Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Jeff
Keesokan Paginya
Arletta sudah siap dengan jaket, topi rajut, sepatu UGG dan celana jeans hitam. Gadis itu secara reflek menyiapkan camilan berupa sandwich salmon dan dua botol jus buah naga. Tidak lupa empat botol air putih karena ini penting buat ginjal. Arletta menyiapkan semua ini karena pesan di ponselnya dari Jeff. Arletta juga membuatkan camilan untuk Kenzie dan kedua orangtuanya.
📩 Dokter Clarke Meshum : besok kita piknik, Arletta.
Otomatis, Arletta menyiapkan semua makanan untuk piknik. Gadis itu tampak puas saat semua sudah siap. Hari ini Dokter Lucky dan Daisy, diundang Brayden dan Richard ke Kensington sekalian jalan-jalan ke Buckingham Palace.
Memang enak kalau punya orang yang sangat dalam sekali.
Suara bel di intercomnya terdengar dan Arletta tahu kalau itu pasti Howard yang menghubungi dirinya.
"Yes?" tanya Arletta sambil memencet tombol bicara.
"Lady Peterson, ada Dokter Jeff Clarke hendak menjemput anda," jawab Howard sopan.
"Baik. Aku akan segera turun." Arletta membawa tas piknik dan tas bindle dari brand Morr. Dia pun keluar dari apartemennya setelah menutup pintu yang automatis mengunci sendiri. Arletta masuk ke dalam lift dan memencet tombol turun.
Jeff tersenyum manis saat melihat Arletta keluar dari lift. "Selamat pagi," sapanya.
"Pagi Jeff." Arletta menoleh ke Howard. "Titip buat Dokter Buwono dan Dokter Mancini."
Howard menerima paper bag berisikan kotak makanan yang disiapkan Arletta untuk keluarga Buwono.
"Baik. Nanti saya berikan pada Dokter Buwono," ucap Howard.
"Terima kasih." Arletta menoleh ke Jeff. "Shall we?"
"Ayo." Jeff mengulurkan tangannya. "Tas pikniknya biar aku bawakan."
Arletta menyerahkan tas itu dan Jeff membawanya dengan tangan kanannya. Tiba-tiba tangan kiri Jeff langsung menggandeng tangan Arletta.
"Eh? Eh?" protes Arletta
"Daripada kamu hilang," jawab Jeff cuek.
Mereka pun masuk ke dalam mobil Porsche milik Jeff dan pria itu meletakkan tas piknik di jok belakang.
"Kita mau kemana?" tanya Arletta sambil memasang sabuk pengamannya.
"Kalau aku bilang, nggak seru kan?" senyum Jeff sembari memakai kacamata hitamnya.
"Jangan aneh-aneh, Jeff!" ancam Arletta.
"Nggak aneh. Kamu pasti suka." Jeff melajukan mobil Porsche nya ke jalan raya sementara Arletta penasaran dengan kemana mereka akan pergi.
Mata hazel Arletta makin terbelalak saat mereka masuk ke sebuah bandara kecil yang hanya ada pesawat kecil dan helikopter. Bandara itu hanya dipakai untuk latihan buat terbang dan hangar penyimpan pesawat.
"Kita ... mau ... Terbang?" tanya Arletta bingung saat Jeff memarkirkan mobilnya di sebuah hangar yang ada disana.
"Yuk turun!" ajak Jeff sambil membuka pintu dan mengambil tas piknik mereka.
Arletta Peterson
Arletta pun turun dari mobil dan dia menatap tidak percaya ada pesawat kecil disana.
Pesawat Cessna
"Itu ... Cessna kan?" tanya Arletta yang masih terbengong-bengong.
"Iya." Jeff menggandeng tangan Arletta. "Ayo kita masuk."
Arletta menahan dirinya. "Siapa yang mau menerbangkannya?"
Jeff menatap wajah serius Arletta. "Aku."
Arletta melongo. "Kamu?"
Jeff mengangguk. "Aku punya lisensi pilot, Letta. Jadi kamu tidak usah khawatir."
"Berapa jam penerbangan?" tanya Arletta dengan wajah skeptis.
"Sudah tujuh ribu lima ratus jam penerbangan. Aku juga bisa menerbangkan helikopter. Jadi, kamu tenang saja," senyum Jeff sambil menarik pelan tangan Arletta.
"You're kidding ( kamu bercanda kan )?" ucap Arletta masih tidak percaya.
"Serius. Aku sudah belajar menerbangkan pesawat sejak usia lima belas tahun. Bisa dibilang, aku sudah dua puluh tahun bisa menerbangkan pesawat," jawab Jeff.
Arletta masih tidak percaya pria yang menggandengnya ini bisa menerbangkan pesawat. Dia hanya bisa berharap tidak terjadi apa-apa. Arletta pun masuk dan duduk di sebelah Jeff yang sudah masuk terlebih dahulu. Pria itu lalu memakai headphone dan meminta Arletta memakainya juga agar bisa berkomunikasi.
"Ini gila!" gerutu Arletta.
"Kamu tipe yang tidak suka sesuatu yang biasa dan sederhana bukan? Jadi aku mengajak kamu piknik sambil kencan dengan begini," senyum Jeff sambil menoleh ke arah Arletta.
