Karena Fitnah Ibu Mertua ku, rumah tangga ku berantakan. Dia tega memfitnah dan menghadirkan orang ketiga di dalam rumah tangga ku.
Aku tak tahu, kenapa ibu mertua jadi kejam seperti ini, bahkan bukannya dia yang meminta agar aku dan Mas Doni segera menikah.
Ada apa ini?
Bagaimana nasib rumah tangga ku?
Siapa yang akan bertahan, aku atau ibu mertua ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Terungkap
"Hamil?"
"Iya Mas aku hamil."
"Jangan percaya Doni! Mungkin saja dia hamil dari anak selingkuhannya," sahut Bu Misye sambil menarik tangan Doni.
'Astaghfirullah, Ma. Aku tak pernah selingkuh. Apa yang terjadi itu semua karena rekayasa Mama kan?"
"Jika memang Mama tidak menerima kehadiran saya sebagai menantu Mama, tidak apa-apa. Tapi jangan memfitnah saya, katakan saja pada mas Doni apa yang sebenarnya membuat mama begitu membenci saya."
"Kamu dengar kan Doni, dia bilang mama memfitnah dia, jelas-jelas kamu melihat sendiri saat dia tidur dengan pria lain."
Doni terdiam sambil memandang Sindy dan Bu Misye secara bergantian.
Sindy menjadi geram karena sepertinya Doni masih tak mempercayainya.
"Mas, jika kamu tidak percaya kita bisa lakukan tes DNA ketika anak ini lahir, tapi ingat Mas, jika anak ini terbukti anak kamu, kamu akan menyesal, karena sudah mentelantar aku dan juga anak kamu sendiri. Kau dengar kan saja apa kata mama mu Mas, sejak awal dia memang menentang hubungan kita, lalu kenapa dia pura-pura baik terhadapku dan seolah-olah menerima kehadiran ku sebelum kejadian itu terjadi? Kau tanyakan saja pada mama mu sebenarnya apa yang terjadi pada mama mu dan ayah ku di masa lalu,apa karena itu dia ingin balas dendam dengan memfitnah ku? " pungkas Sindy, kemudian dia berlalu begitu saja meninggalkan mereka.
Sindy berlalu dari Doni, karena dia mengira sia-sia bicara pada Doni selama ada Bu Misye.
"Ayo Bu kita pergi aja, gak ada gunanya kita berkata jujur," ajak Sindy pada Bu Anita.
Doni menatap punggung Sindy sejenak tanpa berniat menghentikan langkahnya, kemudian dia menatap ke arah Bu Misye.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Mama dan ayahnya Sindy Ma?" tanya Doni.
Bu Misye gelapan di tanya dan dipelototi oleh Doni seperti itu.
"Ayo Ma, jawab?"
"Apa mama sudah kenal dengan ayah Sindy sebelumnya?"
"Bukan apa-apa Doni, mama dan ayah Sindy ternyata teman masa sekolah dulu." Bu Misye menjawab dengan ragu.
"Sudahlah Doni, perkataan Sindy itu hanya memprovokasi kita saja, dia itu wanita licik, hamil dari orang lain malah minta tanggung jawab sama kamu!"
Doni menatap Bu Misye lekat, dari gelagat Bu Misye Doni bisa merasakan ada sesuatu yang coba disembunyikan oleh Bu Misye.
"Ayo kita pulang Doni," ajak
Bu Misye sambil menarik tangan Doni.
Doni bergerak membuka pintu mobil.
Setelah itu dia mengendarai mobilnya keluar dari pelataran parkir gedung pengadilan agama.
Mobil Doni melambat ketika melewati
Sindy dan Bu Anita yang berjalan kaki menuju jalan raya.
"Ayo Doni jangan kamu kasih kesempatan untuk Sindy. Ingat kamu sebentar lagi akan menikah dengan Viola.Dan Sindy itu bukan lagi istri kamu! Kamu tinggal beri dia harta gono-gini dan nafkah yang belum kamu berikan selama dia jadi istri kamu kan, udah beres!" seru Bu Misye.
Sindy menoleh ke arah mobil yang melewatinya itu,dia pun membiarkan mobil tersebut berlalu hingga jauh meninggalkan dan melesat ke jalan raya.
***
Sindy dan Bu Anita berada di halte bis.
Bu Anita mengusap perut Sindy.
'Kamu tenang saja ya Cu, kamu tak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun, meski ayahmu tak mengakui mu," ucap Bu Anita.
Tutur kata Bu Anita semakin membuat Sindy sedih, seperti apapun kasih sayang yang diberikan oleh nenek dan kakeknya kelak, tetap saja seorang anak akan butuh kasih sayang kedua orang tuanya.
Tak terasa bulir bening menetes di pipi Sindy.
"Kamu sabar ya Sindy, jangan terlalu di pikirkan, jika kamu dan Doni berpisah, itu berarti jodoh kamu hanya sampai di sini saja. Mungkin Allah sudah mempersiapkan jodoh yang lebih baik untuk kamu."
"Iya Bu, Sindy berusaha untuk ikhlas," sahut Sindy lirih
***
Sepanjang perjalanan Doni hanya diam seribu bahasa.
"Doni,Minggu ini orang tua Viola sudah pulang dari luar kota, kita jadi punya kesempatan untuk segera melamar Viola kan?"
"Iya Tante, mami sama papi aku gak lama loh, paling dua minggu lagi mereka balik lagi ke Surabaya karena proyek yang papi tangani belum selesai," sahut Viola.
