Kemuning Senja tak mengira akan mengalami malam kelam bersama pria yang tak dikenal.
Kalandra, pria impoten yang telah menikah tetapi tak mampu memberikan nafkah batin kepada istrinya. Dia terus berusaha menjalani pengobatan dan terapi karena mengalami difungsi ereksi.
"Pelukan saja tanpa bercinta, kecut Mas!" protes sang istri.
Sudah banyak wanita yang Kalandra pesan demi bisa memulihkan kejantanannya tetapi tak kunjung mendapatkan hasil. Sampai dimana dia bertemu dengan Kemuning Senja.
Malam indah yang mampu membuatnya normal.
"Jangan Tuan! Saya mohon lepaskan saya!"
"Tidak akan, karena kamu membuatku begitu menginginkan."
Bagaimana nasib Kemuning setelah mahkotanya terenggut paksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Mainan Luna
Sampai di rumah, Kalandra meminta Kemuning untuk masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu. Banyak yang harus dia lakukan di kamar utama dan tak mungkin mengajak Kemuning untuk kesana.
"Tunggu sini, aku hanya sebentar saja. Kamu boleh melakukan apapun, Sayang. Aku ada di kamar utama. Jika butuh apa-apa nanti bilang sama si Mbok atau panggil aku ya!" ucap Kalandra dengan lembut. Dia berharap Kemuning mengerti dan bersedia menunggunya.
"Aku boleh masak, Mas?"
"Boleh Sayang, aku juga mau makan masakan istri aku. Pasti enak seperti orangnya." Kalandra mencubit hidung Kemuning dengan gemas membuat wanita itu merengek dengan wajah merona.
"Mas kamu nich, sakit tau," ucap Kemuning dengan wajah cemberut.
"Salah siapa bikin gemas. Kan jadi sayang."
"Gombal!" celetuk Kemuning yang kemudian melangkah masuk ke dalam kamar sedangkan Kalandra terkekeh melihat wajah merona kemuning yang malu-malu.
Perlahan Kalandra melangkah masuk kamar utama. Kamar yang sudah beberapa tahun ini menjadi saksi bisu percintaannya dengan Luna. Kamar yang banyak meninggalkan kenangan indah hingga kini terasa sesak sekali melihat setiap sudutnya.
Kalandra menutup pintu kamar dengan rapat. Pandangan pertamanya jatuh pada figura besar dirinya dan Luna dengan berbalut pakaian pengantin. Begitu harmonis dan serasi hingga membuat Kalandra meringis melihatnya.
Dia menurunkan foto itu lalu menutupnya dengan selembar kain yang mungkin tak akan pernah ia buka lagi. Kalandra menghela nafas berat, dadanya begituan sesak tetapi sudah tak ada lagi air mata yang jatuh meski hatinya begitu ngilu.
Kalandra membuka gorden membiarkan sorot matahari sore yang akan kembali ke peraduan masuk menyinari kamarnya. Dia melangkah menuju meja rias yang masih dilengkapi dengan alat make dan perlengkapan kecantikan milik Luna.
Kalandra diam sejenak, kembali menghela nafas berat lalu memasukkan semuanya ke dalam sebuah koper yang nantinya akan ia kembalikan pada pemiliknya. Membuka laci dan memilih apapun barang-barang milik Luna untuk ia sisihkan.
Kini Kalandra beralih ke lemari pakaian Luna. Mengambil semua baju Luna dan mengemasnya ke dalam koper yang lebih besar. Namun Kalandra tertegun melihat isi lemari Luna setelah semua pakaian dia turunkan. Disana terlihat jelas barang-barang yang sengaja Luna simpan di balik pakaian. Mungkin agar dirinya tidak bisa menemukannya.
"Ini bukannya vibrator dan ini... Astaga Luna. Dia mengkoleksi banyak alat untuk memuaskan hasratnya. Padahal aku sudah berusaha memuaskan meski tidak bisa menyentuhnya lebih dalam. Kapan dia gunakan ini semua?" Kalandra menggelengkan kepalanya tak menyangka dengan apa yang ia lihat. Banyak sekali alat dengan berbagai bentuk tetapi memiliki kegunaan yang sama, yaitu sebagai alat penuntas gairah. Kalandra memijit pelipisnya, mendadak dia pusing melihat itu semua.
Mungkin dia salah jika menganggap Luna sama dengan wanita lainnya, tetapi apa yang ia lihat ini menyadarkannya jika memang mereka tak bisa lama-lama bertahan. Kalandra yang tak bisa memuaskan sedangkan Luna yang memiliki nafsu di luar batas. Membuat mereka semakin tak sejalan.
"Hidupmu pun tak lepas dari kesenangan dunia, Luna."
