RCR S1 ~ Bercerita dimana seorang gadis SMA berkepribadian ceria, humoris dan juga ceroboh yang sering mengalami mimpi yang sangat aneh. Yaitu, menjadi seorang Putri Kerajaan Eropa Abad Pertengahan dengan gaun mewah serta permata indah yang terbalut di tubuhnya. Tidak hanya sampai disitu, terdapat seorang lelaki bernama Ken yang tidak lain adalah teman sekelasnya yang memiliki paras sangat serupa dengan Pangeran yang ada dalam mimpinya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ada rahasia di balik itu semua?
RCR S2 ~ Bercerita dimana terbukanya rahasia kepingan puzzle dalam mimpi yang selama ini dialami oleh Ruby. Gadis itu secara ajaib terlempar di kehidupan masa lalunya. Yaitu, Kerajaan Eropa Abad Pertengahan. Disinilah ia harus terjebak dalam dunia kerajaan yang sesungguhnya. Dunia yang penuh dengan rahasia, intrik, dan pengkhianatan. Hingga akhirnya, kepingan puzzle itu akan terbuka seutuhnya. Gadis itu menemukan Reinkarnasi Cintanya. Reinkarnasi Cinta Ruby.
RCR S3 ~ Kembalinya Ruby di kehidupan asalnya. Namun, takdir baru telah siap menyambutnya. Sebuah dunia dimana ia merasa betapa dangkalnya ilmu manusia dan betapa hebatnya kuasa Tuhan. Sebuah profesi yang membuat gadis itu lebih menghargai setiap detak jantung karena ia bisa berhenti tiba-tiba, kapan saja. Profesi yang menuntut pengorbanan besar, demi menyelamatkan nyawa manusia.
(First novel yang acakadulnya akan dibuat sebagai kenang-kenangan 😂)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diar Rochma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Ayah dan Ibu (Mimpi)
Untuk kesekian kalinya mataku sangat sulit terpejam, kini aku memikirkan banyak hal tak terduga yang terjadi hari ini, begitu banyak seakan menumpuk di otakku, dan sesuatu yang paling sibuk sendiri berputar di pikiranku adalah Ken. Kenapa sikapnya begitu aneh hari ini, mulai dari saat dia menolongku menghalau tamparan dari Luna, menggenggam tanganku saat berjalan, dan juga yang membuatku terasa berat untuk bernafas adalah saat teringat dia meletakkan tangannya yang lembut di bibirku.
Apakah dia hanya sedang mencoba bermain denganku? Entah mengapa setiap dekat dengannya jantungku pun seakan bekerja lebih cepat dari biasanya, saat melihat senyumannya perasaanku pun seketika menjadi tenang teduh terhanyut di dalamnya, dan saat dia tiba-tiba berubah menjadi sedingin es, tubuhku pun ikut membeku dibuatnya. Sebenarnya apa yang salah denganku? Aku sama sekali tak mengerti karena aku belum pernah merasakannya sebelumnya. Setelah ribuan detik terlewati akhirnya mataku pun bisa terpejam.
.
.
.
.
Samar-samar kurasakan seperti aku sedang bermimpi, mimpi yang sangat tak asing bagiku, kulihat tubuhku sedang terbalut oleh gaun yang terbuat dari benang sutra berkualitas dan berlapis permata yang indah, sekelilingku tampak seperti sebuah istana megah bergaya Eropa dengan banyak barang acrilic kuno di dalamnya, bangunan dengan ukiran di setiap marmernya semakin menambah keindahan dalam arsitekturnya.
Tetapi saat ini aku tidak melihat sosok pangeran yang biasanya selalu ada ketika aku bermimpi seperti ini. Entah dimana pangeran itu berada sekarang. Tiba-tiba dengan pandangan yang samar aku melihat seseorang yang sangat kukenal, mereka mirip seperti Ayah dan Ibuku lengkap dengan pakaian khas bangsawan Eropa sama seperti yang kukenakan, namun tatapan mata mereka kini dipenuhi dengan kesedihan, mereka tampak sedang di seret oleh banyak penjaga Istana, aku pun bertanya-tanya mengapa para penjaga itu memperlakukan Ayah dan Ibu seperti itu? Meraka sangat ketakutan seolah akan dijatuhi hukuman mati, mereka menangis dengan menjulurkan tangannya kepadaku dan berkata "Putri Ruby, tolong kami ...."
Entah apa maksudnya, seolah mereka berlomba mempertaruhkan kata "tolong" yang akan mereka ucapkan. Seketika duniaku menjadi kelam menghitam seperti raga yang diremukkan sebuah mimpi. Entah mengapa dadaku terasa begitu sakit sampai-sampai air mataku pun membasahi pipiku tanpa kutahu mengapa. Dan semua bayangan itu pun perlahan kian menghilang.
.
.
.
.
So wake me up when it's all over
When I'm wiser and I'm older
All this time I was finding myself
And I didn't know I was lost
Terdengar bunyi suara alarm yang sengaja kupasang setiap pagi untuk membangunkanku.
"Ruby ... bangun, alarmmu bunyi terus tuh, udah pagi ini ...," teriak Ibu yang masih tetap membangunkanku.
"Hmm." Aku mulai terbangun, namun mimpi yang semalam kualami masih sangat membekas di ingatanku. Aku tidak dapat menalarkan semua arti dari mimpiku, dan itu membuatku begitu frustasi. Aku pun memulai hari dengan perasaan tak karuan yang sulit untuk di jelaskan dan wajah kusut karena kurang tidur semalaman.
