NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana di ruang kerja utama kediaman besar Abimanyu mendadak mencekam. Aroma cerutu mahal milik Rajendra Abimanyu bercampur dengan hawa dingin dari AC yang seolah tidak mampu meredam amarah sang kepala keluarga. Di atas meja marmer, tumpukan dokumen audit dari Gerald tergeletak seperti tumpukan kartu yang siap meruntuhkan segalanya.

Rajendra, pria yang membangun kekaisaran konstruksinya dengan tangan besi, menatap istrinya, Lisa, dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

"Lisa... Sejak dulu kamu selalu pilih kasih dan lebih menyayangi Elang. Kamu selalu menutup mata setiap kali dia melakukan kesalahan kecil," suara Rajendra berat dan bergetar karena emosi yang tertahan. "Tapi ini? Lihatlah kerugian yang aku terima hampir mendekati 700 miliar rupiah! Itu bukan uang receh, Lisa!"

Lisa terkesiap, tangannya gemetar memegang cangkir porselennya. "Papah... mungkin Elang hanya salah investasi. Dia masih muda, dia butuh bimbingan.”

Skakmat dari Gerald

Gerald, yang duduk tenang di sofa kulit seberang ayahnya, menyunggingkan senyum miris. Ia menyesap kopinya perlahan sebelum melepaskan "bom" informasi yang lebih menghancurkan.

"Bimbingan? Tidak, Pah," sela Gerald dengan nada dingin. "Elang tidak salah investasi. Dia sangat tahu apa yang dia lakukan. Lebih parahnya, Elang membelanjakan uang perusahaan itu hanya untuk menyenangkan kekasihnya—seorang wanita yang tidak bisa apa-apa selain bersolek."

Gerald melempar beberapa foto hasil jepretan Reno ke meja. Foto Naura yang sedang menjinjing tas mewah di Bali dengan latar belakang villa yang dibeli menggunakan dana penggelapan.

"Papah tahu? Hingga detik ini Mikayla, istri sahnya, masih bekerja keras di bank swasta sebagai Manajer. Dia mandiri, dia punya prestasi, dan dia menjaga martabat keluarga Abimanyu di luar sana tanpa meminta sepeser pun dari kas pusat," lanjut Gerald, matanya menatap tajam ke arah ibunya. "Sedangkan selingkuhan Elang? Dia hanya tahu cara menghabiskan uang untuk hal fiktif. Dia benalu yang sedang menggerogoti pohon kita dari dalam.”

Kemarahan Rajendra yang Meledak

Rajendra menggebrak meja hingga vas bunga di sudut ruangan bergetar. "Manajer Bank? Istri sahnya bekerja sebagai Manajer dan Elang malah memelihara pelacur dengan uang perusahaanku?!"

Ia menoleh ke arah Lisa yang kini tertunduk pucat. "Inikah anak emasmu, Lisa? Menghianati wanita berkelas seperti Mikayla demi wanita murahan? Dan kamu mendukungnya? Kamu pikir aku tidak tahu kamu sering menerima persenan dari Elang untuk menutupi kelakuan bejatnya?!"

"Pah, aku hanya ingin Elang bahagia..." isak Lisa pelan.

"Bahagia?!" Rajendra berdiri, tubuhnya yang tegap memancarkan otoritas yang mengerikan. "Kebahagiaan Elang telah merugikan pemegang saham sebesar 700 miliar. Aku tidak peduli dia anakku atau bukan. Gerald!"

"Ya, Pah?" jawab Gerald sigap.

"Tarik semua fasilitas Elang. Bekukan jabatannya sebagai direktur cabang per jam ini juga. Dan mengenai Mikayla..." Rajendra terdiam sejenak, ada rasa hormat yang muncul saat mendengar menantu yang selama ini ia abaikan ternyata adalah seorang wanita karier yang tangguh. "Hubungi dia. Aku ingin bicara langsung. Jika Elang sudah tidak waras karena wanita simpanannya, maka perusahaan ini tidak boleh jatuh ke tangan orang gila.”

Langkah Strategis Gerald

Gerald mengangguk patuh, namun di dalam hatinya ia merasa puas. Ia tahu Mikayla tidak butuh bantuan Rajendra untuk menghancurkan Elang, tapi mendapatkan restu "algojo" dari ayahnya sendiri akan membuat proses hukum Elang menjadi jalan tol menuju penjara.

"Baik, Pah. Akan saya atur pertemuannya. Tapi saya sarankan Papah jangan terkejut jika Mikayla ternyata jauh lebih siap menghadapi badai ini daripada yang kita duga," ucap Gerald penuh rahasia.

Lisa hanya bisa menangis sesenggukan, menyadari bahwa putra kesayangannya kini benar-benar berada di ambang kehancuran, dan putri bungsunya yang sedang kuliah di luar negeri mungkin akan pulang mendapati kakaknya berada di balik jeruji besi. Badai besar keluarga Abimanyu baru saja dimulai.

