NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Raga yang Mendingin

Waktu di dunia nyata tidak pernah peduli pada jeritan jiwa yang terpenjara di perut bumi. Ketika jarum jam dinding di ruang tengah kediaman Rahayu bergeser kaku melewati pukul delapan malam, sisa-sisa kehangatan manusia di dalam kamar Sekar seakan runtuh, menguap habis digantikan oleh hukum biologis makhluk berdarah dingin.

Di atas ranjang kapuknya, tubuh raga Sekar masih terbujur dalam posisi simetris yang mengerikan. Kulitnya yang semula kuning langsat kini telah bertransformasi menjadi putih keabu-abuan, kusam, dan kering seumpama kertas semen yang lama terjemur.

Bintang, yang masih bertahan duduk bersila di sisi ranjang, bisa merasakan perubahan ekstrem itu merayap melalui udara yang dihirupnya. Setiap kali dia mengembuskan napas, uap putih tebal keluar dari mulutnya—sebuah anomali gila, mengingat malam itu wilayah Jawa Timur sedang dikepung cuaca kemarau yang gersang.

"Bintang... tangannya, Bintang... lihat tangan anakku..."

Suara Rahayu pecah menjadi rintihan parau dari sudut lantai. Wanita tua itu merangkak dengan lutut yang gemetar, tidak berani berdiri tegak karena langit-langit kamar seolah ikut menekan ke bawah. Jarinya yang keriput menunjuk kaku ke arah jemari tangan kanan Sekar yang bersedekap di dada.

Bintang mempertajam tatapannya. Jantungnya berhantam kasar di balik rongga dada.

Di bawah pendaran lampu bohlam lima watt yang mulai berkedip-kedip tidak stabil, sepuluh kuku jari tangan Sekar telah berubah total. Bentuknya tidak lagi melengkung melubangi daging ari manusia. Kuku-kuku itu memanjang secara tidak wajar, mengeras, dan melengkung runcing seperti cakar predator dengan warna hitam pekat yang berkilat aneh.

Yang paling mengerikan adalah apa yang merembes dari sela-sela kutikula yang pecah.

Bukan darah merah. Melainkan sejenis cairan bening kekuningan, bertekstur kental seumpama minyak, yang keluar setetes demi setetes. Cairan itu meleleh lambat, menyusuri punggung tangan Sekar sebelum akhirnya menetes ke atas kain seprai putih yang kini telah berubah warna menjadi kekuningan akibat noda korosif.

Begitu cairan itu menyentuh serat kain, terdengar suara desisan halus cheesss... disusul uap tipis yang menguar. Kain seprai itu berlubang, hangus seperti terkena tetesan asam pekat. Bau yang meletus dari cairan itu seketika merajai ruangan: bau anyir bisa ular yang sangat konsentrat, bercampur dengan asam lambung yang membusuk.

"Jangan disentuh, Bu!" bentak Bintang dengan suara parau saat melihat tangan Rahayu nyaris meraih jemari anaknya. "Itu Wisa Sengkolo. Bisa ular murni dari rahim ghaib Kalingga. Satu tetes saja meresap ke kulit manusia fana, jantung Ibu akan berhenti berdetak dalam hitungan tiga detik."

Bintang segera meraba pergelangan tangan kiri Sekar, mencoba mencari sisa-sisa tanda kehidupan fana yang tersisa. Detik ketika kulit telapak tangan Bintang bersentuhan dengan pergelangan Sekar, pemuda itu tersentak, nyaris menarik tangannya kembali karena sensasi kejut yang ekstrem.

Kulit Sekar terasa seperti balok es yang baru dikeluarkan dari dasar freezer. Sama sekali tidak ada kehangatan, tidak ada kelembapan manusia. Suhu tubuh gadis itu telah merosot tajam ke titik ekstrem bawah, menyamai suhu lingkungan sekitar—karakteristik mutlak dari hewan poikilotermik. Tubuhnya menolak memproduksi panas mandiri.

Lebih buruk lagi saat Bintang menekan ibu jarinya ke arteri radialis Sekar.

Satu... dua... tiga... empat... lima...

Detak nadi itu baru muncul pada hitungan keenam. Lambat, berat, dan terasa sangat kaku di bawah permukaan kulit yang mulai bersisik tipis.

Dug...

Jeda waktu di antara setiap detak jantung Sekar begitu panjang, seolah-olah organ vital di dalam dada gadis itu harus mengerahkan seluruh sisa energi supranaturalnya hanya untuk memompa satu pelet darah hitam ke seluruh jaringan tubuh yang kian membeku. Pada ritme medis seperti ini, seorang manusia seharusnya sudah dinyatakan mati klinis akibat gagal otak total. Namun, Sekar tetap bertahan karena ada 'napas pinjaman' yang ditiupkan dari lereng Gunung Raung dua puluh dua tahun lalu yang kini sedang menagih haknya.

