Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.
Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.
Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.
"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara vs Johan
Malam itu, bayang-bayang Johan dan kelompok God Lion seolah menjadi awan mendung yang mendadak singgah di atas liburan ceria Bara dan kawan-kawan. Kendati sempat diliputi ketegangan di dekat lobi hotel, anak-anak kelas sepakat untuk tidak membiarkan insiden tersebut merusak sisa waktu liburan mereka di kawasan pantai selatan.
Keesokan paginya, suasana kembali mencair. Sinar matahari hangat menyambut langkah mereka yang kembali menyusuri pasir pantai untuk menikmati sisa hari libur sebelum jadwal kepulangan ke Surabaya tiba.
"Wah, parah sih semalam hampir aja kita jadi tontonan preman jalanan," celetuk Ani sambil melemparkan bola voli ke arah Arif.
"Ah, elo an, kurang-kurangin panik. Kan ada pahlawan kesiangan kita, si Bara," balas Arif sambil melirik ke arah Bara yang sedang berjalan santai di samping Zian.
"Santai, guys. Yang penting liburan kita tetap jalan. Jangan biarkan kejadian semalam bikin mood kalian hancur," kata Bara tersenyum kecil, mencoba menenangkan teman-teman perempuannya seperti Melani, Bella, dan Ani yang masih tampak sedikit cemas.
"Betul kata Bara. Anggap aja angin lalu. Yuk, mending kita cari kelapa muda sebelum packing buat balik ke stasiun sore nanti," ajak Zian.
Walau ia berkata demikian, raut wajah Zian menyiratkan gundah yang belum sepenuhnya hilang. Bayangan wajah dingin Johan masih berkelebat di benaknya.
Waktu berjalan cepat. Setelah puas menikmati keindahan pantai, rombongan anak-anak sekolah itu akhirnya tiba di stasiun kereta api untuk melakukan perjalanan pulang ke Kota Surabaya. Suasana stasiun sore itu cukup ramai oleh para pelancong yang ingin kembali ke kota asal mereka.
"Tiket aman, kan? Jangan sampai ada yang tertinggal barangnya ya," ingatkan Cindy kepada teman-temannya sambil merapikan ransel di bahunya.
"Aman, Cin! Tas gue udah lengkap, dompet juga masih tebel," seru Arif bangga.
"lu gamau ngomong apa-apa gitu kid?" tanya Bella
"...." okid hanya diam
"iyaa dah perasaan dari berangkat lu irit ngomong banget, bahkan ga sama sekali" jawab Cindy
"lu kepikiran apa kid?" Bara membuka obrolan
"....." okid tetap diam hanya menganggukkan kepala saja.
"ohh masalah itu... Udah gausa di pikirin" sat Bara
Semua orang kaget bahkan Arif sampai melotot. Karna tanpa okid bicara satu kata pun Bara bisa mengerti apa yang okid maksud.
"wahh ini translator kelas kakap si, orang gaada ngomong apapun gaada bahasa isyarat tapi si bara bisa tau apa yang di pikirin okid" ucap Ani
"bener banget Lo" saut arif
Di tengah kesibukan antrean dan hiruk-pikuk suara pengeras suara stasiun, pandangan Zian tanpa sengaja menangkap sesosok figur yang sangat ia kenal duduk sendirian di sebuah bangku besi panjang di sudut peron yang agak sepi.
"Eh, sebentar... itu... itu Johan, kan?" gumam Zian pelan, langkahnya mendadak terhenti di tengah jalan.
Tanpa pikir panjang dan mengabaikan peringatan kecil dalam hatinya, Zian melangkah meninggalkan kelompoknya.
"Kalian duluan saja ke arah gerbong, sebentar ya," teriak Zian kepada Bara dan yang lainnya.
"Zian, mau ke mana?" panggil Bella kebingungan.
Zian tidak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan mendekati bangku kosong tempat Johan duduk terpaku. Pemimpin God Lion itu tampak sangat berbeda dari malam sebelumnya bahunya sedikit merosok, tatapannya kosong menatap lurus ke rel kereta yang berkarat, tanpa ada anak buah yang mengawal di sekitarnya.
"Johan," panggil Zian dengan nada suara ragu-ragu saat ia berdiri tepat di depan bangku tersebut.
Johan mengerjap perlahan. Ia mendongakkan kepalanya, menatap Zian dengan sorot mata yang tetap dingin, datar, dan seolah-olah menembus tembus pandang menembus tubuh Zian.
"Kau lagi? Sudah kubilang, aku tidak kenal siapa kamu. Pergi sana," ucap Johan ketus, suaranya terdengar serak dan sarat akan kelelahan batin yang mendalam.
Rasa penasaran bercampur kekecewaan yang mendalam membuat Zian kehilangan kendali atas emosinya. Ia mencengkeram kerah jaket Johan dengan kedua tangannya.
"Jelaskan sama aku, Jo! Kita ini sahabat! Kita latihan bareng di sasana setiap hari, keringat bareng, mimpi bareng! Kenapa sekarang kamu pura-pura tolol dan gak kenal aku?!" bentak Zian, suaranya mulai meninggi, mengundang perhatian beberapa penumpang di sekitar peron.
Johan tidak gentar. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan kasar, ia menepis tangan Zian dari kerahnya lalu bangkit berdiri dari bangku.
