NovelToon NovelToon
Suddenly Became A Prince #2

Suddenly Became A Prince #2

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi Urban-Percintaan Modern / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Alana Kanaya

Spin off I don't want to be Cinderella.

Asoka Danubrata selama ini hidup dalam kesederhanaan bersama ibu dan kakaknya, sehingga suatu hari ayah kandung yang selama ini tidak tahu keberadaannya muncul. Tanpa diduga sang ayah adalah salah seorang pengusaha sukses properti negri ini, hingga menjadikannya bak seorang Pangeran dalam semalam.

Di sisi lain Bentari Sagita, kakak Asoka, harus merasakan patah hati untuk kesekian kalinya ketika Birendra Abhimana, pria yang dia cintai lebih memilih perempuan lain dan meninggalkannya.

Apakah benar Birendra meninggalkan Bentari demi perempuan lain, atau ada kisah masa lalu kelam di balik keputusannya itu?

Apakah Asoka akan dengan mudahnya menerima kehadiran sang ayah hanya demi status sebagai salah seorang pangeran properti negri ini? Atau dia lebih memilih hidup sederhana seperti selama ini bersama dengan ibu dan kakaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Easier said than done (Lebih mudah berbicara daripada melakukan)

Malam semakin larut, namun Arunika dan Oka masih terjaga. Duduk, diam, hening. Yang terdengar hanya suara detik jam dinding yang bersatu dengan suara rintik hujan yang kembali turun. Arunika sudah mengakhiri ceritanya, dan kini hanya diam tertunduk, sebagian rambutnya terurai ke depan menutupi wajahnya.

Di sisi lain Oka seolah belum sembuh dari keterkejutannya mendengar kisah Arunika. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam benaknya. Marah kepada orangtua Arunika yang seolah tak peduli dengan perasaan gadis itu ketika mengetahui kebenaran yang membuat dunianya hancur. Cepat atau lambat Arunika memang harus mengetahuinya, tapi bukan kah bisa memberitahunya dengan lebih halus lagi hingga Arunika tak harus merasakan kesakitan seperti sekarang.

“Apa sekarang Abang menyesal?” Arunika bertanya dengan suara lemah, namun berhasil mengembalikan Oka dari pikirannya.

“Menyesal kenapa?” Tangan Oka terulur merapihkan rambut Arunika, menyelipkannya di belakang daun telinga.

“Karena dekat denganku.”

“Kenapa aku harus menyesal dekat denganmu?”

Tidak ada perubahan dalam sikap Oka padanya selain menjadi lebih hangat atau karena rasa kasihan?

“Karena aku anak haram.”

Untuk sesaat mereka saling tatap.

“Kamu Arunika Gantari. Apapun sebutan yang melekat pada dirimu saat ini … kamu adalah dirimu. Sebutan itu tidak akan bisa merubah siapa dirimu.” Oka menatap Arunika serius. “Apakah anak-anak broken home akan selalu gagal? Tidak, banyak dari mereka yang berhasil. Apakah anak-anak jalanan akan selalu menjadi berandalan? Tidak, banyak dari mereka yang memiliki hati seperti malaikat. Apakah anak-anak pendiam itu sudah pasti anak yang baik? Belum tentu, kita tidak tahu apa yang dia pikirkan dalam diamnya itu. Apakah anak-anak yang berasal dari keluarga utuh, serta berkecukupan sudah pasti bahagia? Belum tentu, banyak dari mereka yang haus akan kasih sayang dari orangtua. Jadi apa bedanya dengan anak haram? Itu hanya sebutan, sama dengan yang lain.”

“Beda, Bang!” Arunika menatap Oka putus asa. “Anak haram adalah anak yang terlahir dari sebuah dosa besar. Dari awal aku merupakan sebuah kesalahan."

“Yang berdosa itu orangtuamu. Yang melakukan kesalahan adalah mereka, bukan kamu! Anak tidak bisa memilih dari orangtua seperti apa, atau dalam kondisi apa dia dilahirkan. Tapi orang dewasa bisa memilih mau melakukan dosa atau tidak? Mereka tahu itu adalah sebuah kesalahan dan sebuah dosa, itu adalah pilihan mereka dan mereka harus menerima konsekuensi dari kesalahan dan dosa itu. Mereka harus bertanggung jawab dengan pilihan mereka. Bukan anak yang harus menanggung dosa orangtua mereka.”

