NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TRAVEL ON THE PLANE

Pagi ini Karel bangun duluan, ia berkacak pinggang di ujung ranjang. “Dia yang nyuruh tidur, dia yang tidur duluan juga, tapi dia bangun paling akhir.”

Sedangkan Luz? Masih tidur miring meluk guling dengan dengkuran lembut dari nafasnya.

“Luz, niat gak sih? Yaudah gak jadi pergi.” Suara Karel terdengar kian menjauh.

Luz langsung melotot setelah dari tadi di nanti-nanti. Tanpa mengucek mata, ia turun dari kasur ambil handuk dan mandi. “Oke siap laksanakan!” Ia hormat gerak, terus nabrak pintu karna malah merem lagi.

“Take care makanya.”

Beberapa waktu kemudian, Karel udah beli bubur lewat aplikasi. Dia menyuruh sarapan dulu sebelum pergi. Hingga beberapa waktu koper sudah siap di dekat pintu. Punya Karel banyak dan sangat lengkap. Membuat Luz melongo.

Kapan dia menyiapkannya coba?

Padahal ini rencana Luz buat selalu deket sama Karel lagian mayan kan dari pada di anggurin. Terus ntar Karel nyiapin barang paling banyak dan rempong banget.

Sedangkan persiapan Berangkat Luz cuma bawa satu koper kecil, isinya barang penting karena dia niatnya santai.

Karel? Koper gede, tas ransel, kantong plastik kecil, bahkan ada bawa obat-obatan, payung, lotion anti nyamuk, cemilan, sampai sandal jepit cadangan.

Luz ngelihatin Karel sambil ngakak dalem hati. “Ini niat liburan apa pindahan rumah sih...” Ia cuman garuk kepala sambil menahan senyum.

Karel serius banget, kayak takut ada yang kurang. Dia nanya. “Menurut lo gue butuh bawa jas hujan juga gak?”

Luz udah mau pingsan nahan ketawa. Membuat kening Karel mengerut.

“Ada yang aneh?”

Luz menggeleng, ia memilih mengalihkannya dari pada harus cerita. Tangannya menarik tangan Karel. “Gausah di pikirin ayo berangkat. Nanti telat.”

Mereka turun naik lift, lalu menunggu beberapa saat taksi jemputannya datang.

Lagi dan lagi kelakuan manja Luz bikin Karel kaget. Dia minta di bukain pintu, terus di dalam mobil meluk tangannya dan nyender.

Karel keliatan awkward banget. Mungkin Luz mepet duduk, terus nyender di bahu Karel dengan alasan sengaja gak sengaja.

Setelah Luz gelanyutan, pura-pura tidur katanya masih ngantuk. Karel iyain karna kasian, eh malah cium pundaknya bikin Karel makin kaku. Pelan-pelan dia ngelepas tangan Luz dari lengannya, tapi Luz malah makin erat.

Sampai akhirnya ke bangun sendiri, ngucek mata setengah sadar.

Luz nyengir, duduk tegak, terus sambil ngelus-ngelus baby bump kecilnya, dia nyeletuk tanpa beban: “Gila, gue kek cewek haus belai banget anjir.”

Karel noleh, nahan ketawa. “Ya sadar diri lah, Lu.” Tapi suaranya pelan, kayak khawatir menyinggung.

Luz tiba-tiba diem beberapa detik. Ada sedetik perasaan kayak... Luz capek sebenernya. Bukan capek fisik doang, tapi capek emosional— ngerasa kosong, haus dipeluk, haus diperhatiin, tapi nggak ada yang bener-bener stay.

Baru setelah itu dia ketawa lagi, pura-pura cuek, sambil colek-colek Karel kayak biasa. “Gapapalah kan yayaya? Gak tiap hari juga kok.”

Luz balik nyender, mengelus lengan Karel dan tersenyum sambil memejamkan mata. “Soalnya lo yang jadi nemenin healing. Kalo sama temen mah ya ke dia.”

Karel menatap ke arah jendela. “Yaiyalah ngajak healing gak ada yang mau nemenin, orang bukan weekend. Masih hari sibuk.”

