NovelToon NovelToon
FAKE LOVE MISSION

FAKE LOVE MISSION

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xylona

Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.

Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.

Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.

Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 21.

Aurora tersentak pelan saat akhirnya ia sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Napasnya terasa tidak beraturan, dadanya naik turun menahan gugup yang mendadak menyerbu. Dalam jarak sedekat itu, ia bisa melihat jelas tatapan Gama yang masih tertuju padanya, membuat jantungnya semakin kacau.

Dengan cepat Aurora mendorong dada Gama pelan, memberi jarak di antara mereka. Wajahnya memanas, sementara pandangannya berusaha menghindar ke arah lain. Entah karena malu, panik, atau bingung dengan perasaannya sendiri, Aurora hanya bisa diam sambil menggigit bibir bawahnya pelan.

Suasana mendadak menjadi canggung. Hanya suara napas mereka yang terdengar samar di tengah hening sore, sementara Aurora masih berusaha menenangkan degup jantungnya yang sejak tadi terasa terlalu berisik.

"Maaf... gue kelepasan." Ujar Gama, bisa di lihat bibir Aurora yang membengkak karna ulahnya.

Aurora tidak berani menatap langsung mata Gama hanya mengangguk kaku, memilin kedua jari tangannya untuk meredakan rasa gugupnya.

Ini juga salahnya juga Aurora juga merasa hilang kendali atas tubuhnya sendiri, mungkin tadi ia menikmati ciuman yang di berikan Gama untuknya.

Aurora menggeleng pelan ada apa dengan pikirannya ini ngaco sekali.

"Gue ke bawah dulu." Pamit Gama. Berdiri meninggalkan Aurora sendirian di rumah pohon itu.

Gama pergi ke bawah menghampiri teman temannya yang sedang bermain ps dengan cemilan dimana mana, Gama duduk di sebelah Elvano mengacak rambutnya frustasi.

Elvano yang sadar ada yang janggal dengan tingkah Gama bertanya." Kenapa lo?."

Billy, Alviano yang awalnya fokus dengan game mereka mendadak menghentikan game sementara dan fokus ke arah Gama yang sedang frustasi.

Gama tidak menjawab hanya menggeram makin frustasi.

"Kenapa dah kayak orang kesurupan lo?." Tanya Billy.

"Gue tadi hilang kendali." Geram Gama.

"Hilang kendali apanya, sex?." frontal Billy.

Karna ucapan Billy yang frontal itu dapat tendangan kaki dari Gama.

"Mulut lo."Geram Gama.

Billy hanya cengengesan tidak jelas sambil menggaruk rambut tidak gatal.

"Gue tadi cium bibir Aurora." Jujur Gama.

Gama kira teman temannya akan berpikiran macam macam ternyata dugaannya salah.

Ejekan demi ejekan dilempar santai sambil tertawa, membuat Gama hanya duduk diam dengan wajah datar. Meski ekspresinya tetap dingin seperti biasa, rahangnya terlihat menegang pelan. Ia mengambil botol minum di meja tanpa menanggapi apa pun, tapi telinganya memanas mendengar mereka terus menggoda tanpa henti.

"Sialan lo pada bukannya buat gue tenang! malah ngejek gue." Kesal Gama terhadap teman temannya.

Teman temannya malah tertawa keras mendengar gerutuan Gama.

Aurora masih duduk diam di rumah pohon itu setelah Gama turun lebih dulu. Angin sore berhembus pelan memainkan beberapa helai rambutnya, tapi tidak cukup untuk menghilangkan panas di wajahnya sejak kejadian tadi.

Tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri sebentar, lalu buru-buru diturunkan lagi seolah malu dengan pikirannya sendiri. Dadanya masih berdetak tidak karuan, bahkan sampai sekarang Aurora belum benar-benar bisa memahami bagaimana semuanya bisa terjadi begitu cepat.

Rumah pohon yang tadinya terasa nyaman mendadak jadi tempat paling memalukan baginya saat ini. Setiap kali mengingat wajah Gama yang begitu dekat tadi, Aurora langsung menunduk dalam-dalam sambil menggigit bibirnya pelan menahan malu.

Ia mencoba meyakinkan dirinya untuk bersikap biasa saja, tapi semakin diingat justru semakin membuatnya salah tingkah sendiri. Rasanya seperti ingin kabur, tapi di saat yang sama ada bagian kecil dalam dirinya yang terus mengulang kejadian itu diam-diam di kepala.

Aurora menghela napas panjang sambil memeluk lututnya sendiri. Wajahnya masih memerah, bahkan telinganya ikut panas. Untuk pertama kalinya, ia merasa sulit menenangkan pikirannya hanya karena satu ciuman singkat dari Gama.

"Gila lo Ra." Frustasi Aurora dengan pikirannya sendiri.

