NovelToon NovelToon
HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

HIGH SCHOOL RELATION-SHIT!

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Masalah Pertumbuhan / Persahabatan / Tamat
Popularitas:283.4k
Nilai: 5
Nama Author: alfajry

Ariva Tania, anak panti yang menginjak bangku SMA ini menginginkan kisah romantis hadir dalam masa remajanya. Apalagi cowok yang ditaksirnya ternyata juga menyukainya.
Namun semua tak sesuai kenyataan. Bukan manis, justru pahit yang ia dapat lantaran orang-orang di sekitarnya yang membuat mimpi manis saat SMA berubah menjadi derita.

Walau begitu, ada sahabat kecilnya, Arsya Alexander, yang selalu menjaganya dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

High School Moment 23

Pagi-pagi aku udah bengong di bangku. Diam menatap lurus ke depan dengan tangan terlipat di dada. Aku kepikiran Arsya. Memang dia gak bilang apa-apa. Tapi perlakuannya ke aku memang patut dicurigai. Tapi selama ini.. aku gak ngerasa ada apa-apa diantara kami. Atau aku yang gak nyadar? Argggh.. aku ga mau terlibat cinta-cintaan kayak gini. Yah, mudah-mudahan aja aku salah paham. Semoga aja Arsya cuma sukak sama Vita, bukan ke aku. I hope so...

"Ariva.."

Aku menoleh ke samping, ternyata kak Juna udah berdiri memperhatikanku. Oh ya, memang aku belum balas pesannya sejak kemarin.

Dia duduk di bangku Kai, lalu menyerahkan setangkai mawar merah padaku.

"Please forgive me. Aku ga bermaksud belain Kai, aku ngerti gimana susahnya kamu dikerjain dan dijailin Kai. Aku juga udah ngomongin ini ke dia. Jadi, kamu pasti ga diganggu lagi sama Kai. Tapi kamu maafin aku, ya."

Mataku melihat bagaimana bola mata kak Juna memohon, meminta maaf soal kejadian kemarin.

Aku menghela napas berusaha menyembunyikan senyum. So sweet banget, sih kamu, kak.

Dia tersenyum saat aku menerima bunga darinya.

"Makasih, sayang. Aku khawatir banget karena kamu ga balas pesan aku."

Aku belum mengucapkan apapun saat ini. Kupandang mawar merah pemberian kak Juna dengan kertas kecil bertulisankan i love you, manis sekali. Bunga pertama yang kuterima dari seseorang. Kali pertama aku diberi bunga seperti ini.

"Kamu udah ga marah kan, sama aku?"

Aku mengangguk dengan senyuman. Mana mungkin aku marah kalo dikasih bunga dan permintaan maaf kaya gini.

"Good." Ucapnya mengelus pipiku. "Aku balik ke kelas dulu, ya. Nanti kamu balas pesan aku. Jangan dianggurin kaya kemarin, oke?"

Aku mengangguk lagi. Lalu kak Juna berdiri.

"Ariva."

"Iya?" Aku mendongak, melihat kearahnya.

Dan detik selanjutnya berhasil membuat mataku membulat sempurna dengan iringan detakan jantung yang semakin cepat.

Kak Juna.. mengecup keningku?

"Aku tunggu di kantin istirahat nanti. See you around." Katanya mengelus kepalaku dan berjalan pergi.

Astaga. Gila-gila-gila. Ini kali pertama aku dikecup begini. Aku memegang dada yang berdegup. Lalu senyumku mekar seketika. Jadi, gini ya rasanya dicium. Hehehee. Aku sampai meleleh dan rasanya ingin meleyot saja.

"Ecieeee.."

Salma membuatku duduk tegak seketika. Tiba-tiba aja udah ada nih anak dan duduk disebelahku, dengan senyuman menatap tak berkedip.

"Apaan, sih." Aku malu, curiga salma melihat kak Juna saat mengecup keningku tadi.

Tapi, ada apa gerangan Salma pagi-pagi datang ke kelasku?

"Ada apa?" Tanyaku setelah menyimpan satu tangkai mawar ke dalam tas.

"Gue chat lo gak bales."

Oh. Iya, aku memang gak sering ngecek hp karena menghindari kak Juna.

"Ada hal penting, kah?"

Salma melipat tangannya diatas meja. Pandangannya lurus ke depan, lalu menghela napas.

"Gue kemarin ngajak kalian makan, tapi ga ada yang ngerespon. Hani juga aneh, katanya sakit perut tapi gue liat nongkrong di kantin. Yang gue heran, kok bisa dia gabung sama Vita dkk?"

Eh. Benar juga. Salma gak tau soal Hani yang minta aku buat deketin dia dan Vita.

".. bukannya selama ini dia ga suka sama tu cewek? Mana sok akrab banget. Pas matanya ke arah gue, dia malah buang muka. Apa dia ga liat gue, ya?" Lanjut Salma lagi, masih berpikir positif.

Hani. Apa benar dia jadi berubah gitu? Hah. Banyak banget bahan pikiranku.