Luz menyengir lebar. “Gue kan pengangguran hehe udah lupa soal hari lagi.”

Sumpah sih, di perjalanan singkat menuju bandara ini, Luz seneng banget bisa liat sisi kaku tapi perhatian dari Karel. Dia sempet nawarin cemilan buat nunggu macet, ngatur posisi duduk biar nyaman nawarin bantal leher siapa tahu pegel. Apalagi pas Luz bilang perutnya kram, dia kaku banget pas itu di suruh elus-elus perutnya. Modusnya ada-ada aja, tapi diam-diam ia tersenyum kecil. Masih punya pelampiasan.

Bagi Karel itu aneh, tekstur perut orang hamil membuat bulu kuduknya merinding. Terasa kencang, terus ada yang bergerak. Mukanya sampe memerah, kebingungan.

Luz diam-diam memotretnya. “Rasain lo James, kebakaran dah ntar liatnya,” batinnya.

Luz tertawa kecil. Mungkin Karel memang gak sadar, atau lupa, kalau mengganti nama di tiket itu ribet banget.

Harusnya sih dia ngeh kalau semua ini sudah direncanain.

“Kayaknya dia gak kepikiran karena lagi banyak pikiran,” pikir Luz sambil tersenyum geli.

“Jadi biar cepat, iya-iya aja. Padahal kalau beneran buat temen gue, bakal ribet ngurus name change. Tapi gue juga bisa lah cari-cari alasan lain, kayak beli tiket fleksibel atau transferable.”

...--✿✿✿--...

Begitu taksi berhenti di pelataran bandara, Karel dan Luz segera turun, masing-masing menarik koper kecil mereka dari bagasi. Hembusan angin bandara yang sibuk menyambut mereka, riuh suara roda koper bergesekan dengan lantai, bergema samar di antara langkah kaki yang berlalu-lalang.

Mereka berjalan cepat ke dalam, lalu berdiri sejenak di bawah layar besar yang menampilkan jadwal penerbangan. Mata Luz menelusuri deretan pengumuman, mencari penerbangan menuju Bali. Di sudut layar, tulisan ‘gate open’ berkedip-kedip di sebelah nomor penerbangan mereka.

Luz segera merogoh tas selempangnya, mengeluarkan ponsel. Ia membuka aplikasi email dan memperlihatkan tiket online yang baru saja dibelinya semalam. Bersamaan, ia juga memastikan KTP-nya ada—terselip rapi di dompet kecil.

“Ini, tiketnya,” gumam Luz, sedikit lega. Ia memperlihatkan layar ponselnya pada Karel, memastikan semuanya siap.

Karel hanya mengangguk tipis, matanya mengamati sekitar, memastikan jalur menuju pemeriksaan keamanan. Sementara itu, pengumuman lewat pengeras suara mulai terdengar: “Kepada penumpang tujuan Bali, penerbangan kami akan segera melakukan proses boarding. Dimohon untuk bersiap di gate 3.”

Mendengar itu, Luz menarik napas panjang, menggenggam erat gagang kopernya. Bersama Karel, ia melangkah menuju pemeriksaan tiket dan identitas, mempersiapkan diri untuk lepas landas meninggalkan segalanya untuk sementara, menuju pelepasan penat.

Sebelum masuk, Karel ingat belum memberikan kabar ke James. “Wait.”

Tapi Luz keburu menahan. “Gausah ngabarin siapapun. Kita bukan mau lari dari kenyataan hidup yang pahit.”

Saat melihat Karel mengeluarkan handphone, Luz bertanya mau apa. Ke inget James, ia langsung merebut benda itu. Luz takut, ketara banget dia nyembunyiin sesuatu. Sampe akhirnya dia nyuruh keduanya matiin handphone selama disana, boleh di aktifin sebelum tidur. Karna gak mau liburannya ke ganggu, yang harus on terus itu kamera.

