Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21 ( Pundakku )
Pagi ini langit begitu mendung. Aku bergegas pergi mandi. Ku ambil handuk yang ku gantung di belakang pintu. Aku menuruni anak tangga dan membuka kunci pintu.
KREKKK ....
Aku membuka pintu dan suer! dingin banget hari ini. Aku langsung masuk ke kamar mandi.
BYURRR ....
Satu gayung siraman air membuatku bergetar, dingin sekali rasanya pagi ini. Buru-buru aku menyelesaikan mandiku dan bergegas wudhu untuk melaksanakan Shalat subuh dalam kamar.
Aku kembali naik ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhku dengan selimut. Aku pinjamkan mata. Tidur.
“Ken, bangun Nak. Ayo sarapan dulu. Ibu udah buatin nasi goreng, yuk bangun sayang,” suara lembut ibu yang membangunkanku di pagi hari.
“Iya, Bu,” ucapku yang masih setengah sadar.
“Eh ... malah tidur lagi. Ayo bangun,” ibu masih belum menyerah membangunkanku.
Aku bangkit dari tidur dan kini posisiku duduk di atas ranjang. Ibu tersenyum melihatku, entah karena apa.
“Kamu enggak Shalat, Nak?” tanya ibu.
“Sahat Bu, cuma tadi pagi selepas mandi perasaan dingin banget, makanya setelah Shalat subuh, Ken masuk selimut malah ketiduran,” aku menggaruk kepalaku sembari terkekeh malu di depan ibu.
Ibu hanya tersenyum. Mungkin aku sudah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa. Namun, di mata ibu aku masih seperti bocah kecil yang manja. Ibu tidak pernah membentakku.
Akhirnya, aku bangkit dari tempat tidur. Menuruni anak tangga, mengekor di belakang ibu untuk sarapan pagi.
‘Tumben Doremi belom ke sini?’ pekik dalam hati.
Aku meneruskan sarapan pagiku tanpa ada gangguan dari Nada. Sampai aku selesai, Nada belum juga menampakkan batang hidungnya di kontrakanku.
“Bu, Ken berangkat kampus ya?”
“Tunggu dulu, Nak,” sahut ibu dari dalam.
Aku menunggu di depan kontrakan.
“Tolong antarkan ini ke Bu Meri ya, Nak. Ken tahukan rumah bu Meri, Kasep?” ucap ibu menyodorkan satu baju yang telah selesai di jahit.
“Iya, Bu. Ken berangkat ya?” aku berlalu mengantarkan jahitan ibu untuk bu Meri.
Aku berangkat sendirian ke rumah bu Meri. Karena memang rumah bu Meri tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku.
Setelah melewati gang sempit dan menemukan ujung jalan buntu. Akhirnya terlihat rumah bu Meri. Tak butuh waktu lama, karena aku pernah mengantarkan jahitan baju ke rumahnya.
Selesai.
Aku kembali memacu si matic meluncur ke kampus. Aku menelusuri jalan dan sampailah di jalan utama.
Sial! Baru juga jalan udah kejebak lampu merah! Pekik dalam hati. Aku menunggu lampu merah dengan detikan yang lumayan lama. Sabar!
Drett ... Drett ....
Hape dalam kantong celanaku bergetar. Aku merogoh hape, aku menggeser layar pada hapeku. Terlihat pesan WA dari Nada.
‘Lu di mana? Gue udah siap berangkat ke kampus,’ WA dari Nada.
“Inalilahi! Gue lupa, si Doremi ketinggalan!” ucapku kecil.
‘Bentar, Gue OTW!’ balasku singkat.
Drett ... Drett ....
Drett ... Drett ....
Gawaiku terus bergetar. Entah siapa yang kirim pesan, aku tidak membuka gawai karena aku berputar arah buat jemput si Doremi.
Akhirnya, sampai juga di depan rumah Nada.
Pintu rumah terbuka, terlihat sosok Nada yang seperti biasa. Eh, sekarang ada yang berbeda darinya, tapi apa ya? Pekik dalam hati sembari berpikir.
Nada melenggang dan membuka pagar rumahnya.
“Ke mana aja sih, Lu?” ucap Nada, seperti biasa dengan gaya cerewetnya.
“Gue lupa hehe barusan Gue udah berangkat Lu WA ya Gue putar balik,” aku menggaruk kepalaku.