"Jangan sentuh aku! Jangan sok akrab kalau kamu sendiri tidak tahu apa-apa tentang hidupku sekarang!" balas Johan dengan nada tinggi yang penuh kemarahan tertahan.
"Justru karena aku peduli, makanya aku mau tahu! Kamu kenapa bisa jadi pemimpin berandal seperti ini, Jo? Apa yang sudah terjadi sama kamu sejak kita pisah?" desak Zian, napasnya mulai memburu karena emosi yang meluap-luap.
"Cukup omong kosongmu!" teriak Johan geram.
*Bugh!*
Satu pukulan telak melayang dari tangan kanan Johan, mendarat dengan keras di rahang Zian. Benturan itu membuat Zian terhuyung ke belakang dan hampir tersungkur ke lantai semen stasiun.
"Zian!" teriak Bara yang sedari tadi mengawasi dari kejauhan dan langsung berlari menghampiri begitu melihat sahabatnya dipukul.
Melihat Zian yang terpojok dengan sudut bibir berdarah, Zian bangkit dengan amarah yang memuncak dan mencoba melayangkan pukulan balasan, namun dengan mudah dihindari oleh Johan yang memiliki refleks sasana tinju tingkat tinggi.
Johan kembali melancarkan tendangan kilat yang membuat Zian jatuh berlutut.
Sebelum Johan sempat melayangkan serangan telak berikutnya kepada Zian yang sudah tak berdaya, sebuah tangan kokoh mencekal pergelangan tangan Johan dengan cengkeraman besi.
"Cukup, Johan. Permainan kekerasan ini sudah keterlaluan," suara berat Bara menginterupsi.
Johan menoleh dengan tatapan penuh kebencian. "Oh, si pahlawan kesiangan datang lagi. Mau pamer pahlawan di sini, hah?" maki Johan, lalu ia langsung melepaskan pukulan membabi buta ke arah Bara.
*Bugh! Plak!*
Perkelahian sengit tak terelakkan di area sudut peron stasiun. Bara, dengan insting bela diri dan postur tubuh atletisnya, meladeni setiap serangan Johan.
Pukulan demi pukulan saling berbalas. Johan mengandalkan kecepatan dan teknik tinju jalanannya yang mematikan, sementara Bara mengandalkan ketenangan, daya tahan fisik yang luar biasa, serta perhitungan presisi di setiap gerakan balasan.
Suasana stasiun mendadak tegang. Teman-teman sekelas mereka yang melihat kejadian itu berteriak histeris meminta pertolongan petugas, sementara Okid dan Arif berusaha mendekat untuk menarik Zian menjauh dari area pertarungan.
Duel antara Bara dan Johan berlangsung sangat imbang. Keduanya sama-sama menanggung lelah, napas mereka terengah-engah dengan peluh bercucuran di bawah lampu penerangan peron yang mulai berpendar remang-remang menyambut senja.
Tidak ada yang mau mengalah, hingga sebuah suara berat bertepuk tangan pelan memecah ketegangan dari balik bayangan pilar beton besar.
"Wah, wah... tontonan yang sangat menarik di penghujung sore," ucap sebuah suara dingin bernada meremehkan.
Dari balik kegelapan sudut peron yang tertutup bayang-bayang pilar, muncullah dua sosok pria berbadan tegap dengan setelan jas kasual berantakan namun memancarkan aura intimidasi yang kuat.
Mereka adalah Dani dan Danu, dua figur penting yang selama ini bergerak di balik bayang-bayang eskalasi konflik bawah tanah Kota Surabaya.
Dani menyeringai tipis, sementara Danu dengan tatapan mata yang tajam bagai elang melangkah mendekati area perkelahian sambil menyelipkan kedua tangannya di saku celana. Keduanya sempat menyaksikan detik-detik akhir pertarungan imbang antara Bara dan Johan tadi.
Johan langsung mundur beberapa langkah, menundukkan sedikit kepalanya tanda hormat kepada dua orang tersebut, meski napasnya masih memburu.
Namun, perhatian Danu sama sekali tidak tertuju kepada Johan. Langkah kaki Danu terhenti tepat beberapa meter di depan Bara.
Pandangan mata Danu menyipit tajam, mengamati setiap detail postur tubuh, cara berdiri, dan sorot mata Bara yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun di hadapan mereka berdua.
"Hebat..." puji Danu dengan suara pelan namun menggema di telinga Bara dan Zian.
Danu melangkah lebih dekat lagi, lalu menatap lurus ke dalam mata Bara dengan senyuman misterius tersungging di bibirnya.
"Di usia sepertimu, pemuda, bisa mengimbangi kecepatan dan teknik seorang petarung jebolan sasana elite seperti Johan... itu bukan sekadar kebetulan," ucap Danu penuh makna, menyiratkan ketertarikan yang mendalam.
"Ada sesuatu yang spesial dari dalam diri kamu, anak muda. Sebuah potensi mentah yang sangat berbahaya... atau justru sangat menguntungkan."
Bara menyipitkan matanya, menatap Danu dan Dani bergantian dengan otak analitisnya yang langsung berputar kencang.
Ia tahu betul, kehadiran dua orang ini di stasiun bukanlah sebuah kebetulan semata. Ini adalah pertanda bahwa dirinya dan teman-temannya telah ditarik lebih dalam lagi ke dalam pusaran konflik sindikat Four Men Crew yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.