Dokter Jeff Clarke
Arletta hanya cemberut. "Memang kamu itu ...."
"Romantis?" cengirnya.
"Sinting!" balas Arletta. "Ini kita mau kemana?"
"Loch Lomond & The Trossachs National Park," jawab Jeff kalem sambil menyalakan semua tombol di dalam pesawat.
Arletta mendelik. "Skotlandia?"
Jeff tersenyum sambil memakai kacamata hitamnya. "Yes, Skotlandia."
Arletta hanya melongo sementara Jeff menerbangkan pesawatnya menuju Glasgow Skotlandia.
***
Mesin pesawat Cessna berdengung stabil, memotong langit biru yang cerah. Cahaya lembut matahari pagi hangat menyelinap lewat jendela kecil, menyinari wajah Arletta yang duduk di kursi copilot dengan sabuk pengaman terpasang erat.
Jeff, di kursi pilot, terlihat fokus, tangan kokohnya memegang kendali, mata tajamnya sesekali melirik panel instrumen.
“Jadi …” Arletta memecah keheningan, suaranya sedikit tertelan suara mesin. “Kamu serius bawa aku ke Skotlandia tanpa kasih tahu dulu?”
Jeff tidak langsung menjawab. Ia menyesuaikan throttle, lalu baru melirik sekilas.
“Aku sudah bilang, kita piknik.”
Arletta mengerucutkan bibir. “Itu bukan penjelasan. Itu penghindaran.”
Hening sejenak. Hanya suara mesin dan angin yang mengisi ruang sempit itu.
“Kamu percaya aku, kan?” tanya Jeff akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Arletta menoleh, menatap profil wajah pria itu. Rahangnya tegang, tapi ada sesuatu di sikapnya, sesuatu yang tidak biasa. Bukan dingin seperti biasanya.
“Aku…” Arletta menarik napas pelan. “Aku percaya. Tapi itu tidak berarti aku tidak boleh kesal.”
Jeff tersenyum tipis. Hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Arletta terdiam.
“Kesal cocok buat kamu,” gumamnya.
“Dan kamu cocok jadi orang paling menyebalkan di udara saat ini,” balas Arletta cepat.
Jeff terkekeh pelan, suara yang jarang keluar darinya.
Pesawat sedikit berguncang karena turbulensi ringan. Arletta refleks menggenggam sisi kursinya.
“Hei, santai,” kata Jeff, kali ini benar-benar menoleh padanya. “Aku nggak akan biarin kamu jatuh.”
Arletta menatapnya lama. Ada kehangatan aneh dalam kalimat itu, lebih dari sekadar soal pesawat.
“Kamu ngomongin penerbangan … atau yang lain?” tanyanya hati-hati.
Jeff tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap ke depan, tapi suaranya terdengar lebih dalam.
“Keduanya.”
Jantung Arletta berdegup sedikit lebih cepat. Ia menoleh ke jendela, melihat awan yang warnanya sebiru mata Jeff.
“Kamu ini … selalu bikin semuanya rumit,” bisiknya.
“Karena kamu selalu terlalu banyak mikir,” balas Jeff.
Arletta mendengus pelan. “Ya jelas. Aku diculik naik pesawat pribadi oleh dokter yang ....”
"Yang kamu kenal,” potong Jeff cepat.
“ ... yang kadang bertingkah seperti orang gila,” lanjut Arletta tanpa peduli.
Jeff tersenyum lagi, kali ini lebih jelas.
“Kalau aku nggak ‘gila’, kamu nggak akan ada di sini.”
Arletta terdiam. Ada benarnya sih!
Pesawat terus melaju, menembus langit biru cerah seolah memberikan jalan acara mereka berdua.
“Jeff…” Arletta memanggil pelan.
“Hmm?”
“Kalau ini tentang sesuatu yang berbahaya … kamu harus jujur.”
Jeff menarik napas dalam. Tangannya tetap stabil di kemudi.
“Bukan berbahaya,” katanya akhirnya. “Cuma … aku hanya ingin menebus kesalahan.”
Arletta menatapnya, kali ini tanpa candaan.
“Dan kamu pilih kita piknik ke Skotlandia?”
Jeff menoleh. Mata mereka bertemu, hanya beberapa detik, tapi terasa lama.
“Karena kamu spesial, Arletta.”
Keheningan kembali hadir. Tapi kali ini berbeda.
Lebih hangat. Lebih berat.
Arletta menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.
“Kalau gitu …” katanya pelan, menatap ke depan. “Pastikan kita mendarat dengan selamat dulu, Dokter.”
Jeff tersenyum tipis lagi, lalu kembali fokus ke langit pagi yang cerah.
“Tenang saja,” ucapnya. “Aku pilot yang lebih baik daripada yang kamu kira.”
Dan di antara suara mesin dan langit luas di atas mereka, sesuatu di antara keduanya berubah pelan, tapi pasti.
***
Yuhuuu up Siang yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
letta mulai nyaman dg jeff ya😁😁😁
chef Letta tampaknya mulai ada rasa penasaran 🤫
Jeff kaga usahh ke GR an yaa gegara di kirim makan sama Letta
menyebalkannya tapi ngangenin lho😅😅🤭
selamat berjuang jeff tuh dok lucky kayaknya stu server ya😅😅😅