Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C021: Viviane Berkunjung
...Selamat Baca...
Tanggal: 24 Agustus
Lokasi: Kediaman Alexander
Siang itu, matahari bersinar terik di langit Auronia, namun suasana di dalam kediaman pribadi Alexander Sterling terasa sejuk dan sunyi.
Tanpa pemberitahuan kepada siapa pun, sebuah mobil klasik yang sangat dikenali berhenti di depan gerbang. Viviane Sterling, sang Nyonya Besar keluarga Sterling,
Turun dengan langkah yang masih memancarkan keanggunan seorang bangsawan sejati. Ia masuk ke dalam rumah itu menggunakan kunci cadangan yang selalu ia simpan.
Kunci menuju rumah yang puluhan tahun lalu ia berikan secara pribadi kepada ibu kandung Alexander.
Viviane tidak langsung menuju ruang utama. Ia mulai berkeliling kediaman itu dengan perlahan, membiarkan jemarinya menyentuh permukaan furnitur dan dinding batu alam yang dingin.
Setiap sudut rumah ini membangkitkan kenangan lama. Ia berjalan melewati tiga kamar tamu yang berjejer rapi di lantai satu, mengamati betapa rumah ini dirawat dengan sangat baik oleh Alexander.
Langkahnya membawa Viviane semakin jauh ke bagian belakang bangunan, hingga ia sampai di sebuah lorong tersembunyi yang lokasinya hanya diketahui olehnya.
Alexander dan Liana, meskipun tinggal di sana, tidak pernah menyadari keberadaan lorong ini karena letaknya yang tersamar di balik perpustakaan.
Lorong itu menuju ke arah taman belakang yang memiliki sebuah gazebo indah di dekat kolam ikan yang jernih.
Di sepanjang dinding lorong itu, Viviane berhenti. Matanya berkaca-kaca menatap deretan lukisan indah yang memenuhi dinding. Semuanya adalah karya tangan ibu Alexander yang dibuat di waktu luangnya saat masih hidup di rumah ini.
Ada lukisan pemandangan bukit yang hijau, lautan yang luas, rumah-rumah tua, hingga istana megah yang tampak seperti kenangan dari negeri Virlan.
Viviane terpaku di depan sebuah lukisan potret diri sang sahabat. Wanita di dalam lukisan itu sangat cantik, namun kecantikannya tidak lembut; ia memiliki garis rahang yang tegas, rahang yang kuat, dan tatapan mata yang tajam layaknya seorang jenderal perang.
Ia terlihat anggun sekaligus dingin, sebuah ciri khas yang kini menurun sepenuhnya pada Alexander.
Viviane tersenyum getir, seolah merasakan tatapan dingin dari lukisan itu. Ia mengangkat tangannya, menyentuh kanvas itu sebentar dengan penuh hormat.
"Kau masih tampak begitu berkuasa, bahkan di sini," bisik Viviane lirih.
Viviane kehilangan jejak waktu. Ia terlalu lama tenggelam dalam lukisan-lukisan itu hingga sore hari tiba. Tiba-tiba, suara deru mobil yang memasuki halaman depan mengalihkan perhatiannya.
Viviane tersenyum, ia berniat keluar dan mengejutkan putra angkatnya itu. "Alexander, sudah pulang." gumamnya, dan bersiap untuk mengejutkan pria itu.
Namun, langkahnya terhenti di balik pilar ketika ia mendengar suara-suara akrab yang sedang mendekat ke arah pintu utama.
"Sudah kubilang, jangan membeli terlalu banyak pakaian lagi, Al," suara itu lembut namun penuh nada protes yang manis. Itu suara Liana.
"Tidak akan. Aku akan terus membelikannya selama itu bisa membuat Ratuku merasa bahagia," jawab Alexander dengan suara berat yang penuh perlindungan.
Suara shutter kamera menyusul, disusul suara Leo yang terdengar riang. "Ayo, sedikit lagi! Konten belanja bertopeng ini pasti akan meledak!"
Viviane terbelalak di balik persembunyiannya. Ia melihat Alexander masuk dengan tangan penuh beban, membawa sepuluh tas belanjaan bermerek terkenal.
