Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Peringatan Untuk Ethan Hale
Lampu kamar hotel itu padam sepenuhnya. Di balik jendela yang tertutup tirai, cahaya kota hanya menyisakan semburat tipis yang nyaris tidak berarti. Kamar luas tersebut sunyi, hanya diisi dengkuran berat seorang pria yang terbaring di atas ranjang.
Ethan Hale tidur tanpa menyadari bahwa malam itu akan mengubah hidupnya.
Setelah menghabiskan cukup banyak minuman beralkohol, ia bahkan tidak menyadari pintu kamarnya terbuka perlahan. Dua sosok berpakaian hitam memasuki ruangan tanpa menimbulkan suara berarti. Wajah mereka tertutup, tangan mereka dilindungi sarung tangan hitam, dan sepatu yang dikenakan tidak mengeluarkan bunyi mencolok ketika menapak lantai.
Lyssandra Celestine Vale menutup pintu kembali, kemudian mengamati keadaan kamar dengan saksama. Di sampingnya, Darian Elviero Pramudita melakukan hal serupa. Keduanya sudah terbiasa bergerak dalam situasi minim cahaya. Kegelapan bukan penghalang bagi mereka.
Tatapan Lyssandra akhirnya berhenti pada pria yang masih terlelap di atas ranjang.
Ethan.
Pria yang selama ini bersembunyi di balik nama keluarga Hale, tetapi kehilangan kehormatan setelah keserakahannya sendiri terbongkar. Pria yang menggelapkan uang Lydia Ardent, berselingkuh dengan Vivian Monet, dan kini berani merencanakan sesuatu terhadap Nara Aeris.
Bibir Lyssandra melengkung tipis di balik penutup wajahnya.
Rupanya, Ethan belum juga belajar dari kehancurannya.
Darian menoleh kepadanya, lalu mengisyaratkan agar mereka segera berpisah. Tanpa perlu banyak bicara, keduanya sudah memahami tugas masing-masing.
Lyssandra bergerak menuju ranjang, sedangkan Darian berjalan ke meja kerja di sudut kamar.
Di atas meja itu terdapat sebuah laptop milik Ethan. Darian menarik kursi dengan hati-hati, duduk, lalu membuka perangkat tersebut. Sementara itu, Lyssandra berdiri di samping ranjang, memandangi pria yang masih tidur pulas.
Ia tidak berniat membuang waktu.
Lyssandra mencengkeram kerah pakaian Ethan, lalu menariknya dengan paksa hingga pria itu terguling dari ranjang.
Tubuh Ethan menghantam lantai.
"Akh!"
Ethan terbangun dengan napas tersentak. Kepalanya masih terasa berat akibat alkohol, sementara rasa sakit dari benturan membuatnya sulit memahami apa yang sedang terjadi. Ia berusaha bangkit, tetapi sebuah tendangan telak menghantam sisi tubuhnya dan membuatnya kembali terjatuh.
"Apa—"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Lyssandra sudah mencengkeram kerahnya lagi.
Ethan berusaha meronta. "Siapa kamu?! Apa yang kamu inginkan?"
Lyssandra tidak menjawab. Ia menyeret Ethan melintasi lantai menuju pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar hotel tersebut. Pria itu mencoba mencengkeram tepi meja dan meraih benda-benda di dekatnya, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan Lyssandra.
Tubuh Ethan diseret melewati pintu kamar mandi hingga akhirnya terbanting di dekat bak mandi.
Rasa sakit membuatnya meringis. Ia mencoba merangkak menjauh, tetapi Lyssandra segera menginjak bagian belakang kakinya, menghentikan gerakannya.
"Kamu benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kamu ganggu, bukan?" Suara perempuan itu terdengar dingin.
Ethan terdiam sesaat.
Ia tidak mengenali suara tersebut. Dalam pencahayaan yang minim, ia juga tidak dapat melihat wajah orang yang menyeretnya. Yang bisa ia rasakan hanyalah ketakutan yang perlahan mengalahkan pengaruh alkohol dalam tubuhnya.
"Aku punya uang," katanya tergesa-gesa. "Kalau kamu menginginkan uang, kita bisa membicarakannya. Aku bisa membayarmu!"
Lyssandra tertawa pendek tanpa sedikit pun kehangatan.
"Uang?"
Ia mencengkeram rambut Ethan dan memaksanya mendongak.
"Kamu pikir semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan uang?"
Sebelum Ethan sempat menjawab, Lyssandra menghantam wajahnya. Pria itu terhuyung ke samping, tangannya refleks menutupi wajah. Namun, pukulan berikutnya kembali mendarat, membuatnya kehilangan keseimbangan.
Ethan jatuh terduduk di lantai kamar mandi.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa orang di hadapannya bukan seseorang yang datang sekadar untuk menakut-nakutinya.
Orang ini benar-benar berniat membuatnya membayar.
