Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Aska berjalan cepat tanpa menoleh lagi ke arah Vivi, hal tersebut membuat Vivi semakin merasa kesal dengan Nuraa, dendam di hatinya untuk Nuraa pun semakin membara.
Evelyn yang tangannya di genggam Aska, tertatih mengikuti langkah Aska yang lebar.
"Lepasin aku! Kenapa kak Aska ikut narik aku." Evelyn akhirnya melepaskan genggaman Aska di tangannya.
"Ngapain ikut narik aku juga, lagian ini kafe milik aku, aku masih harus kerja, kalian berdua selesaikan sendiri urusan kalian, jangan bawa-bawa aku." Sungut Evelyn, meninggalkan Aska yang masih menggendong Nuraa di sebelah pundaknya.
"Huuuftt 2 hari ini beneran bikin cape banget karena drama mereka," gumam Evelyn.
Aska kembali berjalan ke luar kafe, saat sampai di depan mobilnya, Aska perlahan menurunkan Nuraa, membukakan pintu mobil untuknya dan memaksa Nuraa untuk masuk.
"Aku bawa mobil sendiri, Kak. Gak perlu nganterin aku," ujar Nuraa, saat Aska sudah ada di dalam mobil.
"Nanti biar saya minta karyawan di showroom untuk bawa mobil kamu," jawab Aska.
"Tapi kuncinya di sini." Nuraa menepuk tas miliknya.
Aska menatap sejenak ke arah tas Nuraa, setelah itu ia menelpon salah satu karyawannya untuk datang mengambil mobil milik Nuraa.
"Kita tunggu 10 menit, karyawan saya datang dan biar dia yang bawa mobil kamu," ucap Aska.
"Kenapa kalian jadi suka ribut kaya gini, dulu kalian kaya perangko," kata Aska lagi.
"Hmm itu kan dulu, sebelum Vivi main serong sama Kevin, Kak. Apa maksud kak Aska aku harus tetap bersikap baik sama Vivi kaya dulu, dan menganggap semua ini bukan masalah besar, gitu?" Nuraa bersedekap dada dan mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Raa... bukan gitu maksud saya, saya minta maaf kalau sudah menyinggung perasaan kamu, saya cuma heran aja," lirih Aska.
"Kenapa harus heran? Hal yang aku lakuin udah benar. Aku bukan malaikat kak, aku benci di khianati seperti ini!" tegas Nuraa.
10 menit berlalu, mobil Nuraa sudah di bawa oleh salah satu karyawan showroom mobil Aska, sementara Nuraa dan Aska pun akhirnya meninggalkan kafe.
Karena tidak ada lagi yang bisa di lakukan oleh Vivi, ia pun ikut keluar meninggalkan kafe.
Sebelum melewati pintu kafe, Evelyn meneriaki Vivi.
"Jangan datang lagi kalo cuma untuk bikin drama di sini, kafe aku bukan tempat syuting drama kamu." teriak Evelyn, bersemangat.
————————
Malam hari di kediaman Kevin...
"Loh, Nak... makan malam dulu, kamu mau ke mana? Buru-buru banget."
Mendengar teriakan ibunya dari arah ruang makan di rumah mereka, Kevin terpaksa menghentikan sejenak langkahnya.
"Aku ada urusan penting di luar, Bu... kalian makan duluan aja, dan langsung istirahat, gak usah nungguin aku," jawab Kevin.
Kevin bergegas kembali berjalan ke luar dari dalam rumahnya.
"Anak itu, baru beberapa menit yang lalu pulang kerja, udah pergi lagi, apa dia gak cape," gerutu ibu Kevin.
"Biarkan saja, Bu, lagi pula Kevin bukan anak kecil lagi, dia juga anak lelaki, bisa jaga dirinya sendiri, kita gak perlu khawatir," imbuh ayah Kevin.
"Ayah terlalu manjain Kevin, lihat sekarang akibatnya, bisa-bisanya dia selingkuh sama sahabat pacarnya sendiri."
"Gak ngerti ibu, dia belajar hal yang buruk seperti itu dari siapa," gumam ibu Kevin.
"Jangan terlalu banyak pikiran, Bu... ayah udah lapar, ayo kita makan," pinta ayah Kevin.
