NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Yang Dinanti

Jarum jam perlahan menunjuk pukul enam sore.

Shana berdiri di depan cermin apartemennya untuk terakhir kalinya. Tangannya kembali merapikan lipatan gaun biru muda yang diberikan Evan.

Entah sudah berapa kali ia bertanya pada dirinya sendiri.

"Apa ini tidak berlebihan?"

Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap pantulan dirinya dari berbagai sisi.

Gaun itu pas di tubuhnya, sederhana tetapi anggun. Shana tersenyum kecil.

"Seleranya, bagus sekali."

Bel apartemen tiba-tiba berbunyi. Jantung Shana langsung berdegup lebih cepat.

"Dia sudah datang."

Shana menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya membuka pintu.

Perlahan gagang pintu diputar. Dan...

Evan berdiri di sana.

Pria itu mengenakan setelah jas hitam dengan kemeja putih tanpa dasi. Ramburnya tertata rapi, sementara senyum tipis menghiasi wajahnya.

Namun sesaat setelah pintu terbuka. Senyumnya menghilang. Bukan karena kecewa. Melainkan karena terlalu terpukau. Tatapan Evan berhenti pada sosok Shana yang berdiri di hadapannya.

Gaun biru muda itu ternyata jauh lebih indah saat dikenakan oleh Shana. Untuk beberapa detik, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Shana mulai salah tingkah.

"Kenapa?"

Evan masih menatapnya dan tidak langsung menjawab.

"Apa... gaunnya tidak cocok?"

Pertanyaan itu membuat Evan tersenyum pelan.

"Bukan."

"Lalu, kenapa diam saja?"

Evan menggeleng kecil

"Saya hanya..."

Ia mengembuskan napas pelan.

"... kehilangan kata-kata."

Deg. Pipi Shana langsung memerah.

"Jangan bercanda."

"Saya tidak bercanda."

Tatapan Evan tetap tidak berpindah.

"Kamu cantik."

Hanya dua kata. Namun cukup membuat jantung Shana berdebar tidak karuan. Ia buru-buru menundukkan wajahnya agar Evan tidak melihat pipinya yang semakin memerah.

"Terima kasih."

Evan tersenyum puas dan kemudian mengulurkan tangan kanannya.

"Sudah siap berangkat?"

Shana menatap tangan itu beberapa detik. Perlahan, senyum tipis terukir di wajahnya. Dengan sedikit ragu, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Evan.

"Siap."

Evan menggenggamnya dengan lembut.

"Kalau begitu, ayo kita temui nenek."

Shana mengangguk pelan. Entah kenapa, hanya dengan genggaman tangan itu saja jantungnya sudah berdebar begitu kencang.

Mereka berjalan berdampingan menuju lift apartemen. Tak satu pun dari mereka berbicara. Namun suasana hening kali ini terasa berbeda. Tidak canggung, justru menenangkan.

Sesampainya di basement, Evan membukakan pintu mobil untuk Shana.

"Silakan."

"Terima kasih."

Setelah memastikan Shana duduk dengan nyaman, Evan menutup pintu perlahan, lalu berjalan memutar menuju kursi pengemudi. Tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan apartemen.

Lampu-lampu kota mulai menyala, menghiasi jalanan yang perlahan dipenuhi kendaraan. Shana memandang ke luar jendela, berusaha menenangkan jantungnya.

"Gugup?" Tanya Evan tiba-tiba.

Shana menoleh.

"Sedikit."

"Karena akan bertemu nenek?"

Shana mengangguk.

"Saya takut beliau tidak menyukai saya."

Evan tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

"Itu tidak mungkin."

"Kenapa seyakin itu?"

Evan meliriknya sekilas.

"Kamu lupa?"

"Hm?"

"Nenek sudah menyukaimu sejak pertemuan pertama."

Shana tersenyum kecil mengingat kejadian di taman.

"Padahal waktu itu saya mempermalukan diri sendiri."

"Bukan."

"Bukan?"

"Waktu itu kamu sedang membela seseorang yang bahkan belum kamu kenal."

Shana terdiam.

"Itu alasan pertama Nenek menyukaimu."

"Lalu alasan ke dua?"

Evan tersenyum tipis.

"Karena setelah mengenalmu lebih jauh..."

Ia berhenti sejenak.

"... sulit untuk tidak menyukaimu."

Deg. Kalimat itu membuat Shana kembali kehilangan fokus. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Melihat reaksinya, Evan hanya tersenyum kecil.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan yang tenang. Rumah-rumah besar berjajar rapi di sepanjang jalan. Tak lama, sebuah gerbang hitam terbuka otomatis saat mobil Evan mendekat.

Shana menatap ke luar dengan kagum.

Halaman rumah yang luas dipenuhi taman bunga yang tertata indah, sementara lampu-lampu taman memancarkan cahaya hangat menjelang malam.

"Sudah sampai."

Evan mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Shana.

"Siap?"

Shana menarik napas panjang. Lalu mengangguk pelan.

"Siap."

Evan tersenyum menenangkan.

"Kalau begitu..."