“Tapi kan---“

“Gue gak mau kita malah sibuk ngeliatin layar. Jadi ntar kita foto-foto aja buat kenang-kenangan oke?!” kata Luz sambil mengaktifkan mode pesawat karna sudah mau masuk juga.

Karel awalnya ragu, tapi akhirnya mau.

Menunggu pesawat lepas landas. Luz baru selesai berdoa dan tak habis pikir melihat Karel yang duduk kaku kayak tiang bendera, nempel ke jendela, diem, pura-pura tidur, kayak pengen menguap ke dimensi lain.

Padahal Luz aja santai kayak di pantai, kini gelanyutan, manja, godain Karel, ketawa kecil sendiri, kadang pura-pura ngorok sambil nempel ke bahunya. Saking gabut nya.

Sekitar penumpang lain ngeliatin heran, ada yang senyum simpul, ada yang malah kira mereka pasangan gemes.

Pesawat mulai take off ke landasan. Karel udah pakai seatbelt rapi, headphone terpasang, milih dengerin musik. Di sebelahnya, Luz nemplok tanpa dosa. Nggak peduli orang mau ngeliat apa. Yang jelas dia beneran gak bisa diem, terus bergerak-gerak mana gamau jauh lagi dari Karel.

Tangan Luz nyender ke tangan Karel, kepala kadang-kadang nyosor ke pundaknya. Sambil bisik kecil, setengah ngigo, setengah sadar. “Nyamannya... kayak kasur.”

Karel merem makin kenceng, nahan napas.

Di dalam hati: Sabar, Rel. Ini ujian.

Begitu pramugari dateng, Luz malah bangun senyum centil, keliatan banget pura-pura tidur.

Karel melek, ngelirik penuh rasa. “Apa sih lu, aneh banget.”

Tapi Luz malah mesem polos, manja banget kayak anak kecil. Karna itu Karel mikir apakah ini adalah keputusan yang benar? Di rasa belum apa-apa sudah bikin mau trauma.

Mana tadi dari begitu duduk sampe sekarang masih gelanyutan manja kayak anak kucing. Karel udah capek ngusir pelan kayak “udah, duduk yang bener, Luz,” malah makin mepet ke Karel sampe ke jepit. Kalau gak gitu, dia malah makin manja, pura-pura ngulet sambil nyandar penuh. Bikin Karel makin risih, pegel dan tangannya kaku. Dia melirik sekeliling, takut ada yang sengaja ada yang liatin dirinya.

“Rel....” bisik Luz, suaranya kecil kayak orang beneran setengah sadar. “Ngantuk.” Terus tanpa di sangka, langsung cium pipi Karel

Gila ini bocah ngelindur apa modus?

Mukanya merah padam, tangannya terkepal kuat. Mau ngedorong Luz, takut dia ngamuk. Padahal dalem hati Luz, “Hihihi mampus lo Rel.” Sesekali ia mengintip dari balik matanya. Mukanya beneran tertekan. Sampe dirinya tahan tawa sekuat tenaga, sambil tetep makin ngedekap Karel semakin erat, pura-pura bobo.

Luz lagi-lagi cari kenyamanan. Tapi Karel malah ngerasa canggung... karena dia gak biasa dikasih sayang fisik kayak gitu sama cewek.

Makin lama Karel malah takut anjir, vibe-nya tuh bukan yang “ih gemes,” tapi malah kayak, “Anjir ini bocah jangan-jangan niat ngehancurin reputasi gue di tempat umum.” Karna tangan Luz mulai meraba tubuhnya perlahan.

Karel jadi makin defensif kayak kucing didorong ke sudut, mau ngamuk tapi gak tega, mau kabur tapi gak mungkin. Mana dia keliatan banget pura-pura ngigo sambil cium-cium bajunya.

Dalam hati Karel berteriak, “Gue takut sumpah. Ini bocah kalau keterusan, bisa viral ‘oknum cowok di pesawat ngapa-ngapain sama cewek hamil’ astaga oh God help me.” Mukanya jadi merah sendiri, tapi malah diem aja kek orang pasrah nasib.

