"lumpur hitam akan selama nya hitam meski telah di rendam dengan emas dan berlian" celetuk nyonya Sin sinis saat melihat Orjioh keluar dari mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam, seketika senyumnya hilang dan moodnya pun berubah. ia tidak menyangka bahwa ternyata gadis yang ingin di kenalkan Jonathan kepadanya adalah Orjioh, teman sekolah Jonathan ketika mereka masih tinggal di kampung dulu, yang menurut nyonya Sin tidak selevel dengan keluarga nya yang seorang pengusaha dan juga memiliki sebuah restoran mewah yang dilengkapi dengan penginapan kelas atasnya sekaligus. "benar" sambung In su setuju dengan kakaknya padahal tadinya dia sempat sedikit senang karena ternyata keponakan dekat dengan orang berpengaruh, pikir in su saat mobil yang dikendarai oleh Orjioh berhenti dibelakang mobil Jonathan, ia bahkan sudah sempat berangan-angan untuk menjilat, namun semua itu sirna ketika ia melihat Orjioh keluar dari mobil itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cinta semusim 22
Padahal Yin sengaja menyuruh pelayan menghias kamar itu. "oh, jangan bilang selama ini kamu tidur disini?!" kata Or ji oh sebelum Oh pil sun menjawab pertanyaannya, setelah teringat akan pakaian Oh pil sun yang juga tersusun rapi didalam lemari pakaiannya, bahkan saat menyusun pakaiannya tadi Or ji oh sempat heran mengapa pakaian Oh pil sun bisa ada didalam lemari pakaiannya, dan kini ia sudah tahu jawabannya.
Sementara Oh pil sun tidak menjawab, ia memilih berbalik dan kembali keluar dari kamar itu, namun setelah keluar ia pun kembali masuk, "kenapa kau tidak pernah menjawab panggilanku?" Oh pil sun bertanya ingin tahu alasan Or ji oh selama ini, "sibuk" kata Or ji oh menjawab pertanyaan Oh pil sun tanpa melihat kearah nya, terlihat seperti tidak berperasaan. "sibuk?" ulang Oh pil sun tidak terima dengan alis sedikit terangkat, seolah hanya dirinya sendiri yang sibuk, padahal ia juga sibuk.
"hmm" jawab Or ji oh cuek.
"hah!" dengus Oh pil sun jengah dan menggelengkan kepala, sepertinya hubungan ini tidak akan pernah berhasil. apa gunanya ia mencoba membuka diri dan menerimanya, jika Or ji oh justru melakukan hal sebaliknya, "hah! ternyata sia-sia saja!" dengus Oh pil sun dan mengatakan sesuatu yang tidak di mengerti oleh Or ji oh lalu kemudian pergi.
Padahal tadi ia sedikit senang saat melihat Or ji oh yang sudah kembali, namun sikap dingin Or ji oh membuatnya kecewa. Sementara Or ji oh melihat kearah Oh pil sun dengan kening mengkerut, ia bingung dan juga tidak mengerti maksud dari kata-kata Oh pil sun tersebut, tapi Oh pil sun sudah pergi keruang kerjanya. Alih-alih mencari tahu Or ji oh justru menggidikkan bahunya tidak peduli, "hmm" gumamnya dengan mengangkat bahu sedikit dan kemudian bergegas tidur.
"aaaa" Or ji oh menguap dan menutup mulut dengan punggung tangan kanannya, ia masih mengantuk karena siang tadi masih belum cukup tidur. Perlahan ia menarik selimut menutupi kaki hingga pinggangnya, kemudian membalikkan tubuhnya ke kanan, lalu memejamkan matanya dan dalam hitungan detik ia pun tertidur.
Malam ini Oh pil sun terpaksa kembali tidur di kamarnya sediri, yaitu kamar ketika ia masih lajang dan sekaligus menjadi ruang kerjanya. "ha! sibuk! apa dia pikir hanya dia sendiri yang sibuk?!" Oh pil sun masuk keruang kerja dengan marah-marah, ia bahkan sampai melemparkan jasnya ke sofa hanya untuk melampiaskan amarahnya, lalu menuangkan air putih kedalam gelas yang ada diatas mejanya, dan meneguk nya hanya dalam sekali teguk.
Ia sangat kesal sampai membuatnya haus. Huft, setelah minum Oh pil sun menghembuskan nafas perlahan, nampaknya air putih memang ampuh untuk meredam amarahnya, terlihat dengan sikapnya yang sudah kembali tenang. Kini Oh pil sun mulai melepaskan kemejanya, ia ingin mengganti bajunya dengan kaos santai yang nyaman untuk dipakai tidur, namun saat ia membuka lemari dan mendapati lemarinya dalam keadaan kosong, ia pun tersadar bahwa semua pakaiannya sudah lama dipindahkan ke kamar Or ji oh.