Di Sekolah (di dalam kelas saat pelajaran belum dimulai)
Semua murid sudah duduk di bangkunya masing-masing menunggu jam pelajaran dimulai, termasuk Ken yang sekarang tengah duduk di belakang mejaku.
"Ruby, wajahmu hari ini kok kelihatan kusut banget? Biasanya udah kusut sekarang malah tambah kusut, hehe," sahut Anggita yang sedang duduk di depanku sambil menolehkan kepalanya ke belakang.
"Hem, masak sih? Kayaknya semalem aku kurang tidur, Hooaammh ...," jawabku sambil menguap karena ngantuk.
"Kenapa kurang tidur? Hayooo mikirin apa?" celetuk Anggita sambil tersenyum kecil.
"Hah mikirin apa? Enggak mikirin apa-apa kok, aku cuman sering mimpi aneh aja, nggak tau kenapa," jawabku dengan spontan.
"Mimpi apa Ruby?" sahut Nina di sebelahku.
"Tau deh, pokoknya aneh he he," jawabku yang enggan menjelaskan hal tidak masuk akal kepada mereka.
"Hem, kamu nggak baca doa kali sebelum tidur," celetuk Anggita.
"Oh ya, nanti pulangnya bareng ya Ruby, kan aku mau langsung kerja sambilan di Toko Kuemu," timpa Anggita lagi.
"Loh kamu nggak bawa motor?" tanyaku heran.
"Motorku kemarin tiba-tiba mogok, sekarang lagi di bengkel," jawab Anggita.
"Oh ya udah deh nanti bocengan naik sepeda sama aku aja," sahutku.
"Siap bos, tapi jangan anggap aku seperti Reyhan yang kemarin juga boncengin kamu sepeda loh ya, hahaha." Anggita menggodaku saat dia teringat Reyhan kemarin juga memboncengku.
"Hah Ruby kemarin boncengan sepeda sama Reyhan?" tanya Nina terkejut.
"Iya, kamu sih kemarin nggak jadi ikut ke Toko Kue, jadi nggak bisa lihat tontonan menarik kan," sahut Anggita.
"Wow masak sih? Jangan-jangan Reyhan suka sama Ruby, dia juga sering belain Ruby kan? Ada yang aneh nih kayaknya" celetuk Nina sambil berfikir.
"Ih ... kalian ngomong apa'an sih kok jadi ngawur gitu, dia tuh boncengin aku karena mobilnya nggak ada, belum dijemput, orang cuman bonceng sepeda doang juga," sahutku menjelaskan.
"Mana mungkin Reyhan juga suka sama aku," timpaku lagi.
"Hah, juga? Emang siapa lagi yang suka sama kamu Ruby?" tanya Anggita penasaran.
"Hah? Enggak ... enggak ada kok, siapa juga yang bakalan suka sama cewek jelek kayak aku gini, he he," jawabku menjelaskan dengan canggung.
Tiba-tiba punggungku terasa dingin, seperti ada hawa dingin yang kuat dari belakangku. Sepertinya hawa dingin itu berasal dari Ken yang memang selalu memiliki aura es balok dari Kutub Utara, tapi entah mengapa sekarang terasa lebih dingin seolah membekukan punggungku.
5 menit kemudian
Bu Enny masuk ke dalam kelas , tiba-tiba suasana kelas yang tadinya riuh gaduh karena obrolan murid-murid akibat kebosanan menunggu menjadi hening seketika. Kini Bu Enny tengah berdiri di depan kelas dengan membawa selembar surat pengumuman di tangannya. Kami semua pun menunggu dengan penasaran apa yang akan disampaikan oleh Bu Enny.
"Selamat pagi anak-anak," sahut Bu Enny.
"Selamat pagi Bu ...," jawab murid-murid bersamaan.
"Ibu akan menyampaikan hasil rapat dari para guru yang diadakan kemarin, jadi rencananya liburan akhir semester ini sekolah akan mengadakan liburan bersama di Pulau Bali selama tiga hari," ucap Bu Enny.
"Horreeeee ... yeeey liburan ...." Terdengar sorak ramai gembira dari murid-murid saat mendengar berita liburan.
"Jadi siapa saja yang mau ikut bisa langsung setor nama di ketua kelas ya, nanti biar diserahkan ke Ibu daftar nama-namanya," ucap Bu Enny sembari mengarahkan pandangannya kepada Reyhan.
"Ada yang di tanyakan?" tanya Bu Enny.
"Ah Bu, kita nanti main di pantainya boleh pakai bikini nggak Bu?" celetuk Mona yang bertanya sambil mengangkat tangannya.
"Wah ... seru nih,"
"Asyik ... asyik ... bisa cuci mata kita,"
"Gue harus ikut pokoknya kalau ada pemandangan indah bikini bottom,"
Beberapa murid laki-laki tampak heboh sendiri mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Mona. Mereka seketika menjadi lebih bersemangat dari sebelumnya.
"Enggak boleh! Nanti kalian kalau main di pantai pakai baju olahraga sekolah biar seragam dan nggak hilang," jelas Bu Enny.
"Yahhh ... sayang banget,"
"Loh nggak jadi pakai bikini ceweknya?"
"Ahh, nggak jadi lihat pemandangan bikini buttom kita,"
Beberapa murid laki-laki kembali heboh lantaran mereka kecewa tidak dapat melihat sesuatu yang mereka tunggu-tunggu dari murid-murid perempuan di sekolah. Bu Enny pun memulai materi pelajaran seperti biasanya.
***
.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk Author dengan klik Like, favorit, komen, dan vote ya :)...
cinta yg sangat menyentuh hati
tetap semangat berkarya
TRUE BEAUTY
lah klo pantasi itu nama MC di sebut tanpa ada kata AKU ,