Arunika terdiam. Yang dikatakan Oka benar, tapi seandainya sesederhana itu mungkin Arunika tidak akan merasa kesakitan seperti saat ini ketika menyadari efek dari statusnya sebagai anak di luar nikah.

“Sebagai anak di luar nikah … aku juga kehilangan semua hakku di keluarga Papah.” Mata Arunika kembali menatap Oka nanar. “Jangankan harta warisan bahkan papah tak berkewajiban menafkahiku … dan siapa yang akan menjadi wali nikahku nanti? Wali hakim? Aku memiliki seorang ayah, tapi dia tak berhak menjadi waliku.” Mata Arunika mulai kembali berkaca-kaca. “Sebegitu hinanya aku saat ini, Bang. Aku tak memiliki hubungan nasab dengan papah, aku hanya anak ibuku yang bahkan aku tak tahu siapa dan dimana ibu kandungku.”

Oka kini terdiam, tak bisa menyangkal lagi karena yang dikatakan Arunika benar adanya. Yang bisa dilakukannya hanyalah memeluk membiarkan Arunika kembali menangis.

Ketika orang dewasa kehilangan akal sehat untuk mengikuti naf*su, mereka melupakan dosa dan segala risiko. Bukan hanya dosa yang akan mereka tanggung sendiri di akhirat nanti, tapi juga resiko yang harus ditanggung ketika masih hidup. Belum lagi anak yang terlahir dari perbuatan dosa itu harus menanggung beban seumur hidupnya. Terlalu banyak yang dikorbankan, terlalu besar resiko yang diterima, dan terlalu besar dosa yang harus ditanggung hanya untuk kenikmatan sesaat.

***

Hujan semalam sudah berakhir, hanya terlihat jejak hujan yang telah mengguyur Ibu Kota dari tanaman yang terlihat lebih segar, jalanan yang masih basah, juga udara pagi yang lebih dingin namum itu tak membuat geliat pagi itu terhenti.

Jalanan sudah mulai dilewati kendaraan orang-orang yang akan pergi mencari nafkah, para pelajar yang pergi sekolah, juga para ibu rumah tangga yang pergi ke warung sayur, atau sibuk menyiapkan sarapan seperti yang terjadi di dalam rumah minimalis bercat putih dengan aksen abu berlantai 2, dimana bu Mega terlihat membuat kopi dan cemilan pagi di dapur ditemani Arunika dengan wajah sembab dan mata bengkak karena menangis semalaman, sedangkan Bentari yang baru selesai menyapu sepenjuru rumah dengan cepat naik ke atas, tanpa permisi dia masuk ke kamar Oka untuk membangunkannya.

“Dia sedang ada masalah kan?” Oka langsung menutup kepalanya dengan bantal yang langsung ditarik Bentari lalu melemparkannya ke lantai. “Dia kenapa, Ka? Iiih, Adek! Cerita Arunika kenapa?”

“Kepo banget sih!” Oka menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh yang lagi-lagi ditarik Bentari dan senasib dengan bantal, terongok di atas lantai. “Aku ngantuk, Kak! Sana – sana!”

“Cerita dulu dia kenapa?”

Oka menghentak-hentakkan kakinya kesal, matanya menatap Bentari tajam, tapi kakaknya itu malah balik menatapnya dengan mata berbinar penasaran, seperti anak kucing.

“Ayo – ayo cerita!”

Oka menghela napas berat sebelum akhirnya duduk di atas temapt tidur, Bentari bertambah semangat dengan ikut duduk di hadapan Oka bersiap mendengar cerita yang membuatnya penasaran dari semalam.

“Dia sedang ada masalah.”

Oka mulai bercerita membuat Bentari mengangguk semangat.

“Masalah … keluarga.”

Bentari kembali mengangguk. Dia sudah bersiap menunggu kelanjutan cerita Oka yang terdiam menatapnya.

Satu … dua … tiga … bahkan setelah hitungan sepuluh Oka hanya terdiam sambil sesekali menguap atau menggaruk perutnya membuat Bentari mengangkat alis dan bertanya,

“Terus?”

“Terus apa?”

“Terus masalah keluarganya apa?”

“Ya udah itu, masalah keluarga.”

“Iya masalah keluarganya apa?”

Bentari mulai terlihat gemas membuat Oka terdiam menatapnya sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya untuk berbisik,

“Ra … ha … sia.”

