"Kau bebas untuk berkencan dengan siapapun. Tetapi jika kau sampai hamil, maka secara otomatis kau tidak akan mendapatkan apapun setelah perceraian terjadi."
Evelyn Valencia Ariesandy terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Gavin Rafael Adhitama, Presiden direktur dari Natama group, yang terkenal di Asia. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua keluarga besar.
Namun suatu hari, Evelyn mendapatkan kejutan di saat-saat pernikahan kontraknya akan berakhir hanya dalam hitungan bulan saja.
Ia hamil.
Apa yang akan dilakukan Evelyn untuk menutupi kehamilannya dari Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : tindakan impulsif Gavin.
Shopia menatap Gavin yang sedari tadi tidak sedikitpun menyentuh irisan daging dalam piringnya. Pria itu hanya terdiam dengan tatapan yang menusuk ke arah hidangan. Pikirannya jelas tidak berada di sana, melainkan melayang ke tempat lain.
Pertengkaran tadi pasti masih menyisakan luka di hatinya. Ia pun mulai bisa memahami alasan Gavin tidak pernah hadir di acara tersebut.
Ternyata, setiap orang memikul lukanya sendiri. Bahkan sosok yang tampak begitu tangguh seperti dirinya.
Shopia menarik nafas panjang yang terasa berat, seolah ia bisa merasakan kepedihan yang tengah menghimpit pria itu.
"Sudah puas memandangiku?" Gavin tiba-tiba bersuara, membuat Shopia tersentak. Pria itu kini menatapnya tajam, setajam sembilu yang siap untuk menyayatnya.
"A-aku tidak memandangimu. Aku.. sedang melihat..." Shopia terbata, matanya liar mencari alasan. "Billy!" pekiknya saat melihat sosok Billy di belakang punggung Gavin.
Billy yang tidak tahu apa-apa ikut tersentak saat namanya tiba-tiba diteriakkan. Kebetulan Billy dan Bibi Almira memang duduk di meja yang berada tepat belakangnya.
Gavin memutar bola matanya malas. "Cepat habiskan makan malammu. Aku sudah lelah." ucapnya dingin.
"Baiklah," sahut Shopia kembali menusukkan garpunya ke atas irisan daging di piringnya. Namun, tepat sebelum garpu itu menyentuh bibirnya, ia ragu dan kembali menatap Gavin, seakan ingin memastikan sesuatu. "Hmm... apa kau baik-baik saja?" tanyanya ragu.
Gavin tidak menjawab. Ia justru membuang muka, menatap ke arah lain dengan rahang yang mengeras. "Jangan mencampuri urusanku, Evelyn. Makan saja makananmu." sahutnya pendek, memutus segala celah untuk pembicaraan lebih lanjut.
Reaksinya dingin sekali. Sedingin es di kutub Utara.
Shopia akhirnya menyerah. Ia tak lagi mencoba mencairkan suasana, melainkan memilih untuk menunduk dan melanjutkan makannya dalam keheningan yang menyesakkan.
Namun keheningan itu tak berlangsung lama...
Shopia tercekat, ketika melihat lidah api kemerahan yang tiba-tiba menyambar dari panggangan di atas meja sudut lain. Kilatan masa lalu yang selama ini terkubur dalam, tiba-tiba mencuat kembali ke permukaan dengan paksa. Aliran darahnya seolah membeku, mengunci seluruh geraknya hingga membuatnya mematung di tempat.
Nafasnya mulai memburu, naik-turun tanpa terkendali. Tangannya mencengkram garpu begitu hingga buku jarinya memutih. Hawa panas seakan menjalar cepat di seluruh tubuhnya hingga membakar kesadarannya. Sebuah teriakan histeris lolos dari bibirnya.
Suara itu memecah keheningan, mengejutkan seluruh tamu bahkan membuat Gavin tersentak di hadapannya.
"Pa... nas..." suaranya terdengar lirih. Ia meremas pakaian dibagian dada yang mulai terasa sesak. Seakan ada kepulan asap yang kini memenuhi rongga dadanya.
"Akhh..." ia mendesah pelan, wajahnya memucat menahan rasa sakit yang teramat pedih, seakan tubuhnya sedang digerogoti sesuatu yang tidak kasat mata.
Bibi Almira yang menyadari situasi tersebut, langsung bangkit dari kursinya, bergegas mendekati Shopia. Ia segera merengkuh pundaknya yang gemetar.
Ini berbahaya. Tuan Gavin bisa menyadari sandiwara ini. batinnya penuh kecemasan.
"Tuan Gavin, maafkan kami. Sepertinya nona Evelyn merasa tidak enak badan." ucap bibi Almira cepat sambil membantu Shopia berdiri. Ia segera memapah wanita itu yang mulai terlihat lemas, membawanya pergi sebelum kecurigaan Gavin memuncak.
Namun, di saat kakinya hendak melangkah, Shopia tiba-tiba kehilangan kesadarannya dan jatuh terkulai di pelukan bibi Almira.
Bibi Almira tampak kewalahan menahan bobot tubuhnya, bahkan mereka nyaris jatuh bersamaan jika tangan cekatan Gavin tidak segera menahan tubuh Shopia di pelukannya.