"Napasnya... kenapa dada anakku tidak bergerak, Bintang?!" Rahayu kembali histeris, menyembunyikan wajahnya di balik daster batiknya yang koyak.

"Dia sedang tidak menggunakan paru-paru manusia, Bu," jawab Bintang, giginya gemeretak menahan dingin yang mulai menusuk sumsum tulangnya sendiri.

Mata Bintang terpaku pada pangkal tenggorokan Sekar. Di sana, kulit leher yang telah dipenuhi jalinan sisik emas kelabu tampak mengembang dan mengempis lambat dengan diameter beberapa sentimeter, persis seperti membran tenggorokan ular sanca yang sedang berhibernasi di dalam liang tanah yang lembap selama musim dingin. Udara tidak keluar masuk melalui lubang hidung Sekar, melainkan ditarik secara internal, disaring melalui energi ghaib yang menghubungkan cangkangnya dengan dimensi Sendang Kalingga.

Tiba-tiba, dari sela-sela ubin tegel yang berada tepat di bawah dipan ranjang, terdengar suara retakan keras. KRAAAK!

Lantai semen itu menjebol ke atas. Dari balik kegelapan lubang fondasi yang tercipta, belasan ular tanah berukuran sebesar lengan anak kecil melusup keluar dengan cepat. Mereka tidak mendesis agresif, melainkan bergerak dengan kepatuhan militer yang gila. Makhluk-makhluk melata itu memanjat kaki-kaki dipan kayu, merayap naik ke atas seprai, lalu mulai melingkari tubuh kaku Sekar.

Tiga ekor ular tanah melingkar erat di sekeliling pergelangan kaki Sekar, sementara dua ekor ular yang lebih besar menempatkan tubuh dingin mereka di atas perut dan dada Sekar, membentuk formasi tameng hidup yang tebal. Kepala-kepala ular itu tegak berdiri, dengan sepasang mata silet yang tidak berkedip, menatap lurus ke arah Bintang seolah memberi peringatan: Sentuh cangkang ini, dan kau akan mati.

Bintang menarik napas dalam-dalam, menahan rasa mual yang luar biasa akibat kombinasi bau bisa dan kenanga busuk yang kian pekat di udara kamar. Dia tahu, ini adalah fase kritis di mana raga Sekar sedang dipersiapkan untuk mati secara biologis agar jiwanya bisa bangkit secara permanen sebagai entitas ghaib di bawah sana. Jika suhu tubuh Sekar menyentuh titik beku total sebelum tengah malam, maka tamat sudah.

Pemuda itu mengepalkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam untaian tasbih gaharu purba warisan gurunya dengan kekuatan penuh hingga urat-urat di lengannya menonjol tegang.

"Mau membentuk pagar hidup di depanku, hah?!" Gumam Bintang dengan nada suara yang bergetar penuh amarah spiritual.

Dia mulai menghentakkan kaki kanannya ke lantai tegel, memicu getaran energi zikir pemungkas untuk menembus barisan makhluk melata yang mengurung tubuh Sekar, memulai pertarungan penahanan raga yang paling berdarah sebelum malam Sabtu Kliwon mencapai puncaknya beberapa jam lagi.

Hentakan kaki Bintang memicu gelombang energi spiritual yang tak kasatmata namun masif. Udara di dalam kamar yang semula sedingin es mendadak berderak, seolah-olah dua massa udara dengan tekanan ekstrem sedang berbenturan hebat.

DUAARR!

Ular-ular tanah yang melingkar di atas tubuh Sekar seketika menggeliat kelabakan. Beberapa ekor ular yang berada di bagian perut terlempar jatuh ke lantai tegel, tubuh mereka mengejang hebat dengan lendir hitam yang menyembur dari mulut mereka akibat hantaman hawa panas zikir Bintang. Namun, kemenangan itu hanya bertahan beberapa detik.

Dari lubang fondasi yang menjebol di bawah dipan, desisan kolektif yang terdengar seperti suara ribuan besi panas yang dicelupkan ke dalam air kembali bergaung. Lebih banyak ular tanah merangsek keluar, saling bertumpukan dan mengorbankan raga mereka demi menutup kembali celah pagar hidup yang sempat porak-poranda.

"Bintang! Ular-ular itu... mereka tidak mau pergi! Mereka mau memakan anakku!" Rahayu menjerit histeris, merangkak mundur hingga punggungnya membentur lemari jati yang hancur. Tangannya menjambak rambutnya sendiri, kewarasannya sudah berada di titik nadir melihat anak perempuannya dikerubuti makhluk melata.

"Mereka tidak memakannya, Bu! Mereka menjaga proses pembekuan raganya!" Teriakan Bintang tertahan di tenggorokan.