Oka tertawa penuh kemenangan sambil turun dari tempat tidur menghidar dari tangan Bentari yang hendak memukulnya.

“Aku tidak bisa cerita.” Oka duduk di depan meja, menyalakan laptop kemudian menyambungkannya ke printer. “Itu terlalu … rumit.” Oka membuka file tugas yang semalam dia kerjakan dan belum sempat dicetak. Tangannya dengan cekatan mengatur margin dan setting print.

“Tapi untunglah semalam dia menghubungimu, kalau tidak … kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada dia.”

Oka terdiam. Ya, memang patut disyukuri kalau selama ini Oka mendengarkan ucapan Bentari untuk menjaga Arunika, berusaha menjadi orang yang bisa dia percaya dan semalam membuktikan kalau Oka telah mendapatkan kepercayaannya. Menjadi orang yang dia hubungi dalam kondisi terburuk gadis itu, menjadi orang yang dipercaya mendengar rahasia terbesar dalam hidupnya membuat Oka seolah memiliki tanggung jawab lain terhadap Arunika.

“Jadi selanjutnya gimana?”

Oka mengambil kertas A4 menaruhnya di printer, kemudian mengklik enter pada laptopnya dan seketika terdengar suara dari printer yang mulai bekerja.

“Aku akan mengantarnya pulang.”

“Bukankah dia sedang ada masalah di keluarganya? Bagaimana kalau di menolak?” Bentari membuka jendela kamar Oka membuat udara segar pagi hari langsung mengisi kamar Oka.

“Cepat atau lambat mereka harus membicarakan ini … ada keputusan besar yang harus dia ambil.”

“Hmmm …” Bentari bersandar di bingkai jendela dengan tangan terlipat di atas dada, matanya menatap Oka penuh selidik. “Apa masalah keluarganya mirip dengan keluarga kita? Tentu saja tanpa drama eyang, kakek, ayah, dan … aku.”

Oka menantap Bentari kemudian menggelengkan kepala. “Tidak ada yang lebih drama dari pada drama keluarga kita.”

Bentari mengangguk-anggukkan kepala. “Berarti tidak begitu berat kan?”

Oka merapihkan kertas-kertas tugasnya yang telah selesai dicetak, menyatukan lembaran-lembaran itu dengan paper clip.

“Berat dan rumit juga sih, hanya saja kalau dengan drama keluarga kita itu … berbeda genre.” Oka memasukan tugasnya ke dalam map plastik untuk dia jilid nanti. “Drama keluarga kita ada sedikit actionnya, dengan beberapa orang pemeran antagonis, yang salah satunya sudah insyaf.”

Oka tertawa melihat Bentari melotot sambil mendelik ke arahnya.

“Nah kalau Arunika itu … pure drama keluarga, tentang perselingkuhan dan efeknya.”

“Orangtuanya selingkuh?” Seketika Bentari melupakan kekesalannya kepada Oka karena menyebutnya pemeran antagonis yang sudah insyaf. “Siapa? Bapaknya? Atau ibunya?”

“Tahu nggak sih, Kak? Kakak itu sudah seperti emak-emak komplek yang suka ngegosipin teteh dulu di gerobak sayur mas Jarwo.”

“Sekarang kak Siska yang menduduki peringkat satu gossip komplek ini, karena belum juga menikah … kalau kak Siska nanti menikah, bisa-bisa aku yang jadi sasaran mereka!”

“Makanya cepat move on!”

“Ckk!”

Oka tersenyum sepanjang jalan turun ke bawah diikuti Bentari yang mulai mengutuk Birendra karena sangat susah move on dari si freezer.

Oka melihat Arunika duduk di meja makan, terlihat melamun bertemankan secangkir teh manis hangat.

“Mamah mana?” Oka menuang air putih ke dalam gelas lalu meminumnya, sedangkan Bentari sudah menghilang entah ke mana.

“Lagi ke tukang sayur,” jawab Arunika yang mendapat anggukan dari Oka.

“Hari ini kamu ada kuliah?” Oka duduk di kursi depan Arunika.

“Tidak.” Arunika menggeleng kemudian menyeruput teh manis hangat miliknya.

“Aku nanti ke kampus jam 11 ada tugas makalah yang harus dikumpulkan.” Arunika mengangguk mengerti. “Sebelum ke kampus, aku akan mengantarmu pulang.”