Tidak lama Gama kembali ke rumah pohon dengan membawa cemilan.

"Ekhem." Dehem Gama.

Suasana di antara mereka menjadi canggung atas perbuatan mereka sendiri.

"Lo suka ini?." Ujar Gama memecah kecanggungan.

Aurora menatap Gama dan beralih melihat apa yang di bawa oleh Gama di tangannya, terdapat kue kering coklat terlihat menggiurkan di mata Aurora.

Gama menyerahkan kue kering itu di sisi tubuh Aurora dan duduk di samping sebelahnya, tidak ada pembicaraan suasana masih canggung. Aurora yang masih tidak bisa menatap Gama lama lama, Gama yang masih canggung memberanikan obrolan kali ini.

"Gue—minta maaf atas kejadian tadi." Ujar Gama.

Aurora tidak menjawab hanya mengangguk wajahnya masih tidak bisa menatap Gama karna masih malu.

"Bentar lagi malem, lo mau ajak temen temen lo ke pasar malam biar rame. Gue juga bakal ajak temen temen gue."

"Boleh... bentar gue chat dulu mereka." Jawab Aurora.

TRIO OTAK GESER :

Aurora :

guys...

gue mau ngajak kalian nih

Khanza :

kemana?

Zara :

kemana my darling😘🥰😍😗😙😚

Aurora :

jijik anjir

Khanza :

Jujur merinding seitil itil

Zara :

HAHAHAHAHAHAHAHHAHHAHAHAHHAHAAAAAA

Aurora :

serius anjir!

Khanza :

gue dari tadi juga serius

Zara :

okay gue juga serius

jadi apa lo mau ngajak kita kemana?

Aurora :

gue mau ngajak kalian ke pasar malam

Zara :

AYOKKKKK💃💃💃💃💃💃

Khanza :

jam berapa?

Aurora belum menjawab pertanyaan Khanza ia harus menanyakan terlebih dahulu kepada Gama jam berapa mereka akan ke pasar malam.

"Kak, jam berapa ke pasar malamnya?."

Gama yang semula fokus dengan handphone beralih kepada Aurora sepenuhnya.

"Mau jam 8 aja?." Tanya Gama.

"Boleh."

"Okay."

Aurora :

Jam 8 guys

Zara :

lama amat sih tinggal ngomong gitu juga

Aurora :

gue harus nanyain dulu

Khanza :

ke siapa?

Zara :

gue tau, lo lagi sama Gama kan, ngaku lo

Aurora :

hem

Zara :

huuu... yang kemarin ngakunya lagi berantem

Aurora :

apasih berisik! langsung ke pasar malam—jangan ngaret

Aurora menutup room chat group mereka bertiga berdecak kecil, mereka bukannya membela Aurora malah meledeknya.

Gama seolah tahu ada kekesalan di matanya bertanya." Kenapa?."

"Mereka nolak?."

"Enggak."

"Terus kenapa?."

"Nggak apa apa."

Gama hanya mengangguk pelan mungkin Aurora tidak mau memberitahu kepadanya.

Aurora duduk diam di lantai kayu rumah pohon sambil memeluk lututnya pelan. Pandangannya sengaja diarahkan ke luar, menghindari tatapan Gama yang beberapa kali tanpa sadar melirik ke arahnya. Sementara Gama berdiri tidak jauh darinya, bersandar di tiang kayu dengan tangan masuk ke saku hoodie.

Entah kenapa udara malam terasa lebih dingin dari biasanya.

Tidak ada yang berani membahas kejadian sebelumnya. Bahkan sekadar menatap satu sama lain pun terasa memalukan. Aurora masih bisa merasakan dadanya berdegup tidak karuan setiap mengingat kedekatan mereka tadi, sedangkan Gama terlihat beberapa kali mengusap tengkuknya sendiri, salah tingkah untuk pertama kalinya.

"Ekhem... mau ke bawah aja?." Tanya Gama.

Aurora mengangguk mereka Akhirnya kembali ke bawah lebih tepatnya menuju ruang tv yang mana masih terdapat teman temannya yang sedang bermain game.

Billy yang menyadari kedatangan Gama dan Aurora mengerlingkan mata menggoda, melihat mereka berdua yang terlihat canggung dan jaga jarak.

"Canggung amat, kayak tadi nggak cipokan aja."

Gama serasa ingin memukul kepala Billy yang asal ceplos itu, di lihat Aurora semakin malu dengan mulut embernya Billy.

1
Davina Aurora
bagus ka ceritanya😍
aurora: terima kasih☺
total 1 replies
T28J
hadiir kk🙏
aurora: terimakasih😊☺😍
total 1 replies
Wawan
Semangat ✍️
aurora: terimakasih 🤗🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!