Gavin segera mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi dari restoran itu.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Mobil itu melaju kencang, membelah jalanan malam yang mulai lenggang. Di kursi depan, Bibi Almira menoleh ke belakang dengan raut wajah panik, memperhatikan Gavin yang kini sedang memangku kepala Shopia di pahanya.
Awalnya ia berniat duduk di belakang untuk menjaga Shopia. Namun Gavin bersikeras untuk mengambil alih posisi itu. Hal tersebut justru membuat bibi Almira semakin bertambah cemas.
Alih-alih mengajukan pertanyaan, pria itu malah bungkam di sepanjang perjalanan. Raut wajahnya yang datar, membuat bibi Almira kesulitan untuk menebak isi pikirannya saat ini.
"Kita tidak ke apartemen, Billy." ucap Gavin tiba-tiba, memecah kesunyian, ketika menyadari mobil itu mengarah ke apartemen Evelyn. Suaranya rendah, namun terdengar arogan, "Bawa dia ke rumah pribadi ku."
Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi bibi Almira. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Keputusan mendadak Gavin bisa menjadi ancaman bagi sandiwara mereka.
Bibi Almira tampak menelan ludahnya, tidak berani melontarkan bantahan apapun. Kini, ia harus tetap tenang, agar tidak semakin memicu kecurigaan di mata Gavin.
Kepanikan justru akan semakin menjerumuskan dirinya ke dalam permainan yang sedang mereka susun sendiri—sebuah jaring sandiwara yang kini perlahan mulai menjerat mereka.
Mobil itu melaju menuju rumah pribadi Gavin. Rumah yang bahkan tidak diketahui keberadaannya oleh dirinya, juga Evelyn. Kenapa tiba-tiba Gavin membawa Shopia ke rumahnya? Apa mungkin penyamaran mereka telah terbongkar?
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Kepala pelayan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, ketika melihat tuannya membawa seorang wanita dalam dekapannya. Gavin melangkah masuk ke rumah dengan tergesa-gesa, mengabaikan semua pelayan yang berbasis rapi untuk menyambut kedatangannya seperti biasa.
"Panggil dokter Sarah sekarang juga! Suruh dia datang dalam sepuluh menit." perintah Gavin menggelegar, tanpa menghentikan langkahnya menuju tangga.
"Tuan, nona Evelyn hanya—"
"Segera!" potong Gavin cepat, suaranya terdengar rendah namun tajam seperti sembilu, menggantungkan kalimat bibi Almira di udara. Ia bahkan tidak menoleh, terus melangkah menaiki tangga menuju kamar pribadinya. Kamar yang tidak bisa sembarangan di masuki oleh siapapun selama ini kecuali atas izinnya.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis bibi Almira. Jantungnya berdetak kencang, menghantam dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Dengan jari-jarinya yang gemetar, ia mencoba membuka kunci ponselnya berkali-kali, namun tetap salah. "Tolong, jangan sekarang... jangan ketahuan sekarang," bisiknya parau, hampir menangis. Ia tahu, jika dokter Sarah menemukan sesuatu yang tidak beres pada 'Evelyn', bukan hanya sandiwara ini yang hancur, tapi nyawa mereka termasuk Evelyn juga akan berada di ujung tanduk.
Sementara itu di kamar Gavin yang terasa dingin, ia meletakkan tubuh Shopia yang terkulai lemas di atas ranjangnya yang luas.
Entah kenapa ia malah bertindak impulsif dengan membawa wanita itu ke rumahnya. Keputusan itu muncul begitu saja, bahkan tanpa ada pertimbangan logika yang biasanya selalu ia agungkan.
Gavin menatap lekat wajah Sophia yang terbaring pucat di atas ranjangnya. Di bawah sorotan lampu kamar yang temaram, ia meneliti setiap inci wajahnya, mencari jawaban atas dorongan impulsif yang baru saja menguasai akal sehatnya. Ada sesuatu yang janggal, namun sekaligus terasa familiar.
Bukankah itu restoran favoritnya? Kenapa dia tiba-tiba histeris seperti itu? Batin Gavin gusar,
Selama ini tidak ada laporan tentang gangguan kecemasan atau hal-hal aneh berkaitan dengan dirinya. Semuanya tampak bersih, hingga ledakan emosi tadi menghancurkan seluruh profil yang ia ketahui tentang dirinya.
"Apa kau memang terlalu ahli bersandiwara? Atau aku yang terlalu mudah di bohongi?" desisnya rendah, terdengar berbahaya.
Ia tersenyum hambar, seolah sedang menertawakan wanita di hadapannya itu atau justru malah menertawakan dirinya sendiri yang mulai lengah.
"Menarik."
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Apa yang dipikirkan Gavin saat ini? Apa ia benar-benar curiga pada Shopia?
Jika kalian tertarik dengan ceritanya, jangan lupa mampir dan dukung cerita ini ya .
Tinggalkan like dan komentar kamu di akhir bab. Dukungan dari kalian adalah penyemangat untukku.
Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya.. 🤗