Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.
Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 — Bodyguard
Selepas bertukar cerita, mereka memutuskan kembali sebelum malam tiba. Akan buruk jika mereka belum kembali dan hari sudah menggelap.
Ada kebutuhan menyiapkan api dan makanan yang membutuhkan waktu tidak sedikit. Beruntungnya air sudah teratasi, mereka tidak perlu susah payah mendesalinasi air.
“Akhirnya sampai, aku ingin segera beristirahat setelah semua hal melelahkan ini,” ujar Zain selagi meregangkan tubuhnya.
Meski terdengar seperti pemalas, nyatanya semua memiliki perasaan yang sama. Mereka cukup kelelahan selepas bermain air di sungai. Bahkan Ren menyetujui usulan Zain untuk cepat-cepat istirahat.
“Ya, mau bagaimana lagi. Kita telah banyak melakukan hal selama beberapa hari ini. Lalu, tidak terasa sudah hampir satu minggu kita tinggal di pulau ini.” Laura tersenyum senang sambil menghitung hari.
Ren tidak benar-benar menghitungnya, kemungkinan sudah lima atau enam hari semenjak mereka tiba di pulau ini. Bukan hal baik atau buruk, mengetahui hal itu justru mendatangkan kekhawatiran lain dalam benaknya.
‘Belum ada tanda-tanda bantuan akan datang. Jika begini terus, keadaan akan semakin buruk.’
Dimulai dari makanan dan tempat tinggal masih belum sepenuhnya teratasi. Selain itu, Ren juga mengkhawatirkan shelter mereka yang mungkin terlalu rapuh untuk menghadapi cuaca dan angin kencang.
Benar saja, saat mereka keluar dari pepohonan dan mencapai perkemahan, yang mereka temukan adalah tempat yang sangat berantakan. Perkemahan yang mereka buat kini hancur berantakan.
“Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi?!” seketika Zain menjadi marah melihat perkemahan hancur.
“Mengapa ini terjadi? Orang kejam macam apa yang tega melakukannya?!” bahkan Laura yang tenang menjadi marah.
“Jika membahas orang, hanya ada Anastasia dan Clarissa yang mungkin!” Mirai menyebutkan orang lain selain mereka yang ada di pulau ini.
“Mengapa mereka begitu kejam?” Theresia terlihat seperti ingin menangis, namun dia tetap berusaha tegar.
Ren sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak ingin berpikir bahwa ini adalah tindakan jahat yang dilakukan Clarissa. Lagipula ini pulau terpencil yang tidak berpenghuni, apapun bisa saja terjadi.
“Kita tidak boleh ambil kesimpulan begitu saja. Apapun bisa terjadi, mungkin karena angin laut yang kencang menghempaskan perkemahan kita,” ujar Ren yang terlihat sedikit putus asa.
Ren tahu bahwa shelter yang mereka bangun teramat rapuh dan bisa hancur oleh angin kuat, namun dia tidak berharap ini benar-benar terjadi. Selain itu, jika angin laut yang kuat benar-benar datang, mengapa dia tidak merasakannya?
Tergantung keadaannya, angin laut memberikan kabar buruk. Tidak sedikit para nelayan menggunakan angin laut untuk memperkirakan cuaca dan ketenangan ombak. Badai adalah sesuatu yang perlu diwaspadai seluruh nelayan.
“Akan bagus jika itu benar angin laut. Namun apakah itu bisa menjelaskan mengapa persediaan makanan kita hancur seperti ini?” Laura menunjuk apel hancur serta kelomang yang tidak lagi di toplesnya.
Wajah Ren semakin buruk, dia lekas menyadari bahwa ini bukanlah perbuatan alam, melainkan manusia. Mengapa mereka begitu tega melakukan sesuatu semacam ini?
“Tidak salah lagi, ini pasti perbuatan mereka!” ungkap Theresia dengan kesal.
“Awalnya aku berniat mengabaikan mereka, namun sepertinya itu percuma saja, ya.” Zain mengepalkan tinjunya dengan kesal.
Mereka memiliki satu pemikiran yang sama tanpa perlu mengungkapkan satu sama lainnya, dan itu adalah mendatangi langsung perkemahan si tersangka.
Ren mengikuti mereka dalam hening, doa tidak berniat bertukar pikirannya untuk saat ini. Lagipula kepalanya dihantui sangat banyak hal yang perlu dipikirkan. Karena itulah dia yang harus dia lakukan saat Ini hanyalah mengikuti arus.
Butuh beberapa menit bagi mereka untuk sampai ke sisi lain pulau, tempat perkemahan lain yang berada cukup jauh dari tempat mereka. Dengan kondisi mereka yang cukup lelah, butuh usaha lebih untuk mencapainya.