Pemuda itu terbatuk hebat. Kali ini, setetes darah segar berwarna merah tua lolos dari sudut bibirnya. Gempuran Wisa Sengkolo—bisa kutukan yang menguar bersama uap kenanga busuk dari leher Sekar—mulai mengikis pertahanan paru-parunya. Udara di dalam kamar itu sudah terlalu beracun untuk ukuran manusia bernapas.

Bintang melirik kembali ke arah wajah Sekar. Situasinya jauh lebih mengerikan dari yang dia duga. Cairan bening kekuningan yang keluar dari sela-sela kuku Sekar kini mulai merembes keluar dari pori-pori wajahnya. Cairan itu membentuk lapisan tipis yang berkilau di bawah lampu bohlam, melapisi pipi, dahi, hingga kelopak matanya yang terpejam kaku.

Lapisan bening itu perlahan mengeras, mengering seperti lapisan lilin atau sisa air liur reptil yang membeku, membentuk topeng ghaib yang perlahan menghapus tekstur lembut kulit manusia Sekar.

Dug......... dug.........

Detak nadi di pergelangan tangan Sekar kini turun drastis ke angka tiga detakan per menit. Setiap kali jantung itu berdenyut lambat, jalinan sisik emas kelabu di leher Sekar memancarkan pendar hijau neon yang semakin terang, berkedip seirama dengan sisa-sisa nyawa manusianya yang kian meredup.

Suhu raga Sekar benar-benar telah menyentuh titik beku. Jika Bintang meletakkan selembar daun di atas dada Sekar, daun itu pasti akan langsung layu berkerut akibat sengatan hawa reptil yang mati.

"Kalingga... kau benar-benar tidak memberi celah," geram Bintang, menyeka darah di dagunya dengan lengan baju yang sudah basah oleh keringat dingin.

Sadar bahwa kekuatan fisik dan zikir lisannya mulai terbentur oleh dinding absolut kekuasaan sang Raja Ular, Bintang mengambil keputusan nekat. Dia melepaskan untaian tasbih gaharu dari genggamannya, membiarkan butiran kayu purba itu melingkar di lehernya sendiri. Jari-jari tangannya bergerak cepat menuju kantong kain di pinggangnya, mengeluarkan sebilah pisau kecil dengan bilah besi hitam berpamor yang penuh dengan ukiran rajah kuno—Pisau Sungsang Buwana.

Tanpa ragu sedikit pun, Bintang menyayat telapak tangan kirinya sendiri. Sreeet.

Darah segar mengalir deras dari telapak tangan Bintang. Namun, bukannya mengerang kesakitan, Bintang justru merapalkan mantra pengunci raga tingkat lanjut dengan kecepatan tinggi. Dia membiarkan darah manusianya menetes lurus di atas kepala ular tanah terbesar yang sedang melingkar di dada Sekar.

Detik ketika darah suci seorang pelindung spiritual menyentuh kulit reptil ghaib itu, efeknya luar biasa ngeri. Ular tersebut mendesis histeris, tubuhnya melepuh seperti disiram air keras, dan dalam hitungan detik, makhluk itu hancur menjadi abu hitam yang berbau belerang menyengat.

Bintang tidak berhenti di situ. Dengan telapak tangan yang bersimbah darah, dia menghantamkan cap telapak tangannya tepat di atas dada Sekar, menerobos sisa ular-ular lain yang mencoba menggigitnya.

BLAAAR!

Cahaya merah bata memercik dari titik hantaman tersebut. Semburan energi darah manusia murni memaksa sisa-sisa ular tanah di atas ranjang terlempar mundur dan jatuh bergelimpangan ke lantai. Yang paling krusial, hantaman tangan Bintang berhasil memicu kejut spiritual pada jantung Sekar yang hampir mati.

Dug-dug! Dug-dug!

Jantung Sekar berdetak kencang kembali secara mendadak. Aliran darah manusianya dipaksa berputar sejenak, melawan proses pembekuan reptil yang sedang berjalan. Pendaran hijau neon di lehernya meredup secara drastis, berganti dengan rona merah samar yang mencoba naik ke permukaan kulit wajahnya yang dilapisi cairan lilin ghaib.

Namun, Bintang tahu ini hanyalah pertolongan pertama yang sifatnya sementara. Raga Sekar berhasil dia tahan dari kematian biologis untuk beberapa jam ke depan, tetapi jiwanya masih terjebak jauh di dasar Istana Sisik Hitam.

Bintang terduduk lemas di lantai tegel yang dingin, napasnya memburu berantakan dengan dada yang terasa terbakar hebat akibat keracunan bisa udara. Jam dinding terus berdetik kaku, dan kegelapan malam ghaib di luar sana seolah-olah sedang menertawakan sisa tenaga sang pemuda spiritual yang kian menipis sebelum jam penentuan Sabtu Kliwon benar-benar dimulai.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!