Kalandra segera menyingkirkan semua itu dan memasukkannya ke dalam kardus. Geli sekali rasanya terlebih dari banyaknya mainan milik Luna ada beberapa yang menyerupai miliknya. Kalandra paham betul Luna membutuhkan itu. Namun, setelah menelusuri perbuatan Luna di luar sana. Kalandra berpikir memang Luna tak cukup jika hanya dipuaskan oleh manusia saja.
"Gila kamu Lun!" celetuk Andra. Dia membungkus kardus rapat dengan lakban dan nanti akan ia pulangkan ke pemiliknya bersamaan dengan barang-barang yang lain.
Lama Kalandra mengabiskan waktu di dalam kamar hingga jam makan malam tiba. Pria itu lupa jika sudah membawa pulang Kemuning. Begitu sibuk menyingkirkan barang-barang Luna dan menyiapkan surat-surat yang besok akan ia berikan ke pengadilan agama.
Kalandra keluar kamar setelah mandi, dia berniat mengambil minum tetapi langkahnya terhenti saat sadar jika Kemuning ada di sana.
"Ya Tuhan, ini pasti gegara memikirkan Luna dan mainannya. Aku sampai lupa jika ada kemuning dan sudah janji hanya akan sebentar saja."
Kalandra segera melangkah menuju kamar sebelah tetapi dia tak menemukan kemuning di sana. Buru-buru Kalandra keluar dan mencari wanita hamil itu hingga langkahnya terhenti tepat di ujung tangga. Dia melihat wanita cantik dengan rambut di jepit ke atas memamerkan leher jenjangnya tengah sibuk di dapur.
"Mbok," bisik Kalandra.
"Iya Tuan," jawab Si Mbok dengan lirih dan segera melangkah mendekati. Beliau pun mengerti dengan kode dari Kalandra lalu pergi ke belakang untuk istirahat. Beliau paham jika dapur akan dikuasai oleh tuan rumah.
"Mereka cocok. Mbak Kemuning juga baik. Sama-sama ramah tak seperti Nyonya. Eh mulut ini kok ghibah!" gumam si Mbok yang segera masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya karena paham betul apa yang akan dilakukan pasangan suami istri yang sedang hangat-hangatnya itu.
Kalandra mendekati Kemuning yang sedang menyajikan makannya dan siap membuatkan kopi untuknya. Rasanya tak tahan sekali ingin menyesap leher sang istri yang sangat menggoda.
"Mas." Kemuning tersentak saat Andra tiba-tiba memeluknya dari belakang. Paham sekali parfum yang digunakan oleh pria itu hingga tau betul jika tangan yang melingkar di perutnya adalah tangan Kalandra.
"Lagi apa, Sayang?"
"Mas jangan gini, aku lagi siapin makan malam. Bau tau mas, aku tuh belum ganti pakaian. Masih bau keringat," ucap Kemuning dengan sedikit memberontak tetapi Kalandra justru semakin mengeratkan pelukannya. Pria itu memberi sesapan di leher janjang sang istri yang sejak tadi membuatnya tak tahan.
"Mau disini atau di kamar, Yank?" lirih Kalandra dengan suara tertahan.
Ujian sekali memiliki suami yang mudah tergoda hanya dengan melihatnya saja. Harus siap jiwa dan raga di eksekusi kapan dan dimana saja..
"Mas jangan gini! Nanti dilihat si Mbok loh. Malu Mas!"
"Aman Sayang. Si Mbok sudah masuk kamar dan nggak akan keluar mengganggu kita. Gimana Sayang? Makan malamnya nanti saja ya, aku sudah tak bisa menahan. Si Joni sudah ingin keluar masuk katanya. Mau ya?"
"Kamu nggak laper?" tanya Kemuning yang mencoba mencari-cari kegiatan untuk menunda keinginan Kalandra. Terlebih tangan suaminya yang mulai merusuh. Sungguh Kemuning tidak percaya jika pria itu benar-benar pria impoten. Nyatanya mesumnya tak ketulungan.
"Laper, laper banget malahan."
"Ya sudah ayo makan, Mas!" ajak Kemuning begitu semangat. Kemuning segera melepaskan tangan Kalandra dan memutar tubuhnya. Dia tersenyum menatap wajah Kalandra lalu memintanya untuk duduk di meja makan.
"Ayo Mas, kamu duduk sana biar aku pindahkan dulu ini lauk dan sayurnya!"
"Sama kamu dong, Sayang. Katanya ayo? Ya ayo! Aku laper banget, ingin makan kamu." Sudah kepalang nanggung maka dieksekusi sekalian. Dari pada makan dulu yang nantinya berujung tak tenang. Kalandra sudah tak sabaran apa lagi seharian dibuat pusing kepala.
"Mas aku bukan hidangan! Jangan di atas meja makan juga," rengek Kemuning.
bgtu bsarkah cintamu pada luna zn