Kebiasaan buruknya dalam berjudi, membuat dirinya terpuruk dalam kesulitan.
Di kejar kejar Dep colector kelas mafia, membuat hidupnya, mati segan hidupu pun tak mau.
Hingga di penghujung kebuntuanya, Dylan harus bertarung melawan para Dep Colector hingga membuat nyawanya melayang.
Ikuti terus kisahnya Cuy .... Ok.
Klik favorite dan kasih like and ratenya juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPEPET
Seteleh mendengar kabar bahwa sahabatnya masuk rumah sakit, Erick tidak serta merta langsung menuju rumah sakit. Dirinya memilih menyempatkan mengecek rumahnya terlebih dahulu.
Dan benar saja, ketika Erick sampai rumahnya. Ternyata Surono tidak mengunci pintu rumahnya.
Erick berlari menuju ruang makan, dan benar saja dugaanya, ternyata nasi goreng yang telah di siapkanya untuk Surono, masih utuh beserta obat yang ia letakan di sampingnya.
Setelah mengambil beberapa keperluan yang di anggapnya penting, Erick kembali keluar dan mengunci pintu rumahnya.
Next Skip ...
Erick kini telah sampai di rumah sakit, dan ternyata di sana juga sudah ada Bu Sapta yang sudah menunggu Surono lumayan lama.
"Maafkan saya, Bu. Saya terlambat." ucap Erick pada Bu Sapta.
"Sudahlah, nak. Yang penting sekarang Surono sudah di tangani tim medis." jawab Bu Sapta yang masih terlihat cemas di dalam wajahnya.
"Apa Dokter sudah memberitahu tentang keadaan Suro saat ini?" tanya Erick.
"Entahlah, nak. Sampai saat ini Dokter belum memberitahukan sama sekali kepada Ibu." jawab Bu Sapta.
"O ya, Erick. Dari tadi Ibu tidak melihat si kembar, kemana mereka?" tanya Bu Sapta.
"Ibu tidak usah khawatir, untuk sementara ini, saya titipkan mereka pada teman saya, Bu." jawab Erick.
Di tengah obrolan antara Bu Sapta dan Erick, tiba tiba saja seorang suster datang menjeda perbincangan mereka.
"Maaf, dengan Bapak Erick saya bicara?" tanya Suster.
"I ya, benar Sus. Saya yang bernama Erick." Erick membenarkan pertanyaan Suster.
"Baiklah, mari ikut keruangan Dokter. Anda sudah di tunggu di sana." ajak Suster tersebut pada Erick.
"Bu, saya titip Suro sebentar ya." ucap Erick sambil memegang pundak Bu Sapta.
"I ya, nak. Tenang saja, Ibu akan tetap disini." Bu Sapta mengangguk.
Setelah itu, Erick melangkah mengikuti kemana arah Suster itu melangkah. Dan tak berselang lama itu juga, akhirnya mereka berdua sampai di depan pintu ruangan sang Dokter yang menangani Surono.
"Mari Pak, kita masuk." ucap Suster yang telah mengetuk pintu ruangan Dokter.
Erick hanya mengangguk dan mengikutinya lagi dari belakang.
Di dalam ruangan Dokter, ternyata Dokter yang menangani Surono sudah terlihat duduk dengan wajah yang terlihat sangat serius.
"Dengan Bapak Erick?" Dokter tersebut mengajak berjabat tangan dan mempersilahkan Erick untuk duduk.
"I ya, betul Dok. Terima kasih." Erick mengangguk dan kini duduk di kursi yang telah di sediakan.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak. Disini saya mungkin tak akan berbasa basi lagi, karena keadaan pasien kini makin memburuk." jelas sang Dokter.
"Maksud, Dokter?" tanya Erick yang makin terlihat cemas.
"Pak, sudah saatnya kami mengambil langkah serius melalui operasi kepada pasien." jelas Dokter.
Erick bangun dari tempat duduk dan berpindah menghampiri sang Dokter.
"Saya mohon, Dok. Lakukan apa saja yang terbaik untuk kesembuhan sahabat saya." Erick bersujud memohon pada Dokter.
Dokter kaget dan segera membangunkan Erick dari sujud permohonan kepadanya.
"Jangan seperti itu, Pak. Kami berjanji, kami akan berusaha sekuat tenaga kami untuk membantu nyawa pasien." ucap Dokter sambil mendudukan kembali Erick pada tempat duduknya semula.
Dokter memberikan beberapa berkas penting untuk di baca dan ikuti Erick sebelum melakukan operasi kangkernya.
Erick terkejut setelah membaca dan mengetahui, bahwa Surono harus di operasi di luar negeri. Dan jelas itu akan memakan biaya tidak sedikit.
Namun semua itu, tidak membuat Erick gentar sama sekali.
Harta dan rumah masih bisa di cari, tapi tidak untuk nyawa seorang sahabat terbaik sepertimu Suro.
"Bagaimana, Pak. Apa anda menyetujuinya?, kami tidak memiliki banyak waktu lagi." tegas Dokter pada Erick.
"Lakukan semua yang menurut anda terbaik, Dok. Untuk Biaya beri saya waktu 2 hari." jawab Erick, seraya menanda tangan berkas yang telah di berikan padanya.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu, kami bisa bekerja kembali." ucap Dokter.
Erick menganngguk dan berpamitan, kini dirinya terlihat melangkah ke luar untuk kembali menuju tempat di mana Bu Sapta berada.
Di tempat Bu Sapta berada, Erick langsung di hujani beribu pertanyaan oleh Bu Sapta, dan Erick menjelaskan apa yang telah di sampaikan Dokter padanya.
"Semoga, Ibu tidak menyalahkan keputusan yang akan ku ambil ini." ucap Erick yang terlihat putus asa.
"Apa kau akan menjual rumah Surono, untuk semua biaya ini?" tanya Bu Sapta yang terlihat kaget.
"Maafkan Erick, Bu. Erick tak punya jalan lain lagi." Erick menangis menunduk di hadapan Bu Sapta.
"Maafkan Ibu nak, Ibu belum bisa membantumu." jawab Bu Sapta sambil memeluk Erick.
"Bu, Erick titip Suro. Erick harus kembali ke rumah dulu untuk mengurus segala sesuatunya.
Erick berlari meninggalkan Bu Sapta yang menangis tak berdaya menghadapi semua ujian ini.
SKIP ...
Sesampai di rumah, Erick langsung menuju kamar Surono. Dirinya langsung membuat selebaran catatan yang berisikan 'Rumah ini di jual cepat' dengan kertas yang telah di cetaknya melalui mesin printer.
Tak hanya itu, setelah selesai menempel kertas pengumuman bahwa rumahnya akan di jual, dia juga membawa motor yang di berikan Surono padanya untuk di jadikanya uang tambahan.
semoga kalian selalu bahagia.. 🥰🥰😍
lanjut baca👍👍
ngangkang tuh jalan
ko tamat