“Akhirnya sampai.” Mirai menatap dengki perkemahan di depannya.
Mereka menemukan Clarissa sedang berbaring santai di sebuah kasur, sementara Anastasia menyerahkan pangkuannya sebagai bantal dengan wajah sedikit merona.
“Bisakah kamu tidak menggoyangkan kepalamu, noma Clarissa? Pahaku geli tidak karuan karenanya.” Anastasia menggeliat seperti ulat.
“Ini hukumanmu karena menentangku, atau mungkin kamu menginginkan hukuman lain?” Clarissa tersenyum geli dan nampak menantikan untuk melakukannya.
Mereka belum menyadari keberadaan Ren dan yang lainnya beberapa saat lalu, sampai Mirai menyerukan keluhannya.
“Aku tidak tahu permainan macam apa yang kalian lakukan. Namun bisakah kamu menjelaskan arti dari tindakanmu menghancurkan perkemahan kami?” Mirai bertanya dengan geram.
Tidak hanya dia, namun gadis lain dan bahkan Zain ikut marah. Ren mungkin tidak masalah, namun akan menjadi gawat jika Zain sampai melakukan kekerasan kepada wanita.
“Ara? Sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang yang pastinya akan datang.” Clarissa tersenyum seperti iblis kecil dan berdiri menghadap Mirai.
Anastasia bertindak sama, justru dia berdiri satu langkah di depan Clarissa untuk bersiap melindunginya. Dia sangatlah sadar jika konfrontasi terjadi, Ren dan Zain akan lebih banyak menyulitkan mereka.
“Kalau kamu berkata seperti itu, nampaknya kamu memang sudah menduga kami akan datang, ya.” Laura memperjelas maksud Clarissa.
“Mengapa, mengapa kamu menghancurkan perkemahan yang susah payah kami bangun? Memangnya kami pernah mengusikmu dan perkemahanmu?!” Theresia menaikkan suaranya.
Clarissa tidak benar-benar menanggapi dengan serius, dia justru menutup telinganya seakan-akan sakit karena sesuatu.
“Orang udik selalu sama saja, kalian terus saja menggonggong tidak karuan. Membuat telingaku menjadi sangat sakit, tidak bisakah kalian pergi dari sini?” Clarissa mengusir Ren dan kelompoknya dengan tangannya.
“Jangan coba mengelak dan jawablah pertanyaan kami!” Mirai semakin geram dengan tindakan Clarissa.
Ren dan Zain hanya diam dan mengamati. Mereka belum berpikir harus bertindak sekarang, sementara Ren mengamati tindak-tanduk Clarissa dan Anastasia.
Tatapannya sekilas bertemu dengan Clarissa, namun untuk beberapa hal Clarissa tidak menatap Ren lebih lama dan mengalihkan tatapannya ke Mirai.
“Memangnya kenapa? Baik itu aku yang melakukannya atau angin laut, kandang anjing seperti itu akan tetap hancur cepat atau lambat. Bahkan kandang anjing itu bisa saja hancur saat kalian tertidur. Setidaknya gunakanlah kreatifitas jika ingin membangunnya.” Clarissa memberikan senyuman mengejek.
Mirai semakin naik pitam mendengar jawaban yang diberikan Clarissa. Dia tidak berpikir Clarissa akan memberikan permintaan maaf, justru dia merendahkan usaha Ren dan yang lainnya dengan menyebut perkemahan sebagai ‘Kandang Anjing.’
“Diberi hati malah minta jantung, kamu ******!” Mirai mengumpat keras.
“Bahkan jika itu situasi hidup dan matiku, tidak sedikitpun aku sudi menggunakan hati orang udik. Akan jauh lebih baik bagiku menggunakan hati kera ketimbang orang sepertimu, hahaha!”
Mendengar hal itu Mirai tidak lagi berteriak, namun dia bertindak. Tangannya yang terbuka lebar dengan cepat terulur menuju wajah Clarissa. Sebelum sempat mengenainya, sebuah tangan lain menahannya dengan kuat.
“Ugh!” Mirai sedikit menjerit.
“Aku tidak akan membiarkan tindakan lebih lanjut dan kekerasan terhadap nonaku.” Anastasia menatap sinis selagi menahan pergelangan tangan Mirai dengan kuat.
“Kamu! Dasar lat—” Mirai tidak menyelesaikan kalimatnya saat Anastasia bergerak memutar dan berhasil menjatuhkannya ke tanah.
Mirai terjatuh tengkurap dan tangannya di tahan oleh Anastasia. Pergerakannya dengan cepat terkunci oleh kecakapan Anastasia. Tidak perlu diragukan lagi, Anastasia adalah bodyguard terlatih yang disiapkan untuk menjadi pengawal Clarissa Lancaster.