~

"Pabo."

Kai memanggil. Aku membuka mata perlahan, tapi enggan mengangkat kepala.

"Pabo." Kini telunjuknya mengetuk-ngetuk bahuku yang membelakanginya.

"Gue lagi ga mood berantem sama lo."

Hening. Dia diam. Emang tadi dia mau ngapain? Masih berani juga manggil aku dengan sebutan itu.

"Ariva Tania."

Ini suara guru. Aku langsung menangkat kepala dengan badan tegak. Mataku menatap ibu guru yang sudah memperhatikanku dari depan.

"Silakan jawab pertanyaan saya." Titah bu guru.

Aku melongo. Pertanyaan? Pertanyaannya apa??

Kulirik Kai yang sudah terkikik dengan bahu berguncang. Sialan, seneng banget dia.

"Ga tau jawabannya? Atau ga tau apa pertanyaannya?" Tanya bu guru di depan. Aku menelan ludah, melirik kembali buku bahasa indonesia yang jadi bantalku tadi. Aakhh.. sial.

"Sekali lagi saya liat kamu tidur, keluar kelas dan jangan ikut pelajaran saya lagi. Mengerti?" Imbuh bu guru dengan nada tenang, namun tatapannya sangat mematikan. Belum lagi aku menjadi pusat perhatian saat ini.

"M-mengerti, bu." Jawabku pelan. Lalu pelajaran pun berlanjut dengan pusat perhatian yang kutujukan pada pelajaran saat ini.

Kai masih menahan tawa di sebelahku. Aku terus memperhatikannya dengan wajah ketus supaya dia berhenti. Tetapi tidak, dia justru mengejek.

"Ntar gue bawain bantal, ya." Bisiknya, dengan tangan menutup mulut dan tertawa lirih.

Kali ini, lo bisa ketawa, Kai. Tapi liat ntar. Batinku begitu. Tapi setelahnya, aku hanya menghela napas. Kapan ya, aku bisa membalas Kai?

Jam olahraga, dan kami semua ke lapangan bulu tangkis.

Isk! Aku ga bisa olahraga.

Seragam putih biru olahraga memenuhi lapangan bulu tangkis dengan beberapa anak yang udah mulai bermain sebagai pemanasan.

Katanya, guru penjas akan membagi siswa menjadi dua orang perkelompok berdasarkan absen. Aku berdoa dalam hati, supaya dipasangkan dengan orang yang pinter main supaya kemampuanku bisa ketutup. Eh, atau malah jadi keliatan gak pinternya, ya?

Kai dengan Karin. Mereka mulai bermain selama beberapa menit, sampai keduanya bisa melakukan servis dengan benar sesuai teori yang ada di buku.

Aku dengan laki-laki bernama Abi. Tidak cukup kenal dan hanya saling senyum.

"Lo Ariva, kan?" Aku mengangguk.

"Gue ga bisa main, nih. Hehe. Lo bisa, kan?"

Hah? Kenapa ketemu laki-laki yang ga bisa main?

"Hei, kalian. Cepat kesini dan mulailah bermain." Teriak guru penjas pada kami berdua.

Kai dan Karin juga tengah bermain di lapangan seberang. Disebelah kami juga ada beberapa yang bermain. Pokoknya rame banget, semoga aja pak penjas nggak liatin kami berdua supaya aku bisa bohong dan bilang kalo aku udah bisa servis.

Aku mulai memukul kok, bola bulu tangkis berbulu ayam itu. Tapi sial, dia malah terbang ke arah lain.

"Bisa ga kamu?" Teriak pak guru yang duduk tinggi di bangku wasit.

"Angin, pak." Teriakku beralasan.

"Coba lagi seperti yang saya praktekkan tadi."

Aku mengangguk, "baik, pak." dan mulai memukul perlahan shuttlecock. Mataku melebar karena akhirnya kok itu terbang. Yeay, aku berhasil.

"Gue tangkep, gue tangkep!" Abi mundur cepat dengan posisi tangan bersiap memukul bola. Namun sial, dia tertabrak Kai yang tengah bermain juga di belakangnya, hingga ia terjatuh.

"Lo liat-liat, dong. Ini batasnya!" Kai menunjuk garis putih dengan reketnya. Aku hanya terkikik melihat keduanya.

Tatapan lelaki itu pula menajam kearahku. Tidak peduli, aku memamerkan senyum manis kepada Kai. Dia berdecak, dan kembali bermain dengan Karin.

Pukulan dilayangkan Abi, aku memukulnya kuat-kuat sampai akhirnya mataku membulat saat shuttlecock itu mengenai kepala Kai.

Tuk! Dia menoleh kebelakang.

"Sorry." Teriakku tanpa rasa bersalah.

Lagi, shuttlecock yang kupukul kembali mendarat ke kepala Kai.

"Sorry!" Teriakku lagi. Dia menggeleng kepala dengan wajah kesal, lalu melanjutkan permainan dengan Karin.