Sementara itu, Darian tetap berada di kamar utama.
Cahaya layar laptop menerangi sebagian wajahnya yang tertutup. Ia bekerja dengan tenang, menelusuri informasi keuangan yang tersimpan dalam perangkat milik Ethan. Sesekali, ia memeriksa ponsel pria itu untuk mencocokkan sejumlah informasi, kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
Tidak ada gerakan yang dilakukan secara tergesa-gesa.
Darian menemukan catatan transaksi, dokumen perusahaan, serta sejumlah informasi yang berkaitan dengan dana milik Lydia Ardent. Di antara semuanya, terdapat jejak dana sebesar tiga puluh miliar Lyr yang sebelumnya digelapkan Ethan melalui perusahaan tersembunyinya.
Uang tersebut bukan milik Ethan.
Lydia telah mempercayakan dananya kepada pria itu untuk kepentingan investasi. Namun, Ethan justru memanfaatkan kepercayaan tersebut demi keuntungan pribadi, menyembunyikan sebagian transaksi, dan menggunakan hubungan bisnis mereka untuk menutupi perbuatannya.
Darian mengamati catatan yang terbuka di layar.
"Serakah sekali," gumamnya.
Tiga puluh miliar Lyr bukan jumlah yang bisa dianggap sepele. Terlebih lagi, uang tersebut hanya satu bagian dari persoalan keuangan Ethan.
Darian melanjutkan pemeriksaan, mencatat informasi yang relevan, serta mengumpulkan dokumen yang dapat membantu mengungkap dugaan pelanggaran hukum pria itu. Bukti-bukti yang ditemukan disiapkan untuk diserahkan kepada pihak berwenang melalui jalur yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, dana yang berhasil diidentifikasi sebagai hasil penggelapan telah menjadi sasaran pemulihan. Sejumlah aset dan dana yang berkaitan dengan transaksi tersebut dipindahkan ke rekening luar negeri di bawah kendali Lyssandra untuk diamankan, termasuk tiga puluh miliar Lyr milik Lydia Ardent.
Tentu saja, Darian tidak menganggap seluruh uang yang ada dalam rekening Ethan sebagai milik Lydia. Dana yang dapat diidentifikasi dan dikaitkan dengan kejahatan itulah yang menjadi prioritas, sementara catatan transaksi serta dokumen pendukungnya tetap disimpan sebagai bukti.
Ethan mungkin mengira dirinya telah menyembunyikan semuanya dengan baik.
Sayangnya, ia terlalu percaya diri.
Darian menutup satu dokumen, lalu beralih ke informasi berikutnya. Semakin lama ia memeriksa, semakin jelas gambaran mengenai berbagai transaksi mencurigakan yang dilakukan Ethan.
Namun, ada satu hal yang lebih menarik perhatiannya.
Nama Nara Aeris muncul dalam informasi yang berkaitan dengan rencana Ethan berikutnya.
Tatapan Darian berubah dingin.
Ia segera memastikan informasi tersebut tersimpan bersama bukti-bukti lain. Setelah itu, ia memeriksa kembali keadaan ruangan, memastikan tidak ada barang yang berpindah dari tempat semula.
Laptop tetap berada di atas meja. Ponsel Ethan kembali ke posisi awalnya.
Darian tidak membawa perangkat pribadi tambahan untuk melakukan pekerjaannya. Ia menggunakan laptop milik Ethan, lalu memastikan tampilannya kembali seperti sebelum ia mengaksesnya.
Setelah selesai, ia bangkit dari kursi dan mengalihkan perhatian ke arah kamar mandi.
Dari balik pintu terdengar suara benturan, disusul erangan kesakitan.
Darian melirik jam tangannya.
Lyssandra tampaknya belum selesai.
Di dalam kamar mandi, Ethan sudah tidak mampu berdiri dengan tegak.
Wajahnya terasa nyeri, bibirnya terluka, dan napasnya tersengal-sengal. Ia mencoba merangkak menjauh dari perempuan berpakaian hitam itu, tetapi Lyssandra kembali menariknya hingga tubuhnya terhenti di samping bak mandi.
"Aku tidak tahu siapa kamu!" Ethan berteriak dengan suara serak. "Kalau aku pernah menyinggungmu, kita bisa menyelesaikannya baik-baik!"
Lyssandra menatapnya tanpa ekspresi.
"Benarkah?"
Ethan mengangguk cepat. "Ya! Aku bisa memberikan apa pun yang kamu inginkan. Uang, saham, perusahaan—sebutkan saja!"
"Kamu masih saja memikirkan uang."
Lyssandra mencengkeram kerahnya, lalu menariknya hingga wajah mereka berdekatan.
"Dengarkan baik-baik. Ada seseorang yang seharusnya tidak pernah kamu sentuh."
Ethan menatapnya dengan ketakutan.
"Nara Aeris."
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor