Teratai Putih adalah nama sebuah desa terpencil yang letaknya jauh dari pusat keramaian kota di kekaisaran Han. Meski terletak jauh dari pusat ibu kota, namun penduduk desa Teratai Putih hidup rukun dan sejahtera berkat sumber daya alam yang melimpah.
Hingga suatu saat kedamaian desa Teratai Putih terusik oleh kehadiran kelompok perampok dan pendekar aliran hitam yang datang untuk merampas harta benda seluruh warga desa.
Penduduk desa yang awalnya hidup rukun penuh dengan ketentraman, terpaksa melewati hari-hari berselimut ketakutan yang mencekam.
Chi wei adalah seorang anak petani dari desa Teratai Putih. Dia bersama dua orang sahabatnya Tao Ming dan Yan San, setiap hari menghabiskan waktunya untuk berburu. Disaat anak-anak sebayanya sibuk belajar dan berlatih ilmu bela diri, mereka bertiga akan pergi ke hutan untuk berburu hewan liar dan berbagai macam tanaman obat. Hasil dari perburuan tersebut nantinya akan mereka jual ke tengkulak yang ada di desa Teratai Putih.
Hingga suatu ketika di sebuah hutan belantara, chi wei mengalami fenomena yang merubah jalan hidupnya. Takdir hidup yang membuat dia menjadi seorang pendekar berilmu tinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa Petruk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cha 23 - Berlatih Di Air Terjun
Setelah Tao Ming, Yan San dan si kembar berada di bawah air terjun, lalu kemudian Chi Wei mengangkat sebelah telapak tangannya.
Wush.....
Dalam sekejap mata muncul pedang berlian biru dalam genggamannya. Kemudian Chi Wei menancapkan pedang tersebut ke dalam sungai tempat di mana Tao Ming, Yan San dan si kembar berendam.
Seketika itu air sungai tersebut dipenuhi kilatan-kilatan petir berwarna biru keemasan yang menjalar keseluruh tubuh empat remaja yang saat ini tengah berendam di sana.
Tubuh Tao Ming, Yan San dan si kembar pun bergetar hebat. Sementara itu Chi Wei hanya menyaksikan dari pinggir sungai sambil berjaga-jaga.
Waktu pun terus berganti. Tiga hari telah berlalu. Dirasa sudah cukup, Chi Wei mengambil kembali pedang berlian biru dari dasar sungai lalu menyimpannya lagi menyatu dengan tubuhnya. Saat pedang tersebut diambil, seketika itu juga kilatan-kilatan petir berwarna biru keemasan pun seketika menghilang.
Tao Ming, Yan San dan si kembar merasakan hal aneh dalam dirinya. Tubuh mereka terasa begitu ringan dan sangat bertenaga.
"naik dan keringkan tubuh kalian." Chi Wei berteriak sambil duduk di depan api unggun dekat gubuk sambil menyiapkan beberapa ekor ayam hutan.
Tao Ming, Yan San dan si kembar berjalan mendekat kearah pendekar tampan tersebut.
"kalian makan lah dulu, selesai makan kita akan melanjutkan latihan berikutnya." Chi Wei berkata sambil berjalan menuju gubuk lalu kemudian duduk di sana.
Sementara itu Tao Ming,Yan San dan si kembar langsung menyantap ayam bakar yang telah disiapkan Chi Wei dengan sangat lahap.
Berhari-hari tidak makan dalam keadaan tubuh terendam di air, membuat mereka merasakan lapar yang teramat sangat.
Chi Wei hanya tersenyum geli sambil menggelengkan kepala menyaksikan dua sahabat dan adik kembarnya itu makan dengan lahap.
Hanya dalam hitungan beberapa menit saja, 6 ekor ayam hutan yang disiapkan Chi Wei sudah habis mereka santap.
"apa kalian msih lapar?" tanya Chi Wei setelah Tao Ming, Yan San dan si kembar duduk bersila di hadapannya.
"sebenarnya iya..." jawab Yan San tersipu malu.
"makanlah buah ini." ucap Chi Wei sambil memberikan mereka berempat masing-masing satu buah apel berwarna biru keemasan.
"kak, ini buah apa? kok warnanya aneh?" tanya Chi Mexia dengan raut wajah penuh rasa heran.
"ini namanya buah abadi, kalian tidak akan menemukannya di tempat lain. Buah ini khasiatnya ratusan kali lipat dari pil yang kalian makan sebelumya." ucap Chi Wei menjelaskan.
"kalau buah ini dimakan oleh kalangan orang biasa, tubuh orang itu bisa meledak. Berhubung dalam tubuh kalian telah terdapat tenaga dalam yang cukup, buah ini aman jika dimakan oleh kalian. Malah ini akan meningkatkan vitalitas tubuh kalian sekaligus meningkatkan tenaga dalam kalian juga."
"uhuk....uhuk...." tiba-tiba Tao Ming tersedak saat mendengar penjelasan Chi Wei sambil memakan buah tersebut.
"Ming'er, coba sekarang kau hancurkan batu itu menggunakan tanganmu." Chi Wei berkata kepada Tao Ming sambil menunjuk sebongkah batu berukuran sedang di pinggir sungai.
"Dengan tangan kosong?" Tanya Tao Ming sambil mengangkat kedua alisnya.
"ya, lakukanlah!" jawab Chi Wei singkat.
Tao Ming pun langsung berjalan menghampiri batu tersebut.
Boom.....
Hanya dalam satu kali percobaan saja batu tersebut hancur berkeping-keping. Hal itu membuat Yan San dan si kembar berdiri mematung dengan mulut terbuka.
"Wow...ini sangat hebat." gumam Tao Ming seraya tersenyum bangga.
"San'er, Lin'er, Xia'er, apa kalian ingin mencobanya?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari Chi Wei, Yan San dan si kembar langsung beranjak memilih batu masing-masing.
Boom...Boom...Boom...
Ledakan demi ledakan terdengar silih berganti seiring hancurnya tiga buah batu berukuran besar yang di pukul oleh Yan San dan si kembar.
Tiba-tiba suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei.
"Wei'er, sepertinya kau tidak perlu mengirim mereka ke sebuah sekte. Aku rasa kau mempunyai kemampuan untuk melatih mereka. Bahkan dengan segenap kemampuan yang kau miliki dan harta benda yang terdapat dalam cincin dimensimu, kau bisa membangun sektemu sendiri."
"tapi Guru....." jawab Chi Wei membatin.
"Muridku, kau tidak perlu khawatir, aku akan senantiasa membantumu." lanjut Lung Huo meyakinkan muridnya tersebut.
"Baiklah Guru, aku akan memikirkannya lagi nanti."
"sebaiknya kalian secepatnya kembali ke desa, karena sebentar lagi kau akan kedatangan tamu tak diundang." ucap Lung Huo sebelum menghilang dari pikiran Chi Wei.
Chi Wei lalu menyuruh Tao Ming, Yan San dan si kembar untuk duduk bersila di hadapannya.
"Wei'er, dengan kekuatan seperti ini rasanya kau tidak perlu lagi mengirim kami ke sebuah sekte. Aku yakin kau mampu melatih kami. Katakan saja apa yang harus kami lakukan untuk meningkatkan kekuatan, dengan senang hati kami akan melakukannya." ungkap Tao Ming yang di ikuti anggukan kepala oleh Yan San dan si kembar sebagai tanda setuju atas apa yang di sampaikan Tao Ming.
"untuk masalah itu akan kupikirkan lagi nanti, sekarang konsentrasilah."
Chi Wei kemudian menempelkan telunjuknya ke kening Tao Ming, seketika itu juga mata Tao Ming tertutup rapat dan tubuhnya bergetar hebat.
Saat itu yang Chi Wei lakukan adalah mentransfer jurus-jurus silat yang terkandung dalam kitab pusaka teratai putih melalui pikirannya.
Hal yang serupa Chi Wei lakukan juga kepada Yan San dan si kembar.
"sekarang coba kalian tutup mata dan konsentrasi. lihat apa yang baru saja aku kirim ke dalam pikiran kalian. Itu adalah jurus-jurus silat tingkat tinggi. Pilih jurus mana yang menurut kalian cocok dengan diri kalian, pelajari dan berlatihlah sampai kalian menguasai jurus tersebut dengan sempurna. Setelah itu, kalian boleh mencoba melatih jurus yang lain. Cepat atau lambatnya kalian menguasai jurus yang kalian pilih tergantung semangat dan keseriusan kalian dalam berlatih."
"aku sarankan mulailah dari jurus yang paling mudah menurut kalian." lanjut Chi Wei menutup penjelasannya.
"apa aku bilang, kau memiliki kemampuan untuk melatih kami. Dan aku juga tidak keberatan jika mulai saat ini memanggilmu dengan sebutan Guru. hahahaha." ucap Tao Ming sambil tertawa menggoda Chi Wei.
"hhhhhh...kau ini. lupakan niatmu itu. aku tidak mau kau memanggilku dengan panggilan itu." jawab Chi Wei melotot ke arah Tao Ming.
"sudahlah, sebaiknya kita pulang. terlalu lama di tempat ini nanti penduduk desa mengira aku menghilang lagi."
Lalu kelima muda mudi tersebut bergegas pergi meninggalkan air terjun menuju desa Teratai Putih.
Sepanjang perjalanan pulang, Chi Wei mengajari ilmu meringankan tubuh tingkat dasar. Dengan beberapa kali percobaan, Tao Ming, Yan San dan si kembar telah mampu melompat dari dahan pohon satu ke pohon yang lain meski belum secepat Chi Wei.
Namun itu sudah cukup membuat mereka berempat merasa senang.
Sesampainya mereka berlima di perbatasan desa, tiba-tiba Chi Wei menghentikan langkahnya. Dia mendengar suara hentakkan kaki kuda dalam jumlah yang cukup banyak.
Dengan pendengarannya yang sangat tajam ia mampu mendengar sesuatu dari jarak yang sangat jauh.
"kalian pulang lebih dulu, aku ada urusan sebentar. kalian berjaga-jaga lah di pintu utama desa, tapi jangan melakukan pergerakan yang membuat penduduk desa curiga."
Wush.....
Setelah berkata demikian tubuh Chi Wei melesat dengan kecepatan yang tak bisa di lihat oleh mata, hingga membuat ia seolah-olah menghilang dari pandangan.
Sementara itu tanpa pikir panjang lagi, Tao Ming, Yan San dan si kembar langsung melakukan apa yang disuruh pendekar berambut biru tersebut.