Ia turun lebih dulu, berjalan ke sisi penumpang, lalu membukakan pintu untuk Shana.

"Selamat datang."

Dan di balik pintu rumah itu... Seseorang sudah menunggu mereka dengan senyum yang tak sabar sejak sore tadi. Nenek Evan bahkan telah beberapa kali melirik jam dinding, menanti kedatangan tamu yang sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri.

Evan berjalan lebih dulu menuju pintu utama, sementara Shana mengikutinya dengan langkah pelan. Semakin dekat, semakin gugup pula perasaannya.

"Tenang."

Suara Evan terdengar lembut di sampingnya.

Shana menoleh.

"Nenek sudah sangat menunggumu."

"Justru itu yang membuat saya gugup."

Evan terkekeh pelan.

"Percayalah, beliau lebih gugup daripada kamu."

Shana mengernyit. "Masa?"

"Sore ini beliau sudah lima kali bertanya, apa saya akan benar-benar menjemputmu."

Shana tidak bisa menahan tawanya.

"Benarkah?"

"Ya, bahkan kalau waktu bisa dipercepat, pasti nenek akan melakukannya."

Senyum Shana semakin lebar. Rasa gugupnya mulai berkurang.

Belum sempat Evan menekan bel, pintu rumah sudah lebih dulu terbuka.

Seorang wanita tua berdiri diambang pintu dengan senyum hangat yang melebar ketika melihat mereka.

"Shana!"

"Nek..."

Shana langsung tersenyum malu. Nenek sama sekali tidak memperhatikan Evan. Beliau justru berjalan cepat menghampiri Shana lalu menggenggam kedua tangannya.

"Akhirnya kamu datang juga."

"Maaf membuat nenek menunggu."

"Menunggu kamu memang menyenangkan."

Shana terkekeh kecil. Tatapan nenek kemudian turun ke gaun biru yang dikenakan Shana.

"Wah..., cantik sekali."

Shana kembali tersipu. "Terima kasih, Nek."

Nenek lalu melirik Evan yang berdiri beberpa langkah di belakang mereka.

"Kamu yang memilih gaunnya?"

Evan mengangguk singkat.

"Iya."

"Pantas saja."

"Pantas apa, Nek?"

"Pantas dari tadi cucuku tidak bisa berhenti menatap Shana."

"Nek..."

Evan langsung memijat pelipisnya. Sementara Shana menahan napas karena malu. Nenek justru tertawa puas.

"Ayo masuk. Makan malamnya sudah siap." Nenek menggandeng tangan Shana memasuki rumah.

"Mulai sekarang, jangan sungkan datang ke sini."

Shana mengangguk pelan.

"Baik, Nek."

Sementara Evan berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok Shana yang tertawa bersama neneknya.

Pemandangan itu membuat sudut bibirnya kembali terangkat. Rumah yang selama ini terasa begitu sepi... Malam itu mendadak terasa jauh lebih hangat.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di ruang makan. Meja panjang dari kayu jati itu telah dipenuhi berbagai hidangan rumahan yang masih mengepulkan uap hangat. Aroma masakan memenuhi ruangan, membuat suasana terasa begitu nyaman.

"Nek... banyak sekali makanannya."

Nenek tersenyum bangga.

"Semua masakan favorit Evan."

Shana melirik Evan sekilas.

"Benarkah?"

Evan mengangguk.

"Nenek selalu memasak sebanyak ini kalau saya pulang."

"Padahal yang makan cuma dua orang." Gumam Evan sambil tersenyum pasrah.

Nenek langsung menimpali.

"Kan sekarang sudah tiga."

Beliau kemudian menarik kursi di sampingnya.

"Ayo duduk."

Shana menurut. Sementara Evan mengambil kursi tepat di hadapan mereka. Nenek memandang keduanya bergantian, lalu tersenyum penuh arti.

"Kalau begini... rasanya seperti makan bersama keluarga."

"Nek..." Evan langsung menyela pelan.

"Apa? Nenek pura-pura tidak mengerti. "Memangnya ucapan Nenek salah?"

Shana hanya bisa menundukkan wajahnya. Pipi yang tadi mulai normal kembali memerah.

Tanpa menunggu jawaban, Nenek mulai mengambilkan lauk ke piring Shana.

"Coba ayam ini, nenek masak sendiri."

"Terima kasih, Nek."

"Ini sayurnya juga."

"Nek, cukup. Biar Shana ambil sendiri."

"Tidak apa-apa. Nenek senang mengambilkan."

Evan yang melihat itu hanya menggeleng dan tersenyum.

Sudah lama ia tidak melihat nenek sebahagia malam ini.

Shana yang semula datang dengan perasaan gugup, perlahan mulai merasa nyaman. Tawa kecil mereka sesekali memenuhi ruang makan, membuat rumah yang biasanya tenang terasa jauh lebih hidup.

Evan memandang keduanya dalam diam. Entah sejak kapan pemandangan sederhana seperti ini menjadi sesuatu yang begitu ia inginkan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, rumah itu tidak hanya terasa hangat. Rumah itu terasa... utuh.

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!