Ibu Kevin pun tidak lagi banyak bicara.
——————————
"Wanita sialan!" Kevin mencengkram kuat setir mobilnya.
Setelah mendapatkan pesan singkat dari Vivi, Kevin tidak bisa lagi menunggu esok hari untuk bertemu dengan Vivi.
Meskipun sebenarnya ia merasa sangat lelah, tapi setelah membaca pesan Vivi, rasa lelah Kevin seketika hilang, menguap entah kemana, berganti dengan amarah yang menggebu di hatinya.
Dan kini, Kevin sudah berdiri dengan gelisah di depan pintu apartemen Vivi, tidak cukup hanya memencet bel apartemen Vivi, Kevin juga menggedor-gedor kuat pintu apartemen Vivi.
Sementara Vivi yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendengus kesal karena mendengar gedoran kuat di depan pintu apartemennya.
Dengan langkah malas Vivi berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.
Belum sempat bicara apa-apa, Kevin langsung mendorong tubuh Vivi ke dinding dan mencengkram wajah Vivi dengan salah satu tangannya.
"Wanita sialan! Brengsek! Kamu bener-bener gila, Vi!" Cengkraman Kevin di wajah Vivi semakin kuat.
"Kamu mengacaukan hubunganku dengan Nuraa, mengaku hamil anakku. Sekarang ... setelah hubunganku sama Nuraa hancur, kamu bilang, kamu gak hamil." Kevin tertawa, ia menertawai kebodohan dirinya sendiri.
"Kenapa kamu ngelakuin hal ini hah?!" Kevin menggoyang-goyangkan wajah Vivi yang ada di dalam cengkraman tangannya.
Dengan sekuat tenaganya Vivi berusaha melawan Kevin, Vivi pun akhirnya berhasil melepaskan diri dari Kevin.
"Aku mana tau kalo ternyata tespek yang aku pakai untuk mengecek kehamilan, bermasalah," jawab Vivi dengan enteng.
Vivi mengelus kedua pipinya yang terasa sakit karena di cengkram kuat oleh Kevin.
"Hahahaha, kamu bener-bener gila, Vi! Enteng banget jawaban kamu, seolah-olah apa yang kamu lakukan ke aku dan Nuraa ini bukan hal yang besar."
"Karena kamu, Nuraa memutuskan hubungan denganku! Karena kamu, pernikahanku dan juga Nuraa batal! Karena kamu, sekarang Nuraa bahkan gak mau lagi menatap wajah aku, karena kamu, Nuraa bener-bener benci aku sekarang," teriak Kevin dengan kuat, kedua tangannya mengepal.
Andai saja ia tidak ingat membunuh seseorang adalah dosa dan merupakan tindakan kriminal yang akan berdampak buruk untuk dirinya sendiri, mungkin dirinya sudah melenyapkan wanita gila yang ada di hadapannya saat ini juga.
"Belum terlambat untuk kamu membujuk Nuraa, kamu kan tinggal jelasin aja, kalo ternyata ini semua cuma salah paham aja," kata Vivi lagi.
Kevin perlahan berjalan mendekati Vivi, menahannya ke dinding dengan tubuhnya, sementara kedua tangan Vivi ia angkat, sehingga jarak antara mereka terkikis, karena posisi ini adalah posisi yang sangat intens.
Posisi tersebut membuat keduanya bisa saling merasakan deru napas masing-masing.
"Aku rasa kamu sengaja ngelakuin hal ini, Vi," Kevin menatap tajam Vivi.
"Kamu cemburu sama Nuraa, kan? Kamu gak mau Nuraa bahagia, kamu tau kebahagian Nuraa adalah aku," kata Kevin lagi.
"Tapi ada satu hal yang gak bisa aku pahami, beberapa waktu lalu kamu ngotot bilang hamil anakku, padahal aku sendiri yakin, gak pernah terjadi apapun di antara kita, kamu bahkan menunjukkan tespek yang bergaris 2 ke depan wajahku, Vi."
"Sekarang dengan entengnya kamu nyuruh aku bujuk Nuraa, bukan kah lebih baik kita lanjutkan semua ini, kamu mau membuat Nuraa tersiksa, kan?"
