Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 22
Setelah sholat Isya mereka menyiapkan semuanya, seperti tempat dan daun pisang untuk alas mereka makan, makanan sudah matang semuanya.
Raynar merasa hangat dengan kedekatan Keluarga Nina, dirinya dan Zeyya begitu di terima di keluarga Nina.
Ia beberapa kali mengambil gambar Nina, zeyya dan para sepupu Nina saat sedang menyiapkan nasi dan yang lainnya.
Menu mereka cukup sederhana, hanya Ayam goreng dengan tempe mendoan, lalapan dan tentunya juga sambal, namun kebersamaan mereka yang mahal.
Ini kala pertama bagi Raynar dan juga Zeyya, makan bersama berjejer di atas daun pisang, namun ini hal biasa bagi keluarga Nina.
" Dia tampak bahagia, tapi kenapa bisa ia sampai ke Indah?" tanya Raynar memandang Nina yang sedang bercanda dengan sepupunya.
Setelah makan mereka masih berkumpul di depan rumah Nina, mengobrol santai dan menikmati malam.
Raynar merasa senang dan tenang berada di tengah - tengah mereka, hal sesederhana ini yang membuatnya bahagia dan mendapatkan pengalaman baru, begitu pula dengan Zeyya yang mulai nyaman dengan sepupu Nina.
" Na, besok jadi ndaki?" tanya Arlo.
" Jadilah kenapa emang?" tanya Nina
" ikut dong, pengen refreshing juga" ujar Arlo.
" hmm, tapi awas yaa kamu ngaret aku tinggal" jawab Nina.
Mereka mengobrol hingga larut malam, Raynar, Nina dan yang lainnya tidur di rumah kedua orang tua Nina, Raynar tidur di kamar Haris,sedangkan Haris tidur di kamar kedua orang tuanya.
Sedangkan Zeyya tidur bersama dengan Nina di kamar Nina.
Pukul Tiga pagi Nina belum juga tidur, kebiasaan buruk Nina yang sulit di hilangkan, padahal nanti pagi ia akan hiking .
Nina memilih keluar kamar dan berdiam diri
duduk di sofa lantai atas, sambil menangis, kebiasaan Nina yang satu ini tidak ada yang mengetahui.
Nina setiap malam selalu menangis sebelum tidur, ia merasa lelah batin dan raganya, mentalnya terlalu lemah namun ia di paksa untuk kuat.
Raganya lelah, ia ingin di peluk, di dengar saat cerita, di butuh dukungan dari orang terdekatnya.
Tak terasa adzan shubuh berkumandang, Nina kemudian mengusap air matanya dan mengambil air wudhu melakukan sholat Qobliyah shubuh dan shubuh setelah itu ia akan tidur sebentar.
Tepat pukul setengah tujuh Nina dan yang lainnya berangkat mendaki, seperti Wira, Nina, Kenzie, Zeyya, Arlo, dan sepupu Nina lainnya.
Sedangkan Raynar tidak jadi berangkat, ia mengubah rencananya untuk mengetahui tentang Nina dari temannya yaitu Indah.
" kok loe enggak jadi ikut kenapa Ray?" tanya Haris yang memang tidak ikut.
" Ada janji bang, sama temen" jawab Raynar.
Mereka diam sesat,ia ingin bertanya pada Haris,apa dia mengetahui jika selama ini Nina konsul ke psikologi, namun ia takut salah langkah.
" emm bang, gue mau tanya sesuatu boleh?" tanya Raynar sedikit ragu.
" Tanya aja sih, kalau gue bisa jawab, gue jawab kalau enggak bisa ya... paling gue diem" jawab Raynar.
" Apa abang tau kalau sebelum ini Nina sering konsul ke psikologi?" tanya Raynar.
" Hah, enggak loe tau berita dari mana?" balas Haris yang kini fokusnya terlih pada Raynar.
Raynar kemudian mulai menceritakan, kejadian saat dirinya bertemu dengan Indah, dan rencananya untuk menemui Indah hari ini.
...****************...
Sedangkan di tempat lainnya, tepatnya di bukit mongkrang Nina dan yang lainnya mulai naik, Nina sedari tadi berdebat dengan Arlo dan juga
Arga, sepupu Nina yang seumuran dengan Nina.