Arunika tersentak menatap Oka dengan mata terbelalak.

“Aku …” Arunika menggelengkan kepala.

“Kamu harus pulang, membicarakan masalah ini dengan orangtuamu.”

“Membicarakan apalagi, Bang? Semua sudah jelas.”

Oka terdiam menatap Arunika yang menatapnya berharap Oka tak mengantarnya kembali ke rumah itu. Rumah yang kini sepertinya tak layak untuk dia sebut sebagai rumahnya.

“Apa tak ada keluargamu yang menghubungimu semalam? Atau hari ini?”

Banyak! Atharya. Kakaknya, meninggalkan puluhan pesan juga panggilan tak terjawab, begitu pula dengan papahnya. Bahkan Sisil, kakak sulungnya yang kini tinggal di Makasar menanyakan keberadaannya dan juga belasan panggilan tak terjawab. Hanya Arum, yang tak mengirimi pesan, seolah tak peduli dengan keadaan dan keberadaannya saat ini.

“Mereka pasti khawatir. Jadi hari ini kamu pulang dulu ya?” Arunika terdiam, tertunduk. “Biar mereka tahu kalau kamu baik-baik saja, jadi mereka tak perlu khawatir lagi. Setelah itu kamu pikirkan baik-baik apa langkah kamu selanjutnya, kemudian bicarakan dengan mereka. Karena bagaimanapun mereka adalah keluargamu … mereka tetap orangtuamu, juga kakak-kakakmu.”

“Aku merasa kalau aku tak pantas lagi berada di rumah itu.” Arunika masih tertunduk, tanganya memainkan cangkir teh dalam genggamannya. “Selama ini bunda pasti menderita sekali setiap lihat aku.” Ada kesedihan dalam sorot mata dan suaranya. “Aku tak bisa lagi tinggal sama bunda setelah mengetahui alasan bunda bersikap dingin padaku.”

“Kamu bicarakan tentang itu dengan papah atau kakakmu. Terlepas dari yang kamu bilang semalam tentang nasab, namun yang perlu diingat ada darah yang sama yang mengalir dalam tubuhmu dengan mereka. Dan itu tak akan bisa digantikan oleh apapun.”

Seperti aku dan ayah.

Oka terdiam mengingat hubungannya dengan sang ayah yang masih belum ada perkembangan sampai sekarang … karena ego dirinya sendiri.

Ya … berbicara memang lebih mudah daripada melakukan. Sama halnya seperti mengoreksi kesalahan orang lain itu lebih mudah daripada introspeksi diri sendiri.

*****

1
Lilis Sutinah
karya yg baru mana mba ? selain Polaris tentunya
Lilis Sutinah
karya nya Kayana masig adakah selain yg ada di. Noveltoon , di appl saya baru sedikit..
darmiati thamrin
😭😭😭😭🤫🤫😭
💐Tari Nyonya Sibuea💐
bg oka berasa jd ayah2 ya😁🥰yg mau melindungi anak gadis na biar nggk terluka😁😁
💐Tari Nyonya Sibuea💐
😂😂kau nggk tau bi,mslh pura2 nggk kenl in bakal trs diungkit smpe anak cucu mu nnt🤣🤣
💐Tari Nyonya Sibuea💐
loh kang es koq maksa2 pacaran😂😂
💐Tari Nyonya Sibuea💐
Tante mayang nggk ketinggalan ya bg🥰baik bnget soalnya kan🥰
meimei
aku kira temen2 nya bakal jahat ke birendra
siska nirmala
seperti biasa kak, keren banget ceritanya
Sri Wulandari
Kegagalan rumahtangganya jg pengalaman pribadi junggkir balik dlm hidupnya yg membuat andi santoso menjadi orangtua yg bijak dlm menasehati putra putrinya
Sri Wulandari
makanya jngn suka merendahkan apalagi smpai menghina seseorang sigit apalagi qm calon pemimpin dlm pilkada....dg menghina orang yg krng mampu blm tentu apa yg kita lihat sm dg yg kita pikirkan ....bs jd dia lebih segala²nya dr kita karena d atas langit masih ada langit
malu sendiri bkn qm,.. siapa skrng yg qm lihat & tdk smua orang sprti qm yg melakukan banyak ke salahan & menghalalkan segala cara demi ambisi utk mencapai tujuan
Sri Wulandari
birendra & doni beruntung sekali mempunyai sahabat sprti fahmi yg sllu berusaha menyadarkan mereka utk bs melupakan masa lalu & saling memaafkan dg tdk terus²an tenggelam dg masa lalu itu & menyalahkan diri sendiri & jg sahabatnya....& akhirnya mereka berdua bs berdamai dg keadaan demi sebuah kebenaran yg selama ini sllu d sangkal oleh mereka berdua hanya karna rasa bersalah
Sri Wulandari
beruntung birendra sdh menceritakan kisah hidupnya yg kelam pd bentari jd ketika akan dtng masalah yg menyudutkan birendra pd masa lalunya bentari sdh tdk kaget lg yg ada dia akan sllu memberi dukungan & kepercayaan penuh pd kekasihnya itu
Sri Wulandari
benar apa kata bebinar bhi...setiap orang mmng punya masa lalu walaupun terkandang itu menyakitkan tp yg paling penting dr semua itu apakah kita akan terus tenggelam dg masa lalu itu atau kita memilih berubah menjadi orang yg lebih baik hingga siapapun itu yg melihat kita skrng tdk akan percaya klu kita pernah berada d titik terendah dr masa lalu itu menyakitkan mmng.....tp itu nyata😔