"Tuh Doni dengar ya, jadi sebaiknya kita panggil Om dan Tante kamu untuk ikut melamar Viola segera sebelum mami dan papi nya pulang lagi ke Surabaya.."
Doni tetap bergeming, pandangan lurus ke arah depan sambil menyetir.
"Bagaimana Doni, kita tidak punya waktu banyak nih. Lagipula kamu dan Sindy sudah resmi bercerai dan kamu tak perlu memikirkan anak yang ada di dalam kandungan Sindy, Karena itu pasti bukan anak kamu. Kamu urusan saja pernikahanmu. Mama yakin sekali Sindy sengaja meminta pertanggungjawaban kepada kamu, karena pria yang jadi selingkuhan itu pasti tidak mau bertanggung jawab."
Sepanjang perjalanan Doni hanya diam tak satupun pertanyaan Bu Misye dia jawab. Sementara Bu Misye terus mendesak Doni agar segera menikahi Viola.
Mobil Doni berhenti di depan rumah. Doni kembali masuk ke dalam rumah.
"Loh Don, kamu gak kerja?" tanya Bu Misye.
Lagi-lagi Doni tak menjawab. Doni menuju kamarnya dan memasuki ruang kerjanya, kemudian mengunci pintu
Dia lupa jika di rumah ini ada CCTV yang bisa membuktikan apa saja yang terjadi.
Doni membuka beberapa File rekaman yang tersimpan di laptop khusus miliknya.
Pertama Doni memutar CCTV beberapa hari yang lalu ketika ayah Sindy datang ke rumah mereka.
Saat itu, Doni melihat rekaman CCTV tersebut menunjukkan adanya obrolan serius antara Bu Misye dan pak Bramantyo.
Bahkan di rekam tersebut tidak menunjukkan )gelagat Bramantyo yang memarahi bahkan mencaci maki Bu Misye.
Justru pak Bramantyo terlihat memohon kepada Bu Misye yang terlihat angkuh dan arogan.
Dari rekaman tersebut Doni bisa tahu siapa yang sebenarnya berbohong.
Doni kembali mengutak-atik File mencari rekaman CCTV saat kejadian dimana dia menemukan sang istri tidur bersamanya pria lain.
Setelah puas mengotak atik dan mencocokkan waktu, Doni tidak menemukan rekaman CCTV pada saat kejadian.
Doni terus menyelidiki dan benar saja ada lompatan waktu rekaman.
"Ada yang tak beres." Doni terus mencari CCTV yang bisa menjelaskan kejadian di hari sang istri di temukan tidur bersama pria lain.
Setelah memeriksa rekaman sekitar rumah dan tak menemukannya, Doni keluar dari kamarnya.
"Doni mau kemana kamu?" tanya Bu Misye yang sejak tadi menunggu Doni keluar dari kamarnya.
'Mau kerumah pak RT."
Doni bergegas keluar dari rumahnya menuju rumah pak RT.
Pak RT mereka memang selalu standby di rumah karena beliau adalah seorang pensiunan PNS.
"Assalamualaikum pak Broto," ucap Doni ketika berada di depan pintu rumah pak RT.
"Waalaikumsalam, eh Doni ada apa?"
"Pak Broto, maaf mengganggu bisakah saya melihat CCTV komplek kita pak, sepertinya CCTV di rumah saya sudah di sabotase."
"Ada apa ya pak Doni, hingga memerlukan rekaman CCTV komplek kita, apa anda mengalami kehilangan barang?"
"Bukan Pak, ini terkait fitnah yang menimpa mantan istri saya. Entah kenapa saya merasa ada yang aneh dengan CCTV di rumah saya saat kejadian."
"Oh begitu, baiklah pak Doni silahkan masuk."
Pak RT membawa Doni ke sebuah ruangan. Di sana mereka mulai memutar rekaman CCTV saat kejadian.
Benar saja Doni melihat sebuah mobil sedan berwarna merah tiba di rumahnya tepat saat kejadian. Mobil itu berhenti di depan rumah.
Saat itu Doni melihat Sahrul dan seorang pria turun dari mobil. Pria itu dibukakan pintu oleh salah satu asisten rumah tangganya.
Beberapa saat kemudian Sahrul keluar dan meninggalkan pria itu di dalam rumah.
Tak berapa lama mobil Doni pun tiba di rumah.
Doni mem pause rekaman tersebut.
"Kalau Sindy punya hubungan khusus dengan Sahrul, kenapa Sahrul justru membiarkan pria itu masuk dan menemui Sindy?" gumam Doni.
Doni meminta Pak RT untuk melihat rekaman CCTV beberapa hari sebelum kejadian.
Dan ada satu rekaman dimana Sahrul dan Viola mendatangi rumah mereka kemudian menjemput Bu Misye.
"Berarti Sahrul, pria asing itu, Viola dan juga mama saling berhubungan," gumam Doni dengan geram.
"Ada apa pak Doni, apa anda sudah mendapatkan bukti?"
"Iya Pak RT, terima kasih ya pak. Maaf saya telah merepotkan Bapak."
"Oh tidak apa-apa, itu sudah menjadi tugas saya."
Doni pulang ke rumah dengan langkah cepat.
Bruk …pintu dibuka, Bu Misye yang kaget langsung menoleh ke arah Doni.
"Ada apa Doni?" tanya Bu Misye kaget ketika melihat wajah Doni yang memerah.
Bersambung dulu ya gengs.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT. Aamiin ya rabbal Al-Amin 🙏
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘
tahniah buat kehamilan mu Ainun
tahniah Ainun