Dan itu lagi-lagi membuat nya menghela nafas, "hah!" dengan cepat Oh pil sun kembali menutup lemarinya, dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya, mau tidak mau ia harus kemarin ke kamar Or ji oh, untuk mengambil bajunya. krek! begitu ia berdiri didepan kamar Or ji oh ia pun langsung membuka pintu kamar Or ji oh, saat ia membuka pintu kamar itu yang ia lihat pertama kali adalah ruangan kamar yang telah gelap, yang menandakan bahwa orang dikamar itu sudah tidur.
Mengetahui itu Oh pil sun pun akhirnya masuk kedalam kamar itu dengan perlahan, dengan langkah pelan tanpa suara. Bahkan saat membuka lemari pun ia tidak menciptakan suara, begitu hati-hati bahkan mirip seperti pencuri yang takut ketahuan, namun meskipun begitu Or ji oh tetap terbangun, "apa yang kamu cari?" tanya Or ji oh sambil menghidupkan lampu kamarnya mengagetkan Oh pil sun.
"ssst" desis Oh pil sun terkejut, ia memegang jantung nya dan melihat kearah Or ji oh, "mengagetkan saja!" gerutunya sedikit kesal dengan melihat Or ji oh, namun Or ji oh tidak memperdulikannya dan mendekatinya. "lemari yang sebelahnya!" kata Or ji oh kemudian setelah tahu apa yang Oh pil sun cari begitu ia melihat pintu lemari pakaiannya yang sudah terbuka, karena dia memang telah memindahkan semua pakaian Oh pil sun ke sisi sebelah kanan dari lemarinya.
Mendengar itu Oh pil sun pun kembali menutup pintu lemari itu. "huft, kenapa tidak mengatakannya dari?" kata Oh pil sun sambil menghela nafas dan berpindah ke sisi yang satunya, pantas saja dia tidak menemukan pakaiannya, ternyata sudah dipindahkan. "apakah kamu bertanya?" jawab Or ji oh tidak suka dengan perkataan Oh pil sun, padahal dia sudah berbaik hati mau memberi tahunya, "bukankah tadi kamu sedang tidur! bagaimana aku mau bertanya?" ujar Oh pil sun tidak mau kalah dan malah jadi bertengkar.
"sudah selesaikan?" kata Or ji oh terlihat marah, "Sekarang keluar!" dan mengusir Oh pil sun dari kamarnya karena kesal, ia mengusir Oh pil sun setelah Oh pil sun menemukan pakaian yang ingin ia kenakan. "hah! tentu saja, lagi pula siapa juga yang mau tidur disini dengan mu!" jawab Oh pil sun yang juga tak kalah kesal sambil mengibaskan baju kearah Or ji oh, dan segera keluar dari kamar itu, sangking kesalnya ia bahkan menutup pintu kamar Or ji oh dengan sedikit keras.
Sementara Or ji oh yang melihat itu hanya mencibirkan bibirnya mengejek kepergian Oh pil sun, dan kemudian kembali naik ke kasur empuknya. "ah, nyamannya." kata Or ji oh setelah kembali berbaring, lalu memejamkan matanya dengan sedikit tersenyum karena ia teringat akan bagaimana Oh pil sun terkejut tadi. "hmm" gumam Or ji oh dengan mata tertutup dan memeluk bantal guling disebelah dengan erat, namun saat ia mencium aroma maskulin yang terdapat pada bantal guling itu ia pun kembali menjauhkan bantal guling itu darinya. "hah! kenapa semuanya jadi bau dia?" gerutu Or ji oh sedikit kesal setelah ia sadar, karena kasur dan semua bantalnya dipenuhi dengan aroma Oh pil sun.
"huft" dengus nya kesal tak punya pilihan, karena dia tidak bisa tidur tanpa memeluk bantal guling dan akhirnya kembali mengambil bantal guling itu, dan memeluknya.
Sementara itu diruang kerja Oh pil sun, setelah berganti berpakaian Oh pil sun terlihat akan bersiap tidur, ia bahkan telah berbaring di atas kasur lajangnya, dan dalam hitungan menit ia pun tertidur. Hari ini ia sangat lelah, bahkan bertengkar dengan Or ji oh tadi tidak lantas membuat rasa letih nya hilang, oleh karena itu begitu berbaring ia pun langsung tertidur. Oh pil sun tidur selama kurang lebih tujuh jam dan bangun tepat pukul tujuh pagi, saat semua orang telah berada diruang makan, kecuali ia dan Or ji oh yang masih berada didalam kamar masing-masing.