Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Deru Badai
Guntur kembali menggelegar, kali ini lebih dahsyat hingga kaca jendela di kamar Lea bergetar hebat. Kilatan cahaya putih kebiruan menyambar di balik gorden, seolah-olah hendak membelah langit tepat di atas atap pesantren.
Lea tersentak, tubuhnya bergelung semakin erat di balik selimut. Setiap kali suara gemuruh itu datang, jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia melirik ke arah bawah ranjang, ke arah bayangan Gus Malik yang berbaring diam di atas lantai yang dingin. Cahaya lilin yang kian memendek menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di langit-langit, menambah kesan mencekam.
"Gus..." panggil Lea dengan suara gemetar.
Malik tidak menyahut, namun punggungnya tampak menegang. Ia sebenarnya tidak tidur; mana mungkin ia bisa terlelap dalam situasi sedekat ini dengan wanita yang statusnya adalah istrinya sendiri, namun jiwanya terasa begitu jauh.
"Gus Malik... bangun," bisik Lea lagi, kali ini lebih mendesak.
"Ada apa, Kalea? Saya tidak tidur," jawab Malik dengan suara berat yang tertahan.
"Gue takut banget. Petirnya nggak berhenti-berhenti," Lea mulai terisak kecil. "Lantai itu dingin, Gus. Dan gue... gue ngerasa nggak aman kalau lo jauh di bawah sana. Tolong... naik ke sini."
Malik terdiam sejenak. Permintaan itu adalah ujian yang jauh lebih berat daripada sekadar menjaga rumah. Di dalam benaknya, berkecamuk antara prinsip kesucian yang selama ini ia jaga dan fakta bahwa Lea adalah istrinya yang sah secara agama. Hukuman dan ciuman paksa di masa lalu hanyalah amarah, namun berbagi ranjang dalam keheningan seperti ini adalah sesuatu yang jauh lebih intim.
"Kalea, tidurlah. Saya tetap di sini menjaga—"
"Gus, tolong! Sekali ini aja jangan kaku banget!" potong Lea dengan nada memohon yang memilukan. "Gue cuma butuh ngerasa ada orang di dekat gue. Jangan biarin gue sendirian ketakutan kayak gini."
Mendengar suara Lea yang pecah, benteng pertahanan Malik runtuh. Ia menghela napas panjang, beristighfar di dalam hati untuk menenangkan gejolak batinnya. Dengan gerakan pelan dan sangat hati-hati, ia bangkit dari lantai.
Malik naik ke atas ranjang, namun ia tetap menjaga jarak yang sangat lebar di sisi kanan. Ia berbaring dengan posisi telentang, kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatap lurus ke atas.
"Saya sudah di sini. Sekarang tidurlah," ucap Malik kaku.
Namun, ketakutan Lea tidak semudah itu reda. Begitu petir menyambar kembali dengan suara ledakan yang sangat dekat, Lea refleks bergerak mendekat. Tanpa sadar, ia memeluk lengan Malik dan menyembunyikan wajahnya di balik pundak pria itu.
Malik mematung. Tubuhnya terasa seperti kayu yang keras. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Lea dan aroma sampo stroberi yang samar dari rambutnya. Pelukan itu sangat erat, seolah Lea sedang berpegangan pada satu-satunya tiang di tengah badai.
"Gus... jangan pergi ya," bisik Lea lirih.
Perlahan, rasa kaku di tubuh Malik mulai luntur. Rasa iba melihat kerapuhan Lea mengalahkan egonya. Dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, Malik menggeser tubuhnya sedikit dan melingkarkan lengannya di bahu Lea, menarik gadis itu ke dalam pelukan yang lebih nyaman. Ia membiarkan kepala Lea bersandar di dadanya.
Lea merasa sangat tenang. Detak jantung Malik yang berdegup teratur menjadi melodi yang lebih kuat daripada suara guntur di luar. Di dalam dekapan pria yang biasanya dingin itu, Lea merasakan keamanan yang belum pernah ia dapatkan bahkan dari Tom sekalipun. Perlahan, mata Lea memberat, dan ia pun tertidur lelap dalam dekapan suaminya.
Pagi hari menyapa dengan suasana yang sangat berbeda. Hujan telah reda, menyisakan aroma tanah basah yang segar yang masuk melalui celah ventilasi. Cahaya matahari pagi yang hangat mulai merayap naik, menerangi setiap sudut kamar.
Lea perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sesuatu yang hangat dan kokoh di bawah pipinya. Ia menyadari tangannya masih melingkar di pinggang seseorang.
Ia mendongak pelan, dan saat itulah pandangannya terkunci.
Di depannya, hanya berjarak beberapa sentimeter, adalah wajah Gus Malik yang masih terlelap. Ini adalah pertama kalinya Lea melihat wajah suaminya dalam jarak sedekat ini tanpa ada gurat amarah atau tatapan dingin. Dalam tidurnya, Malik nampak sangat tenang dan... tampan.
Lea memperhatikan bulu mata Malik yang lentik dan lebat, hidungnya yang mancung sempurna, serta garis rahangnya yang tegas namun nampak lembut saat ini. Ia juga melihat sisa luka kecil di bibir Malik sisa dari malam di club itunyang entah kenapa kini tidak lagi membuatnya merasa benci, melainkan merasa bersalah sekaligus penasaran.
'Ternyata dia emang ganteng kalau lagi nggak ceramah,'batin Lea tanpa sadar.
Lea terpaku, tak ingin bergerak sedikit pun karena takut membangunkan pria itu. Ia menikmati momen langka ini, melihat sisi manusiawi dari sang "Gus Dingin" yang selama ini menjadi musuhnya. Ada sesuatu yang aneh bergejolak di dadanya, sebuah perasaan manis yang mulai tumbuh di atas puing-puing kebencian.
Tepat saat itu, kelopak mata Malik bergerak. Ia mulai terbangun. Begitu mata tajam itu terbuka dan langsung beradu dengan mata Lea, keduanya membeku. Keheningan pagi itu terasa sangat intens, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk memberi ruang bagi dua hati yang mulai meragu akan kebencian mereka sendiri.