Lama kelamaan Karel juga ngantuk, cuman pas mau tidur dia kaget mimpi ke peleset jadi gak lama ke bangun lagi. Ke inget masih punya kerjaan yang harus di kerjain. Ia buka tasnya, ngeluarin iPad. Lebih baik mengerjakan ini dari pada tidur yang menurutnya buang-buang waktu. Ia mendorong kepala Luz karna bahunya pegal.

Dia beneran tidur sekarang. Berbeda dengannya ternyata, Luz sangat suka tidur bahkan setiap hari wajib 8 jam. Bahkan lebih.

Ada beberapa silent momen yang keras manis. Pas Luz curi-curi pandang ke Karel saat dia fokus ngerjain sesuatu. Terus pas Luz minta bukain cemilan dan suapin. Bahkan bukain botol minuman. Terus nyetel film biar gak bosen.

...--✿✿✿--...

Mereka akhirnya tiba di Denpasar setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam 50 menit. Mereka sampai pukul 10.50 WITA. Tadi mereka berangkat sekitar jam 08.00 WIB, karna perbedaan WIB dan WITA itu satu jam lebih cepat.

Perjalanan ini bisa di bilang kocak, cuek, edgy, selebihnya isinya cuman Luz manja brutal nempel mulu.

Begitu kaki mereka menginjak bandara Bali, angin berhembus lembut, cuaca sangat bagus. Langit begitu teras dan panas matahari begitu terik.

Karel mengangkat koper dua biji kayak porter dadakan. Luz? Bawa totebag isinya cuma kamera sama cemilan, jalan santai sambil motret Karel dari belakang.

“Porter gratis. Bagusss, buat kenang-kenangan,” kata Luz, cekikikan sambil jepret.

Karel noleh, males, tapi pas liat muka Luz yang ketawa lepas, Cuma bisa geleng kepala. Ia harus menarik dua koper sekaligus mana berat semua.

Di mobil, Luz minta supir taksi yang nyetir lebih pelan karena katanya mau menikmati aroma Bali, padahal biar bisa rebahan sambil ngelunjak di kursi. Kayak bikin Karel gak tenang lagi.

Sesampainya di hotel tak jauh dari tepi pantai. Luz ganti baju, memakai tunik of shoulder, berbahan organza berwarna putih. Yang menutupi dari dada sampai lutut, di padukan sendal sol, kaca mata dan topi.

Luz bilang dia tidak ingin makan siang disini. Jadinya jalan-jalan dulu keluar. Karel heran, dia sudah masuk hamil tua tapi justru masih aktif. Kayak gak habis-habis energinya.

Abis jajan, ngajak ke pasar seni. Atmosfer pasar seni yang ramai dengan kerajinan tangan, lukisan dan barang-barang khas Bali yang memikat. Luz merasa semangat, walau mulai pada pegel, jalan dikit capek.

Luz menghabiskan waktu dengan melihat-lihat kerajinan lokal, berbicara dengan para pedagang, dan memilih beberapa barang sebagai oleh-oleh. Karel tentu menemani dengan sabar, memastikan Luz nyaman dirinya enggak karna capek.

Mungkin sesekali Karel mengingatkan agar Luz beristirahat sejenak, karena berjalan terlalu lama bisa membuatnya lelah.

Bahkan meskipun sudah hamil besar, Luz tampak penuh semangat, berkeliling dan menikmati suasana, dengan senyum yang tak pernah lepas.

Luz adalah tipe orang yang tetap positif dan penuh rasa ingin tahu, tak peduli kondisi fisiknya. Ia menunjukkan betapa dia menikmati perjalanannya, meskipun banyak yang harus diperhatikan selama kehamilan.

“Abis dari sini kemana lagi?”

Luz berjalan lebih dahulu, ia menoleh. “Udah jam setengah 3, gue mau berjemur dulu.”

“Jangan capek-capek ntar drop lagi. Baru aja sembuh.” Karel sedikit berteriak.

“Kan disini cuman bentar jadi gue harus kerjain semua to do list gue secepatnya.”

...--✿✿✿--...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!