“Lah, emang tadi Lu dari mana?” tanya Nada menyelidik.
“Habis nganterin baju jahitan Ibu ke rumah customernya.”
“Ohh ....” Nada mengangguk.
Akhirnya Nada naik di jok belakang motorku. Aku memacu motorku melesat menuju kampus.
***
“Ken,” pekik Nada yang masih berada di atas jok motorku.
“Hem,” aku berdehem.
“Lu gak ngeliat ada yang beda gitu dari Gue?” tanya Nada yang terdengar ragu.
Aku turun dari motor. Memperhatikan Nada, aku memegang dagu dan mataku mendelik memperhatikan penampilannya.
“Gak ada yang aneh,” ucapku.
“Masa sih?” tanya Nada sambil menggigit bibir bawahnya.
“He’em,” jawabku.
Nada turun dari motor dan meninggalkanku tanpa ada kata. Aku mengekor dari belakang.
“Hai ... Nad, cantik banget hari ini. Mau dong di makeup’in kek Lu, natural look,” sapa dari sahabatnya Nada.
“Emang Gue cantik ya hari ini, guys?” mata Nada mendelik kepadaku.
Aku tersenyum dan mengusap rambutku.
“Hm’em. Suer gak bo’ong! Ajarin ya nanti?” ucap sahabatnya Nada.
“Siap!” Nada berlalu pergi meninggalkan sahabatnya.
Terlihat, Nada memasuki ruang kelas kami belajar. Nada duduk di pojokan seperti biasa.
Aku sedikit mengamati Nada dari pintu kelas. Memang sih, Nada makin cantik. Pekik dalam hati.
“Awas woy! Ngalangin jalan aja Lu!” ucap teman sekelasku.
Aku terperanjat, kaget mendengar suara yang tiba-tiba terdengar di telingaku. Nada melihat ke arahku dan tersenyum simpul.
Seketika rasa ini melayang ketika melihat Nada tersenyum. Etdah, kumat ni hati kek ada bunga-bunganya, pekik dalam hati.
“Ken,” panggil Nada di pijokan.
“Hah?”
“Sini!” ucap Nada sambil melambaikan tangannya.
Aku menghampiri, dan aku duduk di samping Nada.
“Lihat deh,” ucapnya sambil menunjukkan gawai yang berisi format video.
“Paan?” aku melirik gawai yang di pegang Nada.
Ternyata ada video ketika aku nyanyi lagu milik Romance band, ketika aku menyanyikan atas permintaan pak Hari untuk mba Rere.
“Lu viral , Ken. Keren!” ucap Nada sambil menepuk pundakku.
Aku tersenyum.
Dalam hati agak merasa aneh. Siapa yang awal up load video ini ya? Tanya dalam hati.
Tapi mungkin juga pengunjung yang datang ke southbox. Secara waktu itu banyak sekali orang yang datang.
“Ken, ternyata banyak video Lu!” ucap Nada lagi.
“Mana?”
Nada menunjukkan beberapa video yang ada di Kota Tua. Aku semakin penasaran siapa di balik semua ini? Orang yang suka rela up load ketika aku bernyanyi.
Drett ... Drett ....
Gawai Nada bergetar. Nada langsung membuka pesan masuk. Entah isinya apa. Seketika, Nada langsung bergegas keluar dari ruangan.
Setelah jam pelajaran selesai. Nada pamit kepadaku ia mengatakan mau ke rumah temannya.
“Gue ada perlu Ken, tolong bilangin ke Babe. Gue pulang telat,” ucap Nada yang terlihat terburu-buru.
Belum juga aku menjawab, Nada langsung ngeloyor pergi. Matanya tertuju pada gawai yang ia pegang.
Aku agak heran. Hingga aku membuntutinya dari belakang.
Nada menaiki angkot. Aku terus membuntuti angkot yang ditumpangi Nada. Hingga di rumah besar yang mempunyai gerbang kokoh, akhirnya Nada turun.
Tapi, ada kejanggalan menurutku. Walau rumah ini besar tapi seperti sudah tak terpakai. Pekik dalam hati.
Nada memasuki rumah megah itu. Membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi. Ku parkirkan motorku di pojok luar rumah besar itu.
“Kak Fajri ... Kakak di mana?” suara Nada terdengar memanggil nama Fajri.
“Di kamar. Masuk aja, Nad!” terdengar suara Fajri.