Di sampingnya, Liana membawa lima tas, dan di belakang mereka beberapa pengawal pribadi Alexander menyusul dengan lima belas tas lainnya.
Viviane sangat terkejut melihat pemandangan langka itu; putra bungsunya yang dikabarkan anti-wanita dan dingin kini sedang memanjakan seorang wanita di rumah pribadinya sendiri.
Ia memutuskan untuk tetap bersembunyi, mengamati rombongan itu naik ke lantai dua untuk merapikan gunung belanjaan tersebut.
Satu jam berlalu. Para pengawal turun kembali ke pos mereka, sementara Leo masuk ke salah satu kamar tamu di lantai satu yang kini telah menjadi kamarnya sebagai kameramen pribadi.
Dua puluh menit kemudian, Alexander dan Liana turun kembali. Mereka sudah mandi dan berganti pakaian dengan baju santai yang lebih nyaman.
Kali ini, mereka tidak mengenakan topeng. Viviane menyaksikan pemandangan yang membuatnya hampir kehilangan napas:
Liana dan Alexander berjalan menuruni tangga dengan jari-jari yang saling bertautan erat. Tangan mereka terkunci satu sama lain seperti sepasang kekasih remaja yang tidak ingin terpisahkan.
Namun, yang paling mengejutkan bagi Viviane adalah ekspresi Alexander. Pria yang telah kehilangan senyumnya sejak kematian ibunya di usia delapan tahun itu,
Kini tengah tersenyum tulus, sebuah senyum yang memancarkan kebahagiaan sejati saat ia menatap Liana.
Viviane sadar sepenuhnya; wanita itu adalah Liana, putri Gerald Varella, dan pria itu adalah anak dari sahabat terbaiknya.
Tak tahan lagi, Viviane keluar dari bayang-bayang. "Alexander? Liana?"
Suara itu mengejutkan keduanya. Liana terlonjak kaget hingga secara tidak sadar ia melepaskan genggamannya, tapi kemudian Alexander menggenggam erat tangan Liana.
Alexander mengernyitkan kening, menyadari ada orang asing di rumahnya, namun ekspresinya melunak saat melihat bahwa itu adalah Viviane.
"Nyonya Besar? Mengapa Anda datang tanpa memberi tahu siapa pun?" tanya Alexander, berusaha menjaga ketenangannya.
Ia dengan lembut menuntun Liana dan Viviane untuk duduk di sofa ruang tamu. Liana merasa sangat malu, pada akhirnya ia menunduk karena bertemu Viviane.
Merasa sangat tidak tahu malu. Seorang janda sepertinya, malah dekat dengan paman mantan suaminya. Apa yang akan dipikirkan orang lain nanti, jika bertemu mereka?
"Aku hanya merindukan suasana rumah ini, jadi aku datang tanpa memberi kabar padamu." Viviane menjelaskan bahwa ia hanya merindukan suasana rumah ini.
Matanya kemudian menatap Liana dengan tatapan yang sangat dalam dan sulit diartikan. "Mengapa mantan cucu mantuku ada di kediaman pribadi putra bungsuku, Alexander?"
Alexander menjelaskan secara singkat namun padat tentang perlindungan yang ia berikan pada Liana sejak perceraian itu. Dan bagaimana bahwa dia sudah jatuh cinta pada Liana, saat upacara pernikahan Liana dan Alistair 5 tahun lalu.
Mendengar penjelasan tersebut, Viviane terdiam sejenak, lalu sebuah senyum penuh arti muncul di wajahnya yang keriput namun cantik. Ia bahagia karena, Alexander mau berbagi cerita padanya tentang diri Alexander yang tertutup.
"Memang benar... takdir itu tidak pernah gagal dalam mempertemukan apa yang seharusnya bersatu," ucap Viviane lirih.
Liana yang bingung mengernyitkan dahi. "Apa maksud Anda, Nyonya Besar?"
Viviane menatap Liana, lalu menatap Alexander bergantian. "Ada sesuatu yang kalian berdua harus ketahui tentang rumah ini, tentang foto di lantai bawah, dan tentang mengapa kalian berdua merasa begitu 'familiar' satu sama lain."