"Lepasin aku Kevin! Kamu gila!" teriak Vivi.
"Hahahaha. Kamu bilang aku gila? Kamu yang gila! Aku gak gila, aku cuma bodoh karena bisa dengan mudah kamu gunakan sebagai tameng untuk menyakiti Nuraa."
"Aku gak akan biarin kamu lepas dari genggamanku, jangan pernah bermimpi!"
Kevin mencium bibir Vivi dan melumatnya dengan kasar, sementara Vivi terus meronta agar Kevin melepaskannya.
Vivi pun akhirnya terpaksa menggigit bibir Kevin untuk menghentikan ciumannya, dan benar saja, Kevin langsung menghentikan ciuman kasarnya terhadap Vivi.
"Kamu gak pantas mendapatkan ciuman pertamaku, Kevin!" Vivi meludahi wajah Kevin.
"Jadi benar rupanya, kamu sengaja melakukan semua ini untuk memisahkan aku dan Nuraa, itu berarti memang gak pernah terjadi apa-apa di antara kita."
"Itu artinya kamu sama seperti Nuraa, kalian berdua masih suci." Kevin tersenyum menyeringai.
Kevin menurunkan kedua tangan Vivi yang di tahannya ke atas, berganti menahan tangan Vivi ke belakang tubuh Vivi, sementara tangan Kevin yang lain merengkuh pinggang Vivi.
"Kamu menuduh aku menghamili kamu, tapi ternyata semua itu bohong, kamu pikir aku akan diam saja, dan menerima semuanya dengan hati yang lapang?" Kevin berbisik tepat di telinga Vivi.
Kevin mencium lembut daun telinga Vivi, sementara Vivi langsung memiringkan wajahnya ke arah lain.
Tangan Kevin perlahan turun dari pinggang Vivi, menelusup masuk ke dalam dress yang di kenakan Vivi.
"Kevin jangan kurang ajar ya kamu! Aku akan laporkan kamu atas tuduhan pelecehan," teriak Vivi.
"Lapor saja, tapi sebelum itu, biar aku buat semua kebohongan kamu menjadi nyata." Jari jemari Kevin membelai lembut bagian sensitif Vivi yang tertutup oleh kain berbentuk segitiga.
"Cukup sekali aku bodoh," kata Kevin lagi.
Ugh! Vivi melenguh karena sentuhan Kevin.
Kevin kembali mencium Vivi dengan kasar, kali ini Vivi tidak lagi menggigit bibir Kevin.
Vivi menggeliat karena tangan Kevin sudah berhasil menelusup masuk dan menyentuh langsung bagian sensitif tubuh Vivi, Kevin bahkan bermain di benda tersebut, mengusapnya dengan lembut, membuat Vivi mendesah, melihat reaksi dari Vivi, Kevin tersenyum menyeringai, reaksi tubuh Vivi tidak seperti apa yang diucapkannya tadi. Kevin semakin kencang mengusapnya, jari Kevin menerobos masuk ke dalam dan mengo-coknya dengan kuat.
Tubuh Vivi meliuk-liuk seperti ular, lenguhan panjang akhirnya keluar dari bibir Vivi, bersamaan dengan cairan kental yang juga keluar dari bawah.
Tidak cukup sampai di situ, Kevin merengkuh tubuh Vivi, membawanya ke sofa, menindih Vivi di atas sofa.
Vivi terbuai dengan sentuhan demi sentuhan dari Kevin yang membuatnya seakan terbang tinggi.
Menyadari hal tersebut, Kevin pun tidak membuang kesempatan.
"Hhhmmmp...." Kevin menghi-sap bukit kembar Vivi dengan rakus, sementara Vivi mendesah, tangannya mencengkram kuat rambut Kevin dan menariknya agar semakin dalam menghi-sap bukit kembar miliknya.
Kesempatan tersebut, Kevin gunakan untuk membuka kain segitiga yang menutupi bagian sensitiv Vivi.
Setelah itu, perlahan ia pun membuka pakaian bagian bawah miliknya.
Suara desahan keduanya saling bersautan seiring dengan Kevin yang semakin kuat memompa tubuh Vivi.
Bersambung...