Sengaja aku biarkan. Karena aku juga tidak mengetahui apa yang akan dilakukan Fajri pada Nada. Aku hanya mendengarkan perbincangan mereka di ruang utama.
“Nad, maafin Kakak ya?”
“Aku udah maaf’in kok. Memang Kakak sakit apa?”
“Sebenarnya aku, ....” ucapan Fajri tak terdengar lagi.
GEBRUKKK!
Suara pintu yang di dorong sangat kencang. Aku mendekat di balik pintu kamar.
“Kakak mau apa?” terdengar suara Nada.
“Aku ingin Kamu, Nad! Aku ingin memilikimu sepenuhnya.”
“Sadar, Kak! Kakak udah punya istri,” terdengar suara Nada.
“Aku ingin Kamu Nad!”
JEDUK!
“Aduh!” suara Nada yang seperti terpentok di dorong ke lemari kayu.
“Ayolah, Nad!” suara Fajri lagi.
“Enggak Kak! Lepasin! Tolooonngggg!” suara Nada histeris.
“Teriak aja! Gak bakal ada orang yang denger! Haha ....”
Akhirnya aku mendorong paksa pintu yang terkunci. Satu kali, masih terkunci dua sampai tiga kali masih terkunci.
“Siapa Lo?” terdengar suara Fajri dari dalam kamar.
“Tollloooonggg!” teriak Nada.
JEDUKKKK!
Akhirnya pintu terbuka dan benar saja, Nada sudah terpojok. Badannya terkunci oleh tubuh Fajri.
BUKKK!
Aku menonjok wajah Fajri dan menarik ia menjauh dari Nada.
Tanpa banyak bicara, aku memukul Fajri membabi buta. Hingga Fajri tak bisa berbuat apa-apa selain kata AMPUN Yang keluar dari mulutnya.
Aku tak menghiraukannya. Aku terlanjur emosi pada Fajri. Entah karena apa? Padahal aku bukan pacarnya Nada. Tapi hati ini merasa sakit apabila melihat Nada menangis. Terlebih aku kini melihat Nada yang hampir dilecehkan Fajri.
“Ampun ... Ampun ....” suara Fajri yang terdengar lirih.
“Sudah, Ken!” Nada menarik lenganku.
Aku melihat Nada berurai air mata membasahi pipinya. Lengan bajunya robek, mungkin tadi di tarik paksa sama Fajri. Sedangkan Fajri terkapar tak berdaya di lantai kamar.
“Udah, Ken. Ayok pulang,” ajak Nada dengan suara lirih.
Aku membawa Nada keluar dari rumah mewah itu. Meninggalkan Fajri yang terkapar dan memar karena bogem mentah yang bertubi-tubi dariku.
Aku membuka kemeja panjangku. Aku memakaikan kepada Nada. Aku membawa Nada ke taman yang tak jauh dari rumah Nada.
“Kenapa kita ke sini, Ken?” ucap Nada sambil memandang wajahku.
“Gue bakal ajak Lu balik, kalau Lu udah baik, Nad.”
“Gue baik-baik aja kok,” ucap Nada yang menyembunyikan perasaannya.
“Lu gak bisa bohong sama Gue, Nad!”
Nada tertunduk. Terlihat air bening yang keluar dari sudut matanya.
“Nad, sini!” aku menepuk pundakku. Memberikan tempat untuk Nada menangis.
Seketika Nada menyenderkan kepalanya di pundakku.
“Thank’s ya, Ken,” ucap Nada.
Aku tersenyum dan mengusap lembut rambutnya.
Aku memberikan waktu untuk Nada sampai ia lebih tenang.
"Lu bodoh, Nad!" ucapku.
"Maksud Lu?" tanya Nada heran.
"Udah tau Fajri, kek gitu. Masih aja mau nyamperin dia!" ucapku yang bernada emosi.
"Gue gak tega, Ken. Soalnya tadi dia SMS Gue katanya dia sakit," ucap Nada menjelaskan.
"Nad ... Nad. Itulah Lu. Lu terlalu baik, makanya Gue bilang bodoh! karena Lu terlalu baik hingga Lu dibodohin Fajri," ucapku panjang lebar.
Nada tertunduk.
Hening.
"Nad," ucapku.
"Hem," jawab Nada pelan.
Aku mengangkat dagunya dan memandang matanya dalam.
"Jangan gitu lagi ya?" ucapku.
Nada tersenyum.