? Ya, walaupun tidak ada rasa cinta, saling mengenal, atau apa pun itu di antara mereka. Tapi, seharusnya saat ini waktunya untuk pergi berjalan-jalan 'kan? Bukan waktunya mengabaikan satu sama lainnya.
"Baiklah, kamu pikir hanya kamu saja yang punya pekerjaan? Sedangkan aku tidak!" geram Nia menatap ke arah pakaian nikah yang dikenakan oleh Lucas kemarin.
"Jika kamu bisa bersikap sesuka hatimu, maka aku juga akan melakukan hal yang sama!"
Nia mengambil ponsel dan tasnya. Tak lupa melihat penampilannya saat ini.
"Sempurna."
Nia pun melangkahkan kakinya yang dihiasi oleh sepatu berwarna khaki, yang memiliki hak setinggi sembilan sentimeter itu. Melangkah dan melenggang dengan begitu anggun, di tambah suara ketukan sepatunya yang terdengar sangat merdu.
Nia menekan tombol lift, menunggu pintu lift itu untuk terbuka.
"Hmmm, kira-kira enaknya ke mana ya?" pikir Nia.
Ting ....
Pintu lift terbuka, Nia pun mengangkat pandangannya untuk melihat ke dalam lift. Betapa terkejutnya dia, di saat melihat Martin di dalam sana.
"Mark!" gumam Nia dengan jantung berdebar.
Lama mereka memandang, hingga akhirnya pintu lift pun akan tertutup.
Sraapp ...
Martin dengan cepat menahan pintu lift menggunakan kakinya.
"Masuklah," titah Martin dengan tatapan matanya yang terlihat kecewa.
Nia menghela napasnya pelan. Dia pun melangkah masuk ke dalam lift dan berdiri membelakangi Martin.
Hening, tidak ada di antara mereka yang membuka suara.
Nia menundukkan pandangannya, menatap kuku-kukunya yang saling beradu. Sudah menjadi ciri khas Nia, jika dia merasa gugup, takut, dan panik.
"Apa kamu punya waktu?" tanya Martin akhirnya membuka suara.
Pelan, Nia mengangkat pandangannya dan menatap wajah Martin dari pantulan dinding lift.
"Bukankah banyak hal yang harus kita bicarakan?" sambung Martin lagi.
Nia mengerjapkan matanya sekali, dia tersenyum kecil kepada Martin.
"Waktuku selalu ada untukmu."
*
Lucas benar-benar harus menahan panas pada telinganya. Bagaimana tidak, saat Paling Leo tahu dirinya langsung bertugas kembali sebagai seorang dokter di hari pertama pria itu menjadi pengantin, Papi Leo langsung mencecar Lucas dan menasehati sang putra dengan panjang. Untuk pertama kalinya, Papi Leo menceramahi Lucas selama hampir dua jam tanpa henti.
"Pantaskah kamu bersikap seperti itu, Luc?" geram Papi Leo sambil menghela napasnya kasar.
"Papi tahu, prioritas utama kamu adalah pasien. Waktumu hanya untuk melayani pasien yang sedang membutuhkan kamu. Tapi, saat ini kamu telah menjadi seorang suami, Luc. Dan kamu harus bisa membagi waktumu. karena hidupmu tidak lagi hanya tentang pasien, tapi sebuah keluarga!" nasehat Papi Leo.
"Dan sebaiknya, kamu kembali ke hotel. Jemput Nia, temani dia, dan ajak dia berjalan-jalan. Atau kalau perlu, pergilah kalian berliburan, menikmati waktu cuti kamu," saran Papi Leo.
Lucas mengangguk pelan tanpa semangat. Bahkan, tubuhnya saja enggan untuk digerakkan saat ini.
"Loh, tunggu apa lagi? Sudah, pergi sana," usir Papi Leo.
Dengan malas, Lucas terpaksa bangkit dari tempat duduknya yang terasa nyaman.
"Ingat, jemput Nia, bukan malah kelayapan ke mana-mana," ujar Papi Leo sebelum Lucas keluar ruangannya.
"Hmm, iya!"
semakin seru, mak crazy up dong