Dengan membuktikan kita bisa bangkit & menjadi lebih baik itu akan jd pelajaran berharga buat diri kita jg anak cucu kita kelak
Dan bersikaplah terbuka pd kekasihmu bhi karna kejujuran itu akan menyelamatkan mu dr segala keburukan orang² yg ingin menjatuhkanmu
Belajarlah untk saling mengerti, memahami & jg menghargai pasanganmu bhi... karna itu adalah kunci utama dr sebuah hubungan agar bs langgeng 🤗🤗
Sri Wulandari
sigit g pantas jd seorang pemimpin apapun karna dia hanya menilai & memandang seseorang dr status sosialnya sj bkn dr kualitas sesungguhnya yg d miliki setiap orang.....calon pemimpin sprti itu tak akan berhasil menjadi pemimpin yg bijak sbgai pengayom rakyat malah yg ada hanya akan menjadi aib d kemudian hari
Sri Wulandari
ternyata kekuasaan & nama besar membuat seseorang menjadi tak peduli dg orang lain mereka akan mencari & mengkambing hitamkan seseorang demi ambisi agar bs mencapai tujuan mereka....jahat sangat jahat sekali bahkan tak peduli keluargapun bs jg dia korbankan demi tujuan itu yaa... kekuasaan itu hal yg slalu d inginkan orang² yg ingin berada d puncak dg ambisi yg sangat besar

hanya orang yg pandai bersyukur sj yg tak peduli dg apapun itu karna dg bersyukur kita akan sllu merasa cukup & jg kaya bahkan kekuasaanpun tak ada artinya bagi mereka yg pandai bersyukur karna dg pandai bersyukur kita akan hidup tenang & bahagia bersama keluarga,saudara & jg teman kita

" JADI JANGAN LUPA UNTUK SELALU BERSYUKUR SUPAYA KITA BISA LEBIH PEKA & PEDULI DG ORANG LAIN"
Sri Wulandari
belajarlah dr arunika bentari walaupun trus d cuekin sm oka tp semangatnya 45 & akhirnya berhasil membuat oka menerima dirinya sbgai pasangan masa depannya 😍
Sri Wulandari
birendra beruntung msh memiliki teman² yg baik & begitu peduli dg dia smoga teman²nya bs menolong & mengeluarkan dia dr trauma masa lalunya
Sri Wulandari
kita mmng tak bs menilai seseorang hanya dg melihatnya sj tp kita harus melihat mereka dr sisi yg lain d mn setiap orang pasti punya kebaikan dlm dirinya
Sri Wulandari
mayang benar² wanita yg tulus mencintai & menerima ayah oka tanpa memandang kondisinya yg benar-benar terpuruk karna kehilangan smuanya tp demi cinta pertamanya & jg kasih sayangnya kpd bentari yg membuat dia memilih menikah dg seorang randy pria lumpuh yg tdk punya pekerjaan & d tentang keluarganya....

walaupun tau klu pria yg d nikahinya tdk mencintai dirinya tp dia ikhlas menjalani hidupnya dg sabar tp skrng telah berbuah manis hasil dr ketulusannya dlm mencintai suaminya tanpa syarat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!