"Sorry!" Teriakku tak sengaja. Benar-benar gak sengaja. Salahkan saja Abi karena dia gak bisa memukul bola dengan benar.

"Lo bisa main, gak sih??" Gerutunya.

Aku menggeleng pelan, menahan tawa. Kulihat Karin senyum-senyum dari seberang sana.

"Sorry, Kai. Kita ga bisa main." Ucap Abi akhirnya, membuat Kai mendengkus.

Bel tanda jam penjas berakhir. Masing-masing dari kami bubar perlahan setelah mengumpulkan reket. Dari luar lapangan, segerombol siswa dengan seragam yang sama memasuki lapangan.

Itu kelas Arsya. Aku menunduk sambil berjalan keluar, tak ingin kelihatan atau melihat Arsya. Setelah kejadian malam itu, aku merasa canggung walau sebenarnya bisa bersikap santai seperti biasa. Entah kenapa perasaanku tidak enak aja saat melihat dia dan memikirkan perasaannya.

Aku menuju toilet untuk buang air sambil berganti pakaian saat beberapa siswi memilih berganti di dalam kelas. Akan bergantian dengan siswa yang masih nongkrong di depan kelas menunggu giliran.

"Hei, Pabo. Mau kemana lo?"

Aku memutar bola mata, enggan menjawab si gila Kai.

Saat baru masuk ke dalam toilet, kakiku tidak bisa berhenti karena seseorang mendorong kuat punggungku hingga aku masuk ke dalam salah satu bilik toilet.

Tentu aku kaget apalagi aku ga tau siapa yang udah ngedorong aku sekuat itu.

Aku mendengar suara kaki melangkah keluar masuk. Sepertinya ini bukan dilakukan sendiri. Sial, siapa mereka?

"Bukaaak! Hei buka pintunya!" Aku berteriak keras sambil menggedor pintu.

"Gak lucu, bercanda lo gak lucu, Kai!" Teriakku lagi.

"Bukain pintunya! Bukaaaak!"

BYURRRR!!

Aku mematung kaget dengan rasa ingin muntah. Suara ember dihempas jatuh ke lantai terdengar bersamaan ramainya suara tapak kaki yang berlari menjauh. Seseorang menyiramiku dengan air selokan yang sangat bau dari atas pintu.

Aku terdiam dengan air yang mengalir dan membasahi kepala dan tubuhku. Ini gak lucu! Sama sekali gak lucu. Ini udah kelewatan. Aku gak bisa diam aja kalau dibully begini. Kai sialan. Kai bangsat. Ini udah keterlaluan dan lo gak bisa seenaknya kayak gini ke gue, bangsat!

TBC

1
Uus H123
luar biasa
ione
/Frown/
Chacha Unyil18
kerenn kak.. btw mana lanjutannya arsya sama ari kok ga ada ya judulnya
ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰
😍😍😍😍
yetiku86
mantap Thor 👍👍👍👍😍
semangat berkarya othor...tambah sukses, selalu sehat dan bahagia 🤲
yetiku86: siap Thor 👍
total 2 replies
yetiku86
wajarlah Riva baru juga 6 hari, sedangkan waktu yg sudah kamu habiskan dengan Arsya adalah 13 th.
yetiku86
bagus banget Thor karyamu 👍👍👍👍
yetiku86
masa2 indah seperti ini yg akan terkenang dan dirindukan. kenalan2 remaja yg menggelikan dan membuat senyum2 sendiri saat ingat suatu hari nanti 😊
yetiku86
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
yetiku86
eh????
yetiku86
wah....jangan2 Kai sebenarnya suka neh sama Ari🤔
yetiku86
oh.... begitu toh.... dijadikan tukang paket kalau dekat Arsya 😅
Syahdu: Janhan dibaca. soalnya mau direvisi ceritanya
total 1 replies
Starry💫
Hai thoorr, aku cuma mau bilang kalau karena baca novelmu, aku jadi semangat nulis lagi setelah Hiatus satu tahun. yahh walaupun pada akhirnya novelku sepi kek kuburan Kramat 🙂
Starry💫
kopi buat author 🤗🤗🤗🤗🤗
biar gak ngantuk 😉
Syahdu: terima kasih^^
total 1 replies
ummi rama
ngk ada judul after five years nyaaa...
Syahdu: After five years muncul setelah old versi. Cerita ariva dan Arsya ada yang baru. dengan jalan cerita yg berbeda dan ending juga beda. judulnya juga beda, Diantara Dua Jendela. di apkseebelah ya^^
total 1 replies
ummi rama
aku suka SM cerita novel mu pen dan hampir smua sdh aku baca...apa LG novel tentang jia dan krishan...😊🥰
ummi rama
udah baca td gantung ngk ada kelanjutannya...
ummi rama
kan Jd nangis knp harus prg seeee....😭😭😭
ummi rama
bersyukur lah krn kamu msh punya teman yg baik dan tulus KPD kamu ariva...
ummi rama
kereeeen👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!