________

Mikayla tersenyum manis sebuah senyum yang tak lagi mengandung cinta, melainkan kepuasan predator yang melihat mangsanya mulai terperangkap. Ia merapikan jam tangan Cartier-nya, menatap Elang yang wajahnya terlihat kusam, kontras dengan penampilannya sendiri yang bersinar dalam setelan tailored-suit berwarna emerald green yang mewah.

"Mas kenapa mukanya kusut begitu? Coba bicarakan dengan Mamah, kan kamu anak kesayangan Mamah," ucap Mikayla lembut, nadanya penuh perhatian palsu yang sengaja memancing sisi manja Elang.

Elang menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Iya sayang, nanti aku bicarakan hal ini dengan Mamah dan Papah. Masalah di kantor makin rumit, audit Gerald benar-benar tidak masuk akal. Tapi..." Ia terdiam sejenak, memandangi Mikayla dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu cantik sekali hari ini, Mika.”

Mikayla tertawa kecil, suara tawa yang terdengar elegan namun tajam. "Cantik istrinya Pak Elang Abimanyu, masa jelek kayak badut?"

Kalimat itu meluncur begitu saja, sebuah sindiran telak yang membuat rahang Elang sedikit mengeras. Ia langsung teringat Naura yang selalu tampil dengan make-up tebal dan bulu mata palsu yang berat demi menutupi wajah aslinya berbeda jauh dengan Mikayla yang memancarkan kecantikan alami berkelas khas wanita karier papan atas.

"Hari ini aku sudah mulai masuk kerja, Mas," lanjut Mikayla sambil meraih tas kulit Hermès-nya. "Aku kayaknya akan pulang terlambat. Sore nanti aku lembur karena menemani Pak Bos meeting dengan orang China. Bisa dibilang Pak Bos butuh penerjemah, dan untungnya kemampuanku masih bisa diandalkan."

"Iya sayang, hati-hati di jalan," jawab Elang singkat, berusaha menutupi rasa mindernya. Ia baru sadar, di saat posisinya di perusahaan keluarga sedang di ujung tanduk, karier istrinya justru sedang berada di puncak.

____

Mikayla menatap gedung-gedung tinggi Jakarta dari balik jendela mobil. Ia tahu, saat Elang mengadu pada ibunya nanti, sang ibu pasti akan membelanya mati-matian di depan Rajendra. Dan itulah yang ditunggu Mikayla.

Semakin Lisa membela Elang, semakin besar amarah Rajendra. Dan semakin besar amarah Rajendra, semakin cepat surat pemecatan dan tuntutan hukum itu ditandatangani.

"Selamat berjuang dengan 'Mamah'-mu, Mas Elang," bisik Mikayla sinis. "Biarkan dia melindungimu sampai dia menyadari bahwa perlindungannya justru akan membuat Papahmu menghancurkanmu lebih cepat. Sementara itu, aku akan mengurus 250 miliarku yang baru.”

Suasana kantor pagi itu terasa lebih hidup bagi Mikayla. Langkah kakinya yang mantap di atas lantai marmer lobi bank terdengar seperti irama kemenangan yang tertunda. Helena, Manajer Pemasaran yang juga sahabat dekatnya, menyenggol bahu Mikayla dengan seringai menggoda.

"Ciyeee... calon jendess makin memukau aja nih! Aura lo beda banget, Mika. Kayak habis lepas beban satu ton," celetuk Helena tanpa saringan. Di lingkaran manajemen tingkat atas, kabar perselingkuhan Elang sudah menjadi rahasia umum—mereka semua berada di pihak Mikayla.

Mikayla tertawa kecil, membenarkan letak blazer emerald-nya. "Harus semakin bersinar dong, Hel. Mana tahu nanti habis ini dapet CEO yang beneran, bukan yang cuma modal nama keluarga," balasnya santai. Keduanya pun tertawa lepas hingga sampai di depan lift eksekutif yang terbuka.

Brukkk...

Karena terlalu asyik bercanda, Mikayla tak sengaja menabrak dada bidang seseorang yang baru saja akan keluar. Tubuhnya sedikit terhuyung, namun tangan pria itu dengan sigap—hanya sekejap—menahan sikunya agar tidak jatuh.

Mikayla mendongak dan jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Pria itu tinggi, mengenakan setelan jas custom-made berwarna navy gelap yang sangat kaku. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, namun auranya begitu dingin dan dominan hingga membuat Mikayla merinding seketika. Pria itu tidak tersenyum, hanya menatapnya dengan netra tajam yang mengintimidasi.

"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," ucap Mikayla profesional, meski batinnya bergejolak.

Tanpa sepatah kata pun, pria itu hanya mengangguk kecil dan kembali masuk ke dalam lift bersama asistennya yang membawa tas kerja kulit buaya. Mau tak mau, Mikayla dan Helena ikut masuk ke dalam kotak besi itu.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!