Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.
"Hore.. Justin.. Jihan"
"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"
Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.
"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"
"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca
Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.
"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"
"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"
Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.
Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Justin, kapan-kapan bolehkan aku datang kerumah kamu, aku ingin bantuin jihan. Kasihan dia kan lagi hamil, gak boleh kerja berat-berat dulu!"
"Yaa ... boleh aja. Nanti aku bilang istri aku dulu," sahut Justin.
Cici agak membungkam, ia merasa tak ada respons dari Justin.
"Justin ..."
"Ya ... ada apa, Ci?"
"Kamu peduli kan sama aku?"
"Iyalah, aku peduli. Kamu kan sodara aku!"
"Kalo kamu peduli sama aku, terus kamu mau kan temenin aku terus?"
Justin tergugup. Untuk yang satu itu ia merasa agak riskan.
"Aku selalu menjaga perasaan jihan istriku. Kalo cuma sekedar dekat ya gapapa. Tapi kamu harus deket pula sama jihan, pastikan jihan gak cemburu sama kamu!"
Cici merasa tidak mempunyai ruang dihati Justin. Karena jiwa Justin sudah dinaungi jihan sepenuhnya.
"Justin, kamu gak tau sih, aku sayang banget sama kamu. Aku nyesel banget udah nyakitin kamu waktu. Coba kalo dulu aku setia sama dia, Justin pasti udah nikah sama aku. Bukan sama jihan" batin cici bergumam.
Makan siang telah tersaji diatas meja. Rekaman tersembunyi masih aktif berjalan. Justin akan mengirim hasil rekaman itu kepada istrinya. Ia ingin membuktikan bahwa dia suami yang setia.
Sementara itu, jihan berada dirumah orang tua angkatnya. Jihan kembali bernostalgia sendiri dirumahnya yang dulu. Mengenang masa kecil sampai remaja, dan mengingat kembali saat pertemuannya dengan Justin. Jihan memandangi saung mungil yang dulu sering menjadi tempat termenung baginya, juga saat-saat Justin belajar mengaji. Jihan tersenyum-senyum sendiri dibalik cadarnya.
Sampai malampun tiba, jihan melakukan sholat tahajud, kemudia ia berkeliling sekitar kamar waktu jihan melajang. Ia membuka hordens jendela, tangannya mengusap-usap kaca jendela itu, kembali terbesit di ingatannya saat Justin mengetuk jendela dan meminta bantuan kepadanya. Disitulah kenangan manis yang tak akan terlupakan, kala Justin dan jihan pertama bertemu.
"Gak nyangka waktu begitu cepat berlalu, serasa baru kemarin aku mengenal Justin di bawah jendela ini. Sebuah pertemuan yang tidak disangka-sangka. Sampai kami sekarang kami sudah menjadi suami istri yang sah. Skenario engkau begitu indah, terima kasih ya rabb" tutur jihan.
Tersentak lamunan jihan terhenti ketika hp nya berdering diatas bantal. Jihan lalu membuka pesan wa, ia terkejut ketika Justin mengirimi sebuah rekaman Cici saat berbincang-bincang dengan Justin tadi siang. Lalu Justin kembali mengirim pesan.
"Ini aku kasih rekaman Cici sama aku tadi siang. Aku gak mau menyembunyikan apapun buat kamu sayang. Pantang bagi aku untuk kabur dari masalah, malah aku ingin melawan masalah itu!" Ucap Justin via pesan wa.
Jihan tersenyum. Ia merasa lega. Jihan membalas pesan dari Justin.
"Iya sayang. Makasih, selamat berjuang. Aku juga sama disini berjuang untuk kita, untuk Allah!"
Pagi itu Jihan sedang membaca buku-buku koleksinya sambil duduk santai di saung hasil buah tangan abi Akbar, posisinya menghadap kedepan jalan karena rumah abi Akbar terletak di pinggir jalan utama perkampungan. Jihan terus fokus membaca tanpa menghiraukan orang-orang yang lewat di depan pagar rumah. Tiba-tiba Jihan dikejutkan oleh suara ucapan salam dan memanggil namanya dari seorang lelaki yang terbiasa lewat.
Tinggalkan jejak, karena suport kalian sangat lah berharga, dengan cara, kasih Boom like+komen+rate5+share