Sedangkan Zeyya hanya menyimak ,dan terkadang tertawa jika mereka mengeluarkan tingkah aneh.
Mereka mendaki total ada tujuh orang termasuk juga Nina dan juga Zeyya,setelah menempuh sekitar hampir empat jam, karena mereka banyak berhenti, mereka akhirnya sampai juga di puncak bukit mongkrang.
" Gimana Zey?" tanya Wira pada Zeyya yang sedang beristirahat di samping Nina.
" Wah capek sih kak, tapi seru abisss" jawab Zeyya ,yang sepertinya ketagihan untuk hiking.
" hehehe jadi nih berarti Akhir taun kita ke merbabu? atau mau ke prau dulu?" sahut Wira.
" Jadi sih, aku mah ngikut sama suhunya aja" balas Zeyya.
Mereka kemudian berfoto dan menikmati pemandangan yang asri ini, apalagi Nina yang seperti sedang beristirahat dari pikiran - pikirannya yang selalu over thinking.
...****************...
Di tempat lain kini Raynar dan Haris sedang bertemu dengan Indah, teman sekaligus psikologi yang menangani Nina.
" Emmm ini kenapa loe ngajak orang yaa Ray?" tanya Indah saat mereka sudah duduk bertiga.
" Ini kakaknya Nina, yang loe bilang yang kemarin pasien loe" jelas Raynar.
" Iya, terus gimana?" tanya Indah.
" Jadi adik saya kenapa ya?" tanya Haris to the point .
" waduh maaf pak,saya enggak bisa ngasih tau, ini soal privasi pasien yang harus saya jaga" jawab Indah.
" Tapi dia adik saya dok? saya hanya ingin tau apa yang terjadi sama adik saya" balas Haris.
Indah tampak berfikir sebentar, memang yang di butuhkan Nina adalah suport dari orang terdekatnya terutama orang tuanya, tapi yang ia dengar juga Orang tua Nina tidak mengerti akan apa itu mental healty.
Indah tampak menarik nafas panjang " jadi Nina mengalami Anxiety disorder atau gangguan kecemasan kondisi mental yang menyebabkan rasa cemas, takut, dan khawatir yang berlebihan, berlarut-larut, dan sulit dikendalikan, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari"
"but the last time he was a consul, he was much better than when he first came to me a few years ago" sambung Indah.
" Beberapa tahun yang lalu? berati adik saya sudah lama konsul dengan Dokter?" tanya Haris.
" Yahh ... betul saat pertama kali datang, ia hanya bisa menangis, saya coba tenangkan dia namun tetap saja dia menangis, dia bingung mau cerita dari mana, because there was so much he wanted to tell, but he was confused about where to start"
Raynar dan Haris hanya diam mendengar kan penjelasan dari Indah mengenai kesehatan mental Nina.
"Until finally he started to tell about his life, which was always compared, never heard, always belittled."
"Dia awalnya bingung kenapa setiap dia berbicara ke orang selalu takut dan belibet, tapi jika dia sedang bekerja dia akan lancar menjelaskan suatu produk"
" Dia juga bilang, selalu susah tidur dan selalu ingin menangis jika ingin tidur, pikiran buruk yang bahkan belum tentu kejadian, membuat pikirannya tergangu"
"What he needs is not money, but he needs to be heard, needs to be hugged and needs a place to complain without anyone judging him."
Indah mulai menceritakan akar masalah yang bahkan Haris sendiri sebagai kakak tidak tau itu, ia seakan tutup mata akan kesehatan mental sang adik.
Haris juga merasa bersalah pada Nina, selama ini ia fikir dengan mencukupi gaya hidup Nina,ia bisa membuat sang adik senang dan bahagia, tapi ternyata bukan itu yang membuat adiknya bahagia.
" Tapi kenapa adil saya terlihat biasa saja? bahkan terlihat bahagia" tanya Haris yang masih setengah percaya dengan penjelasan Indah.
"Because of the pressure he received, and also the saying that pain should be fought, not felt." ucap Indah.
" Saya tidak tau pasti yang berbicara itu ke dia siapa, namun dari situ di otaknya akan tertanam jika sakit sebelum ia tumbang ia harus terus bekerja dan tidak boleh lemah,itu yang membuat Nina gila kerja dan tidak berhenti sebelum ia tumbang, padahal di dirinya juga butuh istirahat "